44 pimpinan mereka dibunuh, lalu disusul dengan pembantaian. Ribuan penduduk tewas. Inilah genosida pertama bangsa Eropa di Nusantara.  Semua terjadi atas satu alasan: pala. Hampir setengah abad pasca pembantaian itu, pada 31 Juli 1667, sebuah perjanajian diteken di kota Breda. Belanda memberikan penguasaan atas Pulau Manhattan (kini bagian dari New York) kepada Inggris. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan koloni yang amat berharga: Pulau Rhun di Kepulauan Banda, sebuah kepulauan mungil di tengah Laut Banda. Terdengar konyol memang. Tetapi saat itu Banda adalah satu-satunya daratan yang menumbuhkan pala. Di masa ketika orang-orang masih menggilai rempah, Banda memang jauh bernilai ketimbang Manhattan.

Atas nama pala, orang Banda yang hidup dibawa ke Batavia untuk dijadikan budak (Kampung Bandan di utara Jakarta dinamakan demikian karena orang Banda yang dulunya banyak mendiami daerah ini), sementara sisanya berhasil kabur ke wilayah lain di sekitar Maluku dengan perahu. Bulan ini tepat 350 tahun setelah perjanjian itu diteken. Bagaimanakah kehidupan orang-orang yang selamat dari pembantaian itu? 

Di pesisir timur Pulau Kei Besar, terdapat beberapa kampung yang dihuni oleh keturunan orang-orang Banda yang berhasil melarikan diri dari pembantaian itu, salah satunya Banda Eli. Tak ada catatan jelas kapan persisnya mereka pertama kali mendarat di tempat ini. Namun hingga kini, mereka merawatnya dalam nyanyian yang disebut Onotan Sarawandan. Kisah-kisah tentang keberangkatan mereka meninggalkan Kepulauan Banda, juga cerita kedatangan kaum penjajah, masih didendangkan turun-temurun. Selain lewat nyanyian, kenangan pada kampung halaman juga diabadikan lewat nama marga yang identik dengan nama kampung-kampung yang masih ada di Banda hingga kini: Lonthor, Lawataka, Salamun, Naira, Rosinggin. Nama-nama perkampungan yang justru tidak pernah mereka huni lagi. Setelah pembantaian itu, populasi Banda telah digantikan oleh kaum pekerja yang datang dari Jawa, Madura, dan Sulawesi.

Fotografer Muhammad Fadli dan penulis Fatris MF merekam kehidupan di Banda Eli sebagai bagian dari The Banda Journal. Proyek dokumenter kolaborasi ini akan segera diterbitkan. Foto-foto di bawah ini merupakan bagian dari buku ”The Banda Journal, sebuah proyek kolaborasi yang dikerjakannya sejak 2014 lalu.

Nyanyian tanah leluhur

TANAH PELARIAN | Tanah di lereng perebukitan di timur Pulau Kei Besar merupakan salah satu tempat yang dihuni orang-orang yang lari dari pembantaian berdarah di bawah tangan Jan Pieterszoon Coen, ketika nyaris seantero kepulauan Banda berbau amis.

Nyanyian tanah leluhur

GENOSIDA | Orang-orang sebagian besar yang selamat dari genosida 3,5 abad silam lari melintasi laut Arufura dengan perahu yang disebut belang dan kora-kora.


Nyanyian tanah leluhur

BANDA ELI | Di pesisir timur Pulau Kei Besar, terdapat beberapa kampung yang dihuni oleh keturunan orang-orang Banda yang berhasil melarikan diri dari pembantaian itu, salah satunya Banda Eli. Mereka punya bahasa dan budaya yang berbeda dengan desa sekitar.

Nyanyian tanah leluhur

NYANYIAN PELARIAN | Tak ada catatan jelas kapan persisnya penduduk Banda pertama kali mendarat di Banda Eli. Aksara dan mata sejarah kerap abai mencatat. Namun mereka memiliki Onotan Sarawandan; nyanyian keberankatan meninggalkan tanah kelahiran yang penuh darah. Salamah Salamun adalah salah satunya yang masih hafal lagu yang diturunkan secara turun temurun itu.

Nyanyian tanah leluhur

HIKAYAT | Hidup di Banda Eli adalah hidup dengan segala keterbatan. Jangan bermimpi kebun pala yang luas, di sini hanya ada ubi beracun yang di sela tanah berbatu. Sementara, tanah Banda dalam nyanyian mereka jauh di balik ombak sana, hijau dan rimbun.

Nyanyian tanah leluhur

TANAH TAK SUBUR | Tidak seperti kepulauan Banda yang menjadi tempat tinggal moyang mereka dahulu, Banda Eli bukanlah tanah menjanjikan. Kondisi alam Pulau Kei besar yang penuh batu cadas menyulitkan warga untuk berkebun dan bercocok-tanam. Itu membuat mereka hidup dalam kesulitan.

Nyanyian tanah leluhur

KENANGAN | Selain lewat nyanyian, kenangan orang-orang Banda Eli pada kampung nenek moyang juga diabadikan lewat nama mereka sampai hari ini. Identik dengan nama kampung-kampung di Banda yang ditinggalkan, nama Lonthor, Lawataka, Salamun, Naira, dan Rosinggin menjadi nama yang tetap melekat pada setiap keluarga yang kini mendiami Banda Eli.

Nyanyian tanah leluhur

JEJAK | Selain lari ke Kepulauan Kei, masyarakat Banda yang hidup dijadikan budak oleh Belanda dan di bawa ke Batavia. Salah satu jejak kelam mereka tertinggal di Kampung Bandan, Jakarta Utara, sisanya terserak di Banda Eli dan sejumlah pulau lainnya yang ada di sana. Sementara, ketika pala sudah tidak lagi jadi komoditi yang menuai sengketa, Kepulauan Banda hanya ada dalam angan-angan dan nyanyian keturunan mereka.

Nyanyian tanah leluhur

WARGA ASLI | Namanya Mukkadam Rumra, nama Rumra yang tertulis di belakang namanya adalah tanda bagi mereka yang datang dari Pulau Rhun. Nenek moyangnya adalah pelarian dari pulau penuh sengketa itu kala bangsa Eropa melakukan genosida di sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published.