RETORIKA SUMATERA

posted in: Feature | 2

“Sumatera selalu rusuh,” 

kata Paul van Veer, penulis Belanda. 

Topografi pulau ini rumit dan sulit bila dibandingkan dengan Jawa yang cenderung lebih datar. Medannya buas, binatangnya tak kalah buas. Masyarakatnya memiliki sistem politik yang beragam, kantong-kantong budayanya tersebar, dan: menjinjing Sumatera seperti menjinjing ribuan tampuk. Pada abad terakhir penjajahan Eropa di Sumatera adalah upaya memusatkan kekuasaan politik yang tersebar itu agar mudah “dijinjing” dan ditaklukkan. 

Akan tetapi, di tengah-tengah kesemrawutan dan kerumitannya  itu, Sumatera memeram keelokan yang membuat orang Eropa menggoyang-goyangkan lidah penuh nafsu untuk menguasainya. Danau-danau bertebaran di tengah pulau, diapit gunung-gunung berbaris yang memanjang dari utara ke selatan membagi pulau itu menjadi dua. Danau-danau di Sumatera, yang kata penjelajah Portugis abad ke-16, Tome Pires, berair manis. Sementara itu, pantai di kedua sisi Sumatera seakan-akan saling bertolak belakang: hempasan ombak yang keras di pantai barat, dan riak-riak kecil yang hampir tenang di pesisir timur. 

“Maluku adalah masa lalu, Jawa adalah masa kini, dan Sumatera adalah masa depan.” Seorang lelaki Eropa pernah mencatat berulang-ulangnya di abad yang lewat. Kalimat ambisius, terdengar berlebihan memang. Mungkin ia begitu mengidam-idamkan Sumatera, atau dia begitu berhasrat untuk mendapatkan Sumatera, Sumatera yang selalu rusuh. Dalam sejarah penaklukan Eropa, Sumatera memang merupakan daerah yang terakhir yang ditakhlukkan dijajah dan sulit. “Sumatera Tengah dan Aceh adalah wilayah yang paling susah ditaklukkan Belanda,” profesor antropologi, Suwarto Adi, pernah berkata pada saya suatu kali. 

William Marsden sambil bergurau mengatakan dalam catatannya: untuk memandang Sumatera, lihatlah pada fauna khas yang dimilikinya. Sumatera seperti kerbau yang diam, tetapi kadang juga bisa menjadi harimau yang ganas. Sejarahnya adalah sejarah keramah-tamahan menyambut dan memperlakukan pendatang, tetapi juga keganasan perompak dan para lanun yang membikin ngeri pelaut-pelaut asing. Sumatera seperti kontradiksi yang ingin terus dipelihara. Sumatera adalah suwarnadwipa, pulau  kaya raya tempat emas dihasilkan, tetapi juga salah satu pemasok budak paling besar untuk kawasan tenggara Asia. 

Orang-orang Eropa sejak berabad-abad silam telah melakukan pendokumentasian, memodifikasi, dan mengkategorikan Sumatera dalam catatan-catatan mereka yang panjang (dan kadang bertele-tele—sebagaimana catatan ini). Masyarakatnya, topografi alamnya, aspek kultural suku-sukunya, dan lain sebagainya hingga ke hal-hal remeh temeh. Mereka mengkategorikan masyarakat Sumatera dalam pandangan Eropa mereka, yang memandang Sumatera (dan nyaris semua wilayah di Nusantara) hanya dengan dua sisi saja: sebagai daerah eksotis yang elok memendam hasil alam dalam kebersahajaannya sekaligus wilayah brutal yang berisi pemberontak. Dan, dalam pandangan Eropa sentris, mungkin hingga kini, ingin tetap melihat Sumatera seperti itu sampai negeri kiamat. Kenyataanya: Sumatera terus berubah, sebagaimana daerah lain di muka bumi ini tentunya. Jangan harapkan ada yang asli di bawah kolong langit ini!

***

Saya berkunjung ke Kota Banda Aceh, daerah paling utara di Pulau Sumatera yang panas berdengkang ketika umat Islam tengah berpuasa di bulan suci Ramadan tahun 2017. Di dalam lambung pesawat, pramugari Garuda menyapa dan menawarkan saya makanan dengan senyum lembut. Saya tolak, dengan perkataan yang manis tentunya. Saya sedang berpuasa, tidak mudah dibatalkan hanya oleh menu makanan Garuda. Apalah arti segepok makanan di hadapan keimanan—saya membatin dan pesawat mendarat di lapangan udara Iskandar Muda saat sore mulai rembang di cakrawala.

