SUARA-SUARA YANG JARANG KITA DENGAR

Potret pariwisata di Lombok, pedagang kain tenun tengah menjajakan dagangan mereka pada wisatawan di Tanjung Aan, PulauLombok, Nusa Tenggara Barat. Fatris MF

Di era yang penuh iklan pariwisata: foto-foto dan video-video yang mengacaukan psikologi dan meyakinkan kita bahwa Anda perlu liburan. Lantas, apa arti manusia di hadapan industri pariwisata?

Oleh Muhaimin Nurrizqy*

Apa yang Anda ingin dengar dari teman yang baru saja pulang bepergian ke luar kota atau ke luar negeri? Mungkin pertanyaan yang agak basa-basi, bagaimana di sana? Enak? Atau pertanyaan yang agak detil, gimana udaranya, pohon-pohonnya, jalannya, gedung-gedungnya, orang-orangnya, makanannya, warna langitnya, warna senjanya? Tentu, bagi sebagian orang, ‘suasana’ adalah hal yang paling ingin diketahui.

Akan sangat menjengkelkan jika teman Anda itu dengan malas-malas menjawab, enak, bagus, bedalah pokoknya dari sini. Lebih inilah kurang itulah. Sebuah jawaban yang begitu abstrak!

Tapi, di era sekarang ini, apakah petanyaan-pertanyaan seperti itu akan tetap ada? Ketika tulisan, gambar-gambar dan video-video tentang ‘dunia’ luar berseliweran di tangan kita? Kini, dunia ada di tangan Anda, begitulah kira-kira iklan sebuah smartphone berbunyi. 

Lalu, dari begitu banyaknya pengetahuan mengenai dunia luar, apakah yang ingin disampaikan Fatris MF dalam buku ketiganya itu “Lara Tawa Nusantara”? Lara dan tawa apalagi yang ingin kita dengar mengenai Nusantara di cacatan beliau? Apakah ada ‘hal’ lain yang ingin ia sampaikan kepada kita, masyarakat yang telah dihantam riuhnya informasi di dunia yang sudah tua ini?

Di belakang bukunya, Fatris mencoba memberi kita pemahaman tentang bukunya bahwa “Indonesia tidak semata bisa terdefinisikan lewat carut-marut politik dan gejolak ekonomi di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar. Tidak. Indonesia adalah juga pelosok, daerah-daerah terpencil dan terlupakan walau di atlas dan Google Map namanya terpampang, tetapi kita tidak tahu banyak tentangnya. Indonesia, juga adalah wilayah-wilayah yang kini seakan asing, pulau-pulau terpencil yang jauh dari radar Jakarta, yang kerap dianaktirikan oleh pembangunan, tempat-tempat yang jarang diberitakan media, yang tidak terdengar dan tidak bersuara, wilayah-wilayah yang terdepak dan kerap disebut sebagai ‘Indonesia yang merana’” Betapa kalimat-kalimat Fatris itu membuat kita tertantang untuk membacanya. Jadi apakah sebenarnya Indonesia itu, Fatris?

Lara Tawa Nusantara adalah buku ketiga Fatris MF, seorang fotografer dan penulis catatan perjalanan. Di dua buku sebelumnya, beliau menulis cacatan perjalanan tentang daerah yabg terfokus: (Sumatra) di Merobek Sumatra yang diterbitkan Penerbit Serambi, Jakarta (2015), kemudian (Timur atau Tenggara?) Di Kabar dari Timur, yang diterbitkan FMF & Matakiri Creative (2018). Sedangkan Lara Tawa Nusantara, yang diterbitkan Penerbit Buku Mojok ini, berisicacatan perjalanan yang menjangkau hampir seluruh daerah di Indonesia: Kalimantan, Bali, Sulawesi, Lombok, dan Sumatra, yang ditulisnya dari tahun 2015-2017.

Dari dua belas cacatan perjalanan di Lara Tawa Nusantara, Fatris hampir sepenuhnya membuang jauh keterangan mengenai ‘suasana’ di daerah yang ia kunjungi. Ia menghadirkan sesuatu yang jarang diceritakan oleh teman-teman kita yang berpergian: suara dari orang-orang yang tinggal di sana.

Fatris mengajak kita bertemu dengan, Kakap, Mesin, Haji Misri, Arab, Ili, Nina, Eveready, Qureisy, Urwa, Royzzael, Emiaty, Indok Langik, Jos, Guntur, Lauda, Anwar, Surung, Kasman Sembiring, Maisura, Wayan, Murni, dan Sutan. Orang-orang itulah yang akan menuntun kita pada narasi-narasi mengenai daerah mereka sendiri.

Cacatan Fatris ini memang riuh sekali oleh referensi dari seorang antropolog, sejarawan, dan peneliti tentang daerah-daerah yang dikunjunginya. Misalnya di awal tulisan Tarian Kematian, ia menulis seperti ini “Erik Jense dalam Where Hornbills Fly, menyebut perjalanan ke Kalimantan sebagai perjalanan berbahaya ‘A Journey with the headhunters of Borneo’. Seorang penulis barat, Carl Bock, bilang bahwa suku-suku yang hidup di tepi sungai-sungai lebar itu sebagai suku pemenggal kepala.” (Hal. 2) Pengutipan itu seperti memberi kita (atau Fatris sendiri) pertanyaan, apakah benar seperti itu? 

Sampai catatan selesai dibaca, saya tidak menemukan hal seperti itu. Karena tentu, cacatan dari peneliti tersebut sudah lama dan ‘benar’ pada masanya. Di Tarian Kematian, Fatris mengajak saya bertemu Kakap, yang menceritakan bagaimana ia bisa diberi nama ‘Kakap’ oleh ibunya. Kemudian saya bertemu dengan Mesin dan Arab. Mereka bercerita tentang diri dan tentang daerah mereka secara bebas. Kadang melompat tak terarah. Saya pun dibuat terbuai oleh cerita-cerita mereka.

Apa yang menarik di sini adalah, Fatris memberi ruang bagi mereka—orang-orang yang tinggal di daerah tersebut—untuk menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan. Baik itu mengenai informasi apa yang dicari Fatris di dalam tulisannya, maupun apa yang ingin mereka sampaikan secara jujur—tentang kehidupan pribadikah, keluargakah, atau duniakah.

Sehingga kita akan menemukan pembicaraan di kedai tuak di Barus. Bagaimana lelaki-lelaki yang duduk-duduk di sana memperdebatkan bagaimana sejarah Barus yang sebenarnya, sambil sesekali meminum tuak yang memabukkan itu. Atau bagaimana kita diajaknya berlayar dengan cerita Haji Safaring, seorang generasi terakhir penunggang pinisi terakhir: Amanagappa, yang bersama lima teman lainnya mengarungi laut lepas menuju Madagaskar. Pulau yang jauhnya kurang lebih 8.000 kilometer dari Sulawesi.

Di Mamasa, kita akan bertemu dengan Indok Langik, seorang nenek yang tidak mau berpindah dari ajaran moyangnya, Aluk Tomatua. Orang-orang banyak mengatakannya seorang penganut keyakinan ‘gelap’. Padahal dulu, ada niatnya untuk masuk agama yang ‘diperbolehkan’ di Indonesia. Tetapi ketika ia mengintip ke masing-masing rumah ibadah untuk mempelajarinya, ia hanya menemukan kekecewaan.

Sedangkan catatan paling akhir, Bumbu, Perang, dan Kebahagiaan yang menceritakan Sumatra Barat, Fatris yang lahir dan tumbuh di Kota Padang, menjelma penduduk setempat dalam tulisannya. Ia dengan leluasa menceritakan tentang dirinya dan daerahnya itu dengan penuh semangat. Sehingga kita akan menemukan kata ‘Anda’ yang begitu banyak, seolah-olah penulis langsung bercerita ke pembaca. Walau ada juga kita diajaknya bersua dengan Murni dan Sutan. 

Nah. Dari contoh-contoh di atas, dari narasi-narasi yang terbangun di dalam cacatannya, bagaimanakah posisi Fatris sendiri sebagai penulis dan ‘pengunjung’ daerah-daerah itu? Di luar dari cacatan terakhir, saya melihat Fatris berada di tengah-tengah. Maksud saya, untuk menjelaskan daerah yang ingin didatanginya, pertama-tama Fatris akan mengutip tulisan dari para peneliti. Sedangkan ketika ia berada di sana, ia memberi ruang seluas-luasnya kepada orang-orang setempat.

Di era yang penuh iklan pariwisata: foto-foto dan video-video yang mengacaukan psikologi dan meyakinkan kita bahwa Anda perlu liburan, Fatris memberi narasi lain di dalam bukunya. Narasi itu adalah suara dari manusia-manusia yang ia temui.

Fatris, saya rasa takut terjatuh pada pandangan ‘eksotisme’ belaka ketika ia berkunjung ke daerah tersebut. Ia cenderung merasa bingung dan tidak mengerti ketika berada di sana (sebagaimana banyak narasi seperti itu kita temui di catatannya) dan membiarkan orang-orang yang ditemuinya menjelaskan secara jelas. Apakah itu yang ia sebut di kalimat belakang bukunya “…tempat-tempat yang jarang diberitakan media, yang tidak terdengar dan ‘tidak bersuara’”? Barangkali.

Suara-suara dari manusia yang ia temui ketika mengunjungi daerah-daerah itu memberi perspektif lain bagi kita yang hanya mengurung diri di kamar ini. Di era yang penuh iklan pariwisata: foto-foto dan video-video yang mengacaukan psikologi dan meyakinkan kita bahwa Anda perlu liburan, Fatris memberi narasi lain di dalam bukunya. Narasi itu adalah suara dari manusia-manusia yang ia temui.

Tidak hanya suara mereka, kita juga disuguhkan foto-foto mereka di dalam buku itu. Sehingga kita tidak hanya menemuinya dari sebuah kata-kata, juga dari potret manusia itu sendiri. Bukankah cacatan ini seperti surat yang dikirimkan seorang kawan baru yang entah dari mana. Betapa membahagiakannya.

Judul Buku      : Lara Tawa Nusantara

Penulis            : Fatris MF

Penerbit           : Buku Mojok

Cetakan           : Pertama, Juni 2019

Tebal               : xvi+349 halaman

ISBN              : 978-623-7284-02-4

Leave a Reply

Your email address will not be published.