TENTANG KEBERANGKATANMU, NGIN!

posted in: Feature | 0

(sebuah obituari)

KETIKA zaman melesat ke depan dan wajah kesenian bagai anak panah yang telah menembus segala batas, ia justru tertinggal jauh di belakang, bertahan dengan sesuatu yang sebetulnya telah dianggap beku. Apa sebenarnya yang ingin ia pertahankan? Apa yang hendak kau perjuangkan, Ngin?

“Entahlah,” katanya.

Ada kekuatan besar yang hendak memisahkan kemanusiaan dari keseniaan, katanya suatu ketika. Terdengar berlebihan memang. Kekuatan besar macam apa? Ia tidak benar-benar bisa menjawab.

Sejak kecil ia telah jadi pesilat, juga pemain randai—terlalu handal malah. Ia masuk ke Universitas Andalas dari latar belakang pendidikan yang sebetulnya tidak wajar. Saat saya mengenalnya 12 tahun silam, ia masih berbau kitab kuning. Geraknya kaku bagai hendak berkelahi saja. Enam tahun masa remajanya dihabiskan di sebuah pondok pesantren di Pasia, satu kampung kecil di Agam sana, membuat gerak-geriknya udik dan menyolok.

Ia masuk Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas dengan sebuah misi yang juga janggal masa itu (juga saat ini). Masa ketika teman-teman satu angkatannya masuk universitas atas alasan masa depan, masa depan yang berarti ijazah dan pekerjaan ‘layak’, ia justru bergerak ke masa lalu. Masa lalu dalam mitologi dan hikayat-hikayat lama, dalam alunan dendang, kebijakan-kebijakan hidup yang tak tampak, petuah-petuah yang tak kasat mata, ajakan-ajakan tetang keseimbangan hidup, kesucian jiwa—semua hal yang sebetulnya tidak (lagi) mendapat tempat di universitas dengan tembok-tembok dingin yang tinggi tempat ia kuliah. Semua hal yang menurut sebagian orang telah beku. Ketika universitas gembar-gembor dengan Kuliah Umum Kewirausaan, persaingan ekonomi bebas, ekonomi kreatif harus dikembangkan—ia justru merdeka dalam kepapaannya, dengan jalan ‘akademis’nya. Ia menjalaninya sendiri, kadang ia tidak dapat tempat. Ruang terasa sangat sempit untuk geraknya yang susah ditebak. Tapi, ia tidak menyerah. Sekali lagi, saya tidak pernah tahu apa yang ia inginkan dalam dunia akademis, yang hingga akhir hayatnya ia masih berada di dalamnya walau di pojok yang berbeda. ’Dunia akademis’ tak lebih dari sebuah gerbang baginya, gerbang untuk menyentuh manusia lainnya, walau akhirnya ia terperangkap di dalam dan tidak pernah benar-benar keluar dari pintu yang sama. Ia lebih banyak alpa dari gejolak ‘kaum muda terdidik’ hari ini. Ia terdepak dari perbincangan dan arus kesenian kini. Tapi, ia terus saja berbuat.

Nama lengkapnya Zefri Gusrianaldi. Ia dipanggil Aldi, kadang Angin, Barangin (nama dengan konotasi negatif karena cara pandangnya melihat sesuatu). Kami satu kelas dan belajar tentang hal-hal baru yang asing. Ia gemar menulis puisi, namun puisinya bercitarasa buruk. Kata-kata dalam bait-bait puisinya melonjak-lonjak tak tentu arah. Selebihnya, kami sering main musik di warung-warung kampus. Dari main musik, barulah kemudian kami bisa makan siang. Saban sore, ia lebih banyak latihan randai atau silat bersama kawan-kawan di Jurusan Sastra Minangkabau. Hal seperti itu terjadi bertahun-tahun di kampus kami. Kemudian ia terlibat dalam garapan-garapan kesenian.

“Kenapa kau tak tamat?” kawan-kawannya sering bertanya. Ia akan menjawab dengan senyum kecil. Saya cukup tahu apa arti senyum kecil itu. Ia seorang yang menampik ijazah dan kertas-kertas pengakuan. Ia ingin mengaji tradisi, tradisi di tempat ia hidup, mencari tautan dengan nilai-nilai di Barat.Tapi di Sastra Inggris tempatnya kuliah tidak ada yang mengkaji itu, katanya. Itu beda. Sesuatu yang berbeda akan disepelekan, mungkin akan dibuang.

“Kebanggaan kampus kini, adalah ketika mahasiswanya tidak tahu ‘kato nan ampek’ tapi begitu fasih menerangkan tata cara Orang Barat bersetubuh.” Untuk saat-saat tertentu, ia cukup kasar dan meledak-ledak. Ucapannya terkadang di luar kewajaran ‘nilai-nilai akademis’. Wajar ia dipanggil dengan sebutan aneh dan tidak wajar: Barangin. Sedang Sastra Inggris butuh mahasiswa yang manut, bukan yang meledak-ledak seperti Aldi Barangin.

Ia tidak tamat dari di Sastra Inggris Unand. Ia tidak mau, katanya. Barangkali ia tidak membutuhkannya, namun ia enggan menyebutkan. Ia kemudian pindah ke Institut Seni Indonesia di Padangpanjang. Tapi, sekali lagi, saya tidak tahu apa yang ingin ia raih dalam berkesenian. Mungkin saja ia tidak ingin meraih apa-apa, atau hanya untuk melaluinya saja, seperti angin menjangkau lembah-lembah yang jauh. Bukankah kesenian pada dasarnya adalah untuk menjangkau sesuatu yang jauh, malah yang teramat jauh yang berada dalam diri manusia?

Kritikus seni S Metron Masdison, setelah melihat pementasan karya-karyanya yang hendak dipentaskan di Hari Tari Sedunia, menilai bahwa Aldi salah seorang yang akan menjadi. Mungkin maksud Metron adalah yang akan matang. Tentu saja, ia punya pencarian yang berbeda. Tapi, sekali lagi, saya tidak begitu tahu dengan apa yang ia cari dan sejauh mana ia berbeda. Mungkin tak seorang pun tahu apa yang sebetulnya ia cari dalam kesenian. Ia bergerak sendiri di lorong-lorong sempit keseniang tradisi ‘masa lalu’, kadang berteriak sendiri , meneriaki keadaan. Hanya saja, ia berteriak dalam diam yang bahkan tidak seorang pun hapal suaranya. Ia punya cara sendiri untuk berteriak.

“Ia seperti menyebarkan kesenian pada siapa saja, siapa saja yang mengenalnya akan melihatnya sebagai seseorang yang tak berhenti memeluk seni,” kata S Metron lagi, “seluruh seniman hebat di dunia ini akan melakukan daya untuk menemukan jalannya dengan cara masing-masing. Ia orang yang mau berjalan di batu berkerikil tajam dan tidak mengelakkannya. Apalagi yang lebih baik dari itu?”

Di Sastra Inggris, sepuluh tahun silam, ia lebih banyak bergelut dengan randai ketimbang belajar kehidupan Shakespeare. Ia lebih intim dengan hikayat-hikayat lisan ketimbang Michel Foucault atau teori Marxis—walau akhirnya saya sadar sepuluh tahun setelah itu, ia mengirimkan foto-fotonya tengah menampilkan randai dan silat di Polandia dan mengajarkan kesenian tradisi di beberapa daerah lain di Eropa. Ia bagai seseorang dari masa lampau yang hendak menawarkan ‘keseimbangan hidup’ tradisi purba pada manusia hari ini di Barat sana.

“Itu baru langkah awal, Ndan!” katanya pada saya, suatu petang. Dia tidak menyebut itu perjuangan, melainkan langkah. Namun, tetap saja, saya tidak pernah paham dengan apa ia melangkah. Nama yang dibawanya tak berubah sejak ia lahir. Tidak ada gelar dan titel yang disandangnya—ketika jutaan manusia di dunia ketiga hari ini menyembah embel-embel tersebut hingga mengkotak-kotakkan kemanusiaan atas nama gelar dan jabatan. Tak hanya ke Barat sebetulnya, ia juga memperkenalkan silat dan randai ke beberapa daerah di Indonesia. Di Medan, katanya sembari memamerkan foto-foto pada saya, ia menjadi guru silat dan randai.

Akhir tahun 2013, ketika ia telah kuliah belasan semester di ISI Padangpanjang, saya dimintanya membuat naskah. Naskah itu ia kemas jadi pertunjukan tari dan dipentaskan bersama kelompok UKS Unand dalam sebuah lomba Tari Kontemporer Nasional di Makassar. Di tangannya, kelompok kesenian UKS Unand mendapat juara 1.

Setelah itu, ia mendesak saya lagi. Katanya, ia begitu ingin membawa hutan Sumatera ke atas panggung, membawa keserakahan yang memorak-porandakan kehidupan, bagaimana pemodal-pemodal raksasa dari Ibukota membunuh manusia di Sumatera. Naskah itu rampung saya kerjakan empat bulan silam, dan ia telah mengantonginya. Tapi, katanya, naskah yang saya buat cukup menguras tenaga dan butuh banyak aktor dan penari. Sementara, saat itu, ia tengah terlibat kontrak kerja dengan Bengkel Seni Tradisi di Fakultas Ilmu Budaya Unand. Kontrak kerja yang ia maksud, saya cukup mengerti artinya. Ia akan melatih kesenian tradisi Minangkabau, mengajarkan gerak, membuat komposisi laku—secara sukarela bahkan tanpa dibayar. “Kontrak kerja” yang ia maksud tidak hanya di Universitas Andalas, melainkan juga di Universitas Negeri Padang, ISI, SD, SMP, Sekolah Alam Minangkabau di Ulak Karang, atau di kampus lain yang saya tidak tahu. Tapi, sekali lagi, apa yang ingin ia perjuangkan? Apa yang hendak engkau cari di dunia yang telah kehilangan nurani ini, Angin?

Ia tidak akan bisa menjawab pertanyaan itu sampai kapanpun—saya tahu itu. Pertanyaan itu akan dianggapnya berbau, sarat pragmatisme gaya barat, katanya—saya juga tahu itu walau ia tidak begitu paham istilah apa yang ia maksud. Ia begitu gundah dengan zaman, dengan perilaku manusia hari ini, dengan pendidikan hari ini yang menurutnya porak-poranda. Dan, ia punya cara sendiri untuk menyampaikan kegundahan itu: seni. Mungkin tulisan ini terdengar berlebihan dan emosional, tapi begitulah adanya.

Seni tradisi Minangkabau ia pilih untuk sebagai media untuk meyampaikan kegundahannya, mungkinkah itu? Jawabannya, tentu ada di masa depan yang tidak satu pun dari kami bisa menjangkaunya. Sementara ia berjalan sendiri di jalan lengang. Jalan yang ia pilih berbeda untuk menyampaikan sesuatu yang barangkali itu kebenaran, kegundahan, bau busuk zaman, adat, pertikaian, dan entah apalagi cuma ia yang tahu. Aldi bicara tentang hidup hari ini, ia berbincang tentang hidup yang terus menerus rusak dan tergerus. Randai, yang biasa bercerita tentang hikayat silam, kebijakan-kebijakan masa lalu yang seakan telah beku pada hari ini, ingin diubahnya. Ia ingin randai tidak melulu hidup di masa lalu yang sebetulnya benar-benar telah beku. Dan, anehnya, ia bersikukuh memakai randai sebagai langkah awal, sebagai media penyampai yang hendak ia teriakkan. Walau ia mendapat begitu banyak hambatan karenanya. Tapi, dalam hidupnya yang rumit untuk dijelaskan, ia tidak pernah saya dengar mengeluh. “Ia begitu banyak berbagi untuk kami,” kata Fandi Pratama, mantan Ketua BSTM. Satu tahun belakangan, selain di Fakultas Ilmu Budaya, ia banyak melatih silat dan randai di Palito Nyalo, sebuah kelompok silat dan seni tradisi di kaki bukit Karamuntiang di Pauh Padang. Dan, pengabisan kali, kata seorang teman, ia hendak berangkat ke Padangpanjang membantu temannya untuk ujian S2. Tapi, kematian begitu cepat merenggut ketika ia belum sampai ke satu titik capai, atau mungkin saja ia telah berangkat dari banyak titik capaian dalam hidupnya.

***

Di satu lereng perbukitan yang mengelilingi lembah datar di Baso, Agam, tubuhnya ditanam. Barangkali, tempat itu yang pantas menjadi kampung terakhirnya—walau bukan ia sendiri yang memilih. Hanya tumpukan tanah kuning, sebentuk gundukan yang ditaburi bunga-bunga. Sesekali angin lembah yang dingin bertiup menggoyangkan pohon-pohon di tubir-tubir bukit. Inilah tempat persistirahatannya kini. Sementara, kesenian di Minangkabau terus melaju—entah melaju ke arah mana hanya masa depan yang bisa menjawab. Ia telah berangkat ketika pekerjaannya belum rampung. Ia berangkat diam-diam pada satu senja di awal Agustus 2015, kepergian yang begitu cepat, begitu mengejutkan, yang membuat miris, yang teramat mengganggu saya dan teman-temannya. Ia telah berangkat sebelum ia sempat menuai apa yang ditanamnya. Walau sebetulnya kawan-kawannya tahu, ia tidak suka menuai sesuatu yang telah ia tanam. Teman-temannya menghambur-hamburkan rasa kesedihan di media sosial internet, meraung-raung di depan jenazahnya yang dibalut jeket satu-satunya yang ia miliki, duka yang dalam, ungkapan atas rasa kehilangan. Kehilangan atas apa? Saya juga tidak tahu. Yang saya tahu, kepergiannya mengingatkan saya, bahwa pencarian akan kebenaran dalam diri manusia akan bermuara pada Tuhan, sang pemilik jagad raya. Selamat jalan, Ngin.
http://www.koran.padek.co/read/detail/33972 TENTANG KEBERANGKATANMU, NGIN!

(sebuah obituari) : Fatris MF

KETIKA zaman melesat ke depan dan wajah kesenian bagai anak panah yang telah menembus segala batas, ia justru tertinggal jauh di belakang, bertahan dengan sesuatu yang sebetulnya telah dianggap beku. Apa sebenarnya yang ingin ia pertahankan? Apa yang hendak kau perjuangkan, Ngin?

“Entahlah,” katanya.

Ada kekuatan besar yang hendak memisahkan kemanusiaan dari keseniaan, katanya suatu ketika. Terdengar berlebihan memang. Kekuatan besar macam apa? Ia tidak benar-benar bisa menjawab.

Sejak kecil ia telah jadi pesilat, juga pemain randai—terlalu handal malah. Ia masuk ke Universitas Andalas dari latar belakang pendidikan yang sebetulnya tidak wajar. Saat saya mengenalnya 12 tahun silam, ia masih berbau kitab kuning. Geraknya kaku bagai hendak berkelahi saja. Enam tahun masa remajanya dihabiskan di sebuah pondok pesantren di Pasia, satu kampung kecil di Agam sana, membuat gerak-geriknya udik dan menyolok.

Ia masuk Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas dengan sebuah misi yang juga janggal masa itu (juga saat ini). Masa ketika teman-teman satu angkatannya masuk universitas atas alasan masa depan, masa depan yang berarti ijazah dan pekerjaan ‘layak’, ia justru bergerak ke masa lalu. Masa lalu dalam mitologi dan hikayat-hikayat lama, dalam alunan dendang, kebijakan-kebijakan hidup yang tak tampak, petuah-petuah yang tak kasat mata, ajakan-ajakan tetang keseimbangan hidup, kesucian jiwa—semua hal yang sebetulnya tidak (lagi) mendapat tempat di universitas dengan tembok-tembok dingin yang tinggi tempat ia kuliah. Semua hal yang menurut sebagian orang telah beku. Ketika universitas gembar-gembor dengan Kuliah Umum Kewirausaan, persaingan ekonomi bebas, ekonomi kreatif harus dikembangkan—ia justru merdeka dalam kepapaannya, dengan jalan ‘akademis’nya. Ia menjalaninya sendiri, kadang ia tidak dapat tempat. Ruang terasa sangat sempit untuk geraknya yang susah ditebak. Tapi, ia tidak menyerah. Sekali lagi, saya tidak pernah tahu apa yang ia inginkan dalam dunia akademis, yang hingga akhir hayatnya ia masih berada di dalamnya walau di pojok yang berbeda. ’Dunia akademis’ tak lebih dari sebuah gerbang baginya, gerbang untuk menyentuh manusia lainnya, walau akhirnya ia terperangkap di dalam dan tidak pernah benar-benar keluar dari pintu yang sama. Ia lebih banyak alpa dari gejolak ‘kaum muda terdidik’ hari ini. Ia terdepak dari perbincangan dan arus kesenian kini. Tapi, ia terus saja berbuat.

Nama lengkapnya Zefri Gusrianaldi. Ia dipanggil Aldi, kadang Angin, Barangin (nama dengan konotasi negatif karena cara pandangnya melihat sesuatu). Kami satu kelas dan belajar tentang hal-hal baru yang asing. Ia gemar menulis puisi, namun puisinya bercitarasa buruk. Kata-kata dalam bait-bait puisinya melonjak-lonjak tak tentu arah. Selebihnya, kami sering main musik di warung-warung kampus. Dari main musik, barulah kemudian kami bisa makan siang. Saban sore, ia lebih banyak latihan randai atau silat bersama kawan-kawan di Jurusan Sastra Minangkabau. Hal seperti itu terjadi bertahun-tahun di kampus kami. Kemudian ia terlibat dalam garapan-garapan kesenian.

“Kenapa kau tak tamat?” kawan-kawannya sering bertanya. Ia akan menjawab dengan senyum kecil. Saya cukup tahu apa arti senyum kecil itu. Ia seorang yang menampik ijazah dan kertas-kertas pengakuan. Ia ingin mengaji tradisi, tradisi di tempat ia hidup, mencari tautan dengan nilai-nilai di Barat.Tapi di Sastra Inggris tempatnya kuliah tidak ada yang mengkaji itu, katanya. Itu beda. Sesuatu yang berbeda akan disepelekan, mungkin akan dibuang.

“Kebanggaan kampus kini, adalah ketika mahasiswanya tidak tahu ‘kato nan ampek’ tapi begitu fasih menerangkan tata cara Orang Barat bersetubuh.” Untuk saat-saat tertentu, ia cukup kasar dan meledak-ledak. Ucapannya terkadang di luar kewajaran ‘nilai-nilai akademis’. Wajar ia dipanggil dengan sebutan aneh dan tidak wajar: Barangin. Sedang Sastra Inggris butuh mahasiswa yang manut, bukan yang meledak-ledak seperti Aldi Barangin.

Ia tidak tamat dari di Sastra Inggris Unand. Ia tidak mau, katanya. Barangkali ia tidak membutuhkannya, namun ia enggan menyebutkan. Ia kemudian pindah ke Institut Seni Indonesia di Padangpanjang. Tapi, sekali lagi, saya tidak tahu apa yang ingin ia raih dalam berkesenian. Mungkin saja ia tidak ingin meraih apa-apa, atau hanya untuk melaluinya saja, seperti angin menjangkau lembah-lembah yang jauh. Bukankah kesenian pada dasarnya adalah untuk menjangkau sesuatu yang jauh, malah yang teramat jauh yang berada dalam diri manusia?

Kritikus seni S Metron Masdison, setelah melihat pementasan karya-karyanya yang hendak dipentaskan di Hari Tari Sedunia, menilai bahwa Aldi salah seorang yang akan menjadi. Mungkin maksud Metron adalah yang akan matang. Tentu saja, ia punya pencarian yang berbeda. Tapi, sekali lagi, saya tidak begitu tahu dengan apa yang ia cari dan sejauh mana ia berbeda. Mungkin tak seorang pun tahu apa yang sebetulnya ia cari dalam kesenian. Ia bergerak sendiri di lorong-lorong sempit keseniang tradisi ‘masa lalu’, kadang berteriak sendiri , meneriaki keadaan. Hanya saja, ia berteriak dalam diam yang bahkan tidak seorang pun hapal suaranya. Ia punya cara sendiri untuk berteriak.

“Ia seperti menyebarkan kesenian pada siapa saja, siapa saja yang mengenalnya akan melihatnya sebagai seseorang yang tak berhenti memeluk seni,” kata S Metron lagi, “seluruh seniman hebat di dunia ini akan melakukan daya untuk menemukan jalannya dengan cara masing-masing. Ia orang yang mau berjalan di batu berkerikil tajam dan tidak mengelakkannya. Apalagi yang lebih baik dari itu?”

Di Sastra Inggris, sepuluh tahun silam, ia lebih banyak bergelut dengan randai ketimbang belajar kehidupan Shakespeare. Ia lebih intim dengan hikayat-hikayat lisan ketimbang Michel Foucault atau teori Marxis—walau akhirnya saya sadar sepuluh tahun setelah itu, ia mengirimkan foto-fotonya tengah menampilkan randai dan silat di Polandia dan mengajarkan kesenian tradisi di beberapa daerah lain di Eropa. Ia bagai seseorang dari masa lampau yang hendak menawarkan ‘keseimbangan hidup’ tradisi purba pada manusia hari ini di Barat sana.

“Itu baru langkah awal, Ndan!” katanya pada saya, suatu petang. Dia tidak menyebut itu perjuangan, melainkan langkah. Namun, tetap saja, saya tidak pernah paham dengan apa ia melangkah. Nama yang dibawanya tak berubah sejak ia lahir. Tidak ada gelar dan titel yang disandangnya—ketika jutaan manusia di dunia ketiga hari ini menyembah embel-embel tersebut hingga mengkotak-kotakkan kemanusiaan atas nama gelar dan jabatan. Tak hanya ke Barat sebetulnya, ia juga memperkenalkan silat dan randai ke beberapa daerah di Indonesia. Di Medan, katanya sembari memamerkan foto-foto pada saya, ia menjadi guru silat dan randai.

Akhir tahun 2013, ketika ia telah kuliah belasan semester di ISI Padangpanjang, saya dimintanya membuat naskah. Naskah itu ia kemas jadi pertunjukan tari dan dipentaskan bersama kelompok UKS Unand dalam sebuah lomba Tari Kontemporer Nasional di Makassar. Di tangannya, kelompok kesenian UKS Unand mendapat juara 1.

Setelah itu, ia mendesak saya lagi. Katanya, ia begitu ingin membawa hutan Sumatera ke atas panggung, membawa keserakahan yang memorak-porandakan kehidupan, bagaimana pemodal-pemodal raksasa dari Ibukota membunuh manusia di Sumatera. Naskah itu rampung saya kerjakan empat bulan silam, dan ia telah mengantonginya. Tapi, katanya, naskah yang saya buat cukup menguras tenaga dan butuh banyak aktor dan penari. Sementara, saat itu, ia tengah terlibat kontrak kerja dengan Bengkel Seni Tradisi di Fakultas Ilmu Budaya Unand. Kontrak kerja yang ia maksud, saya cukup mengerti artinya. Ia akan melatih kesenian tradisi Minangkabau, mengajarkan gerak, membuat komposisi laku—secara sukarela bahkan tanpa dibayar. “Kontrak kerja” yang ia maksud tidak hanya di Universitas Andalas, melainkan juga di Universitas Negeri Padang, ISI, SD, SMP, Sekolah Alam Minangkabau di Ulak Karang, atau di kampus lain yang saya tidak tahu. Tapi, sekali lagi, apa yang ingin ia perjuangkan? Apa yang hendak engkau cari di dunia yang telah kehilangan nurani ini, Angin?

Ia tidak akan bisa menjawab pertanyaan itu sampai kapanpun—saya tahu itu. Pertanyaan itu akan dianggapnya berbau, sarat pragmatisme gaya barat, katanya—saya juga tahu itu walau ia tidak begitu paham istilah apa yang ia maksud. Ia begitu gundah dengan zaman, dengan perilaku manusia hari ini, dengan pendidikan hari ini yang menurutnya porak-poranda. Dan, ia punya cara sendiri untuk menyampaikan kegundahan itu: seni. Mungkin tulisan ini terdengar berlebihan dan emosional, tapi begitulah adanya.

Seni tradisi Minangkabau ia pilih untuk sebagai media untuk meyampaikan kegundahannya, mungkinkah itu? Jawabannya, tentu ada di masa depan yang tidak satu pun dari kami bisa menjangkaunya. Sementara ia berjalan sendiri di jalan lengang. Jalan yang ia pilih berbeda untuk menyampaikan sesuatu yang barangkali itu kebenaran, kegundahan, bau busuk zaman, adat, pertikaian, dan entah apalagi cuma ia yang tahu. Aldi bicara tentang hidup hari ini, ia berbincang tentang hidup yang terus menerus rusak dan tergerus. Randai, yang biasa bercerita tentang hikayat silam, kebijakan-kebijakan masa lalu yang seakan telah beku pada hari ini, ingin diubahnya. Ia ingin randai tidak melulu hidup di masa lalu yang sebetulnya benar-benar telah beku. Dan, anehnya, ia bersikukuh memakai randai sebagai langkah awal, sebagai media penyampai yang hendak ia teriakkan. Walau ia mendapat begitu banyak hambatan karenanya. Tapi, dalam hidupnya yang rumit untuk dijelaskan, ia tidak pernah saya dengar mengeluh. “Ia begitu banyak berbagi untuk kami,” kata Fandi Pratama, mantan Ketua BSTM. Satu tahun belakangan, selain di Fakultas Ilmu Budaya, ia banyak melatih silat dan randai di Palito Nyalo, sebuah kelompok silat dan seni tradisi di kaki bukit Karamuntiang di Pauh Padang. Dan, pengabisan kali, kata seorang teman, ia hendak berangkat ke Padangpanjang membantu temannya untuk ujian S2. Tapi, kematian begitu cepat merenggut ketika ia belum sampai ke satu titik capai, atau mungkin saja ia telah berangkat dari banyak titik capaian dalam hidupnya.

***

Di satu lereng perbukitan yang mengelilingi lembah datar di Baso, Agam, tubuhnya ditanam. Barangkali, tempat itu yang pantas menjadi kampung terakhirnya—walau bukan ia sendiri yang memilih. Hanya tumpukan tanah kuning, sebentuk gundukan yang ditaburi bunga-bunga. Sesekali angin lembah yang dingin bertiup menggoyangkan pohon-pohon di tubir-tubir bukit. Inilah tempat persistirahatannya kini. Sementara, kesenian di Minangkabau terus melaju—entah melaju ke arah mana hanya masa depan yang bisa menjawab. Ia telah berangkat ketika pekerjaannya belum rampung. Ia berangkat diam-diam pada satu senja di awal Agustus 2015, kepergian yang begitu cepat, begitu mengejutkan, yang membuat miris, yang teramat mengganggu saya dan teman-temannya. Ia telah berangkat sebelum ia sempat menuai apa yang ditanamnya. Walau sebetulnya kawan-kawannya tahu, ia tidak suka menuai sesuatu yang telah ia tanam. Teman-temannya menghambur-hamburkan rasa kesedihan di media sosial internet, meraung-raung di depan jenazahnya yang dibalut jeket satu-satunya yang ia miliki, duka yang dalam, ungkapan atas rasa kehilangan. Kehilangan atas apa? Saya juga tidak tahu. Yang saya tahu, kepergiannya mengingatkan saya, bahwa pencarian akan kebenaran dalam diri manusia akan bermuara pada Tuhan, sang pemilik jagad raya. Selamat jalan, Ngin.
http://www.koran.padek.co/read/detail/33972

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *