UNESCO menetapkan Tambang Batu Bara Ombilin di Sawahlunto, Sumatera Barat, masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia kategori budaya pada tahun 2019.

Berpaling dari kisah kelam, bermodalkan festival musik dan gedung-gedung tua, Sawahlunto bertransformasi dari kota tambang menjadi destinasi wisata. Sebuah peringatan bisnis batu bara bukanlah janji yang langgeng di Indonesia

Sirine milik perusahaan tambang berdengung siang itu. Tepat pukul satu pada jam tua di puncak menara kantor perusahaan tambang terbesar di Sumatera pada abad lalu. Sirine penanda jam istirahat bagi para pekerja, yang sekarang hanya tersisa seratusan orang saja dari beribu-ribu banyaknya dulu. Suaranya yang panjang berpendar ke seantero kota, menjalar ke pucuk-pucuk pinus di perbukitan, seperti hendak menjagakan masa silam yang terkantuk-kantuk. Perbukitan yang berbaris, bagai kuli-kuli paksa di abad lampau, melingkari pusat kota kecil bentukan Belanda itu. Kota yang dulunya hanya sehamparan sawah di tengah cekungan lembah yang dialiri Sungai Lunto.

Sudarma menekurkan kepala, seakan dengung sirine itu sebuah himne yang datang mengganggunya dari kejauhan masa silam. Perbincangan kami terhenti sesaat. Sirine itu telah menghentikan kami. Lalu tidak berapa lama azan zuhur dari menara masjid di pusat kota juga merambat. Masa lalu menghamburkan dirinya. Dulu, menara mesjid itu adalah cerobong asap dari pembangkit listrik tenaga uap dengan bahan bakar batubara yang dari sana listrik menerangi sekujur Sawahlunto dengan cahaya. Tapi kini, setelah pembangkit listrik itu tidak lagi beroperasi karena kekurangan sumber bara, di puncak cerobong asap itu kemudian diletakkan corong pengeras suara milik mesjid raya terbesar di kota itu. 

Saya duduk bersama Sudarma pada sebuah bangku lusuh di toko kue Fak Sin Kek yang menghadap ke jalan utama kota. Beberapa pejalan kaki yang lewat menyapa kadang sambil mengangkat tangan sembari melemparkan guyonan ke arah kami. Di usia yang hampir delapan puluh tahun, bukanlah sebuah kendala bagi Sudarma untuk mengobrol selama berjam-jam dengan saya. 

“Saya tidak akan bisa lari dari sini. Sawahlunto lebih dari kampung bagi saya. Istri saya lahir di sini, meninggal di sini, dimakamkan di sini. Saya menikahinya tanpa membawa apa-apa, sebagaimana adat di sini (adat matrilineal Minangkabau),” kenangnya. Ia menatap kosong ke jalan raya. Matanya yang sipit dipenuhi lemak katarak, tidak bisa menyembunyikan bahwa ia seorang Tionghoa. “Saya memakai nama Indonesia karena saya orang Indonesia,” jawab Sudarma ketika saya menanyakan nama Tionghoanya.  

Sebagaimana adat matrilineal di tengah Sumatera, Sudarma tinggal di rumah keluarga istrinya. Rumah Fak Sin Kek namanya, bangunan tua yang dilabeli sebagai benda Cagar Budaya yang sekarang menjadi toko kue. Fak Sin Kek, orang tua istrinya, adalah salah seorang saudagar dari negeri Tiongkok yang datang ke Sawahlunto sebagai peternak sapi sekaligus penjual susu untuk para meneer Belanda. Dulu, dulu sekali, ketika emas hitam masih dikeruk di tengah kota, ketika lori dan ribuan pekerja masih menggali arang dari lorong-lorong panjang di bawah kota. 

Sawahlunto, lebih dari satu abad telah berlimpah kemewahan, bermandikan cahaya di tengah pedalaman Sumatra yang masih ‘purba’. Dari Cornell University, sebuah berkala terkenal, Indonesia, pada tahun 2005 pernah menurunkan sebuah artikel yang menuliskan tentang gaya hidup mewah di Sawahlunto. Susan Rodgers dalam A Nederlander woman’s recollections of colonial and wartime Sumatra: from Sawahlunto to Bangkinang internment camp, menulis tentang keberadaan kolam-kolam pemandian yang terdapat di Muaro Kalaban pada masa kolonial Belanda, mobil-mobil pribadi yang mahal milik para orang kaya kota menyesaki jalan-jalan kota yang lapang dan mulus, juga rumah-rumah bola tempat tuan-tuan kolonial menghibur diri pada akhir pekan. Kemewahan hidup yang berhenti sesaat ketika Jepang datang, tetapi berlanjut kembali hingga setengah abad setelah kekuasaan kolonial hilang dari Indonesia. 

Keluarga Fak Sin Kek, salah satunya, hidup dalam kemewahan itu. “Tak hanya orang Tionghoa, Orang Jawa, Sunda, Minang, semua penduduk hidup makmur di sini,” kenang Sudarma.

Namun, catatan tentang Sawahlunto yang multikultur tidak bermula dari kemakmuran dan kemewahan, melainkan dari rintihan perih para pesakitan, orang-orang tahanan yang diangkut dan dipekerjakan secara paksa ke gelap lubang tambang. 

Kisahnya berawal dari bara dan dua orang insinyur Belanda. Insinyur yang pertama, C. de Groot, menyusuri Singkarak pada pertengahan abad ke-19 dan disusul W. H. de Grave yang berakit di Sungai Ombiling hampir dua dekade setelah itu—sungai di pinggiran Kota Sawahlunto yang sekarang kuning mengkilap seperti emas. Hasil hipotesa Grave menggembirakan sekaligus mencengangkan: ratusan juta ton emas hitam bersemayam di bumi Sawahlunto dan tidak akan habis ditambang selama berabad-abad. Keinginan mengeksploitasi timbul dari pemerintah kolonial Belanda, tapi memakai tenaga siapa? 

Pada mulanya pekerja diangkut dari Penjara Muara Padang, penjara kolonial yang memang terkenal sebagai pusat pemenjaraan bagi tahanan hukuman berat (Centrale Gevanenis voor  Strafgevangenis) sejak awal abad ke-19. Tapi kebutuhan akan pekerja tidak sebanding dengan jumlah tahanan yang ‘tersedia’ di penjara itu. Pemerintah Belanda kemudian juga mendatangkan narapidana dari penjara di Cipinang dan Glodok di Batavia. Beberapa dari tahanan yang dianggap berbahaya dikalungkan rantai besi yang melingkari pegelangan tangan dan kaki mereka. Pada tahun 1896 lebih dari seribu kuli paksa dipekerjakan. Ahli sejarah menyebut mereka kettingganger atau ”urang rantai” dalam bahasa pribumi setempat. Hanya dalam beberapa dekade setelah itu, lorong-lorong penggalian bara tercipta. Mesin dan lori didatangkan. Jalur kereta dibuat hingga ke pelabuhan Emma Haven (Teluk Bayur) di pesisir pantai barat Sumatera untuk dikapalkan entah ke mana. 

Marah Rusli menggambarkan dengan sangat hidup satu potongan dari kisah kedatangan tahanan yang akan dikirim ke Penjara Sawahlunto itu dalam roman Sitti Nurbaya.  Di Teluk Bayur, tulis Rusli,  ada seorang tahanan dalam kapal dengan tangan terikat rantai. Dengan wajah putus asa, lelaki itu melompat ke dalam laut dan tidak timbul lagi. Syamsul Bahri, tokoh utama roman awal abad ke-20 itu, yang menyaksikan kejadian itu dengan jantung berdegup kencang menunggu tahanan itu muncul ke permukaan air yang saat itu gelombangnya sangat besar. “Rupanya karena putus asa, lebih suka ia mati di dalam laut daripada menanggung kesengsaraan, kehinaan, dan malu. Patutlah acap kali hamba lihat ia termenung dan terkadang-kadang menangis di sisi kapal; makan pun kerap tiada suka. Kabarnya ia dipersalahkan membunuh orang, sebab itu dihukum buang dalam rantai lima belas tahun lamanya ke Sawah Lunto,” kata Syamsul Bahri, tulis Marah Rusli pula.

Karena tidak cukup juga tenaga kuli dari kalangan narapidana, lowongan kerja kemudian dibuka secara besar-besaran. Dengan sistem kontrak, para kuli didatangkan dari  Jawa, Bali, Madura, dan Bugis untuk menggali emas hitam dari perut bumi Sawahlunto. Buruh kontrak Cina juga didatangkan melalui kongsi-kongsi tenaga kerja Cina yang ada di Penang dan Singapura maupun yang dikirim langsung dari daratan Tiongkok. Sedang dari Jawa didatangkan melalui kantor pengerahan tenaga kerja yang ada di Semarang, Batavia, dan Surabaya.

Dan di antara pekerja-pekerja itu terdapat perempuan-perempuan yang bertindak sebagai penghibur, baik sebagai ronggeng atau tandak penari atau pelacur tradisional. Ronggeng dan tandak dancers, tulis sejarawan Erwiza Erman, menghibur para penambang agar mereka betah tinggal dalam jangka panjang untuk bekerja dengan perusahaan. Para perempuan penghibur ini direkrut selama enam bulan pada suatu waktu, biasanya ketika kontrak kerja para kuli akan habis—semacam ‘rayuan’ agar para kuli memperpanjang kontrak kerjanya. Para penari itu adalah wanita muda yang cantik yang juga terikat kontrak kerja. Ketika dua atau tiga tahun bekerja sebagai ‘penari’, perusahaan akan merekrut ‘penghibur’ baru, yang lebih molek, yang lebih muda. Secara umum, beberapa mantan penari itu tidak kembali pulang. Banyak dari mereka memilih tetap di Sawahlunto dan menikah dengan buruh kontrak atau buruh bebas. Kehadiran penari ronggeng ini, telah pula menjadi perhatian pejabat Belanda dan Inspektur Tenaga Kerja . Van Kol, misalnya, mengunjungi Sawahlunto di awal abad ke-20 mencatat adanya 50 kelompok ronggeng penari untuk menghibur para pekerja tambang, yang masing-masing kelompok memiliki beberapa perempuan penari.

Sementara, dari daratan Eropa berdatangan para ahli dan mandor—para tuan-tuan perusahaan tambang. Mereka membawa gaya hidup Eropa mereka yang mewah ke pedalaman Minangkabau itu, dengan dansa-dansi yang hampir saban pekan dipergelarkan di gedung pusat hiburan di kota itu demi untuk mengusir kejenuhan bekerja di medan-medan tambang, pun dengan diskriminasi ras yang mereka pelihara. 

Orang-orang dari berbagai kultur telah datang ke Sawahlunto mencari peruntungan atau pun dibawa oleh untungnya sendiri. Kota itu kemudian menciptakan stratifikasi kelas yang rasial: para tuan, pialang, pedagang, hingga kelas paling rendah sebagai pekerja paksa. Mulai dari Eropa, Tionghoa, Batak, Minangkabau, Jawa, hingga Nias. Di lembah aliran Sungai Lunto ini pula berkumpul hampir 11.000 pekerja dengan status yang berbeda-beda, baik sebagai pekerja paksa, kuli kontrak, termasuk buruh lepas asal Minangkabau, Nias, dan Batak. Dari retak tulang orang rantai, dari keringat asam para pekerja itulah Sawahlunto ada. Dan Sawahlunto kemudian bagai sebuah miniatur Indonesia yang plural. Kesadaran akan ke-bhineka-an tumbuh mempersatukan mereka, nasionalisme barangkali lahir dari tekanan dan rasa ketertindasan. 

Kesadaran sebagai orang terjajah itulah barangkali yang menyulut api pemberontakan, yang berkobar-kobar pada tahun 1927 di Silungkang, nagari tua Minangkabau yang terletak di pinggiran Kota Sawahlunto. Pemberontakan itu dicatat sebagai pemberontakan yang melibatkan orang-orang dari berbagai kultur. Beberapa pemimpinnya berasal dari orang Minangkabau, Jawa, dan juga Batak. Pemberontakan itu disambut para kuli sampai membunuh beberapa tuan Belanda, dan menyerang Penjara Sawahlunto yang terkenal angker—representasi dari kolonialisme yang hegemonik itu. 

Namun, keberagaman ras dan kultur di Sawahlunto tidak hanya sampai di sana. Dari lobang-lobang hitam galian bara itu, bahasa baru lahir. Sebuah bahasa hasil dari pencampuran  bahasa Jawa, Sunda, Madura, Bali, Bugis, Batak, China, Minangkabau,  Belanda, dan bahasa Melayu sebagai bahasa dasar. Bahasa Tansi, begitu jenis bahasa baru ini disebut Esya Putri ES dalam Menggali Bara Menemu Bahasa yang diterbitkan dua tahun yang silam. Bahasa Tansi, bahasa kreol (buruh) yang lahir dari perdagangan yang secara geografis berada dan berkembang di wilayah pesisiran, misalnya di Kribia dan Papua New Guinea. Uniknya, bahasa tansi (penjara) ini lahir justru bukan di pesisiran, belainkan di pedalaman. Bahasa Tansi Sawahlunto, menurut Elsa, adalah bahasa yang lahir dari percakapan para kuli tambang dari berbagai lintas kultur. Bahasa itu hingga kini masih dapat didengar di Sawahlunto, menyembur dari mulut-mulut warga kotanya dengan lancar. 

Setelah Indonesia merdeka, aktifitas tambang diteruskan pemerintah. Pekerja ditambah, upah dinaikkan, dan perlakuan kasar mandor dihapuskan. Di tengah pedalaman Sumatera yang masih purba, Sawahlunto tumbuh pesat dalam gemerlap kota. Di malam hari, tiap penjuru kota ini diisi pesta. Tiap awal bulan, gelanggang akan menampilkan pementasan musik besar-besaran. Artis-artis kawakan dari ibukota dibawa untuk mengisi panggung hiburan. “Kami melihat langsung Bing Slamet bernyanyi,” Gusmarni mengenang masa remaja yang ia habiskan di kota itu. 

***

Waktu berputar, tahun berjalan laksana laju sebuah kereta bara. Sawahlunto yang bahagia berubah muram. Pada 1995, pamor emas hitam itu mulai redup. Produksi batu bara Ombilin terus merosot tajam seiring dengan mengeringnya batu bara tambang luar, belum lagi harga bara anjlok di pasan dunia. PT Bukit Asam Unit Penambangan Ombilin yang dikelola pemerintah terus merugi. Entah pengaruh politik yang tengah memanas pada masa itu, PHK besar-besaran diberlakukan, walau dengan tunjangan yang sangat tinggi. Beberapa lokasi tambang ditutup.

Sawahlunto kemudian tak ubahnya seperti kota mati dengan bangkai-bangkai besi penuh karat yang berserakan. Perekonomiannya nyaris lumpuh. Alasannya tak lain dari bara. Emas hitam mengilap yang dulu menggerakkan mesin industri di Eropa itu telah kehilangan pamor oleh minyak bumi yang siap menggantikannya.“Tidak ada yang bisa diharap lagi. Di kota ini lebih banyak pedagang dari pada pembeli,” Sudarma mengeluh di rumah cagar budaya Fak Sin Kek. “Pada saat itu, banyak yang stres bahkan ada yang jatuh stroke,” ungkap Kamsri Benty di kampung Tansi Baru. 

Kehidupan mewah tiba-tiba terdepak oleh agenda penyusutan tenaga kerja. Sawahlunto menjadi senyap seperti ia mula-mula didatangi dua orang insinyur Belanda pada pertengahan abad ke-19 dulu. “Saya tak tahu kenapa saya menangis ketika melewati kota itu, o, mungkin saya terlalu berlebihan. Kota yang dulu megah sekarang terasa menakutkan,” tambah Gusmarni mengenang perlawatannya ke Sawalunto tiga bulan lalu .

Reformasi pecah di Jakarta, beratus lubang-lubang tambang marak bermunculan—walau dalam skala kecil—tersebar di pinggir kota. Bara memang tidak pernah habis dari Sawahlunto, sesuai perkiraan dua abad silam. Tapi, kejayaan masa lalu tak seorang pun bisa mengembalikan. 

***

Di awal abad ke-21 Sawahlunto kemudian menukar arah haluan dari kota tambang yang mendatangkan buruh, menjadi kota wisata yang mengundang turis. Saya datang ke Sawahlunto di pengujung tahun 2013 yang basah. Dari Padang terentang jarak 115 kilometer yang melewati pegunungan Sitinjau, hutan di kanan-kiri, dan kabut yang kerap turun membasahi jalan sepanjang perjalanan yang membuat pandangan tampak samar. 

Mobil acap berjalan bersisian dengan sisi rel kereta api—perjalanan saya seperti hendak mengikuti jalur kereta dari Teluk Bayur hingga Sawahlunto sana. Sekarang, rel itu tak ubahnya bangkai masa lalu yang masih disimpan rapi oleh zaman yang telah rusak. Rel itu tidak lagi difungsikan sebagaimana dulu ketika kereta dengan gerbong-gerbong berderet panjang penuh muatan bara akan menjejakinya hingga ke Teluk Bayur. Dan di pelabuhan terbesar di pantai barat Sumatra itu, kapal-kapal dengan lambung yang besar telah bersiap membawa bara ke berbagai penjuru hingga ke Eropa sana. 

Mobil yang saya tumpangi melaju memasuki Solok, sebuah kabupaten yang di tanahnya tumbuh padi dengan kualitas nomor satu sampai harganya melangit hingga penduduknya jarang makan dari hasil buminya sendiri. Mobil berjalan meliuk-liuk menyambut pagi yang murung, kadang terhantuk di lintasan rel yang melintangi jalan. 

Tak sampai dua jam perjalanan, saya telah memasuki Silungkang, daerah kecil di pinggir Kota Sawahlunto yang dicatat dengan tinta merah sebagai pusat pemberontakan kaum komunis. Pemberontakan yang diprakarsai oleh orang dari lintas etnis. Orang-orang tambang, pekerja di lorong-lorong kelam emas hitam pada masa itu pendudukung komunis sejati. Silungkang adalah basisnya. Di Silungkang pula, tersebar pusat-pusat kerajinan yang terkenal sampai ke Eropa; tenun yang memiliki corak dan warna yang beragam seakan menggambarkan pluralitas masyarakatnya. Garis motif pada rendanya, seperti ingin bercerita tentang kebebasan. Tapi, kebebasan yang mana lagi?   

Dari Silungkang, mobil saya berbelok ke kiri di Lintas Sumatra. Hanya sepuluh menit dari Lintas Sumatera itu, pusat Kota Sawahlunto akan tampak dari jalan yang membelah perbukitan. Saya tiba di kota kecil itu dalam cuaca yang sejuk, senyum Muhammad Yamin yang dipahat di tugu menyambut saya di persimpangan.

***

Lonceng gereja berdentang lambat, memecah sunyi di pagi Minggu. Ini minggu kedua saya di sini. Koor rohani yang merdu terdengar lamat-lamat dari gereja Santa Barbara di ujung pertokoan. Pada hari libur, detak jam akan bergerak pelan sekali di Sawahlunto dan akan terlihat jauh lebih sepi dari hari biasa. Sebelum matahari meninggi, kereta telah tiba di stasiun kota. Dengus gesekan roda besi pada rel, mengeluarkan suara parau. Penumpang keluar dari gerbong dengan mata berbinar. 

Tiap akhir pekan, kereta akan sampai di Sawahlunto membawa penumpang dari Solok. Di hari libur, sebagian besar pegawai kantor pemerintah akan pulang ke daerah asal di luar Kota Sawahlunto. Akan tetapi hari libur kali ini situasinya berbeda. Sawahlunto International Music Festival sedang berlangsung selama tiga hari. Pemusik dari berbagai belahan negara ikut turba ke Sawahlunto; Mali, Australia, Irlandia, Brasil. Sawahlunto sesak oleh wisatawan. Dari pagi hingga sore hari, kota penuh dengan pagelaran mulai dari kuda kepang hingga barongsai. 

Di depan tiga buah silo, tempat penyimpanan bara setinggi empat puluh meter, saya duduk di satu bangku penonton sambil memejamkan mata, membiarkan angan dibawa lena alunan gesekan rabab group Talago Buni dan lirih suara Irish Warpipes yang dipadu dengan akordion pemusik Irlandia. Saya menghabiskan malam-malam dalam alunan musik yang membuat trans. Aly Keita dari Benua Hitam menabuh gendang-gendang kecil yang membawa nuansa gurun-gurun tandus Afrika. Saat embun dini hari mulai turun dan cuaca makin dingin, pemusik Tjupurru dari Benua Kangguru melantunkan nada-nada absurd memabukkan. Orang-orang riang dalam pesta meyambut dini hari. “Bukan begitu cara menikmati musik, ayo sini!” seorang perempuan berambut pirang mengajak saya berjoget. Seperti inikah Sawahlunto di masa silam? “I’m dancing in my mind” saya menolak ajakannya. Lelampu 125 tahun Kota Sawahlunto menyala bergantian. Kabut saling bersiteru dengan embun dini hari. 

***

Dari Puncak Cemara, Sawahlunto terlihat jelas: rumah-rumah berjejer rapi, besi-besi raksasa yang menyangga lingkaran beton, bekas-bekas pabrik yang ditinggalkan, juga pasar-pasar yang ramai pada hari-hari tertentu. Dari puncak ini, Sawahlunto terlihat seperti sebuah miniatur kota tambang yang tertutup kabut. Matahari sebentar lagi akan muncul dari balik bukit. Di tempat saya berdiri ini dulu noni-noni Belanda berselunjur melihat petang yang rembang, dan langit menyemburatkan warna jingga. Di bawah sana, para pekerja, lori dan kereta silih berganti mengeluarkan bara dan menaruhnya di gerbong-gerbong yang parkir di stasiun.

Stasiun itu sekarang disempurnakan menjadi museum kereta api yang memajang foto-foto, miniatur gerbong dan lokomotif uap. Di samping museum, sebuah gerbong dan lokomotif  ditaruh tidak terawat, lokomotif mak itam namanya. Gerbong bara penyuplai bahan bakar yang menggerakkan mesin-mesin industri di dunia itu seperti menunggu lapuk digerogoti usia. Lima tahun silam, lokomotif dan gerbong tua mak itam itu diangkut dari Ambarawa ke Sawahlunto, ke tempat asalnya, tempat ia dulu dioperasikan. 

Puncak Poland, merupakan puncak tertinggi perbukitan yang mengurung Kota Sawahlunto. Di puncak ini, Arif dan beberapa rekannya akan melayang mengitari kota. “Ini untuk profesional, sebaiknya pemula jangan di sini,“ kata Arif, “di Indonesia Sawahlunto-lah satu-satunya lokasi paralayang yang terletak di atas kota.” Saya hanya bisa melihat Arif melayang-layang di bawah parasut memutari gunung-gunung hijau dan kemudian mendarat di tengah kota.

Dari Puncak Poland, saya singgah di Paguyuban Seni. Di sebuah tubir bukit yang menghadap ke cekungan kota, anak-anak dan remaja tengah menari. 

“Kesenian Jawa, tidak hanya buat orang Jawa saja,” kata Surya yang tengah sibuk membakar kemenyan. Aroma wewangian purba yang menyesak ke dalam rongga hidung. Dalam tiupan angin bukit dan cahaya langit sore yang menembus asap kemenyan, mereka terus menari. Gamelan dan gendang ditabuh, mengeluarkan suara dinamis. Kembang beragam warna digelar. Mereka bercerita tentang kesatria dan orang-orang sakti di tanah Jawa. Imajinasi saya melayang pada sosok Mbak Soero, seorang tokoh sakti yang dibawa dari tanah Jawa untuk mengawasi kerja para narapidana. Untuk menghormatinya, sebuah lubang galian memakai nama Mbah Soero. Akan tetapi mereka tidak membawakan tari tentang Mbah Soero. Yang ada hanya tarian dalam mitologi Jawa. Tidak ada cerita tentang tambang dan orang rantai, atau tentang perempuan-perempuan muda yang didatangkan dari negeri seberang dan bekerja sebagai penari di kota tambang.

“Ke jangan mode tu, wis tak kecek i, itu masalalu kota kami, tak elok bila diingat lagi,” kata sepuh Paguyuban Sapu Jagad dalam bahasa Indonesia setengah Tansi.

Mula-mula, ada sekitar sepuluh anak yang asik menari dengan kuda yang ditingkahi alunan gamelan dan ketukan gendang. Lama-lama mereka kerasukan, terjebak dalam trans. Mereka berubah menjadi liar: memakan kemenyan, api, bara, kembang, apa saja yang tampak. Mata yang tadi bersahaja itu, berubah menjadi sangar. Pada peringatan tertentu seperti grebek suro pada bulan Muharam, mereka akan tampil di tengah kota, bersama penduduk membawa hasil bumi dan makanan khas Sawahlunto dalam arak-arakan sepanjang jalan. Dari paguyuban kesenian Jawa, saya pindah ke nagari lain di pinggir kota, menyusuri jalan penuh tebaran spanduk warna-warni walon anggota dewan dengan foto dan slogan yang tak kalah memabukkan. 

Di depan saya kini telah berdiri beberapa tetua kampung Nagari Pasa Kubang, sebuah kampung kecil di lereng perbukitan yang mengelilingi Sawahlunto. Pada malam sedingin ini, mereka akan menari. Gelanggang dipenuhi  masyarakat dengan berbagai usia. Saluang telah ditiup, alunan nada pentatonik yang dikeluarkan bilah bambu itu terdengar sayup seperti rintihan yang ditahan, entah ratap seorang perempuan yang cintanya tidak kesampaian, ataukah jerit pilu seorang ibu yang tengah meratapi kematian anaknya di perantauan. 

 “Kesedihan hidup kami yang kami dagangkan,” kata seorang penyair. Mungkin bait sajak itu tepat adanya untuk pertunjukan saluang. Para pendendang menyanyikan lagu-lagu sedih, tetapi penonton menanggapinya dengan sorak-sorak, seakan-akan apa yang dinyanyikan mewakili kesedihan mereka belaka. Memang, di Minangkabau, kesedihan tampaknya tidak untuk ditangisi, tetapi dirayakan. Seolah-olah, kesedihan, kegelisahan, dan penderitaan hidup hanya dapat dilupakan dengan cara ditertawakan, ditepuk-tangani. Betapa aneh. Bahkan, kesedihan, di beberapa lagu Minang, dinyanyikan dengan nada yang riang gembira, diiringi ketipak-ketipuk gendang.

Riwayat pendendang adalah riwayat yang dalam sajak Chairil Anwar disebut “mereka yang datang menemui malam”. Kebanyakan pendendang adalah perempuan. Citra seorang pendendang sering buruk di mata pandangan umum masyarakat Minangkabau karena kebiasaannya keluar malam itu. 

Tak berapa lama, beberapa tetua kampung memasuki gelanggang diiringi tepukan penonton. Gendang ditabuh, ditingkahi suara ketukan talempong dan alat tiup dari tanduk yang melengking-lengking. Mereka melangkah pelan memasuki arena. Dari ritme gerakannya yang merendah penuh kehati-hatian, dengan piring di kedua tangan,  kepala setengah mendongak ke atas—dapat ditebak bahwa tari ini adalah tari pemujaan pada dewa atas panen yang berlimpah. Dan panen memang berlimpah musim ini. Berkarung-karung durian siap disantap oleh tamu atau siapapun. “Tahun ini buah durian di kampung kami menjadi-jadi,” jawab Lia ketika saya tanya dari mana buah beralkohol itu diambil. 

“Tapi, kenapa kau tak menari?” saya bertanya sekenanya sembari memamah durian.

“Perempuan tidak menari di depan orang ramai,” ia berkata datar, sedatar tatapannya. Angin dari lembah berhembus membawa dingin, mengibarkan ujung kerudung Lia. Sejak Islam masuk ke pedalaman Minangkabau dan perang padri berkobar tiga dekade di abad ke-19, penari tidak lagi dipersembahkan gerakannya untuk memuja Dewa, walau spiritnya masih terasa hingga kini. 

Dua lelaki tua menatap saya penuh curiga, barangkali karena tak senang dengan saya yang asik mengobrol dengan Lia. Di pedalaman Minangkabau dengan aturan adat yang disublimkan dengan syariat hari ini, berbincang dengan lawan jenis pada tengah malam dianggap sangat tidak etis. Tabu. Tapi, saya tidak ambil peduli. Kami seperti dua butir kacang polong yang jatuh dari pohonnya. Gelanggang Tari Piring telah berganti dengan randai (pementasan drama tradisional), tanpa saya sadari.  

“Datanglah besok siang, kau akan melihat bagaimana perempuan menari,” ia berkata lebih datar dan pelan. Malam sudah cukup  larut, tapi pesta belum memperlihatkan tanda-tanda akan usai dan malah bertambah ramai oleh kaum laki-laki maniak durian. Lia melirik saya sejenak, lalu tersenyum kecil. Senyuman itu, entah punya maksud tersirat, saya tidak tahu. Ia berlalu, meninggalkan saya dalam alun pedendang dalam randai yang bercerita tentang kasih tak sampai. Aih, dendang itukah yang membuat pilu? 

Saya terkurung kabut dan embun dini hari yang merayap dari tubir perbukitan. Sawahlunto seperti ular yang sedang mengganti kulit. Kulit lama adalah masa silam yang teronggok di mana-mana di kota itu, kulit barunya adalah warna-warni kehidupannya hari ini. 

Artikel ini dipublis pertama kali di DestinAsian Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.