TARIAN PENGABISAN DI LAMANDAU

posted in: Feature | 1
Took with mi4i

Dari jendela pesawat yang menderu di langit Kalimantan, saya melihat sungai-sungai terentang lebar dan panjang seperti naga, mengkilap diterpa cahaya matahari pagi. Kalimantan, pulau ini disebut dengan kata-kata penuh ketakutan oleh penulis Barat, dicatat dengan nada getir sebagai pulau yang didiami oleh suku-suku yang memeluk erat tradisi mengayau; ritual purba mengorbankan nyawa manusia. Erik Jensen dalam Where Hornbills Fly, menyebut perjalanan berbahayanya ke Kalimantan sebagai A Journey with the headhunters of Borneo. Carl Bock dalam The Headhunters of Borneo menyebut suku-suku yang mendiami hutan dan hulu sungai-sungai itu sebagai suku liar yang memiliki ritual memenggal kepala.

Namun tidak lupa, suku-suku itu juga dicatat sebagai kelompok-kelompok manusia yang bersandar pada kebijaksanaan-kebijaksaan tentang keseimbangan hidup, kearifan-kearifan yang bersangkut paut dengan hutan, petuah-petuah lama yang mengajak hidup agar seimbang—hal-hal mendasar yang kerap dilupakan masyarakat kota seperti saya. Saya membayangkan kehidupan di pinggir sungai-sungai itu, suku-suku di pedalaman pulau terbesar ketiga di muka bumi yang hidup bersandar pada lebatnya rimba raya.

Di manakah petuah-petuah suku-suku itu kini, ketika lebatnya rimba raya bertukar wajah, saat tiap tahun hutan disulap menjadi lahan perkebunan mahaluas?

Kini, pesawat Kalstar buatan Brasil ini hendak mendarat di Pangkalan Bun. Bayangan saya tentang hutan Kalimantan sirna. Saya hanya melihat dataran maha luas yang dijejali oleh perkebunan, kendaraan yang berseliweran, dan hipermarket yang menyesak ke jalan-jalan. Perkebunan yang padanya, ribuan nyawa menggantungkan hidup. Dan, tak lupa, perkebunan juga yang mebuat segelintir orang kaya menjadi kaya raya.

November 2016 yang basah. Saya duduk di satu bangku restoran di Borneo Mall Pangkalan Bun. Di samping saya duduk seorang gadis. Bibirnya disapu gincu berwarna merah, merekah oleh kilatan sinar lampu mall. Kami pun berkenalan.

“Kota kabupaten dengan luas 71.451 kilometer persegi ini dihuni oleh hampir 300.000 nyawa. Dan, total dihidupi oleh perkebunan sawit,” kata gadis lincah penuh dedikasi ini membuka obrolan seperti seorang mahasiswa tengah ujian skripsi. Namanya Nina Yanti. Ia berciloteh banyak hal tentang Kalimantan, tentang suku-suku yang hidup dari lebatnya hutan yang kian tergusur. Kalimatnya dipenuhi data dan angka-angka, mulai dari kerusakan hutan hingga luas kota yang kini saya singgahi.

Dan, seperti detektif Amerika yang duduk mengobrol dalam restoran sembari menggigit donat, Nina pun tengah menyantap donat di mall yang, menurut Nina, belum genap dua tahun ini berdiri. Di hadapan saya, restoran cepat saji KFC berdiri, Borneo Mall penuh dengan orang yang berbelanja. Saya melihat antrian panjang, orang-orang seperti keranjingan membeli apa saja yang disediakan mall. Dan, entah karena masih nanar oleh penerbangan, saya masih membayangkan tentang hidup yang timpang, juga hidup yang seimbang.

Malam turun di Pangkalan Bun, sebuah kota kabupaten yang terpental 450 kilometer dari Palangkaraya, ibukota Kalimantan Tengah. Rumah-rumah tertata, jalan-jalan mulus, kesejahteraan yang, menurut Nina, total dihidupi oleh perkebunan. Restoran dan mall tumbuh seperti cendawan di musim hujan. Sebentar lagi kami akan meninggalkan kota ini menuju sebuah perkampungan yang terletak 200 kilometer ke bagian tengah Kalimantan.

Saya dan Nina menaiki sebuah bus yang melaju kencang membelah belantara perkebunan, jalanan sepi. Dininabobokkan oleh dingin AC, Nina tertidur seketika. Di sinilah saya sadar, bahwa Nina memang bukan seorang detektif. Nyantanya Nina memang bukan detektif. Bus terus melaju melewati desa-desa sepi, jalanan sepi. Hanya sepi yang bergelayutan sepanjang jalan. Sepi bergelatungan di pokok-pokok sawit yang membuat Borneo berubah dari “tertinggal” sekarang telah “maju”. Entah maju ke arah mana, tidak satu kitab suci pun yang bisa menjelaskan perkara ini.

Bus terus melaju. Malam telah berganti pagi, dan kami tiba di sebuah perkampungan bernama Lopus di Kecamatan Delang, Kabupaten Lamandau Provinsi Kalimantan Tengah. Perkampungan menurut Nina terjaga dari perambahan, dari giuran perkebunan.

“Betul. Kami bertahan dengan tidak menjual lahan pada perkebunan. Kami sadar, uang untuk menjadikan rimba menjadi perkebunan sangat menggiurkan. Tapi, kami lebih memilih menjaga hutan. Apa artinya manusia tanpa hutan?” kata lelaki setengah baya sembari menyalami saya. Namanya Kakap.

“Nama ini diberi oleh ibu saya. Ini nama diambil dari nama sebuah kapal yang menyelamatkan ibu saya ketika saya masih dalam perut ibu saya. Orang-orang di sini tidak pusing mencari nama untuk anaknya. Di sini kau akan bertemu lelaki bernama Mesin, Ponten, Yamaha, Arab…“ kata Kakap sembari tertawa. Perbincangan Kakap seperti melompat begitu tak terararah, padahal saya tidak bertanya asal-muasal namanya. Barangkali, ia menangkap gelagat aneh dari raut muka saya setelah ia menyebutkan nama.

Selanjutnya, saya disilakan memasuki perkampungan. Dan, tentunya melewati gerbang adat terlebih dahulu.

Gerbang kampung terbuat dari bambu, dengan jalan kerikil. Dalam siramanan terik matahari siang, Tantri, Anjely—gadis-gadis Dayak Tomun—menari penuh keringat bersama lelaki-lelaki muda tengah menghunus mandau, senjata tradisional masyarakat Dayak. Lelaki-lelaki bertopi kulit kayu, menabuh gendang dan gong. Perempuan tua dan muda begitu ramai di gerbang kampung.

“Ini tarian untuk menyambut tamu,” bisik Nina pada saya. Gadis-gadis menari dalam ketukan gendang, suara gong yang bertalu-talu, matahari kian panas terasa. Di kepala gadis penari itu, bulu burung rangkong dan enggang bertengger, bergoyang mengiringi gerak kepala mereka. Di belakang mereka, anak sungai mengalir, rumah-rumah kayu, rampak pepohonan. Saya tengah berada di sebuah dusun Lopus, Kecamatan Delang, Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah. Di dusun sunyi inilah saya menginap, makan, mengobrol, menjalani hari dengan beleha-laha.

 

Satu pagi, Mesin, lelaki berbadan subur, berdiri di samping saya. Ia hendak mengajak saya ke hutan (yang menurut Kakap masih terjaga dari perambahan). Bersama kami, ikut juga seorang perapal mantra. Namanya Arab, walau lelaki tua ini bukan seorang Arab, namun namanya Arab. Kami melintasi anak-anak sungai jernih, pepohonan lebat, hingga berakhir di sebuah air terjun. Hutan yang tipografinya datar dibanding hutan Sumatra dan Sulawesi yang penuh jurang.

 

“Hutan di Kalimantan tengah nyaris habis. Sedikit sekali yang tersisa. Hutan ini salah satunya. Ini warisan nenek moyang kami,” kata Kakap lagi sembari merentangkan tangan menunjuk rampak hijau pepohonan. Di salah satu anak sungai, Arab membacakan mantra, menuang minuman sebagai penghormatan pada “roh” yang menjaga sungai. Selang beberapa jam berjalan, kami tiba di sebuah air terjun. Di sini kami membuka ransum, makan dan mandi hingga menggigil. Arab bercerita tentang moyangnya, tentang akar-akar tradisi yang kian tercerabut, tentang pentingnya hutan untuk generasi mendatang.

Dari lebatnya rimba, saya kemudian diajak berdayung menyusuri Sungai Delang, melewati warga dengan perahu-perahu yang pulang dari ladang, ibu-ibu yang tengah membuat baju dari kulit kayu. Malam, tak terasa, kembali datang bagai selimut hitam raksasa yang diturunkan dari langit. Hujan turun mendatangkan gigil. Angin menggoyangkan pepohonan.

Pada sebuah betang atau rumah panggung, lelaki-lelaki berbibir dan bergusi merah memukul gong dan gendang. Iramanya memecah sunyi kampung Lopus. Malam telah kian larut, namun gema suara gong itu kian keras. Saya memasuki betang. Di dalamnya telah dipenuhi lelaki tua-muda, ibu-ibu, gadis-gadis tengah menari, tertawa-tawa. Saya mengunyah sirih yang dipadu denga pinang. Irama gendang terus saja berpacu dengan ketukan gong, hentakan kaki, suara tawa, rapalan mantra ataukah nyanyian yang saya tidak mengerti artinya.

“Mari menari,” Ili, gadis pemilik tatapan sendu itu menggenggam tangan saya tiba-tiba. Apa yang harus saya tarikan, Ili?

“Yang penting menari saja. Di sini semua orang harus menari,” kata Ili lagi setengah memaksa, dan cengkraman tangannya kian erat terasa. Bibirnya mengulum senyum, matanya menatap lurus ke mata saya dan jantung saya berdegup kencang, bagai suara pintu rumah seorang pemberontak tengah digedor tentara. Dada saya tidak sanggup membendung suara degup jantung yang kencang seperti genderang perang tengah ditabuh. Suara degupnya terdengar sampai ke pantai barat Sumatera sana. Senyuman itu, adakah seperti senyuman Sinta menatap Rama ataukah menatap Rahwana, Ili? Aih, saya terlalu berlebihan. Angan-angan saya melayang tak keruan oleh getah pinang yang dilemur dengan sirih.

Dan, saya mesti menari. Suara ketukan gendang tidak henti, kaki-kaki menghentak, tangan-tangan terkepak, mereka masih saja menari. Masihkah tari mengubah keadaan di Kalimantan, Ili?

Malam kian larut, dan di luar, hujan bulan Novenber tidak juga kunjung reda. Dalam setengah nanar oleh sirih dan getah pinang, saya melihat Ili menari di antara gadis-gadis lain, perempuan-perempuan tua, lelaki-lelaki muda, lelaki-lelaki tua. Tangan dan jemari mereka bergetaran, seperti pepohonan di luar rumah yang ditiup angin.

Kini, Ili duduk bersimpuh di sisi saya. Keningnya berkeringat, mungkin karena kecapaian menari. Di hadapan kami, Beradu, lelaki 60 tahun, duduk membacakan mantra: tanah jangan bgotak, arai jangan bguncang, tongang ganti urat sengkubak ganti kulit

“Perjamuan Terakhir” di rumah betang, Kalimantan

 

Lalu, dengan daun dalam bejana berisi air, mereka memerciki kepala kami. Entah menenangkan pikiran saya, ataukah memberkati saya dengan air dan dedaunan, saya tidak tahu. Minuman berwarna seperti susu yang dibuat dari endapan ketan putih, disuguhkan pada saya dan Ili. Ili meneguknya dengan tenang. Setelah itu, lelaki tua di hadapan saya melilitkan ikat tongang; gelang dari akar dan dedaunan sengkubak yang dimantrai.

“Ini untuk keselamatanmu,” bisik Beradu tua sembari merangkul saya penuh kehangatan. Beradu membisikkan saya mantra-mantra, puja-puji pada bumi, percakapan-percakapan sunyi sungai-sungai. Ili masih menatap saya. Mata gadis itu penuh binar, dan malam berkelebat terasa kian panjang. Orang-orang terus menari, bernyanyi dalam bahasa yang tak saya ketahui. Saya terhenyak di pojok rumah betang, dibawa lena oleh getah pinang dan irama gendang. Di luar hujan November memukul-mukul pepohonan.

 

***

 

Di samping rumah Kakap, ada sebuah bangunan kayu tempat topeng-topeng beragam bentuk dibuat dan ditata. Empat lelaki sedang menggerus kayu, membubuhi warna, membentuk motif-motif: tarsius, gabon, barung hantu, juga pangua atau hantu. Begitu rumit posesnya membuat luha, atau topeng ini. Untuk apa banyak sekali topeng, Pak? Tanya saya padanya. Ponten, lelaki paruh baya yang sedari tadi duduk di pojok ruangan, berhenti sejenak dari pekerjaannya.

“Topeng ini untuk upacara kematian bagi kami,” katanya menjawab pertanyaan saya. Siapa yang telah meninggal, Pak Ponten?

“Kali ini tidak untuk kematian. Kita akan menarikannya bersama-sama di Naga Bulik. Pemerintah Lamandau mengadakan Festival Babukung, atau festival tarian kematian. Semua orang Dayak di Kalimantan Tengah ini akan menari. Kami, Dayak Tomun, akan membawakan tarian kematian ini. Tarian topeng ini. Datanglah ke sana. Akan ramai sekali di sana,” Ponten bicara datar, sedatar perkebunan luas di Kalimantan.

Keesokan harinya, beragam etnis Dayak berkumpul, menari di Naga Bulik. Saya melihat Kakap, dan lelaki-lelaki Dayak Tomun lainnya. Mereka menarikan “tarian kematian” dengan topeng-topeng yang beragam sebagai interpretasi dari roh leluhur dan dewa-dewa dalam ajaran Kaharingan, ajaran tua yang masih bertahan di pedalaman Kalimantan.. Akankah topeng itu ditarikan untuk memperingati kematian hutan di Kalimantan, wahai Ponten, wahai Kakap, wahai Arab, wahai Mesin?

Saya meninggalkan tarian kematian, menumpang kelotok (perahu dengan dua dek) yang bergerak lamban membelah sungai Kumai, menyerong ke Sungai Sekunyer. Di depan saya orangutan bergelantungan. Mereka hidup di sedikit sisa hutan di daratan Kalimantan. Kabut pagi yang berkejaran, suara hewan rimba bersahutan. Hanya sepi yang bergelayut, ditelan bising suara kelotok. Hutan-hutan berkekakuan dalam tatapan. Kabut dini hari merambat hingga ke dalam kelotok, dan mata saya tidak kunjung dihinggapi kantuk.

Kolotok terus membawa saya menuju Sungai Arut, sungai lebar berair coklat. Rumah-rumah di kiri dan kanan yang tersusun rapat, semua menghadap ke sungai Arut. Kayu-kayu besar bertumpuk-tumpuk yang disusun oleh mesin-mesin besar. Kayu-kayu itu, tentu akan sampai di kota, menjadi kertas, meja mewah—memenuhi kebutuhan orang-orang kota.

Senja mengirim warna jingga di ufuk, cahayanya memacak ke Sungai Arut. Saya merebahkan diri di atas kelotok membayangkan rumah yang dipenuhi penari, gema gong, tingkahan gendang dan dendang, percakapan sungai-sungai yang jernih, rapalan mantra dan lebatnya rimba yang masih tersisa. Dan saya memimpikan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang masih bertahan di pedalaman, petuah-petuah yang mengajarkan keseimbangan hidup. Sebentar lagi malam akan datang dan kegelapan akan menyelimuti Kalimantan. Riak Sungai Arut kian kentara, dan saya mendengarnya bagai percakapan sunyi sungai-sungai coklat di Kalimantan.

One Response

  1. Tulisan yang menarik

Leave a Reply