RETORIKA TOBA

posted in: Feature | 0

 

 

Lama meredup dari peta wisata, Danau Toba kini berniat memulihkan pamornya sebagai destinasi andalan Indonesia. Tapi problem klasik yang menodai keindahannya masih menghantui.

 

Danau Toba

 

“Usai pensiun,” kata Van Daalen, “kami akan menetap di sebuah vila di sini, menikmati pemandangan yang indah.” Van Daalen bukan turis, melainkan perwira Belanda yang tengah rehat bersama pasukannya di tepi Danau Toba. Kata-katanya ditulis oleh ajudannya, J.C.J. Kempees, dalam sebuah jurnal tentang penaklukan yang penuh darah: De tocht van Overste van Daalen door de Gajo-Alas- en Bataklanden. 8 Februari tot 23 Juli 1904. Sebelum tetirah di Toba, sang komandan membantai sekitar 4.000 pria, wanita, dan anak-anak selama enam bulan masa dinasnya di utara Sumatera. Snouck Hurgronje, antropolog yang menjadi konsultan Belanda dalam penjajahan Aceh, menilai Daalen dan pasukannya sebagai pembantai yang keji.

Hampir 20 tahun setelah tragedi itu, seorang bayi laki-laki lahir di Harian Boho, sebuah lembah yang berada tak jauh dari tempat Daalen sang jagal membayangkan masa tuanya. Bayi itu tumbuh menjadi seorang penyair kenamaan bernama Sitor Situmorang.

 

“Padang-padang sepi

Di dataran tinggi

…Beri aku lagumu”

 

Dalam salah satu sajaknya, Sitor menggambarkan tanah kelahirannya di bibir Toba, sebuah danau raksasa yang melenakan mata, tapi ironisnya lahir dari ledakan mematikan yang mengubah peradaban. Geolog Belanda Van Bemmelen menggambarkan erupsi dahsyat 74.000 tahun silam itu sebagai “kiamat kecil” di zaman purba. Hari ini, ke danau sisa kiamat itulah saya meluncur.

Saya berangkat persis ketika Indonesia tengah merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-71. Dari Bandara Kualanamu di Medan, taksi melarikan saya membelah perkebunan sawit yang mahaluas, berpapasan dengan truk-truk yang sarat muatan, melewati tiang-tiang yang mengibarkan merah-putih. Berjam-jam saya menyaksikan pemandangan yang sama: karet dan sawit, dua komoditas yang berperan besar dalam mengubah wajah Suwarnadwipa, julukan Sumatera yang berarti “pulau emas.”

Taksi Proton buatan Malaysia berisi lima penumpang terus melaju melewati daerah Pematangsiantar. “Seluruh perampok dari Sumatera Utara berkumpul di sini,” kata penumpang yang duduk di depan saya. Sopir saya, Ramli R. Rajagukguk, hanya tersenyum kecil mendengarnya.

Taksi saya terus meliuk, melewati rumah-rumah beratap kusam, juga makam-makam yang dibangun menyerupai rumah, dengan wujud yang lebih apik ketimbang rumah-rumah yang berisi manusia. Sejak Ingwer Ludwig Nommensen mengabarkan Injil ke Tano Batak lebih dari 150 tahun silam dan Kristen kemudian dipeluk banyak orang Batak, ajaran purba tidaklah punah sepenuhnya. Mangongkal Holi, prosesi penggalian tulang-belulang dari kubur, masih terpelihara sebagai wujud penghormatan kepada arwah leluhur.

Senja mengambang di cakrawala saat taksi saya mendarat di Parapat. “Toba na sae,” kata Sitor, “Toba nan lapang,” terhampar. Di pinggirnya huta, bius, atau kampung-kampung kecil, mulai menyalakan lampu. Tapi hari ini Toba tak cuma lapang. Danau vulkanis sepanjang 100 kilometer ini sedang sibuk. Di sekitar danau, polisi berjaga di hampir setiap ruas jalan dan persimpangan.

Dengung sirene sahut-menyahut. Serdadubersenjata mondar-mandir di banyak tempat. Sebuah pesta akbar segera digelar. Presiden Joko Widodo dan Menteri Pariwisata Arief Yahya akan datang. Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan dan Kapolri kabarnya juga turut serta. Demi menyambut mereka, jalan yang tadinya penuh lubang di Balige telah dipermak mulus bak pipi aktris sinetron.

Acara begitu meriah. Tidak tanggung-tanggung, panggung terapung berdaya tampung 60 ton dikerek di pinggir danau. Sore harinya, koki selebriti Bara Pattiradjawane memasak bersama inang-inang. Malamnya, panggung apung menampilkan Slank, Edo Kondologit, Dewa Budjana, Oppie Andaresta, JFlow, dan Sammy Simorangkir. Ribuan orang bernyanyi seraya mengangkat tangan. “Target kita mendatangkan satu juta wisatawan mancanegara ke Toba. Rumusnya tiga A: atraksi, akses, amenitas,” ujar Arief Yahya.

Peraturan Presiden tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba diteken beberapa bulan silam. Bandara Silangit telah dioperasikan. Garuda Indonesia meluncurkan rute langsung ke sana dari Jakarta. “Toba sedang diselamatkan,” kata Jabinaham Bakkara, yang duduk santai bersama istrinya di bantaran danau. Jabinaham, 80 tahun, mengaku pernah menjadi relawan Soekarno dalam Operasi Trikora pembebasan Irian Barat. Walau sudah renta, dia rela datang dari Medan demi mengunjungi festival yang dianggapnya akan menyelamatkan Toba ini. Jabinaham pun turut bernyanyi. Tentu saja, bernyanyi bukan aktivitas yang asing di dataran tinggi ini. Orang Batak sudah bernyanyi jauh sebelum Kaka Slank lahir, juga telah memetik gitar di lapo tuak sebelum Dewa Budjana mengenal kunci C.

Jabinaham lalu bercerita tentang Bakkara, kampung halamannya di tepi danau yang telah lama ditinggalkannya. Dia juga mengenang tentang turis yang dulu berlimpah, tentang adat, tentang puak para leluhur. Hampir semua lelaki di Tano Batak ini lihai bercerita, dan saya mendengar Jabinaham seperti seorang cucu yang tengah didongengi. Kenapa Toba mesti diselamatkan, Opung Jabinaham?

“Toba makin kotor sajanya. Budaya makin berkiblat ke Barat,” jawabnya. Entah Barat yang mana, saya tidak tahu. Obrolan kami terhenti karena corong pengeras suara 100.000 watt menggelegar. Istri Jabinaham tersenyum. Angin bertiup kencang.

Hari berikutnya, Balige dipadati penduduk. Karnaval baru akan digelar lima jam lagi, tapi penonton sudah ramai berdesakan. Dan ketika acara akhirnya dimulai, segala yang purba ditampilkan. Sigale-gale, totem kayu mistik yang sempat dicap sesat, kini berdansa dimainkan para remaja. Panitia juga menampilkan ulos terpanjang yang digembar-gemborkan siap memecahkan rekor MURI. “Mak, panjangnya! Siapanya yang mau pakai ulos sepanjang itu, bah!” seorang penonton menceletuk di belakang saya.

Terik kian menggelegak. Sekarang giliran puluhan peniup seruling lewat. Di belakangnya, barisan perempuan yang mengenakan ulos, barisan laki-laki yang bertelanjang dada, serta barisan grup marching band. Ada yang menggenggam tongkat berukirkan miniatur kepala manusia. Ada juga yang memamerkan tato aksara Batak di lengan. Tortor, tarian yang menjadi bagian dari ritual ajaran lama, dipentaskan. Gondang ditabuh. Presiden tertawa.Menteri tertawa. Orang-orang tertawa.

Saya terjepit oleh sesak karnaval. Setelah dua hari yang penuh tawa dan tepuk tangan, karnaval berakhir dan Toba kembali seperti sedia kala: hening. Presiden, menteri, dan selebriti telah pergi. Tidak ada lagi pemeriksaan oleh tentara. Saya terenyak di bangku kayu, menatap riak danau yang tak bosan menjilati pantai berpasir putih. Udara dingin memagut saya di Inna Parapat.

“Pangeran Bernhard 20 tahun lalu berkunjung ke sini,” Henry Sianturi membuncahkan lamunan. “Dia menempati kamar 109-110, kamar yang berada di sampingmu.” Henry sudah 28 tahun bekerja sebagai humas di Inna Parapat, hotel warisan kolonial yang dulu bernama Hotel Parapat. Kami duduk menghadap Toba dan taburan keramba ikan. Jauh di seberang, perbukitan berlapis-lapis, mengepulkan asap pembakaran.

 

“Itu belum apa-apa. Musuh utama pariwisata Toba adalah limbah dan sampah,” kata Henry. Pada danau mata wisatawan tertuju. Pada danau pula pabrik-pabrik menitipkan limbah. Juli 2016, sebulan sebelum karnaval digelar, Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya mengutarakan keprihatinannya akan pencemaran di Toba. Tiga tahun sebelumnya, tiga tokoh lingkungan mengembalikan penghargaan Kalpataru dan Wana Lestari sebagai ungkapan protes atas kerusakan alam Toba. Apa yang terjadi?

“Semestinya Bom Bali dan krisis moneter tidak berdampak terhadap turunnya kunjungan turis,” lanjut Henry. “Tapi, mau macam mana lagi. Dulu dari Eropa ada beberapa penerbangan langsung ke Medan tanpa singgah ke Jakarta. Sekarang tidak ada lagi.”

Toba, danau vulkanis terbesar di muka bumi, tak ubahnya lautan mini di tengah belantara Sumatera. Bangau putih berlarian di sela riak. Angin bertiup saban waktu. Matahari terbenam di balik barisan bukit, “Sebentar lagi,” kata Henry lagi,” Toba mungkin benar-benar akan menjadi Monaco of Asia. Itu harapan kita.”

Toba ingin mengembalikan pamornya dengan jargon baru. Sebagaimana galibnya, jargon diizinkan untuk terdengar bombastis, namun jargon Toba sepertinya dirumuskan tanpa wawasan yang memadai. Monako? Di Asia? Setelah Teluk Mandeh dijuluki Raja Ampat-nya Sumatera, kini Toba dipadankan dengan Monako, negeri mungil di tepi Laut Mediterania yang menjadi tempat jutawan memarkir yacht dan menonton ajang balap Formula1. Bisakah jargon “Monako” menyelamatkan pamor Toba yang tercoreng oleh kerusakan alam?

Saya teronggok di Tomok, sebuah perkampungan di bagian timur Samosir, pulau seluas Jakarta yang terapung di danau bagaikan spons raksasa. Uniknya, Samosir juga memiliki dua danau: Natonang dan Sidihoni. Musim kering tengah melanda sepanjang tahun. Kata warga, sehari pun belum ada hujan deras. Debit air susut lebih dari dua meter, lahan pertanian mengering, bukit-bukit berwarna cokelat. Rumah-rumah di sini berkiblat ke danau dan bersandar pada danau. Memakai pipa-pipa yang terentang panjang, warga menyedot air dari Toba.

Toba digerogoti pencemaran, padahal pada danau inilah masyarakat setempat menggantungkan hidup. “Terlebih bila musim kering begini, lahan persawahan kering, kebutuhan hidup hampir sepenuhnya digantungkan ke turis,” kata Surung Sidabutar. Usianya 40 tahun, tatapannya lurus, tulang pelipisnya menonjol di atas kelopak mata. Dia mengaku keturunan ke-17 Raja Sidabutar yang dimakamkan di Tomok.

“Bila Tomok ini Indonesia, maka akulah presidennya,” Surung berseloroh.

Berbeda dari Yogyakarta, raja di Toba telah kehilangan kekuasaannya. Di pelosok Samosir, status ningrat hanyalah memorabilia dari masa silam yang tak lagi menyisakan kekuatan politik. Surung tidak seberkuasa moyangnya. Saat saya temui, “Presiden Tomok” ini sedang menjual karcis seharga Rp2.000 per lembar kepada wisatawan.

“Ini akan disetor ke pemerintah kabupaten, 57 juta rupiah setahun,” kata Surung. Kelebihan dari setoran itu masuk kantongnya. Bila ada turis yang minta dipandu, Surung menitipkan loket karcis kepada temannya. Kali ini, dia memandu belasan turis asal Jakarta. Saya membuntutinya membawa turis menziarahi moyangnya yang terbaring dalam peti batu berpahat.

“Tak perlu terkejut, orang Batak sudah disediakan kuburan sebelum ia lahir,” Surung mulai berorasi seperti ketua partai di hadapan simpatisan. “Dulu, moyangku ini tidak makan anjing dan babi. Mereka takut dengan kedua hewan itu. Tapi setelah agama baru datang ke Tano Batak ini, malah anjing yang takut sama orang Batak.” Belasan tamunya meledakkan tawa. Saya tidak terlalu paham apa yang ditertawakan. Mungkin anjing dan babi takut kepada manusia usai melihat warung-warung yang menyediakan B1 dan B2—dua kode untuk daging kedua hewan tersebut.

Surung melanjutkan kisahnya, dan belasan turis kembali menimpalinya dengan tawa. “Cecak merupakan simbol dari ketangkasan,” kata Surung sembari menunjuk ukiran cecak pada tiang gerbang makam. “Maksudnya, orang Batak harus bisa hidup di mana saja, seperti cecak. Bahkan di loteng sekalipun. Di loteng siapa pun.”

Surung kini beralih ke pahatan lain yang berbentuk empat payudara. “Perempuan Batak harus menyusui anaknya sendiri, tidak bergantung pada susu pabrik,” jelasnya. “Bila perempuan Batak berbadan langsing, bah, itu malah yang membuat khawatir akan dikira tidak dikasih makan, tidak bisa menyusukan anak. Makanya perempuan Batak gemuk-gemuk. Subur!”

Saya tak ingat lagi apa yang dikatakan Surung. Menjadi pemandu, bagi orang Batak, barangkali tidak butuh pendidikan khusus. Setiap orang di sini pencerita yang piawai, dan mereka susah didebat. Tapi bukan berarti kemampuan itu tidak dilatih. Orang Batak punya tempat guna mengasah kemampuan bercerita dan berdebat: lapo tuak. Di sepanjang tepian Toba, warung-warung dipenuhi kaum pria yang suka mengobrol sambil meneguk cairan putih seperti susu. Bila bosan bergunjing, mereka bernyanyi. Orang Batak seperti mustahil larut dalam sepi. Mereka melakukan apa saja di lapo tuak: main domino atau bernyanyi, bercerita atau berdebat sampai penat. Di mana ada orang Batak, di sana tercipta lapo tuak, begitu anekdotnya.

Makam moyang Surung dikelilingi pasar. Saya berjalan-jalan menemui ibu-ibu penjual ikan kering, gadis-gadis penjaja kacang goreng, pedagang ulos yang murung dan terkantuk-kantuk. Di hadapan mereka, wisatawan Malaysia, turis berkulit putih, dan pelancong dari Jakarta, melintas dengan langkah gontai. “Tidur sajanya di rumah aku,” sergap Surung dengan suara santer. Orang Batak hidup di dataran tinggi dan berbicara lantang—kontradiktif dari anggapan antropolog bahwa masyarakat agraris berperangai lebih halus dibandingkan warga pesisir. Kendati demikian, mereka selalu ramah kepada orang asing.

Malam ini, saya diundang menginap di rumah keturunan ke-17 Raja Sidabutar yang berjarak sejengkal dari riak Toba. Kamar saya berukuran 2×2 meter dan disekat tripleks. Saya berbaring di atas kasur empuk, sementara istri dan keempat anak Surung yang berdarah biru justru berjejal di atas sehelai tikar. Surung sebenarnya bercita-cita memiliki penginapan di samping rumahnya, tapi wujudnya baru sebatas fondasi. Cita-cita itu, kata Surung, belum kandas, apalagi dia kini punya motivasi lebih untuk segera mewujudkannya: Toba sedang diselamatkan.

Pagi-pagi sekali, Surung membangunkan saya. Angin bertiup kencang, menggoyang pepohonan, menggugurkan daun-daun. Istri Surung menyuguhkan minuman yang mengepulkan asap, lalu menyapu halaman rumahnya: pantai berpasir putih. Di hadapan saya, perempuan-perempuan membawa bakul cucian, anak-anak mandi di pinggir danau, perahu lalu lalang, lelaki menebar jala. Hutan berwarna cokelat berlapis-lapis. Asap pembakaran di bukit masih saja membubung.

Tak jauh dari rumah Surung terdapat jalan berbatu yang mengarah ke parsaktian, rumah ibadah Ugamo Malim, ajaran lama yang masih bertahan di Tano Batak. (Malim secara harfiah berarti suci, dan penganutnya disebut Parmalim.) Di belakang parsaktian, Hotdiman Sijabat tinggal bersama keluarganya. Dia seorang ulu pungoan, pendeta Malim. Jemaahnya tersisa hanya 11 keluarga.

“Toba harus selalu dijaga,” kata Hotdiman. Menurut ajaran Malim, Toba merupakan boru saniang naga, artinya “titisan Tuhan yang menghuni air.” Dalam kepercayaan yang menyembah Opung Debata Mulajadi Nabolon ini, menjaga lingkungan adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar. “Engkau harus menanam sebanyak yang engkau tebang,” kata Hotdiman lagi. Tapi mengapa Toba mesti diselamatkan bila telah ada ajaran tua yang menjaganya? Hotdiman diam tak menjawab.

Saya meninggalkan ulu pangoan dan menumpang kapal menuju Huta Tinggi, sebuah desa tepi danau yang menjadi titik sentral ajaran Malim. Barangkali, batin saya, di tempat ini saya bisa memperoleh jawaban. “Pariwisata? Tidak ada lagi pariwisata di sini,” ujar Monang Naipospos, Ketua Panguan Parmalim. “Dulu memang, gondang banyak, apa saja ada. Tapi sekarang apa? Cuma danau. Siapa yang mau jauh-jauh ke sini kalau hanya melihat danau? Budaya Batak telah tergerus.”

Kami duduk di samping bale pasogit, rumah ibadah Parmalim yang beratap runcing dengan simbol tiga ekor ayam jago. Monang kemudian bercerita bagaimana banyak orang Batak telah meninggalkan kebudayaannya. Saya pun teringat kata-kata Hotdiman kemarin malam tentang terkikisnya budaya Batak.

Salah satu pangkal masalah yang dia diutarakan adalah benturan budaya dan agama, misalnya dalam bentuk larangan penggunaan ulos oleh sejumlah pendeta Kristen. Limbah, rupanya, bukan masalah tunggal di Toba.

Tuk-Tuk adalah sentra turis di Samosir.Resor dan hotel bertaburan di sepanjangjalan, menghadap ataupun membelakangidanau. Saya duduk di sebuah restoran yangsepi. Di samping saya, dua turis Belanda terlihatgundah menanti hidangan makan malamyang tak kunjung datang. “Toba adalah tanah kelahiran ibu saya. Dia lahir ketika kakek saya bertugas sebagai tentara di sini,” kenang si turis perempuan. “Kakek saya pun begitu,” sambung teman prianya, “kakek saya ditugaskan membuat rel kereta di sini.” Malam telah larut, dan saya tidak tahu dimana ujung pembicaraan kami. Banyak orang menganggap pamor Toba telah jauh menyusut, tapi turis ternyata masih terus berkunjung, walau jumlahnya minim.

Suatu pagi, saya memacu sepeda motor mendaki Pusuk Buhit, gunung keramat dalam mitologi Batak. Saya juga menelusuri dataran tinggi Tele, menuruni jalan berliku dan rusak ke lembah-lembah sunyi di Harian Boho. Setahun silam, Sitor menemui ajal di Belanda, lalu kembali ke puisinya: Danau Toba. Saya berziarah ke makamnya di sebuah ceruk di Harian Boho yang disebut almarhum sebagai “lembah yang kekal.”

Dulu, Ompu Babiat, ayah Sitor, menyerah kepada Belanda saat Sisingamangaraja XII dikabarkan tewas. Dalam autobiografinya, dia merekam bagaimana ayahnya kemudian dibaptis oleh zending. Akan tetapi, sampai akhir hayatnya, sang mendiang tetap menjalankan ritual agama Batak.

Tubuh Sitor kini ditanam menghadap danau. Tidak heran dia begitu memuja tanah kelahirannya dan berwasiat untuk dikubur di sini. Di Harian Boho, siapa saja barangkali akan tergerak untuk menjadi penyair. Di sini hanya ada sunyi yang berbisik dan mendekap erat, sementara pariwisata baru menjangkau tanah di seberang.

Tahun depan, Toba mungkin akan menggelar lagi karnaval. Parade panjang, panggung kolosal, dan konser akbar akan kembali disuguhkan. Di Tomok sana, Surung mungkin sedang membawa tamu ke makam leluhurnya. Istrinya mungkin masih menyapu pantai tiap pagi, dan penginapan yang dicita-citakannya sedang dibangun.

Hanya ada saya seorang diri Harian Boho. Angin dingin yang kering menampar pucuk-pucuk pinus. Saya bayangkan Sitor duduk di pinggir danau, memandang dari kejauhan pulau yang menyembul dari perairan, mengenangnya sebagai “yang memberi aku lagu.”

 

Pusuk Buhit

 

 

 

 

 

Panduan

—Rute

Bandara terdekat untuk mencapai Danau Toba adalah Silangit. Penerbangan ke sini dilayani oleh Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com) dari Jakarta dan Medan; Sriwijaya Air (sriwijayaair.co.id) dari Jakarta; serta Wings Air (lionair.co.id) dari Medan. Dari Medan, Anda juga bisa menempuh perjalanan darat ke Toba dengan berkendara selama empat jam. Di Pulau Samosir, Anda bisa berkeliling dengan menyewa mobil atau sepeda motor. Tarif mobil mulai dari Rp450.000 (termasuk sopir), sedangkan sepeda motor Rp120.000 per hari. Jika memerlukan pemandu, salah seorang yang layak diandalkan adalah Surung Sidabutar (0852-7003-1991).

—Penginapan

Tuk-Tuk, sentra turis di Toba, mengoleksi beragam penginapan, salah satunya Samosir Villa Resort (Tuk-Tuk Siadong; 0625/451-399; samosirvillaresort.com; mulai dari Rp500.000). Di Parapat terdapat hotel warisan kolonial Inna Parapat (Jl. Marihat 1, 0625/410-12; innaparapat.com; mulai dari Rp691.000). Sementara di ujung utara Danau Toba, Anda bisa menginap di Taman Simalem Resort (Jl. Raya Merek Km.9, Sidikalang; 0811-6077-616; tamansimalem.com; mulai dari Rp1.200.000).

—Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret/April 2017 (“Retorika Toba”)

*Artikel ini menyabet juara pertama untuk lomba artikel pariwisata kategori majalah di ajang Anugerah Pewarta Wisata Indonesia (APWI) 2017 besutan Kementerian Pariwisata Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *