Lelucon dan Negara yang Kaku


Humor akan dapat mencairkan suasana. Hidup yang berat bisa terasa menjadi ringan dengan humor. Di kalangan pemimpin kita sekarang humor seperti barang langka. Pemimpin seolah-olah harus tampak serius. Berkelakar seolah haram. Orde Baru, yang terkenal sebagai orde tanpa humor, seperti menghantui sampai hari ini. Dalam sejarah, hanya sedikit di antara pemimpin kita yang memiliki selera humor yang tinggi. Pemimpin yang terkenal dengan humornya adalah Gus Dus. Humor Gus Dus banyak dikutip, dianggap humor yang cerdas atau tidak murahan. Humornya melintasi bangsa.


Namun, jauh sebelum Gus Dur, salah seorang tokoh Indonesia juga terkenal karena guyonannya. Tokoh itu adalah Agus Salim. Guyonannya dapat mencairkan ketegangan-ketegangan di beberapa pertemuan internasional. Itulah kenapa Agus Salim, catat buku ini, terkenal sebagai ‘diplomat yang jenaka’ dengan guyonan-guyonan yang berani. Guyonannya ‘keluar’ bahkan di saat-saat yang genting dan gawat, misalnya, ketika perundingan Renville, ketika Indonesia-Belanda sedang sama-sama bersitegang urat-leher.


Di sela-sela perundingan Renville yang diadakan di atas USS Renville, Agus Salim merasa kehausan. Dia segera meminta air es kepada pelayan kapal, seorang perempuan Amerika. “Hampir saya jatuh pingsan,” kata Agus Salim, sebagaimana dikutip dari buku Agus Salim: Diplomat Jenaka Penopang Republik. Pelayan itu balas berkata, “Kalau nanti Tuan jatuh pingsan, tentu Tuan akan saya peluk.” Agus Salim dengan cepat membalas, “Buat apa dipeluk kalau saya sudah pingsan!”


Ketika masih muda, Agus Salim juga pernah mengeluarkan guyonan yang dikenang sampai sekarang. Dia pernah bertanya kepada seorang ulama: apakah Adam dan Hawa memiliki pusar? Ulama itu menjawab: ada, karena mereka juga manusia. “Kalau punya pusar, sebagaimana halnya kita, itu tandanya mereka dilahirkan oleh seorang ibu,” kata Agus Salim. Ulama itu tidak dapat menimpali.


Bagi kekuasaan yang serba-serius, humor kadang menjengkelkan. Tapi, dalam perjalanan hidup Agus Salim, humor terbukti dapat mencairkan hidup.


Buku Sejarah dengan Pendekatan Sastrawi
Banyak sisi lain yang dicatat buku ini mengenai Haji Agus Salim. Lihatlah daftar isinya, mencatat bab-bab mengenai kiprah Haji Agus Salim dalam dunia politik, yaitu ketika menjadi petinggi Sarekat Islam; masa-masa Agus Salim Muda ‘bergulat’ dengan Islam bahkan sempat sebentar menjadi agnostik; ketika menjadi wartawan; maupun masa-masa akhir kehidupannya ketika bersedia mengajar tentang Islam yang bercorak rasional di Universitas Cornell, Amerika Serikat.


Buku ini sendiri diangkat dari edisi khusus Majalah Berita Mingguan Tempo. Serial buku ini mereportasi ulang kehidupan para bapak bangsa, pendiri republik, “mulai dari pergolakan pemikiran, petualangan, ketakutan hingga kisah cinta dan cerita kamar tidur mereka”, catat pengantar dalam buku ini. Kisah Agus Salim adalah satu dari tujuh cerita tentang para bapak bangsa: Sukarno, Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Tjokroaminoto, dan Douwwes Dekker.


Buku ini merupakan tulisan sejarah yang ditulis dengan pendekatan jurnalisme-sastrawi. Para penulisnya adalah jurnalis-jurnalis Majalah Tempo—yang dalam sejarah dunia pers Indonesia memang kerap dikatakan suratkabar yang mengusung gaya jurnalisme-sastrawi dalam gaya penulisannya. Jurnalisme-sastrawi sendiri adalah gaya penulisan yang memadukan gaya jurnalistik dengan sastra. Sehingga karya-karya jurnalistik yang dihasilkan kemudian telah terbukti menjadi ‘enak dibaca’, mampu menggerakkan hati; tidak hanya berhasil menyentuh akal-rasio pembaca semata tetapi juga mampu membelai ‘perasaan’.
Dengan mencobakan gaya yang sama kepada gaya penulisan sejarah, narasi sejarah yang selama ini terkesan ‘muram’ tentu akan dapat terselamatkan. Jika penulisan sejarah yang dikenal pada umumnya berkutat pada fakta-fakta dan usaha merangkai fakta-fakta itu menjadi sebuah narasi sejarah yang masuk akal, sehingga hampir-hampir ‘rasa’ sejarah itu terabaikan. Seolah-olah sejarah yang objektif itu adalah kumpulan fakta-fakta yang disusun dengan kerangka pikir rasional tetapi nihil jiwa. Sehingga, sejarah menjadi kering dari ‘empati’, dari ‘keterharuan’; sejarah menjadi benda mati yang tidak mampu menggerakkan akal-budi. Padahal, apa artinya sejarah tanpa ‘refleksi’? Buku ini setidaknya telah memberikan contoh bahwa sejarah ternyata dapat ditulis dengan gaya yang lain.


Para penulis sejarah sudah harus menoleh ke gaya penulisan seperti yang telah dicobakan dalam buku ini, tentu dengan catatan ‘tanpa mengabaikan ketelitian akan fakta’.