ACEH SETELAH BENCANA (bagian 2)

posted in: Feature | 0
muhammad_fadli_
Foto: Muhammad Fadli

Dari Meulaboh yang porak-poranda, saya menyisir ke Calang yang telah rata. Masih di pesisir barat Aceh, saya meneruskan perjalanan ke Lamno yang bagai baju lusuh terkoyak-koyak. Ada kalanya, dalam perjalanan, saya terperangkap dalam baku tembak TNI dengan GAM di kampung-kampung agak ke pedalaman (desa-desa sunyi yang lebih menjorok ke daratan yang selamat dari amukan gelombang besar). Hampir lima jam dari situ, barulah Banda Aceh, yang pada masa kolonial bernama Kuta Raja, akan terlihat. Banda Aceh berantakan bagai kapal pecah yang dihantam torpedo.

Itu sepuluh tahun yang lalu, ketika tsunami terjadi, saat saya mengabdi sebagai seorang pelansir makanan pokok untuk pengungsi.

“Inilah ujung kesengsaraan itu, Nak!” kata Rosni Idham, penyair Aceh terkenal, setengah berbisik ketika saya menginap rumahnya di Meulaboh. Rumahnya, yang tidak begitu luas, sebagian telah dijadikan tempat pengungsian, menampung korban tsunami yang tak terhitung jumlahnya. Selain di rumah Rosni, saya menginap di tenda-tenda pengungsian yang setengah terbuka bersama ribuan orang Aceh dengan sorot mata kosong kehilangan harapan. Tidur saya dipenuhi mimpi buruk.

“Mimpi buruk, di sini, adalah kenyataan itu sendiri, ” kata kawan saya, Beni Tan Mattee, yang baru saja memutuskan pulang kampung ke Aceh ketika tsunami terjadi. Apa yang bisa diharapkan dari negeri yang tengah dicabik-cabik bencana, Nyak Ros? Apa yang musti saya perbuat di tengah negeri yang hancur dan senjata masih terus saja menyalak, Ben?

Namun, hanya tujuh bulan setelah tsunami menghantam, perang kontan berhenti. “Mungkin ini hikmah dari sebuah musibah,” kata Beni lagi yang saya temui beberapa tahun kemudian. Seluruh Nangroe Aceh Darussalam dinyatakan damai setelah puluhan tahun lamanya dirundung pergolakan. TNI dan TNA, kedua pihak yang bersiteru sepakat mengakhiri perang yang telah berlangsung berpuluh tahun. Gelombang hitam lautan yang disebut tsunami secara tidak langsung telah membuat perdamaian itu tercipta. Mata dunia terbelalak tertuju ke sana. Gelombang-gelombang besar bantuan tak habis-habisnya tiba. Benar kata penyair Rosni Idham, ‘kesengsaraan tentu ada ujungnya, penderitaan tentu ada batasnya’.

Satu dasawarsa setelah itu, saya mengunjungi negeri-negeri yang sama. Ada apa dengan mereka kini?

Saya datang ke Nangroe Aceh Darussalam kembali. Kali ini lewat jalur darat, bus yang saya tumpangi akan melesat di jalan mulus, melewati pegunungan Seulawah, melintasi hutan Bireun yang lebat, menerobos ke Sigli. Daerah-daerah itu, sepuluh tahun silam, masih dilingkari warna hitam pada peta militer—sebagai daerah yang rawan terjadi baku tembak. Dan kini, nyaris sudah tidak ada lagi pos-pos penjagaan yang dikelilingi lelaki-lelaki berbaju loreng berwajah sangar dengan senjata terkokang seperti tahun-tahun yang silam ketika saya melewati jalan yang sama.

Memasuki ibukota Serambi Mekah pada waktu pagi di hari libur bagai memasuki sebuah kota tanpa polusi.  Jalan sepi, tak ada kendaraan melintas selain kendaraan yang saya tumpangi. Mobil yang saya tumpangi berjalan makin pelan saja, melewati hijau taman-taman kota yang rimbun. Sebuah kanal, dalam bahasa Aceh disebut krueng, menghubungkan Kuta Raja dengan wilayah lain di Banda Aceh terentang panjang membelah kota. Orang-orang menyebut kanal besar itu Krueng Raya.

Pagi baru saja dimulai di Nangroe. Angin bertiup pelan, Hasan Tiro tersenyum dalam baliho, mengangkat tangan ke arah saya yang melintas, dan berucap dalam diam: ‘Selamat datang di Nangroe!’ Bendera Partai Aceh berkibar di mana-mana, simbolisasi dari pergerakan masa lalu yang penuh luka itu begitu jumawa. Bendera yang dulu saya temui di perkampungan-perkampungan sepi—yang hanya dihuni anak-anak, ibu-ibu dan lelaki yang telah uzur—mewarnai seisi kota kini. Gambar partai lain dan wajah-wajah sisa dari pemilihan umum 2014 masih tersisa juga tidak kalah banyak, memenuhi tiang-tiang, tembok-tembok, hingga persimpangan jalan.

Matahari baru muncul, padahal telah pukul tujuh. Dan memang, Tuhan memulai pagi lebih lambat di sini ketimbang Jakarta. Saya berkeliling kota. Jalan-jalan yang rapi, pepohonan hijau, taman kota dipenuhi orang-orang berolahraga. Di Indonesia, salah satu kota dengan taman-kota yang luas dan banyak barangkali termasuk di antaranya adalah kota ini. Kadang, jarak satu taman dengan taman lain hanya seratus meter.

Menjelang siang, aroma kopi menguap dari kafe-kafe yang jumlahnya sangat banyak dan susah dihitung. Aroma kopi arabika dari pedalaman Gayo, tersaji di meja-meja kafe di Banda Aceh. “Lebih dari seribu, mungkin dua ribu” begitu kata seorang penyeduh kopi menggambarkan jumlah warung kopi. Aceh, secara keseluruhan memang surga buat pecandu kafein. Di pegunungan yang berlapis-lapis di Aceh Tengah sana, kopi arabika tumbuh dengan sangat subur. Di Indonesia, daratan tinggi Gayo di tengah Nangroe Aceh Darussalam merupakan salah satu penyuplai kopi arabika terbesar di dunia.  Di tanah yang menghasilkan 50-60 ribu ton biji kopi arabika per tahun, Aceh menjadi daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia, yang kopi-kopinya diekspor ke Eropa dan Amerika.

Saya berkeliling Banda Aceh pada hari Minggu itu, menyisir hamparan pantai-pantai berpasir putih dari Lhok Nga, Lampu’uk, Ulee Lheue, hingga pantai-pantai tak bernama. Orang-orang bersepeda menyambut hari libur, sementara beberapa mobil hijau ‘aparat’ berjalan tenang-tenang saja di antara gerombolan-gerombolan sepeda. Di pinggir-pinggir pantai, mobil-mobil berwarna hijau itu terparkir beberapa, saya lihat pemiliknya sedang menyantap jajanan dan kelapa muda. Setiap melihat ‘aparat’ di Aceh, ingatan saya selalu terlempar pada sepuluh tahun silam, ketika tentara berseragam loreng dengan senjata terkokang dan tatapan penuh waspada bisa ditemukan di setiap tempat ke mana pun Anda pergi di Aceh.

“Dulu memang. Saya pakai rompi anti peluru, dengan AK-47 terkokang di tangan,” kata seorang perwira polisi, AKP Taupik.  “Sekarang Aceh telah aman buat siapa saja. Saya bahkan tidak tahu di mana senjata saya simpan,” tambah perwira polisi itu pada saya. Saya pun minum air kelapa, memandang hamparan pantai Lampu’uk yang putih bersama ratusan keluarga sedang menikmati hari libur. Hari minggu, jalanan sepi. Di sebuah ujung jalan bekas hantaman tsunami sepuluh tahun silam, saya berhenti. Seorang bapak membawa keluarganya ke pantai untuk memancing.

Aceh telah aman, kata Taupik berulang-ulang. Tetapi tidak untuk pejalan kaki di jalan raya. “Jalan raya begitu berbahaya sekarang, itu salah satu masalah kami,” kata seorang Polantas yang saya temui. Menyeberangi jalan di pusat Kota Banda Aceh, jauh lebih berat rasanya dari pada melintasi hutan semak belukar. Anda musti bersabar menunggu jalanan sepi. Entah kenapa, tidak satu pun pengendara yang ingin memberi kesempatan buat pejalan kaki yang hendak menyeberang. Di tengah pusat kota,jalanan mulus terbentang, dipenuhi oleh mobil-mobil mengkilap, sementara polisi lalu lintas bersorak dengan pengeras suara di tengah kota, mengajak orang-orang untuk safety riding, tidak ugal-ugalan, memakai helm, mematuhi peraturan dan rambu-rambu jalan. “Orang-orang di sini lebih banyak tidak mengetahui bagaimana caranya berkendara di jalan raya,” kota Polantas yang sama. “Mereka bisa saja terlihat mematuhi lampu merah, namun serempak tancap gas ketika angka di lampu masih menunjukkan angka empat,” tambahnya lagi, sambil mengernyitkan kening.

Suara azan Zuhur merambat dari menara Masjid Raya Baiturrahman. Saya mengikuti arah si empunya suara, menyeberang jalan dengan rasa was-was. Di depan mesjid, sebuah plakat penembakan Kohler didirikan. Perwira tinggi Belanda yang mati dibunuh ketika hendak menaklukkan Aceh pada akhir abad ke-19 dulu. Mesjid Baiturrahman dipenuhi oleh orang yang duduk-duduk menghindari sengatan panas. Beberapa orang pelancong asal Malaysia berfoto-foto dengan latar menara mesjid yang menjulang tinggi mencucuk langit. Dengan serempak mereka berkeliling kota kemudian, mengunjungi Museum Tsunami. Ketika senja, saya dan juga mereka—para wisatawan itu—menyambangi pantai-pantai berpasir putih.

Pada waktu malam, orang-orang akan tumpah-ruah di jalanan, menyerbu kafe-kafe. Orang Aceh banyak melowongkan waktunya minum kopi. Warung-warung dipenuhi canda tawa berbagai usia. Tua dan muda, laki-laki dan perempuan, semua bergabung di kafe. Beragam citarasa masakan siap disantap. “Di Banda Aceh, hidup dimulai pada malam hari,” kata seorang pemilik kafe berseloroh.

Saya berkeliling, berpindah dari satu kafe ke kafe yang lain, dari satu citarasa kopi ke citarasa masakan lainnya hingga malam larut. Kami bertemu sekelompok pria yang larut dalam obrolan. Kami diajak bergabung, kemudian mereka menyuguhi kami obrolan tanpa henti. “Dulu, kami musti berada  di rumah pukul 8 malam, tapi sekarang terserah pukul berapa saja,” kata Aldi. Jam di kafe telah menunjukkan pukul empat pagi. Jalan utama di depannya kosong sepi. Hanya dengus dingin udara pagi yang sesekali melintas. Sekali lagi, mungkin benar kata Taupik, Aceh telah aman.

Di hari berikutnya, saya duduk di sebuah kafe yang tak jauh dari Mesjid Baiturrahman. Dua orang laki-laki muda berbadan tegap lurus duduk di hadapan saya. Salah seorang bernama Ahmad. Ia untuk salah satu sekretariat partai di Aceh. “Beginilah,” kata Ahmad membuka perbincangan. Ia bercerita tentang perjuangan masyarakat Aceh yang belum selesai.

“Tapi, bukankah Aceh telah damai? Perjuangan yang mana lagi?” Saya menyela.

“Apa artinya damai, bila banyak dari kami yang masih menganggur?” teman Ahmad memotong.  Dulu, Ahmad dan temannya adalah seorang TNA (Tentra Neugara Aceh, yang versi pemerintah disebut Gerakan Aceh Merdeka atau GAM). Ketika perjanjian damai tercipta, ribuan TNA turun dari gunung, Ahmad salah satunya.

“Pergilah ke desa-desa, kau akan tahu,” Ahmad tersenyum, tapi sorot matanya tajam menikam saya, entah hendak menyampaikan apa. Orang Aceh susah ditebak. Mereka seperti tidak ingin memperlihatkan gejolak perasaan kepada orang lain. Dulu, setelah tsunami melanda, tidak sekalipun saya melihat orang dengan tangan tengadah meminta dibantu di seantero Aceh, sekalipun mereka jelas-jelas telah berhari-hari tidak dapat makanan yang layak. Barangkali inilah yang jadi watak-kultural orang Aceh, superioritas yang tidak kenal ampun dari sebuah provinsi paling utara di Indonesia yang punya riwayat perang sipil yang panjang.

‘Sumatera selalu rusuh’, kata Paul van’t Veer, seorang penulis Belanda dengan nada kesal setengah abad silam. JHR Kohler, seorang  mayor jenderal Belanda pernah menghimpun empat batalion tentara dari pulau Jawa untuk menyerbu Aceh—yang sekarang kita bisa melihat tugu kematiannya di depan Masjid Baiturrahman. Empat ribu orang, separuhnya orang Eropa, ditambah dengan ratusan perempuan yang dijadikan teman tidur serdadu; para serdadu itu, tengah menghadapi pasukan dengan artileri terhebat yang belum pernah dihadapi Belanda sebelumnya. Cita-cita Kohler sederhana: ia ingin mendirikan benteng di muara sungai Aceh. Tapi, ia tewas dalam cita-cita sederhana penaklukan itu. Ia tewas ketika hendak menguasai sebuah mesjid, yang semula ia anggap sebuah keraton tempat Sultan Aceh bertahta. Lalu tiga belas ribu orang serdadu diturunkan Belanda setelah itu. Tapi, yang terjadi, seribu lima ratus tewas dan tujuh ribuan terluka parah, kata Paul lagi dalam catatannya De Atjeh-Oorlog, yang diterbitkan tahun 1979.

Orang Aceh punya tatapan tajam dan mungkin terlihat agak terututup kepada orang asing. Puluhan tahun didera perang, orang Aceh akan  kesulitan untuk menghapus dendam. “Bagaimana bisa dengan mudah menghapuskan dendam dari anak-anak yang di depan mukanya melihat orangtua mereka ditembaki, kakak perempuan mereka diperkosa?” kata Rozi di sebuah kafe kepada saya. Saya diam, terhening, hanya warung kopi itu yang tetap riuh oleh obrolan. Dan segala perbincangan di Aceh, memang dimulai dari sebuah warung kopi. Dendam, pergolakan, perang yang tak pernah usai. Aceh memiliki sejarah yang berbeda dengan Indonesia—setidaknya di masa kolonial. Aceh, di masa silam, adalah wilayah yang tak pernah ditakhlukkan oleh siapapun dan riwayatnya dipenuhi darah, perang, pertikaian yang panjang. Sejak zaman kompeni, kata Pramoedya Ananta Toer, Aceh punya keberanian individu. Pram meminta maaf pada rakyat Aceh, karena sejak jaman kumpeni (Belanda) sampai sekarang, Indonesia telah mengirimkan pembunuh bayaran ke Aceh. “Lebih dari seratus tahun. Saya minta maaf,” kata Pram.

Indonesia merdeka, dan negeri di ujung utara Pulau Sumatera ini tidak pernah damai, ternyata. Soekarno mengirim ribuan tentara untuk meredam “pembangkangan” yang dikomandoi Daud Beureueh. Orde Baru tak tanggung-tanggung mengirim tentara. Sekali lagi, Aceh tak pernah usai dirundung perang. Reformasi diteriakkan di Jakarta, Orde Baru terjungkal, Soeharto lengser dari jabatannya. Akan tetapi, kedamaian juga tak kunjung datang ke Aceh. Megawati Soekarnoputri menstempel Aceh sebagai daerah dengan status darurat. Ribuan tentara, milyaran amunisi diangkut ke Aceh. Berapa banyak darah lagi yang akan tertumbah di Aceh? Ilmu hitung akan bisu. Betapa aneh, Aceh tidak pernah menyerah. Inilah provinsi yang terus memelihara dilamun perang, dendam, darah. “Saya, juga ayah saya, kakek saya pun begitu. Juga kakek dari kakek saya. Kami semua hidup dalam masa perang,” kata Ibrahim, pemuda Sigli.

Tidak perlu bertanya apa yang terjadi dalam perang, karena itu adalah pertanyaan sia-sia. Sejak bayi, ketika jutaan anah-anak didendangkan nina bobo untuk mengantar tidur mereka, bayi-bayi di Aceh dinyanyikan lagu perang, kerinduan akan kampung yang telah jauh, petuah akan darah mengalir yang tidak perlu ditakuti. Dododaidi yang dilagukan Cut Aja Riska dalam Nyawoung, adalah nyanyian tidur untuk bayi yang begitu membuat begidik mendengarnya. Seperti Hikayat Perang Sabil yang terus didengungkan ke telinga siapa saja di Aceh. Di ujung tahun 2004, gelombang besar mengantam. Aceh porak-poranda. Inilah musibah yang kontan mengakhiri pertikaian. Namun, dendam tetaplah dendam, api tetaplah api—keduanya akan membakar walau air bah besar sekalipun tidak sanggup memadamnya.

“Api dendam itu tidak akan sanggup dipadamkan oleh siapapun, sampai kapanpun. Kecuali oleh si  pendendam itu sendiri,” Tengku Tu Bulqaini berkata tegas. Untuk memadamkan api dendam itulah, sang Tengku mendirikan Markaz Al Ishlah (kalau diterjemah ke Bahasa Indonesia kira-kira artinya Pusat Perdamaian). Di Pesantren Pusat Perdamaian ini, sejak tahun 2002 silam, ia menampung anak-anak korban konflik yang yatim. “Tidak hanya anak yatim yang bapaknya seorang GAM, anak TNI dan  POLRI pun kami terima untuk sekolah di sini,” tegas Tengku lagi.

Nangroe Aceh Darussalam, sekarang telah hampir sepuluh tahun tanpa perang. Sepuluh tahun, masa damai yang panjang dalam sejarah Aceh. Dalam Perjanjian Helsinky, mereka akhirnya bebas menentukan masa depan dan arah. Dan mereka dengan percaya diri pula memilih Syariat Islam sebagai pondasi ajaran.

Selama sepuluh tahun damai, aturan syariah—yang dianggap ketat dan puritan oleh kebanyakan orang luar—itu telah mulai diterapkan. Perempuan musti berpakaian dan berprilaku sesuai aturan syariat. Namun, di balik pakain yang menutupi hampir seluruh bagian tubuh itu, perempuan-perempuan Aceh adalah bikers yang handal, supir yang hebat dalam artian suka ngebut. Tidak ada larangan untuk perempuan berkendara, bersekolah, berolah raga di tempat keramaian, atau melenggak-lenggok.

Di sebuah hotel berbintang Harmes Palace, di Kota Banda Aceh, saya tenggelam dalam sesak dentuman musik. Sebuah pagelaran acara fashion show tengah digelar. Puluhan remaja Negeri Serambi Mekah tengah melenggak-lenggok di atas catwalk memamerkan senyuman, dandanan, gaun dan motif yang mereka pakai. Ini kali pertama Indonesia Super Model masuk hingga ke negeri dengan aturan syariah yang dianggap ketat itu. Hanya saja bedanya, mereka menggunakan pakaian yang hampir seluruhnya menutupi bagian tubuh. Sebagian juga menggeraikan rambut yang panjang. “Aturan syariah tidak membebani kita berkreasi, malah membuat kita makin tertantang,” kata Pasha tersenyum. Senyum yang aneh saya kira untuk seorang lelaki Aceh yang biasanya menatap dengan sorot mata tajam menakutkan. Tapi, Pasha bukan seorang TNA, ia seorang ahli tata rias yang laku di kalangan model-model cantik Aceh.

“Jangan memandang penerapan syariah Islam di Aceh sebagaimana memandang Islam di Timur Tengah. Itu jauh berbeda!” lagi-lagi Tengku Bulqaini memotong pertanyaan saya. “Kami bukan Wahabi. Aturan, syariat yang kami anut juga melindungi pendatang, bahkan yang bukan Muslim. Jadi, buat apa Anda takut ke Aceh?” tambah sang Tengku kembali. Hamparan pantai dengan teluk-teluknya sepi, dengan pasir putih yang berkilat-kilat diterpa matahari selalu minta didatangi. Surga bawah lautnya yang damai. Apa alasan untuk tidak datang ke Aceh? Sang Tengku telah menutup pembicaraan.

Bir memang tidak dijual bebas, you can see dan hot pant sangatlah tidak lazim digunakan di sini. Tapi, sebuah provinsi tanpa preman dengan pantai-pantai yang indah, teluk-teluk sepi dengan pasir putih yang membentang panjang dan tak terhitung jumlahnya; surga bawah lautnya yang damai minta diselami; juga beragam citarasa masakan yang menitikkan selera, racikan kopi terenak yang menguap ke jalan-jalan—bukankah semua itu jauh lebih menggoda ketimbang sebotol bir dan selembar hot pant?

“Bayangkan, saya ditempatkan di sebuah kota tanpa mall, tanpa bioskop,” Kapten Veronika Martha menggambarkan kegelisahannya selama ditugaskan di LANUD Iskandar Muda Banda Aceh. Sang Kapten Wanita Angkatan Udara Republik Indonesia itu mungkin benar, seantero Nangroe Aceh Darussalam memang bukan kota yang tepat buat pecandu belanja, atau tamasya mall, sebab memang tidak terdapat satu mall pun berdiri di Aceh.

Suatu pagi yang lain, saya berkendara dari Banda Aceh ke Meulaboh. Terentang jarak dua ratus lima puluh kilometer. Jalan mulus terentang lebar. Dalam sejam berkendara, tak sampai tiga puluh mobil yang saya temui melintas. Jalan antar kota yang benar-benar sepi. Di sisi jalan, rumah-rumah bantuan untuk korban tsunami dibangun seragam, sebagian tidak ditempati dan ditumbuhi ilalang. Saya melewati Lamno, sebuah kampung di Kabupaten Aceh Jaya. Di Calang, daerah yang dulu hanya bisa dimasuki dengan jalur laut, saya berhenti. Di sini, saya menikmati tuna panggang sembari melihat hamparan pantai dan lautan yang dulu mengamuk.

Meulaboh saya masuki pada sore hari. Setelah sepuluh tahun, kota ini tidak lagi saya kenali. Lanskap kotanya sama sekali telah berubah dari sepuluh tahun yang lalu ketika saya datang ke sini. Tapi tidak di Ujong Kareung. Pelabuhan tempat saya pertama menjejakkan kaki di Bumi Serambi Mekah ini, semua masih utuh sebagaimana saya pertama melihatnya: gedung Korem yang dulu habis dilamun ombak kini masih rusak tak terurus, bangunan bekas stasiun radio Teuku Umar yang menghitam dan tinggal kerangka, semua masih seperti itu juga. Namun, lepas dari pelabuhan itu, pembangunan sedang digenjot dengan keras di Aceh.

Seorang lelaki paruh baya, Syofyan, duduk termenung di atas becak motor. Ia menatap tepian Ujong Kareung. “Beginilah Meulaboh sekarang,” kata Syofyan. Matanya melirik ke barisan truk yang keluar-masuk mengangkat batubara di pinggir Ujong Kareung. Di pelabuhan yang tak begitu jauh dari tempat kami duduk, kapal-kapal menunggu dan mengangkut emas hitam itu ke daerah lain yang Syofyan tidak tahu. Bagi orang Aceh sendiri, pekerjaan masih susah untuk didapat. “Setelah LSM tidak ada lagi, sekarang susah mencari pekerjaan,” kata Syofyan lagi.

Mendung hitam menggantung di langit Meulaboh. Saya tengah mencari Hendri, Nana, Icut, Siti, dan masih banyak lagi nama dalam ingatan saya. Sudahkah besarkah mereka sekarang? Anak-anak yang dulu saya jaga di rumah sakit Cut Nyak Dien, yang telah kehilangan orang tua dan sanak famili, seperti apakah nasibnya sekarang? Teman-teman saya yang selamat dari tsunami dulu, adakah ia masih di kota ini? Saya tidak lagi menjumpainya meski saya telah bertanya berulang kali. Siti? Cut? Di Aceh ini hampir setiap perempuan bernama Cut, Siti, dan sebagian besar dari Siti itu, orangtuanya telah meninggal. “Siti yang mana? Cut yang mana?” kata seseorang balik bertanya kepada saya. Rumah, tanah kelahiran, kampung tempat tinggal, semua telah diacak. Semua telah ditempatkan ke lokasi baru yang berbeda dari posisi semula. Tsunami memang telah ‘mengubah’, walau tidak mengubah segalanya.

Saya malah bertemu Retika di Meulaboh. Mantan penyiar radio Suara Teuku Umar itu membawa saya mengunjungi stasiun radionya yang terletak di pinggir laut, yang telah porak-poranda diterjang tsunami sepuluh tahun yang silam. Kini yang tersisa hanya rangka bangunannya saja. Dan dinding bangunan itu telah mampu dijilat-jilat ombak karena laut makin mendesak ke tepi. Debur laut terdengar sampai ke dalam gedung.  Retika memandang masa lalu sambil menggendong anaknya menatap ke arah laut.  Di bekas ruang siar yang hancur, stasiun radio itu seakan merayakan satu dekade kehancurannya. “Dulu ada dua buah bioskop yang beroperasi di Meulaboh,” kata Retika lagi, anaknya tidur lelap dalam pangkuan.

Kata Retika, sekarang sudah tidak ada lagi satu pun bioskop yang ‘hidup’ di Meulaboh. Setelah tsunami hampir tidak ada hiburan.  Malah penambangan emas yang makin menjadi-jadi. Hingga sungai-sungai tercemari mercuri. Setelah perdamaian tercipta, pembabatan skala besar mulai menampakkan wujudnya, kerusakan hutan di mana-mana. Lahan pertambangan dan perkebunan skala besar banyak yang dibuka. “Bila selama konflik dulu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi dan kecil-kecilan, sekarang malah dengan terang-terangan,” kata Retno, anggota koalisi pemantau hutan dan satwa di Aceh yang saya temui di tempat terpisah.

Di jalan-jalan Meulaboh, truk-truk pengangkut batubara berseliweran lewat. Pembangunan memang berbanding terbalik dengan konservasi. Tapi tak hanya sampai di sana. “Lihat, Aceh Jaya merupakan tempat populasi gajah tertinggi di Indonesia, dan, ribuan hektar lahan sawit akan dibentangkan di sana, di hutan di mana gajah-gajah itu hidup. Pertanyaannya, mau dibawa ke mana itu gajah?” tambah Retno lagi. Di Meulaboh, sejak ekploitasi hutan dilakukan dalam skala yang masif, telah banyak gajah yang mati. Gajah-gajah yang mati rata-rata kehilangan gadingnya. Gajah merupakan satu dari empat satwa yang dilindungi di Aceh selain orang utan, badak, dan harimau. Kata Retno, perdagangan satwa-satwa marak lagi belakangan ini. Orang utan dengan populasi tertinggi di Sumatera ada di Aceh. “Tapi itu dulu,” kata Retno, suaranya tercekat, kering di tenggorokan. Saya menyerahkan air mineral ke tangannya.

Dari Aceh Barat, saya kembali ke Banda Aceh yang panas. Di tengah kota yang cuacanya membuat gerah, kaum perempuannya malah memakai pakaian serba tertutup. Termasuk Winda Ulfa, yang sebentar lagi saya temui di saat-saat sesi pemotretannya. Duta Aceh di Kontes Puteri Indonesia 2014 ini merupakan satu-satunya putri yang memakai kerudung dari puluhan provinsi yang mengikuti kontes. Penuh keterpaksaankah, Winda?

Kami bersalaman, dia lebih dulu mengulurkan tangan. “Saya sangat setuju dengan penerapan syariah. Gunanya untuk mengurangi tindakan kriminal,” kata Winda. Kriminal? Bukankah Aceh telah aman, Winda?

Hijab, kerudung, merupakan simbolisasi dari pemaknaan perempuan taat untuk saat ini. Tapi, itu sama sekali tidak mengganggunya. Tetapi, alasan “mengurangi tindak kriminal” saya tidak menegerti.  “Berarti Anda belum tahu Aceh,” katanya pada saya sembari tersenyum dengan lirikan yang aneh. “Aceh ini fleksibel,” katanya lagi sembari membenarkan lilitan gaunnya. “Kami memahami orang yang berbeda agama, kami menghormatinya. Malah, di Jakarta, saya yang terdiskriminasi,” ia mulai bercerita.

“Saya pernah ditanya putri-putri dari provinsi lain di Jakarta, mereka sangka Aceh hanya perang, hutan belukar tak berperadaban yang dihuni orang-orang keras kepala,” keluhnya sembari tertawa memamerkan giginya yang putih. Ia terus bercerita, hampir satu jam lamanya saya mendengarkan.

“Saya ingin melanjutkan perjuangan Cut Nyak Dien. Saya ingin lebih dari Nyak Dien,” katanya seperti hendak menutup pembicaraan kami. Ia mengusap wajahnya, membuat make up dan riasan wajahnya memudar.  Ia melepas kerudung. Rambutnya tergerai panjang seperti mayang terurai. Tapi ia masih terus bercerita, dan terus bersikukuh agar saya paham bagaimana hidup damai di Aceh. Rosnidar, ibu Winda yang sedari tadi hanya termangu di sudut ruangan studio foto, memperhatikan anaknya tengah dipotret dengan bermacam gaya, datang membantu mengemasi pakaian Winda. Kami bersalaman untuk kedua kali.

Saya meringsek jalan-jalan Kota Banda Aceh, meninggalkan Winda dan ibunya. Saya menuju ke PLTD apung yang terletak di tengah kota. Tempat itu dipenuhi para wisatawan yang mengantri menunggu jadwal sembahyang selesai. Di Aceh, setiap jadwal sembahyang tiba, ‘semua harus ditutup’. Setelah sembahyang selesai, pintu gerbang dibuka kembali. Dua orang Korea tampak berpotret, berpose di atas kapal pembangkit listrik yang digulung tsunami hingga ke tengah kota.

Akhir pekan datang lagi. Di salah satu taman kota yang hijau, Taman Sari, masih di pusat Kota Banda Aceh, saya duduk di tengah kerumunan orang, menghadap ke panggung yang dipenuhi alat musik. Azan Asar berkumandang seantero kota, saling berhimpitan dengan bunyi knalpot. Matahari telah condong ke barat, tapi alat musik yang berjejal di atas panggung itu belum kunjung dimainkan. Beberapa Wilayarul Hisbah, kerab disebut WH atau polisi syariah, tampak berjaga-jaga dan sesekali mereka menasehati beberapa remaja. Di waktu sembahyang, tidak ada yang boleh mengganggu. Setelah Ashar, seorang mengucapkan salam dari atas panggung. Kemudian disusul dengan pembacaan Alquran.

“Ini acara apa?” kata saya pada seorang perempuan yang duduk di sebelah saya.

“Acara musik lah. Tapi, kita harus mendengarkan ayat suci dulu, biar tenang nanti menikmati konsernya,” ia berbincang dengan mimik serius. Setelah sembahyang Asar selesai, acara dibuka. Sang Walikota disilahkan membuka secara resmi.

“Apapun jenis musiknya, akan kita dukung,” kata Iliza, sang Wakil Walikota, memberi sambutan dengan pengeras suara ribuan watt. Sebuah kota berbasis Islam, yang dikepalai oleh seorang perempuan, tengah mengadakan konser musik hip-hop. Tak berapa lama, keluarlah pemusik Amerika, Hip-Hop Ambassador. Orang-orang bersorak, yang lain setengah histeris. Penonton yang didominasi para remaja itu bergoyang dalam kerumunan besar; gadis-gadis menari melenggang-lenggok dan para pujang memutar-mutar kedua tangan di atas kepala mengikuti irama hip-hop.

Senja terasa begitu cepat datang di Banda, langit telah merah saga di ufuk barat sana. Dan aroma kopi tercium lebih kencang dari kafe-kafe sepanjang jalan. Dari arah Mesjid Baiturrahman suara azan datang mendayu-dayu. Saya ‘terjebak’ sekarang: ke kafe menyeruput kopi, atau ke masjid pergi sembahyang?

Dipublikasikan pertama kali oleh  DestinAsian Indonesia Magazine dengan judul Kopi,Religi, Tsunami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *