PERJALANAN KE MASA DEPAN

posted in: Feature | 0

 

 Bila daratan yang makin rusak dan suatu saat tidak lagi sanggup menampung populasi manusia yang kian meningkat, akankah di masa depan ada sebuah dunia baru selain daratan?

Di kepulauan yang terserak di selatan Provinsi Sulawesi Tenggara, saya menemukan seorang guru yang kelak akan membawa saya mengarungi dunia baru; alam yang belum pernah saya datangi. Guru saya seorang lelaki berbadan gempal dengan misai dan cambang menutupi dagu dan pipinya, lengkap dengan dua potong alis hitam tebal di atas bola matanya yang bulat. Nama guru saya ini singkat saja: Guntur.

Dan kini, Guntur mengajarkan saya cara kerja sebuah alat yang hendak kami bawa. Tabung bulat dengan selang, jarum penunjuk, regulator yang akan ditaruh ke mulut, baju berbahan setengah karet dengan kancing di bagian punggung, besi-besi yang dililitkan ke pinggang berfungsi sebagai pemberat badan, tombol-tombol, dua lapis karet seperti telapak kaki katak yang akan dilekatkan ke telapak kaki. Sebentar lagi, hidung saya tidak akan berfungsi, sebab mulut akan menggantikannya. Dengan segala perkakas aneh yang dibawa guru, saya membayangkan tubuh saya berubah menjadi alien seperti dalam film-film. Kenyataannya, saya memang alien; makhluk daratan yang mencoba hidup di dasar lautan.

Dengan cekatan, saya memasang segala perkakas—saya memang murid yang berbakat tampaknya. Setelah selesai, guru memasangkan tabung berkapasitas 16 kilogram di punggung saya, kemudian barulah ia memasang di punggungnya sendiri. Inilah bekal utama perjalanan kami. Pada oksigen dalam tabung inilah kami menggantungkan hidup untuk bernapas. Dengan mengikuti aba-abanya, menyelam, bernapas melalui regulator yang mengeluarkan gelembung-gelembung kecil. Saya mulai meliuk-meliuk ke ceruk-ceruk dalam, melewati terumbu karang warna-warni yang melambai-lambai bagai ribuan jari lentik tengah menari. Gerombolan ikan dengan formasi-formasi aneh di depan saya, bulu babi, ikan penyendiri (bahkan di dasar laut pun, ada jenis makhluk yang suka menyendiri).

Hidup di dasar laut adalah hidup di dunia yang hening. Hanya ada sunyi yang bernyanyi, juga bunyi gelembung udara dari mulut. Oksigen dalam tabung dialirkan ke mulut saya lewat pipa kecil yang lentur, kemudian masuk ke paru-paru. Saya tengah hidup di dunia yang sama sekali berbeda: dunia tanpa knalpot dan raung mesin, tanpa hingar bingar televisi. Inilah dunia baru yang disebut Kevin Reynold dalam film yang disutradarainya, Water World. Dunia baru yang ada di masa depan. Masa depan ketika lapisan es di kutub mencair dan menggenangi seluruh permukaan bumi dengan air. Masa depan, dalam film yang dibintangi Kevin Costner ini, adalah dunia yang penuh polusi, keserakan, dan orang-orang yang kehabisan akal sehat. Hanya sebagian kecil sekali daratan tersisa dan jadi rebutan orang-orang yang sanggup beradaptasi dengan dunia baru tersebut. Dan, cuma tersisa satu tempat yang damai di masa depan: dasar laut.

Akan tetapi bumi yang kita huni kini tetaplah planit dengan daratan luas membentang. Setidaknya, ramalan tentang ‘masa depan bumi adalah lautan’ belum kita jumpai, walau dari waktu ke waktu daratan terus menerus dikeruk, dieksploitasi habis-habisan selama berabad-abad tanpa berimbang, dan hutan kian tersinggkis oleh alasan yang dibuat seakan-akan logis.

Jantung saya berdegup kencang saat seekor ular belang sepanjang satu meter melintas di samping saya. Tetapi, Guntur memberi aba-aba pada saya untuk tenang. Makhluk lautan rupanya tidak seperti makhluk daratan, mereka tidak suka mengusik bila tidak merasa terganggu.

Kami terus meliuk. Ikan dengan bentuk aneh dan janggal (karena baru kali ini saya melihat) melintas di depan saya, ada pula ikan paduan warna seperti motif lurik dalam kain tenun, juga ikan berkepala aneh dengan benjolan yang banyak melongo menatap saya. Apa yang dipikirkan ikan-ikan ini melihat saya; sosok makhluk daratan yang sedang bertamasya di dasar laut?

Saya tertegun menatap ikan, tapi Guntur menarik baju saya untuk terus menyusuri alam bawah laut Wakatobi ini, padahal saya sedang ingin bermalas-malasan melihat ikan-ikan berkepala aneh tadi. Di dunia yang sesunyi ini, untuk apa terburu-buru, Guntur? Siapa yang memburu? Bukankah “tidak lari gunung dikejar,” adalah pepatah lama supaya tidak terburu-buru, Guntur? Aduh, saya tidak mengerti bagaimana cara berbicara dengannya saat sedang menyelam. Dan Guntur, guru selam saya, tidak mengajarkan bahasa yang dipakai di dasar laut pada saya, kecuali instruksi dan aba-aba dengan kibasan tangan dengan arti yang monoton: bergerak lurus atau menyamping, menekan hidung untuk mengeluarkan udara yang menyesaki telinga, bergerak ke kiri, ke kanan, naik, siap, OK, aman tidak terjadi apa-apa.

Sunyi terus menyergap kami dengan keheningan. Kami terus menyelami alam yang begitu hening. Inikah yang diimpikan manusia kota seperti saya ketika daratan berisi kegaduhan dan tidak lagi memberi damai? Akankah alam bawah laut menampung kehidupan manusia, ketika hutan dan segenap permukaan bumi diselimuti keangkaramurkaan? Untuk apa seseorang menyelam? Apakah muka bumi begitu berisik, begitu mengusik? Guntur memberi aba-aba saya untuk bergerak ke permukaan. Barangkali oksigen dalam tabung akan kandas, dan saya akan kembali ke dunia nyata saya: daratan. Bukan air. Saya meninggalkan dunia baru yang begitu damai dan hening.

“Hening? Tak juga. Sudah banyak destinasi selam yang berisik sekali karena penyalam terlalu ramai,” kata Guntur ketika kami telah di dermaga Sombu Dive Spot. Tidak terbayangkan oleh saya seberapa berisiknya dunia bawah laut oleh manusia darat.

Di daratan, hadir di samping saya Ingki, Imron, Putri, Clara, Ayub—orang-orang dari sesak kota-kota di Pulau Jawa. Juga Valentino, lelaki bersahaja dari daratan Flores. Guntur kemudian membawa saya berkendara ke ibukota kabupaten Wakatobi yang bernama Wangi-wangi. Minum kopi, melihat langit senja bertabur warna jingga yang alangkah melankolik seperti kisah cinta semu dalam sinetron cepat saji.

Wakatobi, sebuah kabupaten yang dinamai dari singakatan nama-nama pulau (Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko), yang dalam beberapa tahun terakhir mencuat di muka bumi justru tetang cerukan di bumi: surga tersembunyi di bawah laut. Bahkan, banyak orang kehabisan kata-kata untuk melukiskan kecantikan dasar laut Wakatobi hingga ia disebut saja dengan kata klise: surga. ini. Benarkan Wakatobi sebuah surga?

“Kan sudah lihat itu dasar lautnya? Bagaimana? Cantik? Beginilah, kami kami tinggal di area taman nasional,” kata Akas Hamid menerangkan jenis-jenis ikan dan terumbu karang pada saya. Kepulauan Wakatobi seluas 1,3 juta hektare ini memang telah didaulat sebagai Cagar Biosfer Dunia oleh UNESCO. Namun, kata Akas lagi, bom ikan yang berbahaya bagi ekosistem laut belum sepenuhnya berhenti. Lantas, kenapa masyarakat di “surga” ini masih memakai bom, Akas?

“Di sini, padi ditanam karang yang tumbuh, haha,” Noval Monali, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Wakatobi mengeluarkan lelucon. “ Tidak ada tanah berbatu di sini, yang ada batu bertanah,” begitu lelucon masyarakat di sini mengolok-olok kampung mereka sendiri. Dan, kini saya menjejaki tanah berbatu karang, hitam, berjalan kaki di bawah terik 38 derjat cercius di Kampung Liya Togo, pulau Wangi-wangi. Hanya karang, dan sedikit tanah ditumbuhi ketela-ketela meranggas yang bagai enggan hidup namun juga tidak hendak mati.

Seorang gadis berjalan di Benteng Liya Togo Pulau berkarang Wangi-wangi Sulawesi Tenggara

“Ini cukup subur dibanding tempat lain,” kata Riadi, seorang guru SD yang penuh semangat mengenalkan kampungnya pada saya. Saya terdiam membayangkan ketela ini tumbuh di kampung saya. Bila dibanding dengan pulau-pulau “agraris” di Indonesia yang penuh lahan datar luas, Wakatobi adalah wilayah gersang.

Tuhan bagai enggan menciptakan tanah subur di sini.

Walau daratan penuh karang yang bertanah, masyarakat dimajakan oleh laut penuh ikan. Lihat, perempuan-perempuan Liya Togo memasak beragam ikan yang dianugerahkan oleh laut. Laut Banda begitu nyata hadir di atas piring mereka. Wakatobi, diresmikan pada tahun 1996 dan didapuk sebagai Taman Nasional Laut (TNL) terluas kedua di Indonesia, dan menurut pemerintah setempat, menjadi habitat bagi 90% jenis karang yang ada di dunia serta lebih dari 942 spesies ikan. Pemerintah juga memasukkan Wakatobi dalam daftar 10 destinasi unggulan Indonesia sejak 2016.

 

“Inilah tempat kami menempa hidup. Laki-laki mesti hidup sebagai laki-laki yang kuat,” Riadi bercerita tentang beragam ritual adat di pulau ini, tentang bagaimana dia waktu masih bocah ditempa, dilatih bertarung dalam acara Posepaa. “Saya salah satu paling jago di Liya,” kata Riadi lagi. Namun, Riadi bukan petarung. Sekali lagi, Riadi adalah seorang guru SD.

 

“Mental petarung itu adalh untuk menjaga diri dan harus dimiliki setiap laki-laki,”kata Riadi lagi sembari berjalan. Terik belum juga kunjung lindap. Kami melintasi gerbang Keraton Lia Togo, ada meriam yang tersadai begitu saja di pinggir jalan. Perepuan-perempuan di Kampung Liya Togo menghidangkan beragam makanan pada kami. Beragam jenis ikan dari kedalaman Laut Banda hadir di piring.

Di pulau-pulau yang dikungkung wilayah Taman Nasional Laut ini, saya berpindah-pindah. Dari Wangi-wangi, saya menyeberang ke pulau lain.

Kapal dengan mesin berisik membawa saya membelah laut malam menuju Tomia. Dari pulau Tomia yang berkarang berpindah ke pulau kecil berpasir putih. “Ini pulau tidak ada penghuni,” kata Kasman, pemuda Tomia yang kemudian menghadiahi saya kelapa muda. “Setelah ini kita akan makan ikan mati,” kata Kasman lagi. Saya bingung, kenapa di laut yang dipenuhi beragam ikan, orang masih memakan ikan mati? Dan ternyata kami memang makan ikan yang telah mati (bukan hidup-hidup). Usai makan, saya meninggalkan Kasman dengan lelucon anehnya.

Saya berangkat menuju sebuah perkampungan di tengah laut. Kampung Samma Bahari namanya, kadang disebut Sampela. Kampung ini teronggok begitu saja di tengah laut, tak berada di daratan sebagaimana kita tinggal. Rumah-rumah kayu, dengan tiang-tiang menghujam ke lautan. Di perkampungan yang bagai susunan kayu terapung dan setengah begoyang inilah Suku Bajo Samma Bahari menetap.

“Kami Orang Bajo telah biasa di laut, kami tidak biasa di darat. Laut ini datar, lapang,” kata Lauda, seorang pemuda Bajo, dengan nada datar. Menyelam tanpa pemberat badan, berburu ikan sembari berjalan di kedalaman puluhan meter selama belasan menit tanpa oksigen, bukan perkara asing bagi orang Bajo. Mereka dikenal sebagai gipsi laut, pengembara lautan yang menolak hidup di daratan. Apakah daratan sudah tidak aman, Lauda?

Ia tertawa. Sembari menyambar kretek saya, ia kemudian bercerita tentang ikan, tentang mesin perahu, tentang bagaimana menahan napas hingga 20 menit di dasar laut. Matahari pagi mulai tinggi menyirami kampung yang berada di atas permukaan laut ini. Tidak ada daratan, hanya laut. Bagaimana cara berjalan di dasar laut, Lauda? Lelaki itu terus saja tertawa, seakan tertawa adalah sebuah jawaban dari sebuah pertanyaan. Siang yang terik mulai meyirami Sampela, perkampungan Bajo yang pernah dijadikan tempat syuting film The mirror Never Lies.

Di rumah-rumah kayu, perempuan-perempuan penuh canda mengenakan bedak seperti masker tebal berwarna putih di wajah mereka. Anak-anak berloncatan dari jendela rumah, bercanda-canda, tertawa-tawa, berdayung, mencari bulu babi, membawa panah ikan, menyelam, bersampan dengan styrofoam dan matahari menyengat tepat di atas kepala. Warung-warung penuh derai gelak remaja bermain bilyard sembari bertaruh. Aroma ikan kering terpacak di udara panas. Tidak berapa jauh dari tempat saya dan Lauda duduk, kapal penangkap ikan berlambung besar menaikkan tuna dari kedalaman Laut Banda. Dengan sampan kecil, saya menyeberang ke Pulau Kaledupa yang hanya selemparan batu jaraknya dari “pulau” Samma Bahari ini.

Di Kaledupa, saya berhadapan dengan makanan aneh. Kukure namanya, terbuat dari lei atau bulu babi. Hewan laut penyengat dan membuat kaki membiru dan berdenyut kencang bila terinjak, kini menjadi hidangan? Ini kalinya saya makan bulu babi yang diberi bumbu, saya menyantap dengan perasaan was-was. Rasanya enak rupanya, tidak jauh berbeda dengan daging cumi-cumi yang telah dihaluskan.

Angin malam menggetarkan ranting-ranting, menggugurkan dedaunan di jalan-jalan sempit. Di sebuah padang terbuka, dengan tenda-tenda seadanya yang dibuat dari daun kelapa, gadis-gadis menari. Lariangi tarian itu disebut. Dalam cahaya temaram, tangan mereka saling melentikkan jari dengan gemulai, berputar seperti burung, kadang merungkuk seperti memberi pengormatan pada bumi. Pikiran saya dibawa lena oleh ketukan gendang yang lamban, sesuara dari tenggorokan perempuan-perempuan tua yang mengeluarkan lengking parau nyanyian. Puja-puji terhadap Tuhan berkelindan, lingkaran nasib orang-orang yang hidup di tanah berbatu yang tidak banyak memberi pilihan, nyanyian tentang ketenangan hidup, tentang raja-raja, tentang hal-hal yang saya tidak tahu.

 

Gadis-gadis berbibir merah terus menari di Kaledupa. Tangan mereka melambai-lambai bagai terumbu karang di dasar samudera. Dalam remang cahaya temaram, manik-manik di baju mereka menebar kilauan ke mata saya. Kuncir di rambut mereka bergoyang, Laut Banda mengirim asin angin pancaroba. Tak berapa lama lagi musim barat akan datang berkelebat. Irama pentatonik yang gusar dari mulut perempuan-perempuan tua. Suara mereka bagai siul angin yang menembus tebing-tebing curam, kadang meninggi laksana helaan badai dari tengah lautan, bagai nasib, bagai pengembaraan panjang yang tak berujung.

“Ayo, menyelam lagi,” Guntur menyentakkan lamunan saya. Dan, pikiran saya seakan berpindah dari panggung penari ke dasar lautan, ikan-ikan, terumbu karang yang melambai-lambai seperti jari penari Lariangi. Saya jadi ingat Lauda, saya membayangkan dunia baru dan masa depan asing. Saya membayangkan dasar lautan yang asin.

Published: Beritagar

Leave a Reply