Yang Dirampas, Yang Diusir

posted in: Feature | 0

Di belantara hutan Sumatera yang terus menyempit oleh perkebunan berskala besar dan berbagai alasan lainnya, Suku Anak Dalam yang hidup nomaden di dalamnya mencoba bertahan dengan akar tradisi mereka. Akar tradisi yang terus tercabik, tergerus oleh lesatan modernisasi. Lebatnya rimba yang makin tergusur adalah satu-satunya benteng pertahanan terakhir mereka.

Isa melintas di tengah rimba yang baru saja selesai terbakar

Seorang gadis kecil Suku Anak Dalam berumur delapan tahun dirawat di rumah sakit ibukota provinsi. Ia menderita tubercolosis, kata dokter. Kok bisa? Tanya Wawan, teman saya, seorang sarjana pertanian. Di tahun 2011 seorang balita meninggal di Hutan Bulangan, di tengah Bukit Barisan Sumatera. Ia meninggal karena keracunan insektisida dan terlambat sekali untuk tertolong. Insektisida? “Kok bisa?” tanya Wawan lagi kepada juru rawat rumah sakit M. Jamil. “Bukankah mereka tinggal di lebat hutan belantara?,” Wawan bertanya lagi, tetapi tidak ada jawaban.

Tidak lama setelah  itu, saya menempuh 300 kilometer jarak dari Kota Padang untuk sampai ke sana, ke tempat Suku Anak Dalam hidup. Berjam-jam diguncang mobil, jalan tanah yang kuning, licin, dan jurang terjal menganga menanti saya harus melalului 60 kilometer tanpa lampu, tanpa sinyal seluler. Jika saja mobil ini mogok, kepada siapa hendak mengadu? Nyali saya ciut juga untuk perjalanan seperti ini.

Hujan tak kunjung reda. Mobil dengan gardan ganda yang kami pinjam milik ‘ustad’ Pandong tak sanggup lagi melewati jalan licin dengan arus sungai yang kian tinggi dan deras. Saya harus menginap di dusun gelap ini, bersama beberapa lelaki yang duduk bergerombol di warung kecil dengan cahaya lampu minyak tanah seadanya. Mereka tengah bermain domino, mengusir kesunyian dengan susunan batu domino yang dihempaskan sekenanya. Hujan tidak kunjung reda

***

Pagi tanpa kopi, saya ditemani dua lelaki: Rio Saputra dan Eko Syahadatain. Rio, adalah seorang guru tanpa ijasah dan tak tamat kuliah. Sementara Eko seorang dokter otodidak, maksudnya dokter tanpa gelar dari universitas—melainkan gelar yang diberikan Suku Anak Dalam atas pengabdiannya di rimba. Pengabdian? Anggap sajalah begitu. Saya bersama seorang guru dan seorang dokter.

Kami melintasi jalan licin lagi, menyeberang sungai, menyibak belukar, kabut tipis yang perlahan diusir matarahari yang baru bangun. Jejak hewan rimba begitu kentara di jalan tanah yang digerus hujan, sebuah pertanda bahwa kami bertiga telah cukup jauh masuk ke dalam rimba Bukit Barisan. Tapi, saya belum menjumpai mereka, Suku Anak Dalam itu.

Mereka suku pengembara yang hidup di hutan Bukit Barisan Sumatera. Selama berabad-abad dikenal sebagai penjaga rimba yang sekarang kerap dijadikan simpul sengketa. Mereka terkenal sebagai peracik obat tradisional yang telaten, penangkal segala bisa, dan juga memakan segala yang berbisa.

Tak sampai seharian berjalan, kami telah sampai. Beberapa anak tanpa pakaian dengan tatapan kosong menghadang kami. Saya benar-benar telah berada di antara Suku Anak Dalam. Perempuan-perempuan muda dengan pakaian seadanya menggendong anak, menatap tak senang kepada saya. Barangkali karena saya orang baru, orang luar yang mereka sebut dengan ‘orang terang’. Tapi tidak kepada Rio dan Eko, yang telah cukup lama berdampingan dengan mereka di rimba ini. Saya memperhatikan kalung yang dikenakannya dari dekat. Ia merasa risih. “Ini kalung sebalit sumpah,” katanya. Kalung tanda penghormatan Suku Anak Dalam. Belum satupun lelaki yang saya temui memiliki kalung seperti itu, termasuk anak suku. Siapa yang memakai kalung semacam itu adalah orang yang layak dipercaya. Ah, saya tidak tahu makna apa selanjutnya.

Anak-anak itu masih menatap saya dengan melotot. Sebagian dari mereka memakai caond, cawaik, kain yang diikat untuk memutup kemaluan, sebagian lain tanpa pakaian apa-apa.

“Duarr!”

Suara tembakan menyentak kesunyian seketika. Kencang sekali. Semua terdiam, saya berdegup. Siapa yang telah tertembak? Pikir saya.

Kemudian terdengar teriakan dari jauh, “oi”. Teriakannya pendek sekali. Spontan, semua anak-anak dan beberapa  perempuan tertawa. Saya belum mengerti.  Bujang Paibo yang kelihatan masih berusia remaja dan dua remaja lainnya berjalan tergesa menuju arah suara teriakan tersebut. Nun, ke arah jurang sana. Tak berapa lama keluar seorang pria dengan senapan yang masih menyisakan asap putih di moncongnya. Lelaki itu bernama Isa. Ia telah melumpuhkan babi dengan satu tembakan. Tidak berapa lama muncul lagi Bujang Paibo dengan menggendong babi seperti seorang pendaki menggendong ransel. Babi yang cukup besar seperti itu ia bopong seorang diri. Lelaki dan perempuan lalu keluar dari genah (gubuk tempat tinggal) mereka mengelilingi babi yang diburu Isa. Daging kemudian dibagi.

Mereka sekelompok manusia yang hidup di hutan Sumatera, hutan Bukit Barisan yang melintang dari Sarolangun Jambi hingga Dharmasraya Sumatera Barat. Hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu ceruk bukit ke lembah gunung lainnya yang jauh dan susah dijangkau. Mereka berburu babi, ular, kijang, kancil; memetik hasil hutan, membuat ‘rumah’ seadanya, kawin, beranak, dan berbahagia tentunya.

Mereka hidup komunal, berkelompok. Tapi mereka berburu sendiri-sendiri. Bersenjatakan tombak dan gobok,  senapan rakitan sendiri yang keakuratannya sangat diragukan. Mereka berburu mengendap-endap di sela pohon dan lilitan akar rotan, menembak dengan jarak dekat. Jika berburu memakai tombak, seorang lelaki harus mengahabiskan tenaga ekstra untuk bertarung dengan babi, sebab dengan satu tombakan, babi tidak serta-merta langsung tumbang dan terjungkal. Mesti ditambah dengan beberapa sabetan parang. Walau terkadang ada juga yang hampir mati diseruduk babi.

Lelaki-lelaki Anak Dalam punya tatapan yang dingin tanpa ekspresi. Sedang perempuannya lebih suka bergelut di genah, bercerita, mencari kutu yang punya habitat tersendiri di rambut mereka, dan kemudian tertawa-tawa memperlihatkan gigi mereka yang kuning menghitam. Setelah berhari-hari di rimba, akhirnya mereka dekat juga dengan saya, tertawa bersama, menyalakan api bersama, dengan tungku seadanya.

Eko dengan rutin memberikan obat pada beberapa bocah yang terjangkit TBC. Saya tidak begitu percaya mereka mengidap tuberkolosis. Bukankah mereka peracik obat yang handal di masa silam? “Dulu, di hutan ini semua penyakit ada obatnya, ada penangkalnya. Hutan memberikan apa segala yang baik bagi kami,” kata seorang perempuan tua yang tak memiliki nama menjawab keheranan saya. Sekarang hutan telah mulai menipis dan tumbuhan obat telah sulit dicari. “Kamu lihat. Perkebunan makin mendesak kami. Penyakit-penyakit baru berdatangan . Penyakit yang kami tidak tahu obatnya,” perempuan itu bersuara lantang. Napasnya cepat. Barangkali dokter Eko benar. Mereka menderita TBC.

Yusuf bersama istri dan anaknya. Mereka sedang menyiapkan santap malam sebelum gelap menyelimuti rimba raya

Beberapa remaja menenteng parang melintas di hadapan saya . Mereka berjalan ke arah rimba yang cukup lebat. Mereka berangkat mencari jerenang (dragon blood atau darah naga—ada juga yang menyebutnya buah rotan). Jerenang, hasil hutan yang harganya cukup mahal di pasaran dunia. Di perkampungan, cukong membeli dengan harga 1,4 juta per kilo. Tak lebih. Pencarian jerenang kadang makan waktu berhari-hari lamanya. Dikumpulkan sedikit demi sedikit, yang kemudian dijual ke cukong. Hutan Sumatera termasuk penghasil jerenang terbesar di dunia setelah Thailand, Myanmar, dan Vietnam. Begitu menurut cukong.

Jerenang, tumbuhan yang sampai sekarang belum bisa dibudidayakan itu yang membuat Suku Anak Dalam tergila-gila dengan harta benda modern yang dimiliki orang kampung: motor dan telepon genggam. Padahal di tengah rimba raya lebat seperti ini, jangankan sinyal seluler, listrik pun entah berapa puluh kilometer dari sini. Tapi mereka memiliki telepon genggam! Yang jelas, telpon genggam adalah satu-satunya alat penangkal kesunyian rimbaraya. Yang berguna dari telepon genggam mereka hanyalah program untuk mendegarkan lagu, lagu-lagu pop Minang yang diuploadkan konter penjual ponsel di pasar perkampungan yang jauh di sana.

Matahari mulai redup. Cahaya keemasan seperti ribuan jarum yang datang menghujan dari sela-sela dedaunan. Malam mulai datang bagai selimut raksasa. Hanya ada kilau kunang-kunang. Hanya ada cericit suara jangkrik. Daun-daun gugur yang jatuh dari pohon besar terasa begitu kencang, suara ranting yang dipatahkan binatang malam terdengar begitu dekat, begitu kentara di pendengaran.

Malam hanya batas kelam, selebihnya hanyalah sangsai, hanyalah kemurungan yang kosong dalam gelap dan pekat. Membuka atau menutup mata sama saja. Dalam gelap tidak ada yang bisa dilihat. Di saat begini, Anda akan merasa kian dekat dengan penguasa semesta, sang pemilik jagad raya. Sedekat kegelapan dengan dirimu sendiri. Malam datang lebih cepat di Hutan Banai. Dan pagi lebih lama tiba.

Anak-anak suku tidur tanpa lampu. Mereka tidur di genah yang berbeda dengan orang tua. Anak-anak terlahir. Rata-rata perempuan suku ini melahirkan banyak sekali anak. Idar, atau Iroih misalnya. Umurnya kira-kira belum sampai 30 tahun, namun dari rahimnya telah lahir tujuh orang anak yang tanpa pertolongan persalinan, tanpa dokter. Mereka punya pengetahuan persalinan sendiri yang diturunkan secara turun-temurun.

Suku Anak Dalam tidak memiliki pengetahuan tentang kalender. Waktu ditandai hanya berpatokan pada pepohonan. “Saya lahir ketika pohon durian itu masih sebesar ini,” kata seorang laki-laki sambil memegang paha mengandaikan besarnya pohon. Sekarang pohon tersebut sudah  satu meter diameternya. Berapakah umurnya, saya tidak tahu pasti. Hanya mengira-ngira saja. Tak ada yang pasti. Kepastian hanya ada dalam perkiraan, Kawan.

Anak-anak terlahir, mereka tidak bernama. Suku Anak Dalam jarang memiliki nama. Dan kalaupun orang tua mereka sempat memberi nama, nama mereka unik-unik dalam pendengaran manusia di kota. Nama mereka kadang diambil dari bagian tumbuhan seperti Bungo Durian atau Gadih Bungo. Atau terkadang nama diambil dari sifat dan watak pemiliknya seperti Bujang Pamenan, Iroih, Panyiram. Namun, ada juga nama-nama seperti Isa, Yusuf, Ferdian, dan Dewi. Akan tetapi lebih banyak di antara anak-anak itu tidak memiliki nama, walau usia mereka telah remaja atau tua.

Melewati hari-hari, berminggu-minggu bersama Suku Anak Dalam tidaklah membosankan seperti duduk bertapa di bangku kuliah dulu. Mereka mengajari saya tentang tumbuhan apa yang boleh dimakan dan yang tidak, apa yang boleh ditebang dan tidak. Bahkan ada jenis kayu yang tidak boleh ditebang, dan kalau ditebang ikan-ikan di sungai akan mati. Air akan teracuni oleh getah kayu itu.

Mereka menghormati sungai sebagai sumber kehidupan, hingga buang air pun tidak mereka perbolehkan di sungai. Mengotori sungai berarti mengotori sumber kehidupan itu sendiri.  Mereka memakan hasil buruan seberapa mereka butuh. Keseimbangan, itulah pelajaran kehidupan yang saya dapat  dari orang rimba yang kian tersisih di hutan yang semakin sempit ini.

Sementara saya mengajari mereka cara memasak dengan bumbu biar terasa lezat, sebab masakan mereka tidak pernah memakai bumbu selama ini. Rio mengajari mereka menggambar, mengenal angka, membaca apa yang tersurat—satu kebiasaan yang tidak pernah dilakukan suku mereka sebelumnya. “Mereka lebih terbiasa membaca apa yang tersirat,” kata Rio, sang Guru.

Penciuman dan pendengaran mereka sangat tajam—kecuali terhadap bau badan karena mereka hampir tidak pernah mandi. Mereka bisa saja mengetahui gerak babi dari kejauhan atau dengus harimau yang tidak boleh diganggu. Dan yang pasti, Suku Anak Dalam di hutan Banai tidak mencuri. Hal ini termasuk yang tidak dibolehkan dalam tatanan kehidupan mereka: mencuri, memperkosa, membunuh, dan perilaku biadab lainnya. Mereka mempercayai Tuhan dengan ungkapan sederhana: di mano ado bungo di sano ado dewo, di mana ada bunga di sanalah dewa berada. Mereka juga mempercayai roh dan kekuatan gaib, semisal dalam upacara kematian yang mereka sebut mlangun.

Mlangun, upacara ini merupakan ritual di mana mereka berbenah untuk mencari tempat yang baru. Menurut mereka, jika ada di antara anggota suku yang sakit tak terobati atau meninggal di tempat yang sela

ma ini mereka diami, berarti tempat itu sudah dikutuk, tidak layak lagi dihuni. Dan mereka pun akan berjalan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Berpindah-pindah. Mencari tempat bermukim yang baru. Dengan cara seperti itu maka tempat tinggal dan rimba akan diberkati.

“Jika kita punya pikiran yang sama terhadap kehidupan, berarti kita dari moyang yang sama,” begitu Panyiram tua berkata suatu saat. Saya mengaminkan, toh kita sama sebagai manusia.

Gadih di pinggri hutan Bukit Barisan Sumatera

Menurut Panyiram, mereka adalah keturunan keluarga Pagaruyung, sebuah kerajaan Minangkabau yang konon pernah termasyur di bagian tengah Sumatera. Hal ini tercermin dari kehidupan mereka yang matrilineal sebagaimana orang Minangkabau. Tapi entahlah. Banyak versi  tentang asal-usul mereka yang berperawakan  kulit sawo matang, rambut agak keriting, dan memiliki telapak kaki tebal ini. Ada pula yang mengatakan, Suku Anak Dalam merupakan kelompok Melayu Tua, satu generasi kedatangan dengan Dayak, Mentawai, Nias, Toraja, dan Batak. Kelompok Melayu Tua yang merupakan eksodus gelombang pertama Yunan (dekat lembah sungai Yang Tze di Cina Selatan) yang masuk ke Indonesia Selatan tahun 2000SM. Mereka kemudian tersingkir,  lari ke hutan ketika kelompok Melayu Muda datang dengan mengusung peradaban yang lebih tinggi sekitar tahun 2000/3000SM. Tapi, saya sangat meragukan pendapat versi kedua. Secara genentis dan akar kultural mereka jauh berbeda. Tapi, saya mungkin mengada-ada saja. Sebab, sebagaimana Eko dan Rio, saya juga bukan ahli genetik yang meneliti dari mana mereka berasal, dan saya bukan seorang antropolog. Saya seorang pejalan. Tak lebih.

***

Di waktu dan bulan yang lain, saya diajak beberapa teman memasuki rimba. Teman dari benua lain. Teman saya Jana Harušťáková, datang dengan penerbangan yang melelahkan dari Eropa sana. “Saya tidak tahu, apa yang membuat saya begitu ingin ke Indonesia,” ucapnya. Ucapan basa-basi kaum berkulit pucat yang tidak perlu didengar dengan serius. Kami bersalaman. Wajahnya memerah diterpa terik, jengatnya mengelupas dihembus udara hutan tropis Jambi. Kami dilamun panas udara Kota Jambi.

Kami menaiki sebuah landroover dari Kota Jambi menuju Bukit Duabelas yang terletak di Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi, dalam cuaca terik yang hendak menggelegakkan kepala. Melewati jalan tanah penuh abu,  kebun sawit yang berjejer panjang sehabis mata memandang. Hutan Bukit Barisan Sumatera kian terasa sempit oleh perkebunan. Atas nama perkebunan ini, jutaan entah ribuan juta hektar rimba dibabat tiap tahunnya sampai-sampai Dinas Kehutanan tidak memiliki data pasti, berapa hektar rimba Sumatera yang telah disulap menjadi perkebunan sawit, komoditi yang sangat rakus air dan terkenal sangat tidak ramah lingkungan itu. Di Eropa sana, orang-orang mengonsumsinya, menikmatinya. Tapi, bukankah dari tumbuhan ini juga ribuan nyawa menyandarkan harapan?

Saya dan Jana datang dengan alasan yang sebetulnya dibuat-buat: berlibur. Anggap saja lah begitu. Dibikin klise memang. Tapi tak apalah. Menyusuri hutan di bagian tengah Sumatera, berhari-hari, walau tiap sebentar nona cantik berambut pirang ini mengumpat. Hutan Sumatra, adalah gambaran suram tentang hutan yang belum ada dalam benak Jana; lumpur dalam, lintah, lebah, dan orang-orang rimba tanpa baju yang berkeliaran di dalamnya.

“Hutan Eropa tidak seperti ini,” umpatnya hampir tiap saat.

“Tidak perlu bimbang, manis, nanti malam salju akan turun,” saya menjawab seenak perut. Namun, jawaban ‘seenak perut’ begini bisa menenangkan dara berambut pirang ini di tengah hutan belantara raya.

Hutan Taman Nasional Bukit Duabelas, Kabupaten Sarolangun Propinsi Jambi dilindungi, setidaknya sebagai upaya penyelamatan rimba dari industrialisasi yang terus bersimaharajalela. Hawa sejuk, rapat pepohonan, merupakan hal yang diimpikan oleh orang kota seperti saya untuk berlibur. Kami terus mengitari pepohonan, jalan-jalan kecil yang dipenuhi guguran dedaunan, cericit suara burung dari pepohonan.

“Kalau boleh memilih, saya ingin dikubur di sini,” Jana berbisik pada saya. Saya tidak terlalu memikirkan bisikannya. Gadis pirang ini mulai terpesona sepertinya.  Sesekali, lengkingan panjang binatang menyeruak memecah keheningan rimba raya.

“Hendak ke mana?” seorang lelaki tua mencegat kami dengan parang di tangan.  Teman saya kaget, seperti hendak dirampok, saya pun tak kalah terkejutnya karena lelaki tua itu keluar begitu saja dari kerumunan semak.

“Saya ingin menumpang istirahat di tempat anda,” jawab saya terdesak. Ia tersenyum dengan parang di tangan. Teman saya tetap belum paham makna senyuman itu. Kemudian kami berjalan beriringan mengikuti langkah lelaki tua yang lincah dan cepat itu ke genahnya.

Di genah, atau gubuk tempat tinggal, kami berbincang seadanya, tertawa-tawa, menyeruput kopi. Lelaki tua itu kami panggil Tumenggung. Ia menawarkan sarang semut, juga beberapa tumbuhan hutan lainnya untuk obat. Suku Anak Dalam terbilang sangat ahli dalam hal tanaman obat. Puluhan tahun perdagangan obat tradisional di Sumatera didominasi oleh obat-obatan yang didatangkan dari rimba dan diracik langsung oleh tangan mereka.

“Jangan!” suara lelaki tua itu menyentak tegas. Ia tampak gusar ketika Jana mengeluarkan kamera. Dalam  kepercayaan mereka, foto dapat mempersingkat umur. Semakin sering dipotret makin pendek umur seseorang. Tapi saya mencoba menenangkan dengan beberapa batang kretek sebagai simbol pertemanan. Betapa aneh, tembakau yang menjadi sarang penyakit dan sangat diharamkan dokter, di sini malah menjadi obat penenang. Obat menenangkan kemarahan.  Lelaki itu  bercerita lagi, mengalir tenang seperti kehidupannya di rimba ini. Saya dan Jana berjalan hingga sampai di sebuah perkampungan yang dihuni Suku Anak Dalam.

“Kami yang menjaga hutan Bukit Duabelas ini,” kata Tumenggung Tarib, pemuka adat mereka. Tumenggung Tarib memilih tinggal di perkampungan bersama sebagian kecil Suku Anak Dalam yang  memilih hidup menetap di perkampungan. “Walau awalnya terasa sangat asing, sebab kami tidak terbiasa tinggal di perkampungan,“ kata Tarib lagi. Sebagian besar dari mereka, tetap hidup nomaden dalam belantara hijau rimba raya.

Ketika harga karet melonjak, dan sawit ditemukan sebagai tanaman perkebunan yang banyak menghasilkan minyak, pembabatan rimba Sumatera dengan skala besar dimulai. Kayu-kayu ditumbangkan atas alasan perkebunan—walau sebetulnya tanpa alasan yang jelas, pembabatan hutan dengan cara kurang ajar telah dilangsungkan di Sumatera tiap saat. Bukankah dari pembabatan itu ribuan nyawa menyandarkan harapan? Bukankah dari perkebunan skala besar itu ribuan perut minta diisi? Primordial sekali memang.

***

Dari taman Nasional Bukit Duabelas Sarolangun Jambi, kami berangkat ke pedalaman Dharmasraya nun di barat Sumatera. Negeri tua di aliran Batanghari. Negeri tempat Arca Amogapasha ditemukan, negeri yang dalam catatan lama merupakan titik tengah Minangkabau, Cati Nan Tigo negeri itu dinamakan. Di Dharmasraya, ritual purba Bhairawa dan Tentrayana dilangsungkan hingga abad ke-7. Ada tujuh  jam jarak berkendara dari Bukit Duabelas ke sini, walau masih di hutan yang sama.

Di jalan penuh debu dan pasir, di antara perkebunan sawit yang seluas mata memandang mereka hidup berkelompok-kelompok, berburu, menegakkan pondok kecil seadanya, kemudian berpindah lagi. Mereka hidup di bumi Indonesia, dari ratusan tahun silam, tanpa jaminan hukum, tanpa KTP.

Sore itu, kami telah sampai di hutan Bulangan setelah melewati ribuan hektar kebun sawit. Seorang perempuan, Si Uk namanya, menyambut dengan tatapan dingin. Hujan yang datang sore itu, membuat cuaca sontak berubah jadi dingin. Jana menyalakan api, sementara Si Uk mengantarkan teh pada kami. “Beginilah hidup di hutan, Sanak!” katanya sembari meletupkan batuk. Tubuhnya pucat.

Tak berapa lama terdengar senandung kecil.  “Ou..ho..he..i,”  Marni, perempuan tua Suku Anak Dalam datang dengan baju mengilap. “Sekarang, hutan tidak lagi memberi kami obat,” kata Marni datar dan kemudian terus melanjutkan senandungnya. Dalam nada yang putus-putus, ia menyanyikan lagu entah dalam bahasa atau dalam igau, saya tidak mengerti yang ia ucapkan. Udara dingin kian merambat bersama kabut. Hutan pucat ditutupi kabut putih. Saya masih ingat apa yang dikatakan lelaki tua Suku Anak Dalam di Hutan Banai satu tahun silam: Dulu, di hutan ini semua penyakit ada obatnya, ada penangkalnya. Hutan memberikan segala yang baik bagi kami.

“Kenapa ada yang memilih tinggal di perkebuan, bukan di hutan seperti ini?” Jana berbisik lagi ke telinga saya.

“Itu dulu tanah kami juga. Tempat kami berburu. Dan sekarang kami harus ke mana lagi bila hutan sempit ini tiada?” Marni menjawab setengah berteriak. Jana terkejut tak mengerti. Ia tergesa minta diterjemahkan.

Tanah kami? Saya tidak tahu apa dimaksud Marni. Mereka tidak mengenal tulisan, apalagi sertifikat sebagai bukti ini tanah mereka. Gelap mulai menghampiri, menutupi seluruh hutan. Beberapa kunang-kunang beterbangan merayakan malam, cericit suara jangkrik bagai sebuah senandung, alunan sunyi yang datang dari jauh. Kami tertidur di genah, tanpa lampu, tanpa sinetron.

Minumlah, kalau sudah dingin tidak enak,” kata Si Uk sembari meletupkan batuk. Beberapa lelaki dari klan lain datang berkunjung sudung (klan kecil) Si Uk dan Marni. Mereka bercerita tentang hutan semakin sempit.

“Saya sudah setahun tinggal dari kebun sawit ke kebun sawit, “ kata seorang lelaki dengan bekas sabetan di punggung. Mereka berburu babi, kemudian dijual ke cukong. Cukong hanya menerima babi tang dikuliti, tanpa kepala dan isi perut. Hal ini yang membuat mereka sering bermasalah dengan perusahaan sawit: jeroan babi berserakan di lahan sawit dan mengeluarkan aroma bangkai. Menurut mereka, beberapa orang dari klan mereka, hidup mengemis dari rumah ke rumah warga di perkampungan. “Tak ada lagi yang bisa diharap di Hutan Bulangan ini, sanak!” kata lelaki lain yang datang berkunjung.

“Minumlah, kalau sudah dingin tidak enak,” kata Si Uk sembari meletupkan batuk. Saya menyeruput teh. Jana melongo, dan mendesak saya menerjemahkan perkataan mereka. Dan saya menerjemahkan keadaan pada Jana.

“Ou..ho..he..i,” Marni bersenandung lagi. Saya mendengarnya seperti ratapan, lirih, sayup terdengar dari kejauhan. Saya tiba-tiba ingat Bujang Paibo, juga beberapa orang yang tak bernama di Hutan Banai yang setahun lalu pernah saya kunjungi. Saya pamit pada Marni, Si Uk, dan lelaki-lelaki berotot yang entah memiliki nama atau tidak, perempuan-perempuan tua, anak-anak. Hujan turun di Rimba Bulangan. Kabut tipis muncul lagi dari sela-sela dedaunan.

Saya datangi mereka kembali ke Hutan Banai. “Anak saya baru lahir. Laki-laki!” Yusuf tertawa girang. Ia kemudian mengajak saya ke genahnya. Lokasi mereka tinggal bukan lagi tempat yang setahun lalu saya kunjungi. Mereka telah pindah, lebih jauh ke dalam rimba.

“Kamu terlambat, kemaren kami menangkap kancil,” Bujang Paibo menepuk bahu saya sembari tertawa. Kami saling bertukar cerita, meneguk kopi panas, menghisap tembakau dalam-dalam.

Mengembara di tengah Bukit Barisan Sumatera

“Ini rambutan, makanlah!” Idar datang dengan senyum terbuka menyeringai, memamerkan giginya yang somplak di sana-sini dan hitam. Senyum yang begitu sederhana, sesederhana kehidupan ia dan anak-anaknya di rimba belantara ini. Tak berapa lama lagi, ribuan hektar Hutan Banai akan ditebang habis. Buldozer dan alat pengerat kayu akan saling meraung. Lambat laun, Hutan Banai akan dijadikan lahan perkebunan, kayu dan rotan akan rebah dan berganti dengan komoditi perkebunan karet, juga sawit. Dan mereka, Suku “Kubu“ itu, Suku Anak Suku Dalam itu—musti pindah.  Entah ke rimba jauh manalagi, entah ke hutan paling dalam mana lagi. Barangkali, mlangun tidak lagi diperingati sebagai sebuah ritual perpindahan karena penyakit mematikan atau kematian saudara mereka, melainkan ‘upacara’ untuk hutan yang telah tiada.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *