WARNA WARNI WAKATOBI

posted in: Feature | 0

Wakatobi penuh warna-warni kehidupan. Dasar lautnya dihuni oleh beragam terumbu karang yang minta diselami, daratannya juga dipenuhi pantai yang melenakan mata dan masyarakat yang masih setia pada tradisi.

Di laman-laman internet, pada awal 2019, saya membaca bahwa 750 dari 850 spesies koral dunia ada di  sana, letaknya di Indonesia bagian timur.  Ia termasuk dalam jejeran “10 Bali baru” sekaligus didapuk sebagai destinasi yang milenial. Dan, inilah pengalaman saya berwisata melihat dunia baru, wisata yang tidak konvensional.

Saya berangkat setelah booking transportasi dan penginapan, saya tidak ingin menjadi traveler terlunta-lunta di sana nantinya. Di internet, toh semua ada. Dan kita, sebagai generasi milenial, hanya butuh keberanian sedikit saja yang tidak ada di internet: keberanian menjelajah.

Pesawat yang saya tumpangi mendarat pagi hari di Bandara Matahora, Wakatobi yang terletak di sebuah pulau di antara banyak gugusan pulau di bagian selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Pada satu pagi, saya menemukan seorang guru. Guru yang akan membawa saya mengarungi dunia baru, alam yang baru; alam yang belum pernah saya datangi. Alam yang baru hanya ada dalam imajinasi saya. Guru saya ini seorang lelaki berbadan gempal dengan misai dan cambang menutupi dagu dan pipinya, lengkap dengan dua potong alis hitam tebal di atas bola matanya yang bulat. Nama guru saya ini singkat saja: Guntur.

Dan kini, Guntur mengajarkan saya cara kerja seonggok perkakas yang hendak kami bawa menuju dunia baru tersebut. Tabung bulat dengan pipa lentur, jarum penunjuk, regulator yang akan ditaruh di mulut, baju berbahan setengah karet dengan kancing di bagian punggung, buntalan-buntalan keping besi yang dililitkan ke pinggang berfungsi sebagai pemberat badan, tombol-tombol, dua lapis karet seperti telapak kaki katak yang akan dilekatkan ke telapak kaki sendiri. Sebentar lagi, hidung saya tidak akan saya fungsikan, sebab mulut akan menggantikannya. Saya akan bernapas hanya dengan mulut. Dengan segala peralatan aneh yang dibawa guru, saya membayangkan tubuh saya berubah menjadi alien seperti dalam film-film. Kenyataannya, saya memang alien; makhluk daratan yang mencoba berwisata ke dasar lautan.

Dengan cekatan, saya memasang segala perkakas. Setelah semua perkakas terpasang, guru meletakkan tabung berkapasitas 16 kilogram di punggung saya, kemudian barulah ia memasang di punggungnya sendiri.  Inilah bekal utama perjalanan kami. Pada oksigen dalam tabung inilah kami menggantungkan hidup untuk bernapas. Dengan mengikuti aba-aba guru, menyelam, bernapas melalui regulator yang mengeluarkan gelembung-gelembung kecil, saya mulai meliuk-meliuk ke ceruk-ceruk dalam, melewati terumbu karang warna-warni yang melambai-lambai bagai ribuan jari lentik tengah menari. Gerombolan ikan dengan formasi-formasi aneh di depan saya, ikan kecil, ikan lurik, ikan berkepala lonjong, ikan penyendiri (bahkan di dasar laut pun, ada jenis makhluk yang suka menyendiri. O, betapa aneh dunia ini).

Hidup di dasar laut adalah hidup di dunia yang hening. Hanya ada sunyi yang bernyanyi, juga bunyi gelembung udara dari mulut. Oksigen dalam tabung dialirkan ke mulut saya lewat pipa kecil yang lentur, kemudian masuk ke paru-paru. Saya tengah berwisata ke dunia yang sama sekali berbeda: dunia tanpa knalpot dan raung mesin, tanpa hingar bingar televisi tempat bergentayangan tokoh-tokoh politik bermulut knalpot dan bintang-bintang film norak. Inilah dunia baru seperti yang disebut Kevin Reynold dalam film Water World. Dunia baru yang ada di masa depan. Masa depan ketika lapisan es di kutub mencair dan menggenangi seluruh permukaan bumi dengan air. Masa depan, dalam film yang dibintangi Kevin Costner ini, adalah dunia yang penuh polusi, keserakan, dan orang-orang yang kehabisan akal sehat. Hanya sebagian kecil sekali daratan tersisa dan jadi rebutan orang-orang yang sanggup beradaptasi dengan dunia baru tersebut. Dan, cuma tersisa satu tempat yang damai di masa depan: dasar laut.

Jantung saya berdegup kencang saat seekor ular belang sepanjang satu meter melintas di samping saya. Tetapi, Guntur memberi aba-aba pada saya untuk tenang. Makhluk lautan rupanya tidak seperti makhluk daratan, mereka tidak suka mengusik bila tidak merasa terganggu. Dan, saya juga bukan jenis alien yang suka mengganggu. O, betapa tenangnya hati saya.

Kami terus meliuk. Ikan dengan bentuk aneh dan janggal (karena baru kali ini saya lihat) melintas di depan saya, ada pula ikan paduan warna seperti motif lurik dalam kain tenun, juga ikan berkepala aneh dengan benjolan yang banyak tengah melongo menatap saya. Apa yang dipikirkan ikan-ikan ini melihat saya; sosok makhluk daratan yang sedang bertamasya di dasar laut? Aksara dan bahasa sama sekali tidak bisa membuat saya berdialog dengan ikan. Betapa terbatasnya ilmu bahasa manusia, betapa dangkalnya kamus bahasa manusia hingga tidak bisa berkomunikasi dengan hewan.

Saya masih tertegun menatap ikan-ikan berbentuk janggal, tetapi Guntur buru-buru menarik saya untuk terus menyusuri alam bawah laut Wakatobi ini, padahal saya sedang ingin bermalas-malasan melihat ikan-ikan berkepala aneh tadi. Di dunia yang sesunyi ini, untuk apa terburu-buru, Guntur? Siapa yang memburu? Bukankah “tidak lari gunung dikejar” adalah pepatah lama supaya tidak terburu-buru, Guntur? Aduh, saya tidak mengerti bagaimana cara berbicara dengannya saat sedang menyelam. Dan Guntur, guru selam saya, tidak mengajarkan bahasa yang dipakai di dasar laut pada saya, kecuali instruksi dan aba-aba dengan kibasan tangan dengan arti yang monoton: bergerak lurus atau menyamping, menekan hidung untuk mengeluarkan udara yang menyesaki telinga, bergerak ke kiri, ke kanan, naik, siap, OK, aman tidak terjadi apa-apa. Betapa monotonnya dialog dua makhluk daratan yang sedang bertamasya ke dasar lautan.

Sunyi terus menyergap kami dengan keheningannya. Kami terus menyelami alam yang begitu hening. Inikah yang diimpikan manusia kota seperti saya ketika daratan berisi kegaduhan dan tidak lagi memberi damai? Akankah alam bawah laut menampung kehidupan manusia, ketika hutan dan segenap permukaan bumi diselimuti keangkaramurkaan? Untuk apa seseorang menyelam? Apakah muka bumi begitu berisik, begitu mengusik?

Guntur memberi aba-aba saya untuk bergerak ke permukaan. Barangkali oksigen dalam tabung akan kandas, dan saya akan kembali ke dunia nyata saya: daratan. Bukan air. Saya meninggalkan dunia baru yang begitu damai dan hening. Kami menyembul di dermaga Sombu Dive Spot, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tidak terbayangkan oleh saya seberapa berisiknya dunia bawah laut oleh manusia darat.

Guntur kemudian membawa saya berkendara ke ibukota kabupaten Wakatobi (nama kabupaten yang disingkat dari nama-nama pulau: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomi, Binongko) yang bernama Wangi-wangi. Minum kopi, melihat langit senja bertabur warna jingga  yang alangkah melankolik dan instagrammablenya.

Wakatobi, yang dalam beberapa tahun terakhir mencuat di muka bumi justru tetang cerukan di bumi: surga tersembunyi di bawah laut.  Bahkan, banyak orang kehabisan kata-kata untuk melukiskan kecantikan dasar laut Wakatobi hingga ia disebut saja dengan kata klise: surga. Benarkan Wakatobi sebuah surga?

“Kan sudah lihat itu dasar lautnya? Bagaimana? Cantik? Beginilah, kami tinggal di atas surga laut, di area Taman Nasional,” kata Akas Hamid, yang juga seorang guru selam. Kepulauan Wakatobi seluas 1,3 juta hektare ini memang telah didaulat sebagai Cagar Biosfer Dunia oleh UNESCO. Namun, kata Akas lagi, bom ikan yang berbahaya bagi ekosistem laut belum sepenuhnya berhenti. Lantas, kenapa masyarakat di “sorga” ini masih memakai bom, Akas?

Akas tidak menjawab pertanyaan saya yang semberono, yang klise, yang tak jelas. Ia justru menerangkan jenis-jenis ikan dan terumbu karang pada saya, supaya saya paham akan kayanya dasar laut Wakatobi. Wakatobi, diresmikan pada tahun 1996 dan didapuk sebagai Taman Nasional Laut (TNL) terluas kedua di Indonesia, dan menurut pemerintah setempat, menjadi habitat bagi 90% jenis karang yang ada di dunia serta lebih dari 942 spesies ikan. Pemerintah Indonesia juga menempatkan Wakatobi dalam daftar 10 destinasi unggulan Indonesia sejak 2016.

Dan saya hanya mengamini satu hal: ya, Wakatobi sangat indah dan memang kaya!

“Lautnya memang kaya, walau tanahnya banyak yang bersang. Dan itu sangat indah. Di sini, padi ditanam, karang yang tumbuh, haha,” Noval Monali, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Wakatobi mengeluarkan lelucon untuk obrolan pertamanya dengan saya. “ Tidak ada tanah berbatu di sini, yang ada batu bertanah,” begitu lelucon masyarakat di sini mengolok-olok kampung mereka sendiri. Kalau tidak percaya, pergilah berjalan-jalan, jangan cuma menyelam, kata Noval. 

Lantas, saya pun berjalan-jalan. Kini saya menjejaki tanah berbatu karang, hitam, berjalan kaki di Kampung Liya Togo, Pulau Wangi-wangi. Rumah-rumah beton, rumah-rumah kayu unik. Begitu banyak karang. Hanya karang, dan sedikit tanah ditumbuhi ketela-ketela meranggas yang bagai enggan hidup tapi juga tidak hendak mati.

“Ini cukup subur dibanding tempat lain di Wakatobi,” kata Riadi, seorang guru SD yang penuh semangat mengenalkan kampungnya pada saya. Subur? Saya terdiam membayangkan ketela ini tumbuh di kampung saya di Sumatera. Bila dibanding dengan pulau-pulau “agraris” di Indonesia yang penuh lahan datar yang luas, Wakatobi hanyalah wilayah pulau-pulau berkarang gersang yang sama sekali tidak penting. Tuhan saja bagai enggan menciptakan tanah subur di sini.

Walau daratan penuh karang yang bertanah, masyarakat dimanjakan oleh laut penuh ikan. Lihat, perempuan-perempuan kampung Liya Togo memasak beragam ikan yang dianugerahkan oleh laut. Laut Banda begitu nyata hadir di atas piring mereka. Di pulau-pulau yang dikungkung wilayah Taman Nasional Laut ini, saya berpindah-pindah. Dari Pulau Wangi-wangi, saya menumpang kapal menuju Tomia. Dari pulau Tomia yang juga berkarang, saya berpindah ke pulau kecil berpasir putih. Lautnya berwarna pirus, jernih dan bening. Wakatobi begitu banyak mengoleksi spot-spot yang instagrammable, yang instagenic, yang membuat penasaran kaum milenial untuk mengeksplorasinya.

 “Ini pulau tidak ada penghuni,” kata Kasman, pemuda Tomia yang kemudian menghadiahi saya kelapa muda. Tapi, kelapa saja tidak cukup. Saya didera lapar di atas daratan “Surga Bawah Laut” ini.

“Setelah ini kita akan makan ikan mati,” kata Kasman lagi. Saya bingung, kenapa di laut yang dipenuhi beragam ikan, orang masih memakan ikan mati? Dan ternyata kami memang makan ikan yang telah mati (bukan hidup-hidup). Usai makan ikan segar yang alangkah enak, yang tidak pernah saya sarakan ikan sesegar ini di Jakarta, saya meninggalkan Kasman dengan lelucon janggalnya.

Saya berangkat menuju sebuah perkampungan di tengah laut. Kampung Samma Bahari namanya, kadang disebut Sampela. Kampung ini teronggok begitu saja di tengah laut, tak berada di daratan sebagaimana kita tinggal. Rumah-rumah kayu, dengan tiang-tiang menghujam ke dasar lautan. Di perkampungan yang bagai susunan kayu terapung dan setengah begoyang inilah Suku Bajo Samma Bahari menetap.

Pagi baru saja dimulai ketika perahu yang saya tumpangi merapat di perkampungan terapung ini. Rumah-rumah kayu yang tiangnya menancap ke dasar laut, aroma ikan kering yang dijemur, sekelompok remaja tengah bermain bilyard, tawa para perempuan yang mengenakan bedak putih tebal menutupi wajah.

Pada sebuah rumah, saya duduk melepaskan penat bersama lelaki-lelaki bertelanjang dada dengan otot-otot liat menyembul di badannya. Kenapa Orang Bajo suka sekali tinggal di laut? Saya bertanya seperti seorang reporter televisi Jakarta yang datang melihat suku-suku asing yang aneh. Dan, pertanyaan saya langsung ditanggapi seorang lelaki berambut setengah pirang setengah coklat, yang bagian belakangnya dipanjangkan sejengkal seperti tren pemuda tahun ‘80-an.

 “Kami [Orang Bajo] telah biasa di laut, kami tidak biasa di darat. Laut ini datar, lapang, tidak seperti di daratan,” kata Lauda, seorang pemuda Bajo, dengan nada datar. Menyelam tanpa pemberat badan, berburu ikan sembari berjalan di kedalaman puluhan meter selama belasan menit tanpa oksigen—bukanlah perkara asing bagi Lauda, bagi Orang Bajo tentunya. Mereka dikenal sebagai gipsi laut, pengembara lautan yang menolak hidup di daratan. Apakah daratan sudah tidak aman, Lauda?

Ia tertawa, mungkin menertawai saya, atau meremehkan pertanyaan saya yang sok penuh filosofi hidup, yang sok menolak kesemena-menaan, yang sok ingin damai di dunia yang amburadul. Sembari menyambar kretek, Lauda kemudian berbincang tentang ikan, tentang mesin perahu, tentang bagaimana menahan napas hingga belasan menit di dasar laut. Kata Lauda, dia pernah dibawa seorang lelaki barat ke Eropa, menyelam di sana. “Di sana, lautannya dingin, jadi, kita tidak perlu buru-buru keluar. Saya sanggup 20 menit di dasar laut Eropa,” kata Lauda lagi. Dan saya kemudian searching di youtube, mencari Lauda di Youtube, ternyata benar.

Matahari pagi mulai tinggi menyirami kampung yang berada di atas permukaan laut ini. Tidak ada daratan, hanya laut. Bagaimana cara berjalan di dasar laut, Lauda? Lelaki itu terus saja tertawa, seakan tertawa adalah sebuah jawaban dari sebuah pertanyaan. Siang kian terik meyirami Sampela.

Di rumah-rumah kayu, perempuan-perempuan penuh canda mengenakan bedak seperti masker tebal berwarna putih di wajah mereka. Anak-anak berloncatan dari jendela rumah, bercanda-canda, tertawa-tawa, berdayung, mencari bulu babi, membawa panah ikan, menyelam, bersampan dengan styrofoam bekasdan matahari menyengat tepat di atas kepala.

Saya meninggalkan Lauda yang tampak bingung bagaimana cara mengajarkan saya menahan napas selama 20 menit di dasar laut, bagaimana berjalan di dasar laut tanpa pemberat badan. Saya menghirup kopi panas di warung bilyard, bertaruh dengan jagoan-jagoan biliar. Aroma ikan kering terpacak di udara panas. Tidak berapa jauh dari tempat saya kalah di meja biliar, penangkap ikan berlambung besar menaikkan tuna dari kedalaman Laut Banda. Dari sudut warung, saya lihat Lauda melirik kapal penangkap ikan itu dengan sudut mata. Lirikan yang sebentar saja. Kapal berlambung besar yang hanya dalam hitungan jam bisa menaikkan berton-ton tuna-tuna gemuk, sementara orang-orang Bajo dapat sisanya.

Dengan sampan kecil, saya menyeberang ke Pulau Kaledupa yang hanya selemparan batu jaraknya dari “pulau” Samma Bahari ini. Di Kaledupa, sedang digelar sebuah perhelatan besar dan saya berhadapan dengan makanan aneh. Kukure namanya, terbuat dari lei atau bulu babi. Hewan laut penyengat dan membuat kaki membiru dan berdenyut kencang bila menginjaknya, kini menjadi hidangan? Ini pertama kalinya saya makan bulu babi yang diberi bumbu, saya menyantap dengan perasaan was-was. Rasanya enak rupanya, tidak jauh berbeda dengan daging cumi-cumi yang telah dihaluskan.

Angin senja menggetarkan ranting-ranting, menggugurkan dedaunan di jalan-jalan sempit. Di sebuah padang terbuka, dengan tenda-tenda seadanya yang dibuat dari daun kelapa, gadis-gadis menari. Lariangi tarian itu disebut. Dalam cahaya temaram, tangan mereka saling melentikkan jari dengan gemulai, berputar seperti ikan, kadang merungkuk seperti memberi pengormatan pada bumi. Pikiran saya dibawa lena oleh ketukan gendang yang lamban, sesuara dari tenggorokan perempuan-perempuan tua yang mengeluarkan lengking parau nyanyian. Puja-puji terhadap Tuhan berkelindan, lingkaran nasib orang-orang yang hidup di tanah berbatu yang tidak banyak memberi pilihan, nyanyian tentang ketenangan hidup, tentang raja-raja, tentang hal-hal yang tidak saya mengerti.

Gadis-gadis berbibir merah terus menari di Kaledupa hingga malam menjelang. Tangan mereka melambai-lambai bagai terumbu karang di dasar samudera yang alangkah memesona, wonderful. Angin dari Laut Banda terus berkesiur, mengabarkan pergantian musim akan segera tiba. Dalam remang cahaya temaram, manik-manik di baju mereka menebar kilauan ke mata saya. Kuncir di rambut mereka bergoyang, Laut Banda mengirim asin angin pancaroba, angin musim barat akan datang berkelebat. Irama pentatonik yang mulai gusar dari mulut perempuan-perempuan tua. Suara mereka bagai siul angin yang menembus tebing-tebing curam, kadang meninggi laksana helaan badai dari tengah lautan, bagai nasib, bagai pengembaraan panjang yang tak berujung.

“Ayo menyelam lagi,” Guntur menyentakkan lamunan saya. Dan, pikiran saya seakan berpindah dari panggung penari ke dasar lautan, ke ikan-ikan, terumbu karang yang melambai-lambai seperti jari penari Lariangi. Saya jadi ingat Lauda, saya membayangkan dunia baru dan masa depan yang asing, juga dasar lautan yang asin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *