Menemukan Potensi Daerah dalam Paradoksal

posted in: Buku / Book | 0
OLEH RICKY A MANIK

Judul : Catatan Perjalanan

              Merobek Sumatra

Penulis : Fatris MF

Penerbit : Serambi Ilmu Semesta Tahun

Terbit : Cetakan I, Maret, 2015

Jumlah Halaman : 202 halaman

ISBN : 978-602-290-038-2

 

Setiap memasuki sebuah daerah atau kota, hal yang paling utama cenderung ingin dikunjungi orang adalah objek wisatanya. Oleh karena itu, sebuah daerah/kota dirancang sedemikan rupa mengembangkan objek wisatanya dalam menarik minat para wisatawan. Semakin banyak wisatawan yang datang, akan semakin bertumbuh perekonomian daerah tersebut. Namun sayangnya, di Indonesia, kebijakan pemerintah daerah dengan logika tersebut acap tak berhasil karena tidak melihat potensi-potensi lain yang juga berkemampuan mendatangkan para wisatawan. Defenisi objek wisata barulah sebatas tempat-tempat dengan panorama alamnya yang indah. Padahal, objek wisata tentu bukan semata panorama alamnya, tetapi dapat berupa sejarah sosialkultural suatu daerah tersebut. Setidaknya, potensi inilah yang dilakukan oleh kota Sawahlunto yang digambarkan oleh Fatris MF dalam satu catatan perjalanan yang berjudul Lara Tawa Lunto pada bukunya Catatan Perjalanan: Merobek Sumatra (2015). Sebuah kota yang memiliki sejarah tambang batu bara di abad ke-19 dengan berbagai narasi kepedihan para kettingganger (orang Rantai) yang tinggal di tansi-tansi sebagai buruh tambang dan kehidupan mewah tuan meneer dan pedagang Cina. Pada tahun 1995, disaat produksi emas hitam mulai meredup dan PT Bukit Asam Unit Penambangan Ombilin yang dikelola pemerintah merugi, perekonomian di kota Sawahlunto ini anjlok hingga mengalami kelumpuhan. Penyusutan tenaga kerja besar-besaran membuat kota ini kembali senyap. Peninggalan-peninggalan tambang menjadi tempat-tempat yang menakutkan.

Pada abad ke-21, kota Sawahlunto mengubah sampul depannya. Potensi tambang yang mendatangkan para buruh diubah menjadi objek wisata yang mendatangkan para turis. Lobang-lobang tambang dan jejak-jejak kolonial, baik berupa bangunan, rel kereta, alat-alat tambang, lori-lori, dan lain-lain menjadi destinasi wisata tambang dengan berbagai narasi di dalamnya menjadi daya tarik yang potensial mendatangkan para wisatawan. Ditambah dengan agenda kesenian setiap tahun yang berangkat dari masyarakat yang multikultural menjadikan Sawahlunto sebagai kota tambang berbudaya.

Destinasi Wisata yang Paradoks

Apa yang telah dilakukan kota Sawahlunto tulis Fatris bukannya tanpa paradoks. Di tengah antusiasme ingin mengembangkan suatu potensi kota, malah mengabaikan beberapa potensi lainnya. Lokomotif Mak Itam yang dulu menjadi gerbong penyuplai bahan bakar yang menggerakkan mesin-mesin industri di dunia justru dibiarkan lapuk (hlm. 151). Pandangan-pandangan Fatris dalam mengunjungi beberapa daerah dibaca secara sinis. Beberapa catatan-catatan perjalanan yang ditulisnya ini membawa kita pada kondisi paradoksal. Disatu sisi ingin mengembangkan berbagai potensi daerah yang dimiliki, tetapi disisi lain justru mengabaikan potensi lain yang justru lebih “eksotik”. Kepiawaian Fatris melalui cara pandang yang berbeda sebagai pelancong menjadikan suatu daerah itu punya potensi yang lain untuk dikunjungi.

Hal ini seperti yang dituliskannya pada catatan Metamorfosis Bumi Sikirei. Mentawai bukan panorama pantai dengan destinasi selancar internasionalnya, melainkan sosialkultur masyarakat Mentawai di pedalaman dengan tradisi rajah tubuh, berburu dengan busur, menetap di uma, dan menyantap sagu. Sebuah tradisi yang pernah melegenda di kalangan operator Belanda ini sekarang dipertahankan sekuat mungkin dari derasnya arus modernisasi. Pemerintah yang masih menganggap masyarakat di Pulau Siberut primitif mencoba menerapkan program relokasi. Mereka dipindahkan dari uma dan dikelompokkan dalam sebuah perkampungan baru. Tujuan relokasi tak lain adalah pembalakan kayu besar-besaran di hutan Pulau Siberut guna memenuhi kebutuhan pabrik-pabrik kertas dan triplek di berbagai daerah di Indonesia (hlm. 9). Akibatnya, akar budaya mereka yang berpijak pada uma tercerabut. Hal serupa juga terjadi bagi masyarakat Suku Anak Dalam di Jambi yang tertuang dalam catatan Senandung Resah Rimba Sumatra. Hutan Sumatra yang menjadi genah Suku Anak Dalam kian menyempit oleh perkebunan sawit dan karet. Tradisi mlangun yang tadinya menjadi tradisi perpindahan genah karena ada kerabat yang meninggal, sekarang menjadi tradisi perpindahan karena hutan yang berubah wajah menjadi perkebunan.

Keinginan untuk melestarikan sebuah kebudayaan dan keinginan untuk memajukan pariwisata guna meningkatkan pendapatan ekonomi daerah menemukan titik paradoksnya. Tempat-tempat seperti uma dengan berbagai tradisi di dalamnya yang seharusnya bisa dijadikan sebagai destinasi sejarah dan budaya justru ditinggalkan, diabaikan, bahkan dilenyapkan. Hal senada ini juga terlihat dari catatan-catatan perjalanan yang ada di buku ini, seperti Dari Singapura, Kucari Cintamu Hingga Pulau-pulau Terlantar di Timur Sumatra yang bercerita tentang paradoks pembangunan kota dan narasi kepedihan para pengungsi Vietnam dan Kamboja. Begitupun dengan catatan yang berjudul Prajnaparamita dari Tepian Batanghari. Selain berkisah tentang candi Muarojambi dengan berbagai narasi dan artefaknya, catatan ini juga menggambarkan keruhnya Batanghari akibat penambangan emas dan batubara, rumah-rumah panggung yang kusam di pinggiran Batanghari, pasar tradisional Angso Duo, dan pembangunan kota dan mal yang semrawut. Bagaimana mau memajukan sebuah potensi wisata suatu daerah jika di dalamnya masih acap ditemukan ketimpangan sosial dan kondisi alamnya yang rusak. Padahal, sungai dan rumah-rumah panggung serta berbagai sosialkultural masyarakat di dalamnya adalah modalitas penting terkait pembangunan suatu daerah yang justru dapat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Sinisme inilah yang menjadi poin penting dalam buku ini yang juga ditemukan pada catatan-catatan perjalanan Fatris yang lain, seperti Pasang Surut Gayo, Perang Kecil Menjelang Hari Besar, Muara Cinta Si Anak Durhaka, Malam Tahun Baru Di Jantung Sumatra, Hari Perkabungan Masyarakat Pantai Barat, dan Tsunami Sunyi Aceh. Jika “pelestarian” suatu kebudayaan bagi Fatris menemukan makna paradoksnya, tetapi tidak dalam konteks narasi/sejarah sebuah kebudayaan tersebut. Kebudayaan harus dicatat, dituliskan, didokumentasikan supaya kelak ia dibaca dan dimaknai oleh generasi selanjutnya, seperti yang dilakukan oleh penulis dalam catatan-catatan buku ini.

Jambi, 21 Mei 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *