(memori sebuah kota)

Padang adalah kota yang menyenangkan, setidaknya dulu. Dua puluh tahun yang lalu. Ada sungai jernih yang membelah kota tempat perempuanĀ² berbedak pada petang hari duduk di pinggirnya, tempat anak-anak dan warganya mandi, juga buang air tentunya. Kini, bila kemarau berlangsung lama, Batang Kuranji yang mengalir dari timur hingga ke barat kota akan menyusut drastis hingga kering, dan anak-anak masih mandi dan di sana, walau berisian dengan kotoran dan sampah.
Para intelektual, akademisi tata kota akan sepakan menyebut Padang sebagai kota semrawut, kota kusam yang memoles diirinya dengan apa saja: baliho pejabat yang penuh senyum palsu mengajak ini-itu dengan huruf kapital dan warna-warna mencolok, lampu merah yang kadang berjalan sendirinya dan pengendara berjalan dengan aturannya sendiri yang semena-mena, lampu-lampu jalan yang dibuat dengan anggaran besar namun tidak menyala. Taman kotanya pasca bayar, jelek dan bau di tiap pojoknya. Tiap Tahun, jalanan menuju dan ke luar kota akan mulus, sebab pembalap-pembalap sepeda dari berbagai negara datang ke sini untuk mengayuh sadel sepeda mereka. Tidak berapa lama setelah itu, jalanan akan kembali seperti sediakala.

Di akhir pekan, sebagian anak-anak muda menghabiskan malam minggu di pinggir pantai dengan membawa kendaraan orang tua mereka. Anak-anak petinggi daerah, keturunan priyayi (di masyarakat egaliter Minangkabau?) dari kampung-kampung di kabupanten-kabupaten yang mendadak kaya berkat sawit dan tambang emas. Bila malam Minggu tiba, anak-anak muda parlente ini mengendarai mobil-mobil terbaru mereka yang rata-rata berwarna norak dengan soundsistem menggelegar seperti diskotek berjalan dan sengaja dibuka semua pintunya ketika parkir. Kadang mereka parkir juga di Taman Budaya yang besar dan hampir megah untuk kota yang tidak jelas arah ini. Banyak pelajar mengubah status mereka menjadi pembalap-pembalap nekat pada akhir pekan. Dengan knalpot sepeda motor yang menderu-deru hingga dini hari, mereka memacu lari sepeda motor dan bermimpi jadi Valentino Rossi. Sesekali, iring-iringan suporter sepakbola memenuhi jalan sambil berteriak-teriak menyanyikan lagu yang tidak jelas nada dan artikulasinya..



 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.