DUA SISI TIMOR

posted in: Feature | 0

Antara luka silam dan mimpi hari depan. Bumi Timor Lorosae masih berada di persimpangan, satu dekade setelah NKRI angkat kaki dan satu tahun setelah PBB mengepak barang-barangnya. Di demarkasi terpenting dalam hidupnya itu, pariwisata dan pertambangan dipilih sebagai dua mesin yang akan membawa negeri ini terbang tinggi.

 

Dili dari Bukit Fatucama

 

Arquivo & Museu da Resistência Timorense, museum terpenting di pusat Kota Dili, berisi kepedihan. Saya memasukinya dengan jantung yang kian lama kian berdegup kencang. Ruangannya disekat hingga membentuk lorong-lorong kecil dengan cahaya temaram, seakan hendak mengatakan: selamat datang di masa lalu kami!

Saya menyusuri lorong berkelok yang ditempeli poster-poster Falintil, tentara pembebasan Timor-Leste yang terkenal itu. Di dalam sebuah etalase kaca, seragam kumal serdadu ditaruh. Ada yang tercabik-cabik dan penuh tambal. Di kelokan lain, ada patung seorang lelaki setinggi dua meter. Tangannya memegang pagar besi, bagai hendak melompat ke arah saya. Pagar itu begitu runcing. Moncong lelaki itu sedikit ternganga, mungkin hendak berteriak, atau tengah menahan sakit karena tercekik oleh suaranya sendiri.

Pada sisi lorong yang lain dari museum itu, layar-layar monitor silih berganti menayangkan video tentang perang, tentang kekerasan sipil, kekejaman yang teramat sadis. Saya tidak mengerti apa yang dibicarakan presenternya. Ia bertutur dalam bahasa Portugis. Pengunjung tidak dibenarkan membawa perekam suara atau gambar ketika memasuki museum. Begitu banyak catatan kekejaman. Apakah ini sebetulnya yang ingin dijual Timor-Leste untuk mendatangkan wisatawan?

Saya mengunjungi Timor-Leste dengan menaiki minibus dari Kupang. Di dalam kabin, saya membaca buku perjalanan Lonely Planet. Pada halaman awal, José Ramos Horta menulis: “Welcome to the Dili, City of Peace.” Mobil saya melaju kencang, menyalip dan melesat seperti tidak memiliki pedal rem. Hampir semua angkutan umum di Pulau Timor ini dikendarai Michael Schumacher—Michael Schumacher berkulit cokelat. Sesekali ban terasa melayang di atas aspal. Jalan mulus berliku melewati kampung-kampung kecil, Soe, Nikiniki, Kefa, hingga Atambua.

Di Atambua, saya dan penumpang lain mesti turun untuk melewati garis perbatasan negara. Setelah semua barang bawaan diperiksa, saya harus melewati satu pos penjaga lagi sebelum menyeberang ke Timor-Leste. Bumi Lorosae, negeri timur tempat matahari terbit.

“Paspor baru, sepuluh dolar!” tukas lelaki berseragam loreng dalam bahasa Indonesia di sebuah pos. Datar dan dingin, sedingin wajahnya. “Tidak bisakah kita negosiasi, Papa?” saya mencoba mencairkan suasana. “Harga negosiasi sama saja, sepuluh dolar!”

Paspor saya ditahan terpisah dari tumpukan antrean. Haruskah saya memulai tulisan perjalanan selama seminggu di tanah Lorosae dengan hal yang tidak mengenakkan ini. Serdadu Falintil yang menjaga perbatasan itu masih menunggu saya merogoh kantong. Barangkali ini alasan tentara perbatasan mencopot bordiran nama di seragam mereka.

“Kena saya kali ini,” ujar saya pada teman di bus. “Tentara perbatasan di sini mencari gaji sampingan dengan memalak, ya!” kata saya pada gadis cantik yang duduk di kursi depan bus dan berceloteh dalam bahasa Tetun.

“Tentara Indonesia lebih parah. Saya diminta empat ratus ribu rupiah ketika hendak pergi belajar ke Surabaya,” sahutnya ketus. Saya terdiam, diam dalam sadar. Timor-Leste menyimpan memori yang buruk dengan Indonesia. Catatan-catatan dan video tentang kejahatan perang beredar. Indonesia, di mata Timor-Leste, adalah penjajah dengan catatan yang pedas. Di bangku-bangku sekolah, sejarah kekerasan tersebut diajarkan dengan lebih detail. Dalam beberapa catatan, Indonesia kerap disebut tiran. Saya kadang-kadang merasa aneh berada di negeri yang menganggap negeri saya sebagai tiran.

Bus melenggok di jalan penuh lumpur, longsoran bukit, tiang listrik yang patah, berkilo-kilometer panjangnya. Jarak tempuh yang harusnya tiga jam untuk sampai ke Dili dari perbatasan, mesti dikalikan dua. Musim hujan menyulap lubang-lubang di jalanan menjadi kubangan kerbau. Saya memasuki Dili, Ibu Kota Timor-Leste, pada malam hari, ketika hujan turun merendami jalan-jalan dan menguapkan lumpur. Mobil yang saya tumpangi harus berbelok tiga kilometer akibat sebuah jembatan ambruk persis di samping istana presiden yang hanya dijaga dua lapis penjaga. Lumpur disemburkan dari saluran drainase yang berantakan, hingga jalur utama di samping istana harus dialihkan.

Bagaimana mungkin jalan ke istana negara bisa lumpuh hanya karena hujan? Saya tidak bertanya pada gadis Timor tadi lagi. Sebab, satu minggu sebelumnya, Jakarta juga diguyur hujan lebat dan Presiden Republik Indonesia menggulung celananya di pelataran istana.

Dengan sepeda saya berkeliling Dili, dan beberapa pasang turis melakukan hal yang sama. Minggu pagi, anak-anak berdandan, memenuhi jalan mengikuti langkah orang tua yang hendak berangkat ke gereja. Di altar Gereja Motael di tepi pantai Dili, pastor berkhotbah dalam bahasa Tetun, separuhnya Portugis. Keduanya tidak saya mengerti. Tapi pengunjung khidmat. Mereka orang-orang yang taat. Saya berputar arah mengikuti alur jalan sepanjang pantai. Pulau Atauro tampak sangat samar menyembul dari permukaan laut. Pulau dengan sebutan surga penyelam itu dikelilingi laut yang ditumbuhi karang aneka warna. Gedung-gedung kedutaan dari berbagai negara berdiri megah. Kedutaan Amerika lebih mencolok dan terkesan begitu mewah dengan penjaganya yang berlapis—mengalahkan kantor presiden Timor-Leste yang hanya dikawal penjaga berpakaian adat. Nelayan pulang melaut, membopong ikan-ikan besar hasil tangkapan. Angin sejuk bertiup tenang dari utara.

Seorang lelaki di arena sabung ayam, Dili

Menyaksikan Dili seperti menyaksikan Indonesia pasca-revolusi. Masih tersisa coretan-coretan pada dinding yang berteriak tentang kebebasan, gedung-gedung bekas barak tentara yang dipenuhi lumut di sana sini, sisa-sisa dari masa silam yang baru kemarin. Selain itu, mural balap sepeda Tour de Timor yang diadakan tiap tahun, tampak mendominasi tiap tembok kota. Di malam hari, di beberapa pojok jalan yang tidak begitu jauh dari istana negara, bandar-bandar kasino mulai tumbuh, walau dalam kondisi yang belum sempurna, dan perempuan-perempuan pesolek melempar senyum sambil menunggu klien.

Dalam usia yang masih sangat muda, Timor-Leste bagai burung kecil yang terseok-seok terbang dengan sayap yang belum sepenuhnya utuh. Di lepas pantainya, Australia bekerja sama untuk menggali minyak. Di sisi yang lain, hampir 60 persen logistik pangan dan sandang didatangkan dari Indonesia, termasuk guru-guru, BBM, hingga rokok yang diangkut oleh kapal dan mobil-mobil ekspedisi—kendati beberapa “jalur tikus” penyelundupan minyak dan barang dari Indonesia masih beroperasi.

“Bahkan pelacur pun diimpor dari negara luar,” kata Lino Loe di Kafe East Timor Backpackers. Selain harga barang kebutuhan pokok yang tinggi, negara ini baru bisa mencetak koin sen dalam mata uang Timor-Leste. Tapi banyak hal lain yang menggoda turis untuk datang ke sini, kata penjaga Xanana Gusmão Reading Room sembari tertawa.

Pada pagi berikutnya, saya kembali mengayuh sadel menyusuri Jalan Avenida de Portugal, menuju sebuah bukit yang tampak jauh. Di kiri jalan, ada monumen berupa patung besar: seorang lelaki tengah berbaring, mungkin dalam keadaan sekarat. Kain putih membungkusnya, dan sepertinya patung ini belum diresmikan. “Ini untuk memperingati pembantaian di makam Santa Cruz,” kata seorang lelaki yang tergopoh-gopoh entah mengejar apa. Pembantaian? Cuplikan-cuplikan video di Arquivo & Museu da Resistência Timorense yang sebelumnya saya kunjungi terbayang lagi. Prajurit-prajurit Indonesia melepaskan hujan peluru ke gerombolan orang di sebuah kompleks pemakaman. Huh, udara pagi begitu sejuk di sini, terlalu sayang rasanya jika harus dinodai. Di ujung sana, terhampar bukit dengan patung besar di puncaknya. Saya terus mengayuh, melewati hotel-hotel yang menghadap laut sepi.

Dengan sepeda saya berkeliling Dili, dan beberapa pasang turis melakukan hal yang sama. Minggu pagi, anak-anak berdandan, memenuhi jalan mengikuti langkah orang tua yang hendak berangkat ke gereja. Di altar Gereja Motael di tepi pantai Dili, pastor berkhotbah dalam bahasa Tetun, separuhnya Portugis. Keduanya tidak saya mengerti. Tapi pengunjung khidmat. Mereka orang-orang yang taat. Saya berputar arah mengikuti alur jalan sepanjang pantai. Pulau Atauro tampak sangat samar menyembul dari permukaan laut. Pulau dengan sebutan surga penyelam itu dikelilingi laut yang ditumbuhi karang aneka warna. Gedung-gedung kedutaan dari berbagai negara berdiri megah. Kedutaan Amerika lebih mencolok dan terkesan begitu mewah dengan penjaganya yang berlapis—mengalahkan kantor presiden Timor-Leste yang hanya dikawal penjaga berpakaian adat. Nelayan pulang melaut, membopong ikan-ikan besar hasil tangkapan. Angin sejuk bertiup tenang dari utara.

Menyaksikan Dili seperti menyaksikan Indonesia pasca-revolusi. Masih tersisa coretan-coretan pada dinding yang berteriak tentang kebebasan, gedung-gedung bekas barak tentara yang dipenuhi lumut di sana sini, sisa-sisa dari masa silam yang baru kemarin. Selain itu, mural balap sepeda Tour de Timor yang diadakan tiap tahun, tampak mendominasi tiap tembok kota. Di malam hari, di beberapa pojok jalan yang tidak begitu jauh dari istana negara, bandar-bandar kasino mulai tumbuh, walau dalam kondisi yang belum sempurna, dan perempuan-perempuan pesolek melempar senyum sambil menunggu klien.

Dalam usia yang masih sangat muda, Timor-Leste bagai burung kecil yang terseok-seok terbang dengan sayap yang belum sepenuhnya utuh. Di lepas pantainya, Australia bekerja sama untuk menggali minyak. Di sisi yang lain, hampir 60 persen logistik pangan dan sandang didatangkan dari Indonesia, termasuk guru-guru, BBM, hingga rokok yang diangkut oleh kapal dan mobil-mobil ekspedisi—kendati beberapa “jalur tikus” penyelundupan minyak dan barang dari Indonesia masih beroperasi.

“Bahkan pelacur pun diimpor dari negara luar,” kata Lino Loe di Kafe East Timor Backpackers. Selain harga barang kebutuhan pokok yang tinggi, negara ini baru bisa mencetak koin sen dalam mata uang Timor-Leste. Tapi banyak hal lain yang menggoda turis untuk datang ke sini, kata penjaga Xanana Gusmão Reading Room sembari tertawa.

Pada pagi berikutnya, saya kembali mengayuh sadel menyusuri Jalan Avenida de Portugal, menuju sebuah bukit yang tampak jauh. Di kiri jalan, ada monumen berupa patung besar: seorang lelaki tengah berbaring, mungkin dalam keadaan sekarat. Kain putih membungkusnya, dan sepertinya patung ini belum diresmikan. “Ini untuk memperingati pembantaian di makam Santa Cruz,” kata seorang lelaki yang tergopoh-gopoh entah mengejar apa. Pembantaian? Cuplikan-cuplikan video di Arquivo & Museu da Resistência Timorense yang sebelumnya saya kunjungi terbayang lagi. Prajurit-prajurit Indonesia melepaskan hujan peluru ke gerombolan orang di sebuah kompleks pemakaman. Huh, udara pagi begitu sejuk di sini, terlalu sayang rasanya jika harus dinodai. Di ujung sana, terhampar bukit dengan patung besar di puncaknya. Saya terus mengayuh, melewati hotel-hotel yang menghadap laut sepi.

Beberapa karyawan hotel yang saya temui mengaku, rata-rata hotel di Dili telah melakukan pengurangan jumlah karyawan hingga 15 persen. Sejak PBB meninggalkan Timor-Leste pada Desember silam, hotel dan kelab malam kehilangan pelanggan yang memang kebanyakan staf LSM asing. Tak hanya hotel. Kaum seniman yang menghuni gedung bekas Museum Timor Timur yang diubah nama menjadi Arte Moris, tampak murung dan kurang geliat. Lukisan-lukisan yang dipajang di dinding dan didominasi sapuan kuas ekspresionis perjuangan masa silam, sepi dari penawar yang biasanya merupakan turis asing. Saya masih mengayuh sepeda.

Di sini, di puncak bukit Fatucama, Jesus menatap teduh ke arah samudra luas. Tangannya dibentangkan, bagai hendak merengkuh. Cristo Rei, begitu bukit itu dinamakan. Matahari mulai menyirami Dili dan ratusan anak tangga menuju Jesus. Saya, teman saya En yang berkulit cokelat, beberapa orang asing lainnya yang berkulit terang, dan sekelompok kecil perempuan bermata sipit, berziarah ke sini. Tak banyak warga lokal yang mengunjungi sosok manusia suci ini. Beberapa muda-mudi tampak asyik bergandengan mesra menapaki anak tangga.

Dari bukit Cristo Rei ini, Dili begitu jelas. Jesus seakan sedang bersabda dari atas bukit. Di bawahnya, ombak utara menghempas batu karang. Jalan membentang menuju Manatuto dan Baucau di timur. Saya tidak ingin turun dari bukit ini. Apa yang saya saksikan di museum kemarin, telah saya lupakan.

Sejak lepas dari pangkuan NKRI pada 2002, Timor-Leste bebas menentukan masa depannya sendiri. Pada 31 November 2012, United Nations Integrated Mission in Timor-Leste hengkang kaki dari pulau penghasil kayu cendana yang berpenduduk satu juta jiwa ini. Dengan kepergian PBB, berarti Timor-Leste telah bebas dari masa peralihan keamanan dan dianggap aman untuk pendatang. Taur Matan Ruak, yang pada 2012 dilantik sebagai presiden ketiga Timor-Leste, berjanji akan membawa negaranya terbang dengan sayap yang utuh. Negara dengan persentase angka pengangguran yang mengkhawatirkan ini berkomitmen untuk berkonsentrasi pada pariwisata dan pertambangan. Dua sektor yang kerap bertentangan untuk sebuah negara. Pertambangan minyak adalah eksploitasi tanah, sedang pariwisata berusaha menjaganya. Mungkinkah?

Dulu sekali, pada musim semi 1861, Alfred Russel Wallace berkunjung ke Dili. Kala itu, Portugis menguasai seluruh lini. Selama enam bulan di sini, Wallace mencatat. “Pemerintahan Portugis di Timor sangat buruk,” tulisnya dalam The Malay Archipelago. “Setelah tiga ratus tahun menjajah, tidak satu mil pun jalan yang dibuat menuju pedalaman. Semua pegawai pemerintah menindas dan memeras penduduk sesuka hati.” Sekarang, catatan itu seperti bergeming. Gedung-gedung tua, gereja-gereja sepuh, juga agama yang dibawa Portugis bersama sekelompok misionaris pada 1566 bagai tidak bisa lepas dari Timor-Leste. Bahkan, mereka dianggap sebagai daya tarik yang akan mendatangkan wisatawan. Bahasa Portugis diajarkan di bangku-bangku sekolah sejak mata pelajaran Bahasa Indonesia dihentikan pengajarannya. Lebih dari satu setengah abad sejak Wallace menginjakkan kakinya di Timor-Leste, saya datang, walau negeri seluas 15 ribu kilometer persegi ini tidak lagi dijajah Portugis.

Saya mengayuh sepeda menuju penginapan, membelah gerimis. Entah kenapa imajinasi saya kembali ke museum itu, membuat saya tidak ingin melewati kompleks pemakaman Santa Cruz. Entah mengapa saya menuliskannya untuk sebuah catatan perjalanan. Dalam laporan media, kerusuhan di kompleks pemakaman Santa Cruz 1991 itu disamakan dengan Insiden Sharpeville 1960 di Afrika Selatan. Masa-masa berdarah Timor Timur itu berlanjut hingga ia berdiri sebagai negara merdeka.

Di masa-masa genting 1999, kerusuhan kembali merebak di Dili. Geoffrey Robinson dalam bukunya If You Leave Us Here, We Will Die menceritakan dengan sangat detail tentang kerusuhan itu. “Empat ratus ribu orang mengungsi dan tujuh puluh persen infrastruktur dibakar dan dirusak.” Salah satu korban kebakaran itu adalah Hotel Galaxy di pusat Kota Dili. Di atas reruntuhan Galaxy, Discovery Inn dan restoran mewahnya berdiri anggun dengan konsep butik. Jaraknya cuma lima menit bersepeda dari istana negara. Tony Blair memilih Discovery Inn sebagai tempat menginap ketika berkunjung ke negara ini. Restoran Discovery Inn yang diberi nama Diya Restaurant, menawarkan makanan bercita rasa Pakistan. “José Ramos Horta dan Presiden Xanana sering makan siang di sini,” ujar Ilham, manager harian Discovery Inn. Hotel ini tidak merasakan penurunan pengunjung seperti beberapa hotel yang saya masuki di Dili.

Dari Discovery Inn, saya bertolak ke Distrik Baucau yang dipisahkan jarak 130 kilometer dari Dili. Saya berkendara—kali ini dengan sepeda motor—di jalan berliku dengan kondisi rusak parah dan penuh tanjakan, kontras dari alam sekitarnya yang begitu menggugah. Tanah lapang, bukit-bukit hijau yang ditumbuhi cendana, pantai berpasir putih yang seperti tak pernah dijamah, rawa hutan bakau yang dihuni buaya, bangunan kolonial indah yang terhindar dari konflik 1999—semuanya menghiasi lanskap menuju Baucau.

Jalanan sepi. Hanya satu dua mobil berlabel UN melintas. Saya berhenti di salah satu gereja di Manatuto, disapa anak-anak sekolah yang kemudian menertawakan saya yang memakai bahasa Indonesia. Bahasa yang telah dicabut dari kurikulum dan tidak lagi diajarkan di sini.

“Walaupun begitu, kami masih suka masakan Padang, kami masih memakai batik. Semua yang telah lalu, biar berlalu,”ujar Aquillno Santos Caeiro, National Director of Marketing for Tourism. “Pariwisata sebetulnya andalan Timor Timur dari dulu, namun ketika di tangan Indonesia, tidak terbuka untuk wisatawan,” tambahnya.

Di jalan rusak yang sepi, ban sepeda motor saya bocor. Kepada siapa hendak mengadu? Saya, juga teman saya En, hanya turis asing. Satu mini bus berisi pipa besi, lewat. Sepeda motor kami ikat ke pipa besi bagian belakang. Hanya ini jalan satu-satunya. Gelap mengambang di cakrawala Baucau, menyelimuti rumah-rumah beton, gereja-gereja di kompleks Kota Tua yang tak terawat, desa-desa penuh canda, warung-warung kecil dengan penerangan seadanya.

Saya terperangkap di ruang 15 meter persegi tanpa loteng milik lelaki-lelaki muda penegak arak. Dalam ruangan itu terbentang dua ranjang, sebuah meja dan bale-bale kecil, poster selebriti Indonesia yang memicu gairah, dan foto pernikahan. Saya disambut dengan hangat, seakan seorang saudara yang baru kembali dari perantauan. Sambil menenggak arak oplosan, mereka berceloteh tentang Lorosae yang aman dan ketersediaan lapangan kerja yang minim.

“Dulu saya masih bisa makan tiga kali sehari, sekarang untuk bekerja pun susah,” kata Joao Metan. “Tapi yang penting sekarang kami telah merdeka,” timpal Pedro Apeu sembari meletakkan buku belajar pintar bahasa korea. Lelaki 30 tahun ini sempat hampir putus asa karena selalu gagal tes bahasa Korea.

Di luar ruangan, Terminal Baucau sepi. Gerbangnya yang ditulis dalam bahasa Indonesia, masih tersisa. Di bawah sana, pantai dan benteng-benteng Portugis menanti para pencari surga. Pembauran Eropa dan Asia begitu kentara. Di bagian selatan, laut terhampar dengan terumbu karang yang memesona. Ada banyak alasan untuk datang ke sini, sebagaimana ada banyak alasan beberapa negara ingin memiliki Timor-Leste.

DETAIL
Timor-Leste

—Rute
Penerbangan ke Bandara Presidente Nicolau Lobato di Dili dilayani oleh dua maskapai asing (Airnorth dan Qantas) serta dua maskapai nasional, yakni Merpati Nusantara (merpati.co.id) dan Sriwijaya Air (sriwijayaair.co.id). Jika memilih jalur darat dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, Anda dapat menggunakan minibus Travel Timor (Rp185.000 per orang) yang berangkat setiap hari dari Kupang. Bus berangkat pukul enam pagi dan mendarat di Dili pukul 20.

—Penginapan
Dili adalah titik tolak terbaik untuk menjelajahi Timor-Leste. Salah satu opsi ideal adalah Discovery Inn (Avenida Presidente Nicolau Lobato, Dili;  670/3311-111; discoveryinntimor leste.com; doubles mulai dari $139), hotel berkapasitas 31 kamar yang berlokasi di Rua Jose Maria Marques, pusat kota Dili, dan menyediakan penjemputan langsung di bandara Dili. Opsi lainnya adalah Villa Harmonia (Jl. Avenida de Portugal, Dili; 670/7723-8265; doubles mulai dari $40) yang menawarkan kamar tipe standar hingga suite.

—Aktivitas
Untuk berkeliling kota Dili dan sekitarnya, cara paling mudah adalah menyewa mobil atau sepeda motor ($3-5 per hari).Jalan yang relatif datar dan mulus akan mengantar Anda dari Arquivo & Museu da Resistência Timorense, Xanana Reading Room, lalu ke gelanggang sabung ayam di Bebora. Di luar kota Dili, beberapa distrik yang menarik disambangi adalah Baucau, Maubisse dan Los Palos. Untuk aktivitas ini, tarif sepeda motor antara $20-30 per hari, sedangkan mobil $100-130. Perairan Pulau Atauro menyimpan terumbu karang yang dijuluki warga lokal sebagai pesaing sempurna bagi Raja Ampat. Hotel-hotel di sepanjang jalan Avenida de Portugal rata-rata menyediakan paket menyelam ke sana. Desember-April merupakan musim hujan di mana hutan dan perbukitan terlihat menghijau dan ombak laut lebih tinggi. Antara Mei dan November, curah hujan minim dan bukit-bukit berwarna cokelat kekuningan. Di hari-hari sakral Katolik, warga biasanya menggelar festival budaya.

Pertama kali diterbitkan di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/Agustus (“Feature: Dua Sisi Timor”)

Leave a Reply