BASYIR TUA, DULUNYA

posted in: Feature | 0

Namanya singkat saja: Basyir. Ia lahir di Bayang, Pesisir Selatan, 82 tahun lalu. “Ndak takana tanggal e lai do,” katanya. Kerutan jelas menghiasi kulit wajahnya. Matanya tertutup katarak tipis. Dia kadang mengeluhkan lututnya yang mulai kembali terasa sakit. Tangan kanan Basyir memijit-mijitnya lututnya, sementara yang kiri memegang obat gosok bermerek Cap Sungu Badak. “Sebelah kiri ini, dulu pernah beradu dengan kepala truk!” terangnya sambil menunjukkan lututnya yang sakit itu saat berbincang-bincang dengan saya, Selasa, 24 Mei 2011.

Dulu, Basyir adalah bagian kecil dari ribuan Tentara Pusat. Tentara Pusat sebutan untuk tentara Republik Indonesia semasa pemerintahan Soekarno. Ia berpangkat sersan mayor. Pada 11 Agustus 1945 adalah hari pertamanya memakai seragam tentara. Ia ikut terlibat aktif bertempur meraih kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan Indonesia. Seperti lazimnya prajurit, Basyir berpindah dari satu batalion ke batalion lain. Dari Kota Bandung ia pindah ke front Jambi, hingga akhirnya menetap di Sibolga dan diangkat sebagai pelatih Resimen III Terunung dan beberapa kali ditempatkan di Aceh. Itu dulu. Saya dulu terlibat dalam operasi penangkapan Kartosuwiryo, katanya lagi.

Kini, di usianya yang sudah tak muda lagi itu, Basyir hanya menghabiskan waktu menjaga toko kertas dan alat-alat tulis milik menantunya yang dibangun di depan rumah di Bayang Pesisir Selatan sana.

Gajinya sebagai pensiunan prajurit pangkat rendah tentu saja tidak pernah cukup. Sekali pun dalam ketentaraan republik pangkatnya sudah Pembantu Letnan Dua (Pelda), namun karena ikut dalam pergolakan melawan pemerintah pusat semasa PRRI meletus, pensiunnya hanya berpangkat paling rendah karena kebijakan pemerintah saat itu bahwa eks pejuang PRRI dipensiunkan dengan pangkat yang sama, yaitu pangkat terendah dalam militer. Berbagai medan tempur mungkin telah mengasah dan menempanya sedemikian rupa. Sebut saja, sebelum ikut naik gunung di masa pergolakan, pangkatnya di Ketentaraan Republik sudah sersan mayor. Ia pernah dikirim ke Jawa Barat melawan pasukan DI TII yang dipimpin oleh Kartosuwirjo. Lalu di Aceh meletus pula pemberontakan dalam rentang waktu yang tidak begitu berjauhan yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh. Ketika PRRI meletus 15 Februari 1958 dengan keluarnya ultimatum dari Dewan Perjuangan pipinan Letnan Kolonel Achmad Husein di kota Padang, Basyir ikut mendukung PRRI kendati ia masih bertugas di tentara Pusat. “Secara emosional masyarakat Aceh dan Sunda dekat dengan orangorang Padang, sama-sama penganut Islam yang taat. Tapi demi tugas, apa mau dikata,” katanya berapiapi. Lalu dia diam sejenak. “Saat itu, kami perang bermalasmalasan!” celetuknya sambil terkikik. “Mereka datang, kami lari. Kami datang, mereka lari. Begitu-begitu saja,” tambahnya sekali lagi diselingi cekikikan yang semakin lama semakin meninggi. Ketika tertawa, terlihat gusinya yang merah tua, seluruh giginya sudah pada tanggal.

“Dengan menempatkan batalion kami pada dua medan tempur itu (Aceh dan Jawa Barat-red), anggapan kami ketika itu ‘pemerintah yang dikuasai orang-orang komunis itu telah mengadu orang-orang Islam dengan sesamanya. Saya tidak tahu sesungguhnya bagaimana, tapi di antara kami para prajurit, desas-desus seperti itulah yang berkembang,” terang Basyir. Tahun 1958 pergolakan meletus di Sumatera Tengah. Tahun-tahun sebelum itu, telah beredar himbauan agar tentara-tentara yang berasal dari daerah diminta pulang ke kampung membantu pemerintahan revolusioner yang akan dibentuk. Basyir yang ketika itu sedang bertugas di Aceh memutuskan pulang, bergabung dengan tentara revolusioner (PRRI) di Padang.

“Di Sibolga, ketika itu tahun 1957, Kolonel M Simbolon mengatakan, ‘barang siapa yang hendak pulang kampung silahkan’. Kontan, saya acungkan tangan. Sudah bertahun-tahun saya tidak pulang,” tutur Basyir. Akhirnya, Basyir muda bergabung dengan PRRI. Di dalam pertempuran dengan tentara Pusat-di mana ia pernah bergabung-Basyir mendapat posisi penting membawa songan satu kompi anak buahnya. Ketika Kota Padang dikepung tentara Pusat pada 1959, ia dapat mandat dari Jamaluddin Wak Ketok untuk memimpin satu brikade mobil. Dan Basyir sukses mengemban amanat itu. Ia pun dipercaya menjadi pengawal pribadi Wak Ketok. Di pengujung 1959, ia pun menjadi pengawal pribadi Achmad Husein ketika Padang sudah tak bisa lagi diselamatkan. “Bayangkan, kami bertempur selama 15 hari tanpa henti. Kami cuma sanggup merebut Padang sampai batas Katapiang. Pasukan Pusat lebih banyak dan gencar dengan meriam, kami hanya punya beberap buah kanon,” kata Basyir. Dalam pertempuran itu, pinggulnya tertembak, yang membuatnya berjalan agak sedikit terseok hingga sekarang. Setelah Padang dilumpuhkan Tentara Pusat, dia masuk hutan. Di medan gerilya, dia diangkat Mayor Malik menjadi kepala instruktur pelatihan resimen pelajar dan mahasiswa di dekat Bayang. Saat itu Basyir berpangkat Pembantu Letnan Dua (Pelda).

Menatap Indonesia di hari tuanya sekarang hanya bisa dilakukannya di muka televisi. Ketika mahasiswa ditembaki pada Mei 1998, dia marah besar. Ketika Soeharto diturunkan aksi mahasiswa, dia turut bersorak gembira. “Soeharto sama saja dengan Soekarno,” katanya. Lama-lama memerintah malah menjadi sewenang-wenang. Di usianya yang masih tersisa, Basyir tidak ingin banyak berharap. “Orang-orang besar kita dulu melawan kesewenang-wenangan Belanda dengan memberi penyadaran pada bangsa kita melalui pendidikan. Kami dulu melawan kesewenang-wenangan pemerintah dengan mengangkat senjata, sekali pun kalah, kami bangga bisa melawan.

Tugas kalianlah sekarang yang muda-muda, tunduk saja pada ketidakadilan, atau juga melawan seperti kami,” katanya tersenyum. “Tentu melawan sesuai zaman kalian pula!”

Laporan: Fatris M- Harian Haluan RABU, 25 MEI 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *