Dalam kehidupan masyarakat Sumba, kuda bukan cuma alat transportasi biasa. Dianggap sebagai mahluk yang agung, doa dan mantra selalu tercurah pada hewan itu.

Dalam kehidupan masyarakat Sumba, kuda bukan cuma alat transportasi biasa. Dianggap sebagai mahluk yang agung, doa dan mantra selalu tercurah pada hewan itu. Bertualang di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, pewarta foto dan penulis lepas Fatris MF memotret tradisi tua itu.

Kuda dan identitas kultural di Sumba

Fatris MF

ZAT AGUNG | Njapu numa ngara, njapa taki tamo demikian masyarakat Sumba menyebut kuda sebagai zat agung yang tak ternamai.


Kuda dan identitas kultural di Sumba

Fatris MF

IKATAN | Dalam kepercayaan Marapu, agama tua orang Sumba, kuda tidak semata kendaraan hidup, hewan itu bak anggota keluarga yang dalam keseharian tak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka.


Kuda dan identitas kultural di Sumba

Fatris MF

IDENTITAS | Bagi masyarakat Sumba, kuda merupakan identitas pemiliknya. Dalam kepercayaan dan tradisi masyarakat Sumba, hanya lelaki diperbolehkan mengendarai kuda, sebab perempuan dianggap tabu mengendarai kuda.


Kuda dan identitas kultural di Sumba

Fatris MF

DIKORBANKAN | Dalam tradisi masyarakat Sumba, jika penunggangnya meninggal, kuda akan dikorbankan. Masyarakat di sana meyakini, roh kuda dipercaya kan kembali menjadi tunggangan pemiliknya di alam baka.


Kuda dan identitas kultural di Sumba

Fatris MF

BERSAHABAT | Sejak kecil, anak laki-laki di Sumba telah diajari untuk dapat hidup bersanding dengan kuda. Mereka merawat, menjaga dan bersahabat dengan hewan itu.


Kuda dan identitas kultural di Sumba

Fatris MF

PERSEMBAHAN | Pada hari raya Marapu, kuda “nyale” atau kuda titisan dewa merupakan sarat wajib untuk membuka pahola/pasola, sebuah tradisi berperang dengan menunggangi kuda yang pelaksanaannya dipersembahkan pada Dewi Nyale yang bersemayam di rahim lautan.


Kuda dan identitas kultural di Sumba

Fatris MF

DOA DAN MANTRA | Dalam Pasola, doa dan mantra memberkati kuda yang akan turut dalam tradisi ”perang” itu. Hingga saat ini, ritual doa dan mantra yang dicurahkan untuk hewan itu masih bertahan dan terpelihara dan menjadi khazanah negeri ini.


Kuda dan identitas kultural di Sumba

Fatris MF

BERHADAPAN | Para penunggang kuda handal dari kampung berbeda berhadapan ketika Pasola dilangsungkan. Bersenjatakan tongkat kayu mereka beradu. Kuda yang mereka tunggangi melesat cepat dan olah kemahiran pun menjadi penentu pada ritual itu.


Kuda dan identitas kultural di Sumba

Fatris MF

DIMANDIKAN | Di perkampungan Wainyapu, di barat Pulau Sumba, sebelum dan sesudah Pasola, kuda dimandikan, lalu kuda-kuda itu menjadi tunggangan setiap lelaki sehari-harinya.


Kuda dan identitas kultural di Sumba

Fatris MF

KEBANGGAAN | Bagi masyarakat Sumba, kuda merupakan kendaraan yang sangat personal. Bukan hanya sebagai identitas, kuda juga menjadi sebuah kebanggaan sebuah keluarga.


Published: Beritagar