Kwatren Tuhan di Larantuka

posted in: Feature | 0

Sudah seharian saya di atas mini bus penuh sesak ini. Babi-babi mendengus di atapnya terdengar hingga ke dalam. Jalan berliku yang tak pernah selesai dari Labuan Bajo, yang entah sudah berapa ratus kilo jaraknya dari sini. Labuan yang di masa silam konon tempat berlabuhnya kapal-kapal Orang Bajo, suku laut tangguh yang dalam catatan  Eropa lebih sering disebut perompak. Entah mengapa, catatan ‘barat’ lebih semena-mena mencap perompak untuk suku-suku laut yang tangguh. Entah atas ketakutan mereka dengan manusia ‘setengah ikan’ yang sanggup menyelam dan berjalan di dasar lautan ini cap ‘perompak’ dilekatkan pada diri mereka. Bukankah mereka hanya suku pengembara lautan yang membela teritorial mereka ketika pelaut asing datang?

F_PERJALANAN MENULJU LARANTUKA(1)
Lanskap perjalanan menuju Larantuka

Sekali lagi, cap perompak begitu mudah lekat, sebagaimana cap kanibal demikian gampang distempel untuk suku Batak, atau cap sebagai suku pemenggal kepala begitu enteng dilekatkan pada orang Dayak.

Dari Labuan Bajo, membentang jalan berkelok sepanjang hampir tujuh ratus kilometer hingga Larantuka sana. Padahal panjang pulau ini hanya 300-an kilometer saja. Saya tak menemukan jalan lurus yang panjang kemudian, semua berbelok seperti ular, menanjak drastis, kemudian menurun dan menanjak lagi. Barisan gunung, lelaki-lelaki pemecah batu, perempuan-perempuan yang menjujung kayu di atas kepala sambil menggendong bayi di pangkuan, rumah-rumah yang beratap daun nyiur dan alang-alang, babi yang dipautkan di pohon-pohon tepi jalan. Engkel, sebuatan untuk minibus, terseok-seok melalui jalan yang tak pernah lurus. Semua berbelok seperti ular dan mobil berjalan tak ubahnya kura-kura berlari kencang. Penumpang naik dan turun silih berganti. Cericit rem terdengar,  gunung-gunung saya lewati; Egon yang perkasa, juga Lewotobi, gunung api yang beberapa tahun lalu “batuk-batuk”  berdiri dengan teguh.

Telah seharian penuh, engkel—sebutan untuk minibus ini— belum juga menemukan jalan lurus. Semua jalan berbelok seperti ular dan penumpang terhuyung ke kiri-ke kanan, depan belakang. Penumpang naik dan turun silih berganti. Sebentar-sebentar, cericit rem terdengar. Engkel telah penuh sesak.
Dalam keadaan sesak, engkel ini masih saja berhenti untuk menaikkan penumpang. “Tenang, Adik. VIP masih kosong,” kondektur memahami ketaknyamanan saya. Empat orang laki-laki langsung menaiki kelas VIP: atap mobil. Engkel menderu sudah, melewati Gunung Lewotobi, gunung api yang dua tahun lalu batuk, berdiri dengan teguh, juga Gunung Egon yang perkasa.
“Kenapa tak ke Ende dulu?” tanya supir pada saya saat kami telah sampai di Maumere. Ende, telah beberapa jam yang lalu kami lewati. “Soekarno kan dibuang di sana, Pancasila lahir di sana, Indonesia sebenarnya lahir di Ende. Di sana juga bisa dilihat itu Danau Kelimutu”, kata supir lagi. Saya tersenyum saja. Saya belum ingin singgah.

Sekarang entah pagi yang ke berapa, saya tidak ingin mengingat. Perjalanan lewat laut, darat, kemudian laut, dan darat lagi, membutuhkan waktu yang banyak. Mengitung lama perjalanan adalah sesuatu yang amat membosankan ketika tengah berjalan. Lebih-lebih ketika Anda sendiri dan tak punya teman berjalan. Untungnya, saya tidak kehilangan teman: seorang perempuan pengunyah sirih yang hendak mengunjungi anaknya, sepasang kekasih yang sedang mabuk asmara, juga dua orang lelaki mabuk berat tengah berangan-angan di bangku belakang, tawa cekikikan penumpang kelas “VIP” bersama dengus babi, seorang gadis muda yang tengah dirayu kondektur. Angin menerobos kencang lewat jendela engkel.
Dari Kota Ende, saya terus ke Maumere. Jalannya tetap saja berbelok seperti huruf ‘s’ yang ditulis anak kelas satu SD. Di kilometer ke dua belas (begitu para supir menyebut daerah ini), longsoran menunggu, bahu-bahu jalan yang terban, jurang dalam menganga seperti gergasi, bagai raksasa tengah menganga dalam mimpi buruk.

Larantuka telah di depan mata dengan lanskap gunung berlapis. Larantuka—yang berarti ‘jalan tengah’ dalam bahasa setempat—merupakan daratan paling timur Pulau Flores.
Orang-orang di Larantua hidup terpencar di kaki pegunungan, di lereng dan lembah yang panjang dan berliku, beternak ayam dan babi, meneruka sawah berjenjang, memungut hasil hutan, mencari kayu api. Dan sinetron tidak sampai ke sini, pidato presiden tentang BBM juga tidak diperdengarkan di sini. Kalaupun ada, itu hanya di kawasan Pasar Larantuka yang telah sepenuhnya mengenal peradaban modern lewat kabel listrik PLN.

F_PEREMPUAN LARANTUKA
Perempuan di Larantuka dengan bibir merah mengunyah antiseptik purba bernama sirih dan pinang

Pasar Larantuka menjual beragam kebutuhan mulai dari sirih, pinang, HP terbaru buatan China, pakaian warna-warni, parang, juga ikan segar yang murah. “Anak! Ei, anak!” seorang ibu penjual pakaian berteriak memanggil saya. Melihat saya menenteng kamera, ia dan teman-temannya sesama pedagang minta dipotret. Ibu-ibu bergigi merah, lelaki-lelaki berbaju merah, anak-anak—semua mengangkat dua jari: simbol perdamaian entah simbolisasi “V” untuk perempuan. Bahkan, seorang ibu nekat menarik tangan saya ke rumahnya untuk berfoto dengan suami dan anak-anaknya. Ketika malam tiba, mereka bergegas menyalakan lampu minyak tanah. Sebagian besar orang-orang di sini berkulit hampir setengah gelap seperti malam, dan suka sekali bercerita. Dan memang, bercerita adalah sebuah kebutuhan mendasar di sini selain nasi, sirih, dan pinang.
***
“Itu Adonara,” kata Orin setengah berbisik. Gadis berahang kokoh yang baru saja saya kenal, yang kini duduk di sisi saya di Pantai Pulo. Kami menikmati keindahan klise: ombak berdebur dan perahu-perahu kecil yang lalu-lalang. Orin sebentar lagi akan dilamar pemuda dari desa sebelah. Menemani seorang asing bercerita bukanlah perbuatan dosa, begitu katanya. Ia berbincang banyak tentang televisi yang terus ia pertanyakan apakah orang-orang di Jakarta banyak yang jahat seperti dalam sinetron. Dan saya ketawa. Orin menatap saya dengan sorot mata kesal. Saya masih saja tertawa.
“Tertawa tanpa sebab itu tidak baik,”katanya lagi. Angin selat menampar rambutnya yang ikal, bergulung seperti ombak yang datang dari selatan. Saya mengisap tembakau, asapnya membubung ke langit tinggi, diterpa angin selat yang jahat seperti tokoh-tokoh dalam sinetron televisi Jakarta.
“Pergilah saja besok, cuma sepuluh menit menyeberang ke sana,” katanya sembari menunjuk sebuah pulau hijau di hadapan kami. Senja, entah kenapa, datang terlalu tergesa. Dan malam dimulai lagi dengan warna yang sama: kelam!

***

Perahu melewati pusaran air di selat kecil yang biru. Saya menyeberang bersama beberapa orang laki-laki yang hendak berangkat ke ladang. Orang orang di sini begitu penyapa, begitu terbuka dengan sikap ingin berteman.
Inilah Wure, kata seorang tua tengah menghunus tempuling. “Desa kami ini hanya ramai ketika paskah, ketika Yesus diusung ke seberang lautan,” tambahnya lagi melihat saya kebingungan. Di Wure, saya berputar-putar tak tentu arah, menyusuri gereja, melihat patung Yesus yang dipaku pada tiang salib. Lonceng gereja dan suara koor yang mengalun tenang dari bibir perempuan-perempuan Wure. Pagi baru saja dimulai di Wure, satu daratan gersang di sudut Pulau Adonara.

Di depan sebuah kapela, saya tertegun. Kapela Senhor namanya. Seorang lelaki tua menyilakan saya berdoa, memasuki Kapela Senhor, gereja suci yang sebentar lagi tak kan sanggup menampung peziarah. Di hadapan saya, patung Yesus berdiri dengan tatapan sendu. Saya bukan seorang Nasrani, tapi siapa saja boleh berdoa, bukan? Bukankah Yesus yang diwujudkan dalam rupa laki-laki yang dipahat di depan saya ini, adalah juga ‘lelaki suci’ yang ada dalam kitab agama yang saya anut? Apa yang salah dari berdoa? Bukankah Tuhan ada di hati setiap manusia, dari penjuru angin mana pun dia berasal, dari agama apa pun dia datang. Agama bagi saya adalah jalan lebar yang terang—jalan kedamaian menuju Tuhan, jalan yang boleh tidak selalu sama.

Dua minggu lagi, Larantuka akan dibanjiri pendatang yang hendak berziarah, mengikuti drama iring-iringan penyaliban Yesus, mengunjungi makam-makam tua. Drama yang panjangnya satu minggu. Minggu Palma, Rabu Tarewa, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Santo, dan Minggu Paskah. Peziarah akan datang dari mana-mana, termasuk dari Portugis dan beberapa negara luar Indonesia. Ribuan peziarah datang tiap tahunnya ke sini. Mereka datang untuk melepaskan niat suci, melepas hajatan yang belum terkabulkan.

“Pulau yang kau injak ini adalah Vatikan kedua,” sela teman lelaki tua yang dari tadi mengasah tempuling. Artinya, tak lama lagi, semua penginapan akan dipenuhi para pendatang dan peziarah. Televisi akan menyiarkannya, di sela-sela sinetron yang rating-nya jauh lebih tinggi.

Selang beberapa saat, saya berkenalan dengan seorang pemuda. Charles namanya. Ia kemudian mengajak saya ke rumah pamannya yang sederhana, penuh gambar Bunda Maria dan prosesi penyaliban, juga ramai oleh tawa anak-anak yang bermain di atas tanah. Ketika kami masuk rumah, beberapa orang tua senyum-senyum meyeringai bagai tengah mengejek dan menertawakan Charles. Saya belum mengerti isi dari tawaan tersebut. Seorang ibu datang dari dapur yang terletak di belakang rumah, membawakan minum, cairan bening dengan aroma yang menusuk hidung. Kami duduk berenam di dalam rumah. Satu botol air dan sebuah gelas. Entah kenapa jumlah gelas hanya satu, saya tidak tahu, sedang kami enam orang. Mereka masih mengobrol dan terus menertawakan Charles.

Faisss
Moke; minuman pencair suasana di Larantuka

Sambil tertawa, cairan bening itu dituang. Mereka minum seteguk demi seteguk. Bergiliran. Hanya satu tegukan, kemudian dituang lagi, digilir ke tangan dan mulut berikutnya. “Ini moke, kau harus minum, sebab di sini tidak ada kopi,” kata lelaki berbadan ramping yang dari tadi diam di samping saya. Gelas berisi cairan bening itu disuguhkan ke hadapan saya, sekarang giliran saya. Meneguk moke serasa menelan api. Panasnya keterlaluan, walau hanya seteguk. Saya menelan sambil memejamkan mata. Kontan, semua tertawa. Hanya Charles yang masih murung. Setelah minum beberapa teguk moke yang ditaruh dalam botol Aqua, kami tertawa dan bercerita seperti sahabat lama yang pulang dari perantauan. Charles juga ikut bercerita akhirnya. Ia akan mempersunting seorang perempuan. Tapi ia belum punya belis, mahar yang diminta keluarga perempuan. Barangkali inilah yang agaknya membuat Charles murung dari tadi.

Belis (dengan penekanan pengucapan pada vokal ‘e’), atau mahar yang diminta itu adalah sebuah gading. Gading? Ya, gading. Tanduk putih yang menyeruak dari mulut gajah. Harganya lebih dari seratus juta. Gading yang melengkung dan panjangnya semeter lebih itu adalah sarat utama untuk mewujudkan cinta teman saya ini. Ke mana hendak berburu gajah, Charles? Flores, atau Nusa Tenggara Timur bukan habitat mamalia bertubuh besar itu.

Kenapa harus gading?

“Sudah dari dahulunya seperti itu, kami hanya mengikuti nenek moyang,” kata lelaki yang tadi menyilakan saya minum. Charles masih juga murung. Entah berapa banyak gading berserakan di Nusa Tenggara Timur ini, saya tidak tahu. Di negeri yang gajah tidak pernah sampai ke sini, namun gadingnya banyak bertebaran. Betapa, tradisi tua menghargai cinta lewat gading masih ada di sini. Moke bertopeng Aqua yang melilit usus saya makin berontak. Seperti apakah rupa gajah, Bapa?

 

“Yang penting besar, kakinya empat, dan punya belalai. Aih, itu belalai panjang sekali! Dia pu gigi tajam seperti harimau. Ia lebih berani dari harimau, dan kadang bisa juga memakan harimau. Ya, to?” kata lelaki tua di depan saya menjawab pertanyaan saya tentang gajah. Tubuh dan pikiran kami sama-sama melayang dihanyutkan moke.
“Ah, mana mungkin harimau takut sama gajah,” sela lelaki lain yang dari tadi tertawa cekikikan menertawakan Charles. “Ei, harimau tidak punya gading!” balas lelaki tua lain yang kemudian masuk ke dalam kamar.

Mereka tidak pernah melihat rupa gajah. Barangkali hanya dari televisi, itupun jika mereka pernah ke ibukota Kabupaten Flores Timur, Larantuka, yang di sana telah ada listrik dan televisi. Lelaki tua yang masuk ke dalam kamar tadi, kemudian ke luar dengan menenteng sebuah gading panjang. Ia menyuguhkan kepada saya. Ini pertama kali saya memegang gading, berat. Gading ini rencananya akan dipinjamkan kepada Charles, dan entah bagaimana cara pembayarannya saya tidak tahu. Belis merupakan simbolisasi dari harga diri yang memperlihatkan betapa berharganya perempuan di sini—di tempat di mana feminisme belum menjalar sebagai sebuah ‘ajaran’. Saya jagi ingat Orin di seberang pulau. Saya ingin bertanya padanya, apa pendapatnya tentang feminisme. “Orin yang cantik, bagaimana menurutmu feminisme? Apakah bagimu kesetaraan gender sebuah keselamatan, Orin?” Pikiran saya mulai tidak beres oleh moke.

Gelas berisi moke masih terus saja berputar. Matahari tepat di atas kepala. Terik dan panas. Moke melilit perut. Panasnya Jhony Walker,Topi Miring, atau TKW sekalipun belum bisa disetarakan ‘panas’nya dengan moke. Saya terlalu lemah. Goyah. Saya harus beristirahat dengan moke meronta di usus. Sementara lelaki-lelaki tadi sibuk dengan babi yang akan disembelih untuk paskah nanti.

Di luar rumah, terdengar sesuara gerombolan perempuan. Kaum perempuan menghabiskan hari dengan makan sirih, mengunyah pinang. Membiarkan angan melayang sambil tertawa dengan memperlihatkan gigi dan bibir yang memerah. Mereka lebih memilih mengunyah pinang, dan sirih, ketimbang meneguk moke. Terkadang mereka menghabiskan waktu seharian untuk berbincang sambil menenun. Perempuan-perempuan di ujung timur Pulau Flores memiliki jari yang lentik dan cekatan. Mereka penuh kesabaran menenun, menyilangkan helai demi helai benang, membubuhi warna, memberi corak. Motif tenunan mereka berbentuk kotak, atau jajaran genjang berwarna kuning atau pun ungu yang dibalur sekelilingnya dengan warna gelap. Di saat Paskah, kain tenunan mereka akan banyak diminati pendatang. Tenun ikat, begitu mereka menyebutnya. Tenunan yang beragam corak dan motif. Hingga saya tertegun dengan satu motif.

“Ini motif orang pulau sana. Tidak usah punya niat ke sana. Orang di sana keras-keras,” kata Maria, sembari menunjuk ke arah timur. Ia kemudian masuk ke dalam rumah dan menenteng selembar tenun. “Lihat, ini motif kehidupan mereka. Mereka berburu raksasa, to? Mereka itu pemakan raksasa,” kata Maria. Saya hanya tertegun, tercengang. Di abad sekarang masih ada orang memakan raksasa? Suatu saat nanti, saya akan ke sana, ke pulau tempat para pembunuh raksasa.

F_TENUNAN LARANTUKA
Tenunan Larantuka

Saya telentang di ruang tamu. Pikiran saya tak keruan, badan serasa goyah. Gambar Bunda Maria begitu anggun terpasang di dinding menatap teduh pada saya yang lemah. Di luar, suara perempuan tertawa. Laki-laki yang mengasah tempuling bercakap-cakap, entah berbincang tentang apa. Mereka umat yang taat sepertinya, menikmati hidup dengan cara yang sederhana: tertawa setiap saat, bercanda di setiap tempat. Telepon genggam polyphonic kesanyangan saya berdering. Suaranya memecah lamunan. Seorang teman menelpon saya, menanya kabar saya, kemudian mengeluh akan beratnya hidup yang ia jalani di Jakarta. Lalu saya bilang kalau saya juga sedang dalam cobaan hidup yang berat: beratnya pengaruh moke.

Larantuka menyimpan banyak peninggalan Portugis, peninggalan yang dekat hubungannya dengan dengan zending Katolik, patung-patung dan ajaran. Di tahun 1512 Portugis yang di bawah pimpinan Alfonso de’albuquerque terusir dari Malaka, dan berpindah ke Timur Indonesia, dengan ekspansi Gold, Gospel, Glory yang terkenal itu.

Berapa hari lagi umat Katolik di Larantuka akan mengadakan ritual menyambut Paskah, tapi saya hendak kembali. Saya tidak tahu, apa yang membuat ratusan, ribuan orang ingin berjalan, berpindah dari satu kota ke kota lainnya, dari satu tempat yang jauh, ke tempat jauh lainnya. Meninggalkan rumah, untuk kemudian kembali. Saya satu bagian dari ratusan ribu orang tersebut. Mencari sesuatu dari perjalanan. Dan perjalanan tidak memberi apa-apa selain teman-teman baru yang asing, gambar-gambar dari jepretan kamera yang tampak tidak utuh, cerita-cerita baru, lelucon-lelucon baru. Tetapi, bukankah semua itu lebih kekal dari segala hal? Bukankah pada akhirnya semua yang kita miliki akan hilang, akan lenyap? Dan hanya cerita yang tersisa, walau dengan ingatan yang tidak sepenuhnya terang. Tapi, bukankah cerita dan kenangan yang membuat kita merasa hidup?

Orang-orang sudah mulai bersiap-siap, membersihkan gereja, membenahi kapela, memperbanyak tenunan walau semeter tenunan hanya sanggup diselesaikan dalam sebulan. Setahun sekali, Larantuka, sebuah kecamatan di kaki Gunung Mandiri, berpendar dalam cahaya agama. Paskah juga menyulap Larantuka jadi kota berkabung. Warga dan pendatang melebur dalam duka yang dalam atas kematian Yesus dan kesedihan yang dirasakan Bunda Maria. Benda-benda sakral diarak dengan iringan air mata. Wajah-wajah syahdu tertunduk di hadapan Tuhan. Lima abad telah berlalu sejak Portugis mendarat di tanah ini, tapi warisan yang dibawanya bagai tetap terjaga. Jalan untuk menggapai Tuhan bisa datang dari mana saja, bukan?
Saya pamit pada Charles. Dia tak memberi saya apa-apa, saya tak meninggalkan apa-apa. Akan tetapi kami bersalaman lebih lama dari biasanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *