Polisi menangkap Zet pada Kamis, 15 Juli kemaren, tanpa perlawanan. Tidak tanggung-tanggung, untuk menangkap bandit kecil berbadan tambun ini jejeran reserse Polda Sumbar diturunkan, tidak cukup hanya intel polsek saja sepertinya. Zet boleh bangga, bahwa ia bukan preman biasa yang dicari oleh polisi sekelas “polsek”.

Beberapa hari sebelumnya, Zetrizal (atau Izet, Si Zet) menampar sopir truk lantaran tidak memberi uang “keamanan” sesuai yang dia minta. Awak truk merekam aksi Zet dan mengunggahnya ke media sosial. Dari logat yang digunakannya ketika memalak, setidaknya Zet terdeteksi berasal dari kampung tua Pauh, salah satu perkampungan yang masih bersetia pada adat yang terjepit komplek perumahan dan pabrik semen di timur Kota Padang yang dianggap sebagai “Padang yang kampungan” di mana logat mereka lugas dan tanpa basa basi  kerap dijadikan bahan guyonan para borjuis dan mahasiswa di Padang yang menganggap logat seperti itu adalah dialeg rendahan.

Polisi bergerak mendatangi Zet ke rumahnya. Tapi, Zet tidak pulang ke rumah, polisi mulai mencarinya. Tidak butuh waktu lama bagi polisi—ini membuktikan kalau Zet bukan bandit dalam artian sesungguhnya—untuk menciduk Zet. Direktur Reserse Kriminal Polda Sumbar angkat bicara tentang keberhasilan polisi, tentu saja karena itu adalah tugas polisi. Di video, saya melihat polisi (reserse) tak butuh senjata menagkap Zet. Pistol yang digunakan untuk menangkap Zet hanya terselip di pinggang  dan dipamerkan pada khalayak yang menonton drama penangkapan di mana celana Zet yang melorot, dan ia seperti seekor domba di tengah kepungan serigala.

Setelah ditangkap, tentu saja para pengayom masyarakat yang terlatih menangkap penjahat-penjahat kecil dan para begundal pembuat resah itu berfoto dengan yang ditangkap. Dalam foto, Zet di tengah, tanpa baju dengan wajah masam. Di kiri-kanannya beberapa orang polisi berbadan tegap dengan tatapan bangga menatap kamera, persis seperti foto-foto masa kolonial seratus tahun silam ketika polisi kolonial menangkap bandit-bandit Pauh yang membikin resah di Padang; kota di Pantai Barat Sumatra yang penuh tentara dan tak pernah aman.

Dalam video yang diunggah, Zet memalak di kawasan Pabrik Semen Indarung, daerah yang dulu juga bagian dari Pauh, kawasan yang dalam literatur lama disebut sebagai kampung para penyamun, tanah asal para bandit seperti Si Rancak (yang dalam bahasa Belanda dijuluki Satanische Ogen atau Si Mata Setan) atau Si Patai yang viral di koran-koran tahun 1927.

Tidak seperti Zet, tentu saja, Si Patai adalah bandit licin, perampok kambuhan yang membuat polisi kolonial amat kerepotan menangkapnya dan acap kali gagal, mengingat Si Patai juga pesilat andal, pendekar Pauh yang telaten dan menguasai ilmu bela diri tinggi. Bila Zet memalak Sopir truk, Si Patai memalak orang-orang kaya, saudagar dan borjuis-borjuis Padang . Bila Zet sanggup menampar sopir truk berbadan kerempeng, Si Patai membunuh pegawai pemerintah Belanda yang dianggapnya korup, mengingat semangat anti penjajah begitu berkobar ketika itu. Jika Zet “memajak” orang rendahan seperti sopir truk, Si Patai justru menolak belasting atau yang terkenal dengan pemberontan pajak pada 1908. Jika Zet mengancam dengan bilang “pantek” yang tentu saja di bagi masnyarakat Kota Padang nyaris tidak terdengar seperti ancaman, Si Patai mengancam “akan masuk kota”. “Akan masuk kota”,  ancaman yang tidak main-main ketika itu.

Dalam catatan Rusli Amran, Padang Riwayatmu Dulu, Si Patai digambarkan sebagai sebagai ‘bandit sosial”, Robin Hood yang gemar membagikan hasil rampokannya pada masyarakat. Dan Pauh telah kehilangan Si Patai, bandit yang dielu-elukan masyarakatnya.

Zet diciduk polisi di tahun 2021 dan diolok-olok dan dihina serendah-rendahnya oleh para pengguna media sosial yang kesal, Si Patai ditangkap dan dipenggal pada tahun 1927 dan kepalanya diarak keliling Kota Padang, hampir seratus tahun silam. Bila Zet hanya butuh waktu beberapa hari saja menangkapnya, tanpa perlawanan, Si Patai harus dikeroyok dan diburu oleh banyak polisi kolonial bersenjata lengkap dalam kurun waktu yang panjang.

Zet telah tertangkap, dan ia melemah, tidak seperti beberapa ia direkam ketika memalak. Ia meminta maaf, dan di media sosial orang-orang meneruskan olok-olok, geram, meluapkan kekesalan dengan beragam bentuk kalimat, termasuk para selebritas dan pelawak-pelawak lokal yang kadang juga tidak lucu, toh di Padang orang berolok-olok sekehendak hatinya. Bahkan Praz Teguh, pelawak yang memiliki bakat dan selera humor di titik terendah, juga nibrung dan mengolok-olok Zet di instagramnya. Harga diri Zet sebagai manusia nyaris sepenuhnya dilecehkan, barangkali atas kekesalaan orang-orang terhadap pemalakan yang tidak pernah ditertibkan di negara korup ini, entahlah. Zet memalak untuk mengisi perutnya yang lapar, kerongkongannya yang haus—seperti katanya. Mungkin juga istri dan anaknya yang rewel minta makan di rumah, toh lelaki kadang melakukan hal yang tidak waras demi orang yang dicintainya. Akan tetapi, akankah Padang, sebagaimana kota-kota lain juga, terbebas dari pemalak yang tidak terekam kamera, yang tidak hanya memalak 20 ribu rupiah untuk sekadar menampal perut yang lapar?

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.