Berjalan di Kota Banda Aceh pada sore hari menjelang berbuka, serasa akan membatalkan puasa saja rasanya. Aroma kopi menusuk-nusuk hidung, sengatan bumbu memacak di udara. Tapi, saya orang beriman dan saya mesti menjaga keimanan saya sebagai orang berpuasa. Apalagi di Nangroe Aceh Darussalam, serambi Makah. Gadis-gadis lalu lalang dengan kerudung warna-warni, menebarkan aroma wangi parfum, melenggak-lenggok dengan senyuman merekah yang membuat mata saya tidak tahan untuk tidak menatap tubuh-tubuh elok yang berseliweran di hadapan saya. Imaginasi saya mulai tak keruan. Orang beriman macam apa saya ini, padahal saya tengah berada di Nangroe Aceh Darussalam, sebuah provinsi yang memilih syariat Islam sebagai fondasi normatif. 

Saya melipir ke Masjid Raya Baiturrahman. Masjid kebanggaan masyarakat Aceh yang menghabiskan dana 458 milyar rupiah hanya untuk merenovasi tempat berwuduk, parkir bawah tanah, toilet, lantai mar-mar dari Italia atau Spanyol seperti yang dipasang di lantai Masjidil Haram di Makkah. Bappeda Provinsi NAD juga menganggarkan penanaman 33 pohon kurma. Masjid kebanggaan masyarakat Aceh yang membuat nyaman berada di dalamnya, sementara di luarnya pengemis menadahkan tangan di trotoar-trotoar. Di antara pagar besi, pintu parkir bawah tanah, dan pengemis yang menadahkan tangan, plakat Johan Harmen Rudolf Köhler masih tertancap di Komplek Masjid Baiturrahman yang megah. Betapa terjaga. Di kota Islami Banda Aceh, masa lalu dirawat begitu apik hingga hari ini.

Köhler, seorang Mayor Jenderal Belanda yang menjabat sebagai komandan militer di Sumatra’s Westkustatau pantai barat Sumatera. Pada masa kepemimpinannya, jendral pirang itu pernah menghimpun tiga batalion infantri dari Pulau Jawa untuk menyerbu Kuta Raja, daerah yang kini dinamakan Banda Aceh. 

Köhler mengantongi surat perintah untuk melakukan ekspedisi ke ujung pulau Sumatera setelah Perang Padri di Minangkabau selama hampir tiga dekade berhasil dimenangkan pemerintah kolonial. Ketika Minangkabau resmi takluk di bawah tangan kolonial, Aceh masih merdeka sebagai wilayah yang bebas, tak bertuan. Dan ‘kebebasan’ di Aceh mesti direbut dengan kata ‘ekspedisi’, mengingat Aceh adalah gerbang, kota dagang yang kerap disebut sejarawan sebagai pelabuhan terbesar kedua—setelah Malaka—di Asia Tenggara. Aceh adalah wilayah yang membuat penasaran pejabat kolonial, wilayah yang memicu adrenalin sekaligus menggiurkan.

“Ekspedisi ini akan selesai cepat, tepat setelah kami mendarat dengan kecapatan penuh mencapai ibukota Kuta Raja,” kata Köhler begitu percaya diri sebagaimana rata-rata watak perwira Eropa. Wajar saja Köhler begitu percaya diri, beliau adalah seorang ahli stategi perang kenamaan milik Belanda yang telah mengantongi “blueprint” peta pertahanan wilayah darat dan lautan Aceh. Artinya, separuh kemenangan telah ada di genggaman panglima pirang ini sebelum ia berangkat.

“Ekspedisi ke Aceh telah lengkap, termasuk sketsa yang menggambarkan situasi laut, kondisi Kota Raja, dan jalur-jalur alternatif untuk sampai ke sana tanpa diketahui oleh tentara Sultan. Semua data spionase tersebut didapat dari dua pemandu etnis Tionghoa bernama Khoe Tjoa Gie dan Khoue Beng Soi dan seorang penafsir bernama Sidi Tahil,” catat anak buah Köhler, E.B. Kielstra,dalam De Generaal J.H.B Köhler: Eene Nalezing van Feiteen Tijdens de Eerste Expeditie Tegen Het Rick van Atjeh

Kielstra, anak buah Köhler ini, juga bukan seorang perwira rendahan yang hanya duduk ongkang kaki di kantor dan mereka-reka perang dari balik meja dan tumpukan kertas. Kielstra seorang perwira andal, ahli strategi dengan jabatan Majoor der Genie van Het Nederlands Indisch Leger tahun 1884.Ia kemudian disebut sebagai sejarawan militer yang hadir dan merasakan perang pada ekspedisi Perang Aceh jilid pertama dan kedua.

Dalam catatannya juga disebutkan bahwa mereka telah sampai dan hampir  merebut benteng dan menguasai Kuta Raja. Namun, Köhler tewas bersama cita-citanya yang begitu sederhana untuk sebuah ekspedisi besar: mendirikan benteng di muara Sungai Aceh. Sang Panglima bersimbah darah dalam mengejar ambisinya, persisnya saat hendak menguasai sebuah masjid yang semula dia anggap tempat Sultan Aceh bertakhta.Apa yang terjadi? Bukankah semua telah lengkap dan kemenangan telah ada di depan mata, JenderalKöhler? 

Ekspedisi Köhler, di tahun 1873, dalam buku De Atjeh Oorlog, dianggap sebagai ekspedisi yang terburu-buru, sementara Bangsa Aceh memiliki kesigapan dan kesiapan yang luar biasa terhadap situasi mendesak. Terlebih lagi, hujan lebat dan badai yang sangat kuat, angin barat menerjang gudang ransum mereka. 

Jilid pertama ekspedisi (Belanda tidak terbiasa menggunakan kata “perang” melainkan “ekspedisi”) menguasai Aceh gagal total. Pada tahun yang sama, 1873, ekspedisi “jilid dua” digencarkan. Dalam ekspedisi kedua ini, di bawah pimpinan Kapitein Van Gogh, pemerintah kolonial menggunakan taktik yang lebih mumpuni dan pasokan tenaga yang jauh lebih besar. Belanda menggunakan barisan pasukan pribumi yang dihimpun dari Legium Mangkoenegara Pangeran Ario Ganda Siswara, Legium Pakoe Alam Raden Mas Pandji Pakoening Prang, barisan Bangkalan Pangeran Prawiro Adi Negoro, barisan Soemenap Raden Pratali Kromo. Sekitar 13.000 infantri darat dihimpun untuk menggempur Aceh; 6.787 infantri berkebangsaan Belanda, 2.539 invantri pribumi, 63 kavaleri kuda, 18 artileri canon, dan 18 artileri mortir, 36 pucuk basoka lengkap dengan 2 senapan mesin. Belanda juga mengangkut 3.280 buruh paksa, 43  gerobak sapi, 1037 pegawai dan 248 perempuan—betapa runyam angka-angka itu.

Itu baru kekuatan darat. Sedangkan kesatuan laut: 3.135 marinir, 278 kapal, disertai 4 kanon kaliber 70 milimeter, 4 mortir kaliber 120 milimeter. Dengan sebegitu banyak pasukan dan artileri, siapapun akan memprediski bahwa pasukan Belanda (termasuk KNIL di dalamnya) akan menang sebelum berperang. Kekalahan Aceh telah hampir nyata, Tuhan pun barangkali tidak bisa menyelamatkan kekalahan Aceh yang telah di ambang mata.

Namun, J.W.F Herf Kens berkata lain. Dalam buku yang ditulisnya tahun 1905, De Atjeh Oorlog van 1873 Tot 1896, yang diterbitkan De Koninklijke Militaire Academie, ia mencatat bahwa ekspedisi kedua ini (juga) gagal total, tak kalah buruk dari yang pertama. Gempuran datang bertubi-tubi dari Orang Aceh. Dan, orang Aceh juga dibantu oleh hantu hitam bernama ‘wabah kolera’ yang menerjang pasukan Van Gogh.  Hasilnya: 1.500 orang tewas, 7.000-an luka parah.

Atas banyaknya kegagalan untuk menakhlukkan wilayah merdeka dan “tak bertuan” ini, sebuah misi rahasia dilancarkan. Inilah periode ketika Aceh takluk untuk beberapa tahun di bawah tangan seorang antropolog. Doktor muda, ahli antropoli yang dikirim pemerintah kolonial untuk mengetahui watak manusia di Aceh ini memiliki beragam panggilan; Abdul Ghaffar, Gopur, Gofur. Sekarang, buku sejarah mencatatnya dengan nama yang agung: Snouck Hurgronje.

Namun, tulisan ini bukanlah catatan lanjutan tentang perang Aceh, walau sejarah Aceh adalah sejarah perlawanan yang terentang panjang, dicatat sebagai wilayah yang sarat amis darah dan amat susah ditakhlukkan. Aceh, dari abad ke abad penuh gejolak, dirajam oleh perang berkepanjangan dan dendam tak berkesudahan: Masa penjajahan, Orde Lama, Orde Baru pun Aceh masih didera oleh perang saudara dan dicap sebagai “DOM” Daerah Operasi Militer. Daniel Dhakidae dalam pengantar Imagined Communities mengatakan DOM adalah  pengumuman dan penetapan sepihak militer Indonesia untuk menjadikan Aceh sebagai wilayah “perang domestik”, dengan demikian yang berlaku di sana adalah “hukum militer”, pada tahun 1988. Reformasi berdengung di Jakarta, Orde Baru tumbang, namun Aceh tetap didera perang. Walau, kata Daniel lagi, keputusan tentang DOM dipersoalkan: apakah sah keputusan perang itu, apakah tentara boleh mengumumkan perang? Dan semua dijawab dengan “tidak”, maka DOM dicabut tanpa seorang pun, bahkan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, tahu kapan DOM itu diumumkan untuk diberlakukan. 

Kisruh dan pertempuran antara TNI dan TNA (Tentara Neugara Aceh—koran-koran di Indonesia menyebutnya Gerakan Aceh Merdeka atau GAM) tidak berujung, walau DOM dicabut. Banyak nyawa melayang, kampung-kampung sepi, angka kematian mananjak drastis seiring jumlah janda dan yatim kian bertambah. Dan, Tuhan mengirim laut untuk menghentikan pertikaian penuh darah itu: gelombang hitam menghantam dan memorak-morandakan kota dan perkampungan sepanjang pesisiran Aceh. Selang beberapa bulan saja sejak tsunami meluluh-lantakkan, traktat damai tercipta,perjanjian Helsinki diteken. Sejak Agustus 2015, seluruh wilayah Aceh dinyatakan damai. Dan tulisan ini bukanlah tentang bagaimana damai, bukan pula bagaimana GAM yang susah ditaklukkan, bukan pula tentang tsunami yang merenggut ratusan ribu nyawa itu. Dan, tentu juga bukan semata tentang plakat Kohler. 

***

Waktu berbuka tiba,  seruan azan membahana dari Mesjid Baiturrahman, saya melahap banyak hidangan di depan meja restoran seperti seekor monyet kelaparan. Bukankah puasa ini adalah menahan? Lantas, kenapa justru ketika berbuka saya berubah menjadi rakus begini? Saya lihat sekeliling, bukan saya sendiri yang rakus, tapi begitu banyak orang yang kelaparan berpuasa memasukkan beragam jenis makanan ke mulut mereka yang kecil tanpa henti, seperti kesetanan. Bukankah setan tengah dirantai di bulan suci ini? Ah, lupakan setan yang berbuka. Dengan perut kekenyangan seperti balon diisi air, saya masih ingin menyeruput kopi. Kopi di Aceh tak seperti di kota-kota lain. Arabika dengan seduhan “V60” yang tak keruan, harganya 27.000 rupiah di Kemang Jakarta. Di sini bisa saya dapatkan hanya 8 ribu rupiah, itupun dengan rasa yang enak tak terkira. Malam, ketika warung-warung telah menutup krei dan mematikan separuh lampunya untuk menghoramati malam di bulan suci, ketika orang-orang melaksanakan ibadah tarwih, saya mendengkur di hotel dengan perut kenyang tiada tara. Orang beriman tidur pulas setelah seharian menahan lapar…

Bersambung 

2 Responses

  1. Avatar
  2. Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *