JULIA ROBERT, DAVID HASSELHOFF, DAN PEJABAT TERAS

posted in: Feature | 0

 

Denpasar penuh sesak seperti kereta Bogor-Jakarta Kota yang berangkat subuh. Tapi orang-orang dari berbagai penjuru Bumi tetap saja bermimpi untuk ke sini: Legian, Kuta, Seminyak, Sanur, Gili Trawangan, Tanah Lot, Jimbaran, Ubud. Apa yang mereka cari ke Bali?

“Pertanyaan bodoh macam apa itu? Ya, berlibur lah!” teman saya Kiki, Pegawai Bank Nasional Indonesia, menjawab pertanyaan saya dengan umpatan.

Artikel di majalah-majalah maskapai penerbangan menyebut Bali sebagai ‘surga yang tersembunyi’, ‘nirwana’, ‘the hidden paradise’—macam tak ada kata lain saja. Kaum hippies pencari surga dunia ketiga memenuhi Pantai Kuta, meringsek ke jalan-jalan, menyesak hingga ke Tugu Bom Bali—dari turis berkantong tebal hingga proletariat yang baru mengenal kata ‘melancong’ dalam hidup mereka. Semua berlomba-lomba datang ke Bali. Jalanan macet. Aroma dupa dan bau bacin muntah turis yang berbaur dengan sengatan alkohol mengambang di udara, saling sekap di gang-gang sempit di Legian. Denpasar bagai tak bisa menampung jumlah pengunjung yang entah dari mana. Pulau seluas 5.636,66 km2 (setengah luas Pulau Buru) ini dijadikan pelabuhan mimpi orang-orang dari berbagai pelosok Bumi.

Empat orang teman saya yang bekerja di Jakarta yang padat, berlibur ke Bali nyaris tiap akhir tahun. Pejabat-pejabat teras daerah membuat acara pertemuan di Bali dan mengunggah foto-foto mereka di dinding facebook sembari bergaya dengan kaca mata hitam macam tingkah David Hasselhoff, sang penjaga pantai dalam film Baywatch. Sementara David Hasselhoff sendiri tidak memakai kaca mata hitam dalam Baywatch. Mantan pacar saya juga berlibur ke sini, ke Bali, hampir tiap enam bulan sekali—dan tentu saja bukan dengan saya. Tiap sebentar ia mengunggah foto-foto bergaya janggal di dinding halaman facebook-nya: memesongkan bibir, berjemur di pantai sembari menggunakan alat selam (bukankah berenang saja dia tidak bisa, apalagi menyelam. Bukankah dia adalah makhluk yang paling takut dengan ombak?).

Bali. Ibu saya tidak pernah ke Bali. Ibu tidak kemana-mana, dan belum pernah ke mana-mana. Suatu ketika, ibu saya pernah ingin sekali ke Jakarta. Ibu ingin sekali melihat Jakarta dengan mata telanjang, tanpa perantara televisi. Melihat Monumen Nasional, tugu pahlawan revolusi, jalan berlapis saling silang-menyilang di ketinggian, ribuan kendaraan melaju di waktu yang sama, gedung-gedung tinggi, lampu ribuan watt—semua menyedot minyak jutaan barel. Entah atas alasan apa, keinginan ibu saya perlahan-lahan redup karena tidak seorang pun yang mengajaknya ke Jakarta—apalagi ke Bali. Ia tidak pernah ke mana-mana. Sejak saya mengenal huruf hingga sekarang, ibu selalu bekerja. Enam hari dalam seminggu. Dan ke Bali? Ibu saya tidak pernah ke Bali—sekali lagi: ibu saya belum pernah ke Bali.

Apa jadinya bila ibu saya pergi ke Bali dengan menenteng android dan berfoto dengan pose yang janggal dan mengunggahnya di media sosial setiap saat? Demi Tuhan, hal tersebut tidak akan pernah terjadi. Bahkan di kehidupan lain setelah dunia ini tiada pun, hal itu sama sekali tidak akan terjadi. Ibu saya tidak dilahirkan dari rahim smartphone. Ibu saya berplesiran hanya di depan televisi, melototi gadis dan pria tampan menawan dengan akting yang buruk. Sinetron di televisi, film kejar tayang cepat saji bercitarasa tak kalah buruk adalah satu-satunya destinasi plesiran ibu saya—sebagaimana jutaan ibu rumah tangga yang bertebaran di dunia ketiga.

“Dunia ketiga? Hanya ada dunia, dan akhirat—alam tempat manusia dilahirkan kembali setelah kematiannya di dunia. Otakmu memang sudah kacau, mana ada dunia ketiga!” Ibu saya perempuan ‘Non-KB’ dari dunia ketiga yang tak percaya akan dunia ketiga itu sendiri. Ibu saya mungkin benar. Bukankah Dunia Ketiga hanyalah imajinasi kaum Barat melihat orang-orang menyedihkan yang hidup di negara-negara melarat yang sebagian besar pejabatnya bermental keparat? Catatan perjalanan ini terlalu banyak melenceng, tidak fokus, tidak to the point.

Pesawat udara Lion Air-lah yang membawa saya ke Bali. Saya diterbangkan oleh salah satu maskapai dengan jadwal terbang terbanyak di dunia, sekaligus tempat bernaung pramugari-pramugari dengan senyum yang aneh, pramugari-pramugari cantik-rupawan tetapi dengan sorot mata lelah tak tertahankan memaksa bibir mereka untuk tersenyum.

Saya terbang dengan singa udara, Lion Air. Entah sejak kapan singa bisa terbang. Entah apa yang ada dalam pikiran orang yang mencetuskan nama singa untuk dijadikan nama sebuah maskapai udara? Ah, pikiran saya mulai kacau, sekacau negara yang saya tempati, sekacau jadwal penerbangan yang kini tengah saya jalani. Dengan pesawat bernama unik inilah, saya berangkat dari Bandar Udara Soekarno Hatta setelah delay dua jam lebih. Pesawat penuh, semua bangku terisi, tetapi terlambat terbang adalah soal lain. Jadwal terbang yang terlambat dua jam barangkali hanya perkara biasa bagi maskapai ini.

Dari pangkal Pulau Jawa—salah satu pulau dengan jumlah penduduk terpadat di muka bumi yang separuhnya melarat—Boing 747 itu akhirnya mendarat juga di Bandar Udara Gusti Ngurah Rai. Di luar terminal penuh oleh supir taksi. Belum sepenuhnya saya keluar bandara, seseorang menyelipkan selembar kertas ke tangan saya: Wet vacation. Paket liburan “basah”. Gambar gadis-gadis cantik dengan otot-otot licin dan padat, melebihi kepadatan penduduk Kota Jakarta. Gadis-gadis cantik dengan pangkal payudara hampir meledak dan bibir yang menyunggingkan senyum penuh gairah, sekarang berada dalam genggaman saya. Paket plesiran wet vacation pada pengujung November yang basah.

Selamat datang di surga abad ke-21! Aroma dupa menyergap saya, membuat lena. Taksi melarikan saya dengan kencang, meninggalkan Bandara Ngurah Rai yang ramai. Sepanjang jalan saya mematut-matut: seperti inikah wajah Bali sekarang? Teluk Benoa akan direklamasi, tol telah dibuat—jalan tol satu-satunya di Indonesia yang melayani lajur sepeda motor.

Ini kali kedua saya ke Bali. Apa yang tergambar di benak saya belasan tahun silam, sekarang telah sirna. Bali melaju pesat, walau tidak memiliki gedung pencakar langit seperti Jakarta. Aturan agama diterapkan. ‘Tidak ada yang boleh lebih tinggi dari pura’. Dan, pura dibuat di ketinggian, biar gedung bisa dibangun tinggi. Taksi terus melaju.

“Mau membeli tanah di Bali? Saya bisa tolong itu. Ini kartu nama saya, telepon saja kalau mau membeli tanah di sini,” supir menyelipkan kertas kecil ke genggaman saya. Kertas kecil yang menyatu dengan lembaran wet vacation. Pulau surga para turis, kaum hippies, tempat pejabat-pejabat daerah plesiran atau “kunjungan kerja”, tempat Julia Robert syuting Eat, Pray, and Love, ternyata tidak membawa kesejahteraan yang merata terhadap orang Bali sendiri. Buktinya, orang Bali banyak menjual tanah kepada turis dan pendatang.

Hanya sebagian kecil masyarakat Bali yang meraup keuntungan besar dari pariwisata. Tentu saja. Di mana-mana kesejahteraan tentu milik sebagian kecil manusia saja—tak peduli di Bali atau Papua, di Tibet atau Steba. Ke mana uang para turis mengalir? Saya tidak tahu. Mungkin hal ini urusan majalah Forbes atau media yang bersangkut-paut dengan ekonomi dan keuangan. Saya tidak punya keahlian dalam hal ini. Uang turis tidak ke mana-mana, tentu ke kantong masyarakat Bali. Tapi, seperti kata supir, ‘hanya recehnya saja’.

Taksi mengantar saya ke Pulau Serangan. Pulau Serangan bukan sebuah pulau terlantar. Ia telah menyatu dengan daratan. Jembatan telah dibuat dan tak perlu lagi berperahu untuk sampai ke pulau ini. Ini adalah mega proyek reklamasi pertama di Bali yang telah dimulai tahun 90-an. “Penggagasnya itu dua orang lelaki gagah itu, itu anak kandung Bapak Pembangunan,” kata seorang warga Pulau Serangan. Dan, catatan perjalan ini mulai tak terarah, ngelantur tidak jelas. Tidak to the point!

Baiklah. Saya di Pulau Serangan yang telah direklamasi. Reklamasi berdampak buruk terhadap lingkungan? Saya tidak tahu. Mega proyek akbar ini tentunya berdampak baik bagi sebagian kecil orang. Penduduk di Pulau Serangan banyak bekerja melayani tamu, baik tamu asing atau orang Indonesia sendiri. Perempuan-perempuan bekerja sebagai penjual jasa cuci pakaian dan tukang urut. Di Pulau Serangan, saya makan ikan segar, sayur mayur, buah-buahan, kepiting dan udang, ikan laut yang segar-segar. Sorenya, saya berenang. Capek berenang, saya minta seorang perempuan memijat tubuh saya.

“Sudah lama menjadi tukang pijat, Bu?” tanya saya sembari dipijat (ini pijat dalam artian sebenarnya, bukan pijat plus-plus). Perempuan itu tertawa kecil saja. “Sebelum direklamasi pulau ini, saya telah memijat tamu,” katanya. Menurut ibu pemijat, pekerjaan apapun akan dilakukannya. Asal baik. Pada prinsipnya, katanya, dia melakukan pengabdian pada Dewa, penyerahan diri pada Sang Pencipta. “Mau beli tanah? Tanah saya luas di sana, saya jual murah saja,” kata ibu pemijat. Tanah?

Selesai dipijat, saya tentunya membayar. Membayar jasa pijat, bukan membayar pembelian tanah. Kemudian saya berkano, lalu menyelam melihat terumbu karang. Capek, saya minum air kelapa yang disediakan Wayan di warungnya. “Mau beli tanah? Tanah saya luas, masih ada 180 are lagi,” kata Wayan, seorang penduduk Pulau Serangan, mencoba membuka obrolan dengan saya. Lagi-lagi tanah. Ada apa dengan tanah di Bali? Kenapa semua orang begitu hasrat menjualnya? Seberapa luas tanah di Bali yang belum terjual, Mas Wayan?

Matahari merambat turun, menyemburatkan warna jingga di ufuk. Di Pulau Serangan, saya tidur di rumah teman saya. Enzi namanya. Ia seorang penyanyi yang menyabung hidup di Bali. Suatu malam, Enzi akan show di kawasan Seminyak. Ia membawa saya ikut. Di sebuah bar, entah kafe, ia dan beberapa kawannya yang tergabung dalam sebuah grup band, bernyanyi untuk turis-turis asing yang tengah berpesta-pora. Sepanjang jalan di Seminyak dan Kuta, kafe-kafe dan klab malam saling melontarkan lagu, saling berpacu dentuman suara musik. Pesta memenuhi Bali pada malam hari. “Bali sebetulnya bukan lagi tempat berlibur, tapi tempat pesta,” kata Enzi. Apa bedanya? Saya tidak tahu.

Saya berjalan di Jalan Raya Kuta yang penuh sesak. Jalanan dipenuhi turis, padahal sekarang belum musim turis alias low season. Tidak terbayangkan bagaimana ramainya Bali bila ‘musim turis’ tiba. Semua menyesak, semua mendesak: wisatawan mabuk, bekas muntah kaum rambut pirang (atau jangan-jangan muntah orang Indonesia?), dentuman musik, ingar-bingar klakson mobil, raung kendaraan. Dan entah apalagi. Hanya aroma dupa yang menenangkan saya, membuat saya lena seperti hendak meyakinkan saya kalau pulau ini memang benar-benar surga. Surga bagi turis, tapi mungkin tidak bagi orang Bali. Bagaimana mungkin tanah di surga bisa dijual?

Dan, saya tidak ada bedanya dengan mereka: turis. Tapi, entah kenapa turis seperti saya tidak betah di Kuta atau Seminyak yang sesak. Saya kembali ke Pulau Serangan. Pagi dan sore hari saya berenang, menyelam, berkayak memakai kano. Siang hari saya makan buahan-buahan segar dan murah, minum air kelapa, minum kopi, makan ikan bakar, dan tentunya ngobrol dengan warga di Pulau Serangan. Lha? Bukankah di kampung saya di pantai barat Sumatera sana juga itu yang saya lakukan? Minum kopi dan bercerita hingga bosan di warung-warung, mandi, menyelam, memancing ikan, membual. Apa bedanya dengan di sini?

“Nanti bila uangmu sudah terkumpul itu, jangan lupa itu telepon saya. Tanah saya letaknya bagus itu, dekat itu dengan pinggir pantai itu,” Wayan kembali menyambung obrolan yang beberapa hari lalu terputus. Entah kenapa kata ‘itu’ banyak sekali itu dipakai oleh lelaki Bali itu.

Saya meninggalkan Pulau Serangan dan berkendara jauh ke utara. Teman saya, Yunsar, seorang lelaki separuh baya mengajak saya ngobrol tak tentu arah di tempatnya yang jauh di tengah Pulau Bali, nun di daerah Jati Luwih. Ia menyilakan saya menginap di resor miliknya. Tarif semalam di Sang Giri Tent Resort ini setara dengan dua bulan gaji saya ketika menjadi wartawan sebuah koran lokal di Padang. Untungnya, saya tidak ditagih bayaran. Di resor miliknya saya tidur dalam pagutan gunung-gunung hijau. Sawah berjenjang, pura-pura yang sarat aroma dupa, dan doa-doa yang membubung ke langit saban waktu. Jati Luwih begitu sepi, begitu tenang.

(bersambung di lain waktu) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *