Hidup Mati Toraja

posted in: Feature | 0
The elder of Alu Todolo faith and his magnification uniform like a boar's tusk( BW)
The elder of Alu Todolo faith and his magnification uniform like a boar’s tusk

Pagi sekali, bus yang membawa saya dari Makassar tiba di Rantepao. Pagi yang begitu dingin bagi saya yang biasa dengan cuaca pesisir yang panas. Warung-warung dengan pintu tertutup, orang-orang melilitkan sarung ke leher bagai mengusir dingin. Saya belum tahu hendak melangkah ke mana. Saat matahari mulai bangkit dan perlahan kabut mulai tersingkap dari tubir-tubir perbukitan, sunyi pagi berubah sibuk dan gaduh. Tiap sebentar, truk hilir mudik mengangkut orang-orang berpakaian serba hitam, kerbau, babi. Hendak ke mana mereka?
Saya datang ke Toraja pada pengujung Desember. Pada bulan ini, Toraja (daerah yang secara administratif dibagi menjadi dua kabupaten: Toraja Utara dan Tana Toraja) akan berbau amis, dan darah akan menggenangi nyaris di setiap penjuru. Dengan sepeda motor sewaan, saya mengikuti salah salah satu truk berisi kerbau yang membawa saya ke Pasar Bolu. Pasar Bolu, merupakan pasar ternak terbesar yang pernah saya lihat. Ratusan kerbau berbagai bentuk, babi berbagai ukuran digelar. Harganya pun beragam. Mulai dari 30 juta hingga harga yang tidak masuk akal: 1,2 Milyar rupiah. Di Toraja, kerbau yang disebut tedong ini merupakan makhluk suci untuk dikorbankan dalam sebuah ritual. Dalam ritual tidak ada yang tidak masuk akal, bukan? Semua bisa terjadi. Orang-orang bertransaksi dengan buntalan-buntalan kain sarung yang dipenuhi uang. Sistem transfer rekening belum berlaku di Pasar Bolu, tapi jangan hitung berapa jumlah uang berputar di sini pada bulan Desember.

The cattle market in the north of Tana Toraja that operate once in six days is a larges income for the people there
Pasar Bolu di Kabupaten Toraja Utara

“Ini enam ratus,” kata seorang penjual setengah berbisik dan menganggap saya serius ingin membeli kerbau. Enam ratus yang dimaksud adalah 600 juta rupiah. Dan, kerbau belang yang disebut bonga itu dijual beragam dilihat dari bentuk belangnya. Pelajaran tentang menilai kerbau ini begitu rumit hingga saya tidak bisa menjelaskan dalam tulisan ini. Satu hal yang pasti: kerbau di Toraja lebih mahal dari kerbau di mana pun. Selang dua jam saya mengamati kerbau-kerbau berbagai rupa itu, kerbau 600 juta yang semula saya tanya sudah terjual. Siapa yang membeli kerbau semahal itu?
Lelaki paruh baya penjual kerbau sekarang ingin meninggalkan Pasar Bolu membawa setumpuk uang yang dibalut kain sarung. Di kampung saya, enam ratus juta sanggup membeli empat puluh ekor kerbau, atau membangun satu rumah lengkap dengan mobil mewah di garasi. Tapi, keyakinan dan adat tentu punya cara sendiri memandang sesuatu, bukan?
“Anda tidak akan membeli tedong (kerbau),” kata lelaki penjual kerbau sembari tersenyum menggelengkan kepala. Setelah dari Pasar Bolu, kerbau-kerbau yang terjual akan dibangkut ke ritual-ritual purba yang masih bertahan di zaman android ini.
Di sebuah perkampungan berjarak 5 kilometer dari Rantepao, rumah-rumah beratap melengkung seperti tanduk kerbau berjejer. Orang-orang berpakaian serba hitam duduk berkelompok-kelompok. Tepat di tengah-tengah halaman, peti mati berbalut kain merah ditaruh. Isinya jasad yang telah diawetkan.
“Kami sedang mengadakan Rambu Solo, “ kata seorang lelaki setengah baya yang dibalut sarung hitam. Ia menyilakan saya duduk. Kami bersalaman. “Bapak saya memberi saya nama yang persis seperti merek baterai, persis. Eveready! Saya lahir ketika kampung-kampung di Toraja masih gelap, dan cuma bateri Everedy yang masuk ke kampung saya. Bapak saya ingin saya seperti bateri itu, menerangi.” Everedy Lolo, lelaki paruh baya yang suka bercanda dan begitu mudah akrab. Dian Pongtuluran, kemenakan Eveready, menyajikan beragam penganan pada saya, termasuk kopi hangat. Hari masih pagi, cahaya matahari belum terasa panas. Rambu Solo, begitu ritual itu dinamakan. Secara bahasa berarti ‘asap turun’. Tapi, ini adalah ritual kematian dengan biaya termahal di muka bumi. Di belakang rumah-rumah kayu tempat saya dan Eveready duduk, kerbau-kerbau dipaut, puluhan babi terikat, saling mendengus. Tamu yang datang dalam pakaian serba hitam bertambah banyak. Panas mulai menyengat. Kerbau bertambah banyak, babi pun begitu. Berapa harga untuk satu kematian?

The elder wearing a wooden statue that be trusted have substance of ancestor spirits in Alu Todolo faith
The elder wearing a wooden statue that be trusted have substance of ancestor spirits in Alu Todolo

“Tidak usah ditanya. Saya harus menabung bertahun-tahun untuk mengumpulkannya,” kata Dian. Dian seorang perantau yang baru saja pulang untuk mengadakan upacara bagi neneknya . Di Toraja, mayat akan diawetkan dan disimpan di atas rumah hingga bertahun-tahun lamanya sampai keluarga sanggup mengadakan upacara kematian. Si mati belum akan dianggap wafat, bila ritual penuh pengorbanan ini belum dilaksanakan. Seseorang yang meninggal, namun belum diadakan upacara, maka ia dianggap sakit. Ia akan terus diberi makan dan minum layaknya orang sakit—walau tubuh itu tidak lagi butuh makan. Makanan dan minuman akan ditaruh di samping peti matinya setiap hari.Dan, kinilah saatnya bagi keluarga Dian untuk melangsungkan Rambu Solo bagi neneknya (di Toraja, tidak ada pembedaan kakek ataupun nenek, semua dipanggil nenek).

Matahari mulai tergelincir, tapi panas makin menyengat. Belasan lelaki berpakaian dan bersarung tenun hitam membuat lingkaran mengelilingi keranda si mayat. Siku mereka saling berpaut. Mereka mulai mengeluarkan nyanyian sembari merebahkan badan ke kiri dan ke kanan, seperti ilalang ditiup angin. Ma’badong nyanyian itu disebut. Paduan suara yang mengeluarkan nada-nada pentatonik. Nanyian kematian yang saya tidak mengerti apa yang mereka lafaskan, namun membuat tengkuk saya begidik di siang bolong. Setelah itu, pendeta berkutbah. Betapa, ajaran Nasrani yang masuk tepat seratus tahun silam, berpadu dengan ajaran lama yang disebut dengan banyak nama : aluk, alukta, aluktodolo.
Kerbau-kerbau ditebas, babi-babi meregang nyawa, daging dibagikan pada penduduk seisi kampung. Keranda mayat akan diusung puluhan pemuda ke satu tubir perbukitan, memasukkannya ke sebuah ruang semen berlapis keramik. Begitu pintu liang dibuka, tiga jenazah lain telah menunggu— kerabat si mayat yang baru meninggal. Di Toraja, setelah Anda meninggal, Anda masih disatukan bersama istri dan anak-anak Anda dalam satu liang. Ini memang peristirahatan terakhir. Akan tetapi, bukan akhir dari ritual. Sama sekali bukan. Di Toraja, kematian bukanlah hal yang memisahkan si mati dengan yang masih hidup. Orang Toraja hidup berdampingan dengan kematian, hidup dengan mendekap kematian melebihi dari kehidupan itu sendiri. Akan tetapi, inilah magnet utama Toraja dalam mendatangkan turis. Upacara kematian lah yang membuat Toraja pertama kali dikenal dunia.
Pada 1972, upacara kematian raja Puang Sangalla digelar besar-besaran dan diliput National Geographic. Setelah itu, turis berdatangan ke Toraja hanya untuk melihat ritual purba dan kehidupan orang Toraja. Pada tahun 1980, Toraja kemudian dianggap sebagai destinasi wisata kedua setelah Bali. Sebagaimana Bali, pariwisata Toraja pernah anjlok setelah peristiwa bom di Bali. Akan tetapi, Toraja kelewat lama untuk bangkit dari keterpurukan. Bali sendiri, hanya dalam hitungan tahun telah pulih dan jutaan turis berdatangan sampai-sampai begitu sesak saja terasa.

Saban tahun, mayat-mayat akan dikeluarkan dari liangnya. Baju mereka akan diganti. Mereka juga akan dibuatkan tao-tao (patung seperti totem sebagai wujud almarhum ketika masih hidup) dengan harga jutaan. Di kasta tertentu, orang Toraja meletakkan tubuh si mati pada tebing batu yang dipahat. Harga satu lubang seukuran peti mati berkisar dari 20-70 juta rupiah, tergantung ketinggian. Si mayat akan tenang di peti ukir yang mahal—setidaknya untuk kantong saya. Peti dibuat dari kayu jenis langka yang tumbuh di Toraja, ditatahi ukiran purba. Setelah itu, si mati juga akan dibuatkan simbuang, pahatan batu dengan diameter 1 meter lebih dan tinggi sepuluh hingga belasan meter. Beratnya berton-ton. Biaya angkat dan pahatnya berkisar 40-100 juta rupiah. Anda tidak perlu heran melihat kontainer mengangkat batu sakral ini di Toraja (karena dulu diangkat oleh ratusan orang, seiring zaman kontainer menggantikannya). Toraja tempat tradisi megalitik austronesia tumbuh subur dan masih dipelihara hingga saat ini. Upacara peletakan batu akan diadakan lagi oleh keluarga si mayat, dan belasan kerbau akan menemui ajal. “Kerbau itu kendaraan di puya (alam lain setelah kematian),” kata Eveready lagi. Kendaraan yang kelewat mahal bila dibanding dengan kendaraan di dunia fana ini. Saya melihat lima puluh ekor kerbau ditebas dalam satu ketika hanya untuk mengantar satu ke matian ke puya.

_MG_0234“Itu belum seberapa,” sambung Eveready lagi. Di bulan Desember orang Toraja akan mengkonsumsi makanan yang sama: daging kerbau.
Akan tetapi pengorbanan untuk kematian yang kelewat mahal di Toraja, juga memberi penghidupan. Banyak nyawayang menyandarkan hidup mereka pada kematian. Di Bori yang dipenuhi batu-batu megalit yang tinggi menunjuk langit, Paulus Minggu, lelaki 35 tahun bekerja sebagai penggali liang. Ia dan temannya, setidaknya mengabiskan empat bulan untuk satu liang liang batu. “Itu tanpa libur,” kata Paulus lagi. Dari lubang batu berdiameter satu meter itu, ia mendapat 40-70 juta rupiah. Uang ini akan dibagikan dengan teman dan pemilik lahan.

 

 

Desember di Toraja, saya disibukkan dengan kematian. Saya beralih dari satu Rambu Solo ke Rambu Solo lainnya, dari satu ritual kematian ke ritual kematian lain. Saya datang ke Toraja pada bulan Desember dua tahun silam, bertepatan dengan perayaan seratus tahun penginjil datang ke Toraja_MG_0276

Sekarang, pengujung April 2016, saya kembali ke Toraja dengan menaiki bus yang sama. Bus dari Makassar ke Toraja dengan dengan tataan kursi 2-1 yang lebih mirip dengan kursi kelas bisnis pesawat ketimbang bus—bahkan lebih mewah karena dilengkapi pemijat elektrik. Ini bus termewah yang pernah saya naiki. Di bulan April, Toraja lebih sepi dan turis tidak sebanyak biasa. Bulan ini memang tidak seperti Desember atau Agustus yang penuh darah. Lagi pula, saya datang bukan lagi untuk menyaksikan ritual Rambu Rolo.

Toraja mengoleksi lembah-lembah sunyi dengan sawah berjenjang, ada lereng-lereng perbukitan hijau yang melenakan mata. Dua kabupaten di dataran tinggi Provinsi Sulawesi Selatan ini begitu gencar ingin mendatangkan wisatawan kembali, setelah bertahun-tahun terpuruk.
“Lapangan udara telah dibuat, kampanye kebersihan digalakkan, proteksi terhadap artefak kebudayaan ditingkatkan. Kita ingin wisatawan datang tidak hanya untuk melihat budaya, tapi juga alam,” kata Bupati Toraja Utara, Kalatiku Paembonan, katika saya bertandang ke kantornya. Toraja begitu digadang-gadang untuk kembali merebut citranya di masa lalu sebagai destinasi andalan setelah Bali—walau tidak satu pun sekolah tinggi pariwisata yang berdiri di sini.
Bersama Lis_MG_0313a Saba’ Palloan—anggota DMO (Destination Management Organization), sebuah lembaga yang berisi masyarakat lokal yang peduli pada pariwisata Toraja—saya dibawa ke Batutumonga di lereng Gunung Sesean. Batutumonga dipagut kabut. Jurnalis sering kali menamai daerah ini dengan sebutan yang serupa: negeri di atas awan. Ketika pagi, kabut akan mengurung Anda. Gumpalan awan berarak di bawah kaki Anda. Dan, ketika matahari bangkit menguak kabut barulah kampung-kampung di lembah-lembah hijau akan terlihat. Bila sore menjelang, kabut yang sama akan datang kembali.

 

Dari kaki Gunung Sasean, diajak ke Buntu Burake, bukit tempat Yesus dipahat dalam wujud batu. Setinggi 40 meter—tinggi yang mengalahkan patung Yesus di Rio de Jeneiro. Dari puncak bukit ini Yesus memberkati lembah-lembah hijau, rumah-rumah bertebaran di bawah sana. Melihat Bapa Yesus yang tinggi menjulang di puncak bukit, saya jadi terkesima akan siapa yang membuat patung sebesar ini. Wajah Yesus terlihat tegang dan dingin, tatapannya aneh. Detail pada patung ini nyaris tidak ada. Akan tetapi, inilah yang disebut-sebut sebagai patung Yesus terbesar di muka bumi. Matahari begitu terik. Saya meninggalkan Bapa Yesus, menyeruput kopi yang disediakan Andi di restoran Mambo. Kopi yang tumbuh di perbukitan dingin Toraja yang membuat lena. Matahari mulai turun ke barat, dingin mulai merambat. Dan, saya belum ingin meninggalkan Toraja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *