ACEH SETELAH BENCANA (Bagian 01)

posted in: Feature | 0
DSC_0718
Foto: Yoppy Pieter

NANGROE Aceh Darussalam sepuluh tahun silam bagai sebuah negeri tanpa harapan. Sebuah negeri yang sedang sekarat di daratan paling ujung di utara Pulau Sumatera. Saya memasukinya dengan perasaan tak karuan melihat negeri itu porak-poranda digoncang gempa dan terjangan tsunami. Dari Meulaboh yang porak poranda, saya menyisir ke Calang yang telah rata, Banda Aceh yang suram. Hanya ada puing, kesedihan dan mayat yang berserakan. Di saat bencana, negeri itu masih didera perang yang disebut operasi pemulihan keaman, senjata masih meletus di sudut-sudut kampung. Hampir dua bulan lamanya saya mejadi relawan di Bumi Serambi Mekah itu, dan semua catatan saya berisi kisah sedih—entah mengapa.

Sekarang, hampir sepuluh tahun berlalu, saya datang kembali. Bukan relawan, melainkan sebagai pelancong. Saya menjadi turis ke negeri yang baru berbahagia.  Apa mau dikata, langkah saya telah tersorong.

Dari Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, saya berkeliling Banda Aceh. Sepuluh tahun bagai tak terasa, semua ingatan saya tentang reruntuhan seakan sirna. Aceh sedang memulai halaman baru riwayatnya. Warung-warung kuliner mengeluarkan aroma bumbu masakan yang beragam. “Beginilah Aceh sekarang,” Zack menyambut saya, kemudian menghidangkan saya segelas kopi dan sepiring mi dicampur cumi. Saya menyantapnya tanpa memperdulikan Zack, lelaki dari Daratan Pidie itu. Zack, nama yang aneh untuk seorang lelaki Nangro Aceh Darussalam yang dibaluti aturan syariah.

Ia terus mengoceh seperti seorang bisu yang baru bisa bicara. Ia bercerita tentang pembangunan kota, dan keamanan. “Ke mana-mana kita bisa berjalan malam hari dengan aman,” tambahnya. Saya terus melahap mi dan kopi. Di depan saya jalan sepi. Sebuah kanal membentang di tengah kota, kanal yang dulu dipenuhi jasad korban tsunami. Ah, entah mengapa ingatan saya kembali ke masa silam, masa silam yang penuh kesedihan itu. Tapi kota ini sekarang begitu rapi dan tertawa. Taman-taman kota yang hijau dan luas, dengan jalan yang bersih dan lebar. Museum Tsunami yang berdiri megah.

Malam turun di jantung kota. Malam yang jauh lebih ramai dari siang hari. Gadis-gadis cantik yang dibaluti kerudung warna-warni, lelaki-lelaki gagah berbaju kemeja, orang tua, semua keluar. Malam bagai awal dari pergantian hari di Banda Aceh. Aroma kopi, lagi-lagi, menusuk hidung saya. “Kopi ini datang dari pedalaman Gayo,” kata Zack lagi, kemudian menelpon angkutan ke sana. Saya pamit pada Zack.

 

Saya memasuki Gayo pada satu subuh dengan menumpang bis dari Banda Aceh, ibukota propinsi yang terletak di lembah pesisiran. Tujuh jam bis membelah kelam hutan, memanjati lika-liku jalan yang mulus menuju pedalaman Nangroe Aceh Darussalam—nama yang baru pada abad ke-19 meliputi seluruh Aceh kini. Sebelum abad itu, nama Aceh terbatas hanya untuk menandai wilayah Kuta Raja, di pesisir timur laut, ibukota kerajaan lama, setidak-tidaknya demikian kata penulis sejarah ternama asal Prancis, Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh di Zaman Iskandar Muda.

Berabad-abad sudah pesisir Aceh menjadi pusat perhentian sekaligus pusat perhatian, baik pesisir timur maupun pesisir baratnya. Dua wilayah pesisir itu, selalu disinggung jika berbicara tentang kegemilangan Aceh pada masa perdagangan laut masih marak, di mana kota-kota pantai, kota-kota dagang, memainkan peran penting. Berjilid-jilid buku telah ditulis mengenai wilayah pesisiran Aceh ini. Pada tahun 1345 Ibnu Battuta mendatangi dan memuja aroma pohon benzoin dan cengkehnya serta kerajaan-kerajaannya yang kuat dan kaya. Tetapi hampir sulit menemukan satu terbitan utuh mengenai wilayah pedalaman Aceh. Marcopolo yang di pertengahan abad ke-13 pernah berkunjung ke pedalaman Aceh, tepatnya di Perlak, dan ia mencatatnya dengan tergesa-gesa, penuh rasa takjub sekaligus ketakutan akan para kanibal yang menyembah roh. Selama hampir setengah tahun di utara pulau Sumatra ini, Marco meminum anggur racikan penduduk. Kopi memang belum sampai ke sana pada abad itu.

Pedalaman Aceh telah lama luput dari perhatian, tidak saja oleh mata penjelajah asing dalam sejarah, pada pelancong etnografis, tetapi juga oleh pemerhati pariwisata di zaman kita kini. Dengan sudut mata pun bahkan tak dilihat. Perhatian atas potensi destinasi-destinasi yang dimiliki daratan tinggi Gayo misalnya, yang tidak akan kalah memukau dengan keindahan destinasi-destinasi di wilayah pesisiran jika dapat dikembangkan dan dikelola dengan baik.

Pedalaman Aceh berabad-abad tidak tersentuh kekuasaan politik para sultan pesisiran. William Marsden, pelancong Inggris sekaligus penulis buku History of Sumatra, tentang ini menulis: kekuasaan ke arah pedalaman tidak akan lebih dari 50 mil. Padahal, daerah pedalaman Aceh, dalam sejarah, menghasilkan berbagai komoditas penting bagi kota-kota kesultanan. Tome Pires, pengelana Prancis, yang diutus Portugis, dalam Suma Oriental mencatat: “Adapun tanah pedalaman menghasilkan daging, beras, dan anggur yang dibuat dengan cara mereka, juga bahan makanan lain; ada lada, tetapi tidak banyak.” Kekuasaan para sultan memasuki daerah pedalaman, baru pada tahap kedua dari sejarah kesultanan Aceh, demikian kata Denys Lombard lagi.

Dan saya datang ke Tanah Gayo, ke jantung daratan tinggi Aceh, persis seperti apa yang dikatakan sebuah sajak, “pejalan yang melemparkan kompas dan mencabik-cabik peta!” Akhirnya saya tiba di dataran tinggi Gayo dengan meraba-raba arah, tanpa literatur yang cukup untuk bekal awal mengenali daerah ini.

Di daratan tinggi Gayo, angin hampir tiap hari berkesiur, membawa dingin yang membekap tulang. Kadang berhembus keras menampar-nampar dinding dan atap-atap rumah, seperti gedoran pintu pada tengah malam.Gedoran pintu, suara masa silam ang terpatri di tiap ingatan penduduk tentang masa silam di bawah kekuasaan militer yang belum lama itu, adakah sama dengan sesuara yang Kabut putih, selepas matahari turun ke lekuk-lekuk lembah, menjalar sampai ke jendela rumah-rumah panggung dari kayu. Hutan seperti merambat ke tiang-tiang rumah. Rumah-rumah tradisional berdinding papan yang masih akan banyak ditemukan di kampung-kampung yang berserak di kaki dan pinggang Bukit Barisan itu. Rumah-rumah lama, yang bagai menyumbul dari masa silam.

Tanah Gayo, terdiri dari tiga kabupaten yang luas, salah satunya Kabupaten Aceh Tengah. Takengon, ibukota kabupaten yang tampak sangat berbeda dengan rata-rata kota yang membentang di pesisir Nanggroe Aceh Darussalam yang ramai. Takengon, yang terletak lebih dari 1200 meter di atas permukaan laut, tampak tidak begitu besar dengan bangunan-bangunan berwarna muram. Mengelilinginya tidak menghabiskan waktu satu jam berkendara. Saya sampai di Takengon pada sebuah pagi, ketika kabut menutupi jalan-jalan dan jendela bis kian buram. Pagi dimulai dengan lamban di sini. Selain cuaca yang dingin, kota ini tidak menampakkan rutinitasnya yang sibuk. Di pintu masuk hotel tempat saya menginap telah ditempeli label ‘dijual’. Ketika saya masuk, saya sadar kalau hanya satu kamar yang berisi tamu di hotel ini: kamar saya sendiri.

Kota Takengon yang kecil tampak suram ditutup kabut. Rumah-rumah yang menumpuk di sebuah cekungan dataran yang hampir seluruhnya mengarah ke danau yang terletak arah ke timur kota itu. Mereka menyebutnya Lut Tawar, laut yang tawar. Sebuah danau yang dikelilingi tebing-tebing hijau, sebagiannya ada yang setengah tandus berwarna abu-abu kecoklatan. Perpaduan warna cerah dan suram itu tampak menawan jika dipandang dari kejauhan. Destinasi yang sesungguhnya bisa dijual untuk kemajuan pariwisata kota itu.

Spanduk dan baliho kemeriahan Festival Danau Lut Tawar telah sobek oleh angin. Perlombaan perahu dayung, hingga tari didong yang sufistik, telah usai dilaksanakan bulan lalu. Danau Laut Tawar bergairah ketika hari libur, beberapa pengunjung dari daerah lain di Aceh biasanya berwisata ke sini. Ketika hari libur, ada angkutan khusus untuk berwisata mengelilingi danau, menikmati keindahan air yang hijau dengan kabut yang terpendar di atasnya, dan pemandangan kebun kopi di sekeliling danau yang akan lebih menarik, apalagi  jika musim panen tiba.

Di pinggir danau ini sekarang hanya diisi oleh pemuda-pemuda yang kehilangan gairah atau kebingungan bagaimana mestinya mengisi petang selain bermenung dan memancing ikan di samping keramba ternak ikan masyarakat yang mulai menjamur. Sebuah perahu besar dengan mesin tempel berkarat tersandar di dermaga danau, seperti menunggu masa lapuk. “Ini untuk wisatawan asing mengelilingi danau, biasanya dulu digunakan,” kata Mahdi, pemuda yang kemudian membawa saya berkeliling Takengon.

Danau Lut Tawar, sepertinya kini sudah tidak masuk ke dalam daftar perjalanan nasional. Dia tertinggal begitu saja atau sengaja ditinggalkan. Lihat, sampah berserakan di mana-mana. Pariwisata nyaris tidak menemukan bentuknya di sini. Hotel-hotel sepi, resort belum dibangun. Padahal Danau Lut Tawar memiliki keindahan yang menjanjikan. Saya mencoba berkeliling danau dengan sebuah sampan kecil milik nelayan setempat. Perahu yang kecil bergoyang-goyang diayun riak danau.

Sebuah danau yang dikelilingi oleh gundukan tanah yang ditanami kopi, ke mana mata akan diarahkan, pohon-pohon kopilah yang tampak. Hanya sebagian kecil daerah dataran yang ditanami padi. Wajar saja, bila masyarakat daratan tinggi ini  menyuap nasi dari beras yang didatangkan dari daerah lain. “Bayangkan, semua yang kami makan dan kami pakai, didatangkan dari daerah lain. Beras diangkut dari Banda Aceh, dan kelapa tidak satu pun tumbuh di sini. Bukankah itu menyedihkan?” kata Aman Tabrani sembari mengelus kepala kuda.

Sebuah kota kecil peninggalan pemerintah kolonial yang baru dibangun pada abad ke-20, Takengon menyimpan cerita yang sedih. Daerah Gayo di pedalaman yang baru ditundukkan pada 1903 melalui pertempuran berdarah yang dahsyat, diperkirakan telah kehilangan paling tidak seperempat hingga sepertiga dari jumlah lelakinya pada periode itu. Setiap tempat mempunyai sejumlah pahlawan yang mati syahid dan kenangan pahit tentang rumah-rumah yang dibakar, ternak yang dibantai, dan hukuman-hukuman denda yang harus dibayar ketika serdadu-serdadu Belanda lewat, setidak-tidaknya demikianlah gambaran yang diberikan Antony Reid, dalam The Blood of The People.

Setelah daratan tinggi Gayo ditaklukkan, Takengon dibangun menjadi kota transit komoditas kopi yang penting untuk daratan tinggi Gayo. Lumbung-lumbung kopi kolonial pertama didirikan di Takengon setelah seluruh daratan tinggi Aceh ditaklukkan. Barangkali Belanda melihat potensi daratan tinggi Gayo yang topografinya sangat cocok untuk perkebunan kopi. Siapa menyangka kalau tumbuhan aneh dan asing dari pedalaman Afrika yang mulai dikenal sejak pada abad ke-13 itu kini telah menjadi sebuah komoditi tempat ribuan nyawa menggantungkan harapan. Indonesia merupakan salah satu dari empat negara besar penyuplai kafein arabika dunia. Di Indonesia, daratan tinggi di tengah porpinsi Nangroe Aceh Darussalam merupakan salah satu penyuplai kopi arabika terbesar di dunia.

Dalam aroma kafein ini, jejak perlawanan terhadap pemerintah kolonial tetap tinggal di hati orang-orang Gayo kemudian sekalipun negerinya telah ditaklukkan. Reid kembali mencatat, pada tahun 1925, seorang propagandais di pegunungan Gayo bicara tentang penghancuran Kompeni Belanda di seluruh Aceh dan Sumatera, membebaskan orang-orang dan juga membebaskan dari pajak. Banyak orang Aceh menyambut seruan itu. Di bawah raja-rajanya sendiri mereka hampir sama sekali tidak membayar pajak. Yang mereka bayarkan hanya sekedar cukai atas ekspor-impor dan kadang-kadang memberi bantuan kepada uleebalang-nya, terutama dalam masa perang. Ketika pemerintah kolonial Belanda secara paksa menaklukkan dan menerapkan pajak yang tinggi kepada orang-orang Aceh, memaksa mereka memanam kopi, dan menjual hasilnya kepengumpul pemerintah dengan harga yang murah, otomatis mereka memberontak, tetapi pemberontakan itu berkali-kali gagal. Delapan tahun kemudian, Tanah Gayo kembali bergolak dengan persiapan perang suci pada 1932, yang juga tidak berhasil.

Jika Takengon adalah pusat penampungan kopi, lalu di mana sentra-sentra penghasilnya? Jawaban dari pertanyaan itu ada pada kampung-kampung penghasil kopi yang tersebar di tanah Gayo.

Saya meninggalkan kota kecil Takengon pada sore hari yang dingin dan kabut mulai merambat di jalan-jalan ke perkampungan. Kabut seolah-olah tidak pernah pergi dari kota itu. Mobil yang saya tumpangi kembali menikung deretan gunung Bukit Barisan. Saya ingin mengunjungi kampung-kampung pusat penghasil kopi yang terpencar di lereng dan lembah-lembah hutan hijau yang berlapis-lapis yang tidak begitu jauh terpisah dari Takengon. Kampung-kampung yang berada di antara rimbun perkebunan kopi, setiap hari menguapkan aroma memanjakan hidung yang dibawa desauan angin yang menampar pokok-pokok kopi. Ke kampung-kampung itulah bus saya hendak menuju.

“Singgahlah, kalau hanya alasannya kopi. Kami masih punya kamar kosong buat tamu,” sapa seorang perempuan. Suaminya mengangguk, mempersilahkan saya menginap di rumah mereka yang dikelilingi pokok-pokok kopi, sebagaimana rumah-rumah lainnya di sini yang terlihat samar di antara rimbun perkebunan kopi.

Rita, perempuan tiga puluhan tahun, menyanggul rambutnya, menyerupai Cut Nyak Dien dalam film perjuangan kemerdekaan yang diperankan Christine Hakim. Lalu ia mengenakan kerudung seadanya. Kulitnya coklat terang, mungkin juga putih sepeti warna kulit rata-rata orang di sini, tulang pelipis mereka berlekuk tidak terlalu kentara, sedikit menjorok ke depan, bola mata bulat, terkadang terlihat pipih. Perempuan di sini akan menatap lurus tanpa basa-basi pada lawan bicara. Angin kering memampar-nampar kerudungnya, terik matahari siang dan dinginnya cuaca membuat pipinya memerah. Sebelum petang merembang di ufuk sana, perempuan itu telah selesai mandi, memandikan anaknya, menanak nasi, memberi makan ternak, dan memoles pipinya yang berwarna hampir pucat dengan bedak seadanya.

Setelah itu, mereka duduk di balai-balai rumah, melihat matahari yang perlahan menyusut menimpa daun-daun kopi. Sementara suaminya datang dengan pakaian penuh keringat dan bau matahari yang mengering di kerah baju. Perempuan itu bergegas ke belakang rumah, kemudian kembali dengan bakul berisi kopi panas. Dua orang bocah datang menghampiri lelaki itu. Bercerita tentang baju sekolah yang sobek, buku baru yang hendak dibeli, dan entah apa lagi. Kadang mereka berbicara dalam bahasa yang sulit sekali saya pahami. Selain bahasa mereka yang berbeda dengan bahasa Aceh, dialeg mereka lebih cenderung datar dibanding dengan dialeg orang Aceh yang naik-turun.

“Ah, itu perkara mudah. Lihat, tak berapa lama lagi warna hijau pada kopi itu akan berubah menjadi merah,” kata lelaki itu mengakhiri pembicaran dengan anak-anaknya. Rita kembali masuk, dan keluar membawa handuk untuk lelaki berbadan tegap itu. Petang kian rembang, suara azan magrib tidak sampai ke sini, sebagaimana razia syari’ah yang tidak pernah diberlakukan di sini. Saya berjalan keluar, ke desa lain. Dalam gelap dan samar, jalan-jalan kecil penuh kabut putih dan warna hijau dari dedaunan kopi.

Di sebuah warung kopi di desa Wih Masin, saya singgah di satu siang. Warung kopi dan masyarakat Gayo nyaris tidak bisa dipisahkan. Warung kopi seperti cafe dalam kehidupan masyarakat Prancis, di sana tempat lalu-lintas informasi, tempat kesetiakawanan sosial dipelihara, dan wacana dikembangkan.

“Bagaimana rasa kopi di sini, Tengku?” saya bertanya pada seorang tua di kedai itu, saya penasaran dengan cita rasa kopi di tanah Gayo ini.

“Coba saja, kau akan tahu jawabannya,” jawab Aman Noerdin yang kerap disapa Tengku. Di usia 80 tahun, Sang Tengku telah mengalami pasang surut kopi. Sejak zaman kolonial hingga hari ini. Ia hanya menjajaki dunia luar waktu pergi naik haji ke Makah. Selebihnya, hidupnya dihabiskan di dataran tinggi Gayo ini dengan mengajar mengaji dan bertanam kopi.

“Tapi saya sendiri tidak tahu rasanya seperti apa,” kata Tengku lagi. Pemilik warung menghadiahi saya segelas kopi panas untuk diseruput. Tak berapa lama, seorang perempuan paruh baya membawa bakul kopi, kemudian menggoseng dengan tungku dan kayu bakar seadanya di depan warung.

“Inilah yang kami minum tiap hari,” sela lelaki tua lain. Tiap lelaki dewasa di Tanah Gayo dipanggil dengan sebuatan ‘aman’ sekaligus dibarengi dengan nama anak lelaki sulungnya. Panggilan yang persis sama untuk lelaki dewasa Tanak Sikerei di Metawai sana. “Kami tidak meminum kebun sendiri,” tandas lelaki tua lainnya, yang juga dipanggil ‘Aman’.

Di tengah ribuan hektar tanaman kopi arabika, mereka tidak pernah mencicipi rasanya. Di tanah yang menghasilkan 50-60 ribu ton biji kopi arabika per tahun, daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia, yang kopi-kopinya diekspor ke Eropa dan Amerika, justru tidak mengonsumsi kopi jenis ini. Mereka memilih robusta, jenis kopi berdaun lebar dengan biji yang cenderung jauh lebih kecil dan kadang tumbuh liar di tebing dan lereng perbukitan yang tak ditanami kopi.

“Kami menghirupnya sembari tertawa, ” sanggah lelaki tua lain di warung itu. Matahari beranjak ke barat, kilaunya kembali memercak di daun-daun kopi.

“Beginilah hari-hari yang kami lalui kalau tidak sedang masa panen; bermalas-malasan seperti kuda di bawah rumpun bambu sambil mengibas-ngibaskan ekor,” tambah Tengku. Semua kontan tertawa. Hanya saya yang terdiam, belum mengerti sepenuhnya maksud analogi Sang Tengku.

Masa petik saat panen berlangsung selama dua bulan, kemudian delapan bulan berikutnya para petani harus menunggu kopi kembali berbuah. “Nah, selama delapan bulan itu, orang Gayo tak ubahnya seperti kuda di bawah rumpun bambu: duduk, makan, tertawa, dan minum kopi,” kata Tengku lagi menawar kebingungan saya.

“Dulu, kopi-lah yang membuat mereka (turis) datang ke sini. Hanya itu,” kata Aman Faisal. Lelaki perantau ini sesungguhnya lebih tertarik menggunakan kopi sebagai bagian dari upaya memperkenalkan Tanah Gayo. Berbekal kopi, Aman yang satu ini telah menyembuhkan beberapa pecandu narkoba. “Kopi punya candu tersendiri, setidaknya ia bisa mengalihkan candu yang lain,” ungkap Aman. Untuk kopi, berbagai penghargaan dikantongi Aman, termasuk International Finance Corporation dari World Bank Group untuk kategori petani kopi terbaik.

“Sejak operasi keamanan, tidak ada lagi wisatawan yang datang ke sini,” Aman Faisal menurunkan nada bicaranya. Lelaki Gayo separuh baya ini telah kembali dari perantauan. Perang saudara memang telah menghancurkan segalanya, pembangunan kota nyaris terhenti, ekonomi masyarakat luluh-lantak, termasuk pariwisata. Di masa mudanya ia adalah seorang guide turis asing dan hidup dari wisatawan. Sejak Aceh diberi status daerah operasi militer, ia pindah ke tanah Jawa. “Saat itu, tidak sejengkal tanah pun yang aman di Aceh,” tambah Aman. Menurutnya, setelah negeri ini aman, sekarang saatnya memulai membenahi pariwisata. Tapi pariwisata yang mana? Gayo memang punya lembah dan rentetan gunung yang hijau dan dipenuhi kopi, selain kuda-kuda pacuan dan danau biru yang memesona sekaligus merana.

Selain itu, orang Gayo punya tradisi berkuda. Penghormatan atas kuda masih terasa. Kenangan akan kuda yang dipacu mengingatkan orang-orang di sana pada sejarah, sejarah pendahulu-pendahulu mereka yang berperang berpuluh-puluh tahun dengan kolonial Belanda. Kuda adalah mesin perang mereka yang tangkas, disamping sebagai pengangkut karung-karung berisi kopi. Kuda dan kopi, adalah merafora setempat pengganti ‘sendok dan garpu ‘.

Kuda-kuda Gayo, memang kuda-kuda yang tidak berbobot terlalu besar seperti kuda-kuda yang didatangkan dari daerah lain ke sini, mulai dari kuda Padangpanjang di Sumatera Barat sana, hingga kuda Arab yang tinggi. Namun, setiap memperingati hari kemerdekaan, ratusan kuda dan joki akan ambil bagian di arena terbuka Gayo. Tak kalah, puluhan bahkan ratusan juta uang taruhan beredar di gelanggang pacuan. Ini momen yang ditunggu-tunggu tiap tahunnya. Gelanggang pacu kuda dengan taruhan ratusan juta? Tidakkah itu menyalahi hukum syariah?

“Walau bagaimana pun, ini tradisi sudah lama,” kata Aman Tabrani. Tradisi yang mendahului penerapan hukum syariah. Pun di Gayo, aturan syariah tidak begitu secara ketat diterapkan sebagaimana di kota-kota pesisir Aceh, walau tetap akan susah menemukan warung menjual bir dan arak dan di sepanjang jalan juga hampir tidak akan ditemukan perempuan dengan rambut tergerai. Walau bagaimanapun, gadis-gadis di tanah Gayo lebih suka memakai celana jin yang sempit hingga ke mata kaki. “Razia syariah tidak begitu diberlakukan di Gayo, sebagaimana di Banda Aceh dan di Lhokseumawe,” timpal Aman Tabrani.

Di pasar-pasar, jalur perdagangan diisi oleh orang-orang Minang. Masyarakat yang satu ini memang terkenal sebagai pedagang yang ulung sejak dahulunya. Orang Aceh juga ada yang berdagang, tapi orang Gayo tidak suka jadi pedagang. “Mereka lebih suka bertanam kopi, atau jadi PNS,” kata Sidi Tandun.

Saya datang ke Takengon disambut kabut, kini saya dilepasnya juga dengan kabut. Aroma kopi Gayo masih tinggal di hidung, juga cita rasanya masih tersisa di lidah. Kopi Gayo yang terkenal, dengan kekentalan yang lebih ringan, keasaman seimbang, tetapi memiliki berbagai cita rasa, mulai dari rasa cokelat, tembakau, asap, tanah, dan hingga cita rasa kayu. Pusat penghasil kopi terbesar di negeri ini yang justru terpinggirkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *