Nicoline!

posted in: Photo Story | 1

Nicoline!

Nicoline Patricia Malina yang cantik berfoto  di Lembah Baliem, dataran tinggi Papua, daerah yang tidak begitu jauh dari Nduga, wilayah yang baru-baru mendadak terkenal “berdarah” dan membuat banyak Orang Indonesia berempati, mengutuk bahwa pembunuhan itu tidak manusiawi.  Tentu saja, kita manusia. Kita tidak ingin manusia lain diperlakukan dengan tidak manusiawi. Namun, bersedihkah kita (warga kota yang hidup berbahagia di bagian barat Indonesia), melihat pembunuhan yang nyaris tanpa henti berlangsung di Papua? Jawabnya: belum tentu! Sebab kita punya slogan janggal berbau amis darah “NKRI Harga Mati!” yang kita dengung-dengungkan sebagai harga mati sebuah nasionalisme, bukan?

Nicoline Patricia Malina, mengunggah fotonya di Instagram dan mengundang reaksi sejumlah fotografer andal di Jakarta. Subjeknya tidak dibincangkan, fotografer atau juru fotonya entah siapa, itu menjadi bagian tidak peting di diskusi ini, entah mengapa begitu. Namun, objek (bukan subjek seperti yang diutarakan fotografer-fotografer di Arkademi) di foto tersebut tampak lima orang perempuan tanpa baju; perempuan-perempuan tua dengan payudara yang telah kendur, perempuan muda dengan tetek yang masih padat manatap si juru foto. Di antara lima perempuan itu, berdiri seorang perempuan berkulit terang dengan rambut setengah pirang, tertata, menggenggam kamera. Di belakang mereka terhampar lembah dan pegunungan berlapis memesona.

Apa yang menarik dari foto ini? Saya tidak tahu.

Foto ini biasa saja sebetulnya, banyak orang memotret orang-orang pedalaman dengan pose seperti ini, terutama orang-orang dari kota besar (tentu saja). Banyak antropolog dan wartawan juga melakukannya. Lorne dan Lawrence Blair justru bertelanjang bersama orang-orang Asmat, Reimar Schefold berfoto dengan manusia Mentawai di pedalaman Siberut. Banyak pelancong berpose dengan orang-orang pedalaman yang tidak berbusana, yang setengah telanjang, bahkan telanjang. Adakah, dalam pikiran mereka, orang-orang pedalaman itu, bahwa payudara adalah aurat yang tidak boleh dilihat mata orang ramai? Apakah iya bagi mereka payudara adalah sumber penghidupan, kesuburan, dan itu tidak mesti ditutupi? Adakah mereka, seperti Suku Anak Dalam misalnya, menganggap bahwa kemanusiaan seseorang yang tidak berbusana itu lebih rendah dari pada yang berbusana? Adakah agama-agama tua yang disebut dengan cap buruk “pagan”, “animisme” itu melihat kadar kemanusiaan seseorang dari busana? Dalam hal ini, Nicoline disalahkan, ia dicerca dengan begitu banyak cap buruk oleh para fotografer.

Nicoline meminta maaf dan mencopot postingannya. Ia ingin mendokumentasikan budaya Indonesia dan dia bukan antropolog, begitu katanya dalam Bahasa Indonesia sedikit gagap di Instagram. Ia tidak tahu mana yang salah dari fotonya ketika beragam bahasan muncul (kenapa Nicole mesti minta maaf?). Bila saja Nicoline berfoto dengan perempuan-perempuan Papua yang telah memakai busana, tentu dampaknya berbeda, bukan?

Lantas, foto Nicole menjadi kian menarik dengan adanya ulasan dari fotografer-fotografer, juga dari mentor-mentor foto di Arkademi. Ada yang mengulas dalam Bahasa Indonesia yang tak kalah gagap, penuh selipan Bahasa Inggris di sana-sini seakan jumlah kosa kata dalam Bahasa Indonesia tidak memadai untuk mengungkapkan apa yang hendak disampaikan. Beragam penilaian dan justifikasi muncul pada Nicoline: “kolonial!”, “neo-kolonial!” dehumanisasi (merendahkan harkat manusia: maksudnya istilah ini keluar untuk memanusiakan objek yang difoto kah?), “konteks strukturalis lagua dan parole”, “foto ini mereproduksi sebuah pandangan kolonial”, ”objektifikasi (memperlakukan seseorang layaknya benda mati tanpa mempertimbangkan martabat kemanusiaannya), “dehumanisasi subjek foto itu sendiri”—maksudnya apakah subjek (si juru foto) ataukah objek yang difoto? Bila itu mengacu pada objek yang difoto, akankah dengan menyebut ’objek’ tersebut sebagai ‘subjek’ telah sempurna membuat para juru foto ‘manusia yang memanusiakan manusia lain’ dengan kameranya? Istilah-istilah rancu bermunculan.

Dengan mengubah ‘objek’ menjadi ‘subjek’ apakah dengan itu Anda telah memanusiakan manusia yang Anda foto? Bukankah dengan mengubahnya secara keliru, berarti menegaskan bahwa objek dan subjek yang difoto tidak setara di mata fotografer yang beradab hingga ‘objek’ yang difoto disebut ‘subjek’? Hutan, air, binatang, manusia, bukankah semua itu objek dalam bidikan kamera? Pada titik mana objek berubah menjadi subjek, Pak Mentor? Objek pasif dan subjek aktif—apa maksudnya? Saya memotret Bapak Sanga; apakah Bapak Sanga sebagai objek?  Apakah dengan mengatakan Bapak Sanga sebagai “objek” foto saya, saya telah melakukan objektifikasi? Pada bagian mana batasnya objektifikasi? Semu kah batasnya, atau sudah tidak ada batas kah?

Akankah batas telah tiada, seperti kata Yasraf A.P., kematian massal terhadap tanda, batas, hidup, telah melahirkan manusia-manusia mutan yang diiringi dengan sikap anti yang banyak? Yang sesungguhnya bukan kelahiran, melainkan ironi. Inikah dunia posmodernisme yang tidak ada batas itu? Sekali lagi, saya tidak tahu, dan saya tidak bisa menjawabnya. Lantas, apakah iya, foto Si Cantik Nicoline berkulit putih berambut lurus di tengah perempuan Papua keriting berkulit legam, bertelanjang dada tersebut “mereproduksi pandangan kolonial”?

Bukankah kolonialisme bergerak dari segerombolan manusia yang mengeruk untung sebesar-besarnya dengan mengabaikan penduduk di daerah (jajahan) tersebut? Apakah itu yang dilakukan Nicoline? Kalau iya, Nicoline mesti disadarkan, disuruh bertaubat. Fotografi di Indonesia mesti ada sebuah gerakan pemurnian, semacam gerakan padri dalam agama. Atau, jangan-jangan seperti uji kompetensi APFI?

Benarkah foto Nicoline dengan masyarakat Papua adalah foto ‘neo-kolonial’ ‘dehumanisasi’, ‘obyektifikasi’ dan segepok istilah-istilah lainnya? Apakah iya? Bukankah istilah-istilah itu, penilaian-penilaian itu, kalimat-kalimat yang ditulis oleh para mentor itu juga  ‘kolonial’? Bukankah (dengan bicara atau menuliskan memakai banyak bahasa asing, sementara ada padanannya dalam Bahasa Indonesia) menunjukkan bahwa mereka telah ‘terkolonisasi’? Ter’koloni’sasi secara intelektual dan sangat mendasar, penjajahan yang lebih krusial bukankah sejak dalam pikiran?

Kita bisa saja lepas dari kolonial, tapi konsep-konsep kolonial telah mencengkram jauh di ruang-ruang pikiran kita. Kata Frantz Fanon, efek kolonialisme yang paling berbahaya itu bukan yang kelihatan secara nyata, bukan penjajahan yang tampak secara nyata, tetapi justru yang menyelusup di antara ruang-ruang pemikiran. Merubah cara pandang. Menghasilkan ketakutan terhadap ilusi-ilusi subjektif. Ilusi subjektif?

Dalam bahasan di Instagram, foto fesyennya Nicoline  yang jauh dari metode “intervensi partisipatoris” disandingkan dengan foto-foto dengan objek para seniman batik dengan batiknya. Foto fesyen batik yang menarik bila dibandingkan dengan foto Nicoline. Namun, bebaskah foto tersebut dari cap ‘sudut pandang kolonial” bila melihat foto-foto lama bagaimana orang-orang Nusa Tenggara Timur dengan tenunannya, orang Minangkabau dengan songketnya, orang Batak dengan ulosnya? Mari kita abaikan kalimat J.P. Sartre: banyak yang cidera dalam memahami kata “kolonial”.

Dalam bahasan lain, foto Nicoline seakan disandingkan dengan foto Patrick Waterhouse. Foto-foto suku Warlpiri (yang mendiami bagian utara Australia) yang ditotol untuk memudarkan bagian tubuh manusia, hingga nyaris menghilangkan identitas objek manusia dalam foto tersebut. Bukankah, “penghilangan”,  anggaplah  “meliyankan” identitas itu punya maksud (selain juga anjuran adat mereka melarang), yang bisa jadi (ini analisa saya yang semena-mena saja), betapa identitas mereka, suku Warlpiri itu, telah “dipudarkan” di Australia? Bisa jadi!

Di Papua, mungkin berbeda. Indonesia dan Papua, bukanlah Australia dengan aboriginnya. Indonesia tidak memusnahkan masyarakat Papua, Indonesia tidak melakukan genosida di Papua—kalau tidak percaya, tanya pejabat-pejabat di Jakarta. Dan, identitas Papua, hari ini, setidaknya, ada dalam kepingan foto Nicoline. Orang Papua akan bangga dengan ‘ke-Papua-an’nya (hanya) dalam festival. Di sisi lain, orang Papua juga ingin memakai baju, makan supermi (hingga banyak yang menderita busung lapar), melek huruf. Agama-agama langit telah lama mendarat di Papua, dan para pemuka agama telah mengajarkan pada mereka bahwa bertelanjang dada itu tidak baik bagi perempuan.  Sebagian dari mereka telah berpendidikan secara modern, mengenal huruf dengan susah payah. Dan, masih adakah perempuan Papua yang merasa dirinya ‘terdidik’ bertelanjang dada, menari di hadapan kamera mempertontonkan tetek mereka yang kempot dan panjang?

Tapi, foto Nicoline seakan menjawab: Perempuan Papua masih bertelanjang dada. Di Papua, peradaban bergerak lamban, kebudayaan seperti jalan di tempat. Di mata pariwisata, juga di mata fotografer, Papua adalah artefak yang hendak dijual, kebudayaan yang telah beku, yang nyaris tidak berubah. Di Bali awal abad ke-20, adalah ketika perempuan masih belum menggunakan pakaian menutupi payudara-payudara mereka yang ranum. Foto-foto perempuan Bali banyak diproduksi ketika itu. Foto perempuan Bali tampil di kartu pos. Dan sekarang, adakah pelacong-pelancong dari Jakarta yang ingin berfoto dengan perempuan Bali yang telah menggunakan daster dan bercelana jins?

Foto Nicoline di Instagram disukai ribuan orang (kalau saya tidak salah), ini menunjukkan, betapa kita orang kota yang memiliki akun instagram masih mencintai eksotisme, penampilan yang asing. Bukankah orang Papua di mata pariwisata, sebagaimana di foto Nicoline, juga telah berubah menjadi komoditi asing yang eksotik dan hendak diperkenalkan ke belahan bumi lain? Entahlah. Yang jelas, foto adalah kepingan-kepingan realitas, yang belum tentu mengacu ke realitas yang utuh, belum tentu mengacu pada kebenaran atas realitas itu sendiri.

Ada yang berpikiran, memotret suatu kaum, dengan memberikan mereka kamera dan membiarkan mereka sendiri memotret kehidupan sehari-hari mereka adalah sebuah jalan melihat kehidupan mereka. Ini tentu hal yang menarik untuk melihat kehidupan manusia lainnya dari sudut (bidikan) mereka sendiri. Memotret keseharian manusia di Papua, tentu juga sebuah kepingan realitas yang terjadi di Papua. Dan, foto perempuan Nicoline juga adalah kepingan realitas itu sendiri, atau mungkin realitas yang lain: wajah-wajah perempuan berkulit legam, keriting, bertelanjang, buta huruf, yang berpose dengan perempuan terdidik berkulit terang, berpakaian mewah, menenteng kamera. Bukankah, masyarakat industri (tak terkecuali para fotografer-fotografer di negara dunia ketiga yang korup ini) telah mengubah warganya menjadi pecandu foto, bila mengacu pada pemikiran Susan Sontag: ini adalah bentuk perusakan mental yang tak bisa dimaafkan.

Yoppy, salah seorang mentor di Arkademi, memotret sebuah kampung di tengah pulau Sumatera, kampung yang sepi, ditinggal penduduknya yang rata-rata merantau. Potret-potretnya itu dihimpun dalam sebuah buku, Saujana Sumpu. Lantas, akankah buku tersebut sebuah wujud dari realitas sebenarnya yang terjadi di Sumpu? Tentu tidak, bukan? Namun, setidaknya, selembar foto punya kekuatan untuk mengungkap, membeberkan realitas, walau hanya dalam bentuk kepingan yang tidak utuh. Lantas?

  1. Avatar
    RollandBig

    Hi. I have checked your fatrism.com and i see you’ve got some duplicate content so probably it is
    the reason that you don’t rank hi in google. But you can fix this issue
    fast. There is a tool that generates content like human, just search in google:
    miftolo’s tools

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *