DARI SINGAPURA, KUCARI CINTAMU HINGGA PULAU-PULAU TERLANTAR DI TIMUR SUMATERA

Nguyen, gadis kecil dalam pelayaran besar. Pelayaran ribuan orang Vietnam lari dari negaranya yang tengah dilanda perang. Pelayaran tanpa peta, tanpa kompas dan penunjuk arah yang jelas, mereka mencari suaka ke negara lain. Terkatung-katung di tengah lautan berbulan-bulan lamanya, hingga terdampar di sebuah pulau kecil di pesisir timur Sumatera. Apa yang terjadi, Nguyen?

 

Lewat jendela pesawat yang setengah buram, gugusan pulau-pulau kecil di perairan Batam itu tampak seperti sobekan permadani hijau yang dijatuhkan ke bumi. Konon, di abad ke-18 pulau-pulau itu merupakan tempat persinggahan para lanun, para perompak lautan. Mereka membangun markas-markas penyimpanan di sana, mengikat perjanjian-perjanjian untuk tidak menginjak daratan. Bagi mereka, pulau-pulau kecil itu bukanlah daratan. Sebab, daratan adalah ketika kau tak bisa melihat lautan, tak dapat mendengar debur ombak, merasakan belaian angin. Daratan bagi mereka adalah benua yang menghampar luas.

Entah dari mana para perompak lautan itu datang. Orang kata dari Mindanao. Atau pulau-pulau kecil antara Filipina dan Sulawesi. Tak jelas. Yang pasti, mereka adalah para pelaut ulung, yang berangkat bersama  angin yang bergerak sekali semusim. Angin dari utara benua yang menyerong terus ke barat daya. Orang Melayu menyebutnya angin samun, angin yang membawa para penyamun, para lanun. Mereka merompaki kota-kota pesisir timur dan kapal-kapal dagang yang melintasi Malaka. Mereka akan pulang di musim yang lain, ketika angin berbalik arah. Sambil menunggu, mereka menginap di pulau-pulau yang seperti gumpalan hijau  dilemparkan dari langit itu, walau sekarang telah banyak yang tandus.

Di antara gugusan pulau-pulau kecil itu, ada sebuah pulau hendak saya kunjungi. “Kalau kau sempat ke pesisir timur, jangan lupa ke Pulau Galang. Di sana kau akan tahu arti filosofi kuno Melayu: Jika takut mati berarti harus berani hidup!” kata dosen saya, Ramadhani, kepada saya, dulu sekali, ketika saya masih duduk di bangku kuliah yang penuh sesak dan membosankan. Bangku kuliah yang sarat khotbah. Dan sebentar lagi pesawat yang saya tumpangi akan mendarat di Bandara Hang Nadim—tokoh mitologi Melayu yang dinobatkan namanya untuk bandar udara. Tapi, saya tidak ingin langsung ke Pulau Galang. Saya hanya transit di sini. Saya hendak ke Singapura, melancong ke negeri dengan biaya hidup termahal di Asia itu. Apa yang ingin saya lihat? Entahlah. 

We are all in this huge system, and how do we find ourselves as persons? 

Kuo Pao Kun menulis tentang negaranya, Singapura, pada tahun 2001. Sekarang, saya datang ke negara yang sebelum abad ke-14 bernama Temasek itu, dan Kun telah tiada. Kun memang tidak bisa dipisahkan dari pergerakan kesenian di Singapura. Naskah-naskah drama yang ditulisnya cukup satir menggambarkan hidup di negeri kaya ini. How do we find ourselves as persons? Eh, saya tidak hendak menjumpai Kuo Pao Kun. Ia telah meninggal. Saya terhenyak duduk di bangku sebuah kafe di kawasan Little India pada suatu siang bersama seorang tua kesepian dan seperti kehilangan teman bicara. 

Seorang warga Singapura yang tengah mengikuti wajib militer di Sungapura (kiri). Turis asal India tengah berpose (kanan)

“Awak tahu, di sinilah tempat orang Indonesia menghabiskan uang,” katanya membuka obrolan. Melihat wajahnya, saya jadi membayangkan Kun tua dan naskah-naskah sandiwara yang ditulisnya sebelum ia meninggal. Tapi, lelaki tua di samping saya ini bukanlah Kun yang karyanya pernah saya baca. Ia dipanggil Lee. Lee hidup sebatang kara di tengah negara kaya. Istrinya sudah tiada, dan kedua anaknya bekerja di Eropa sana.”Orang Melayu seperti you ni, tak nak betah lah di sini,” tambahnya lagi dalam bahasa Melayu beraksen pincang, kadang bercampur bahasa Inggris. Kami sama-sama minum kopi, sama-sama tertawa. Sebab, tak ada yang bisa dilakukan dua orang dengan rentang usia yang berbeda selain berbincang dan tertawa. Menertawakan keadaan.  Saya menghadiahinya dua bungkus rokok Indonesia yang saya selundupkan kemarin di dalam celana.harga tembakau yang sama bisa menjadi sepuluh kali lipat di sini. Menyalami saya untuk kedua kalinya, salam yang berarti terimakasih. “Di kampung saya, rokok ini hanya pembuka obrolan. Tidak ada harganya,” kata saya sedikit pongah. Kemudian kami sama-sama tertawa kembali. Tertawa karena tidak ada yang bisa ditertawakan.

Hanya dua hari setelah bertemu Lee, saya meninggalkan negara megah Singapura. Apa yang saya cari ke sini? Saya sendiri tak punya jawaban. Saya hanya turun-naik kereta api bawah tanah yang disebut MRT, masuk pusat perbelanjaan satu ke pusat perbelanjaan lainnya dan tak satu pun berhasil saya beli kecuali kartu MRT seharga $SG 12. Ruang tempat menghisap tembakau yang susah payah dicari, dan semua makanan terasa mahal untuk kantong saya. 

Satu hari sebelum saya meninggalkan Singapura, saya berada di depan patung singa yang menyemburkan air, melihat wisatawan saling berebut tempat berfoto dengan latar singa dan gedung-gedung tinggi puluhan lantai. Sesekali saya memandang ke laut jernih yang dipenuhi kapal. Kadang, wisawatan lain duduk di samping saya. Kami saling bercerita negeri asal, ngobrol tak tentu arah. Entah mengapa, terkadang kita merasa butuh bercerita, ngobrol dengan orang asing tanpa harus bertukar nomor telpon, bahkan tanpa harus tahu nama. 

Dari patung singa yang menyemburkan air dari mulutnya, saya menju ke Kampong Buangkok yang pernah saya baca di internet sebagai kampung Melayu terakhir di Singapura. Namun, saya keliru. Setelah sampai di Kampong Buangkok, saya hanya menemui gedung-gedung tinggi. Saya tanya pada warga, tapi jawabannya nihil. Saya lacak situsnya di android saya, tapi tidak bisa. Saya masih memakai kartu seluler Indonesia. Ah, saya turis malang yang tersesat di negeri kaya. Dan saya kembali naik MRT menuju kawasan Bugis, China Town, semua terasa sama. Pusat belanja dimana-mana. Ujungnya hanya kejenuhan. “Kamu musti coba naik itu, “ kata seorang gadis cantik bermata sipit pada saya sembari menunjuk ke kereta gantung di langit Singapura yang biru.  Melihat monorail, menuju Pulau Sentosa di seberang sana, atau naik kereta gantung. Ujungnya tetap kejenuhan.  

Tapi, saya bukan satu-satunya orang asing yang jenuh di sini—tentu saja. Saya bertemu Maria di kawasan Tanah Merah. Ia seorang peneliti sastra yang tertarik dengan mitologi timur. Kami berbincang. “Baru dua minggu saya di sini, dan saya merasa separuh badan saya telah jadi robot,” katanya sembari mengangkat bahu dan memesongkan bibir. Ia berasal dari negara dunia ketiga, Filipina, yang tak jauh berbeda dengan negeri saya—negeri bebas dalam artian sebenarnya. “Tahun esok saya akan ke Indonesia. Ke tempatmu tentunya, “ tambahnya lagi. Jantung saya berdebar tak keruan.  

Sebuah negara yang luas wilayahnya tidak jauh lebih besar dari Pulau Nias, dengan harga kebutuhan hidup yang cukup tinggi— ditambah lagi sekeranjang aturan—akan membuat orang-orang penggila kebebasan dari dunia ketiga seperti saya dan Maria tidak betah. Atau saya mungkin berlebihan. Sebagian orang menyebut Singapura sebagai surga. Surga modern yang teratur. Betapa tidak. Gedung-gedung tinggi bagai hendak menjilat langit, kereta listrik di dalam perut bumi berjalan tiap saat. Jalan aspal yang mulus tanpa polisi lalulintas, tapi tidak pernah satu kendaraan pun yang menerobos rambu-rambu. Tidak ada orang merokok di tempat umum, meludah sembarangan, mengumpat tak tentu arah, kencing di tempat terbuka.  Siapa sangka, negeri tempat Raffles membentuk koloni dagang pada 1819 ini begitu teratur, begitu megah, begitu membuat takjub. 

Ketika awan kelam bulan Juni 2008 datang menutupi langit Singapura dan angin bertiup sempoyongan dari Malaka, saya berangkat. Kapal Sindo Ferry membawa saya menyeberang dari Harbour Front Singapura menuju pelabuhan Batam Center di Pulau Batam.Nyaris seluruh isi kapal ini adalah orang Indonesia, dan hampir semua memanggul kantong belanja yang banyak dengan berbagai merek. Tertawa-tawa, potret sana potret sini, menggigit coklat batangan. Dan, sepertinya, mereka memang baru saja keluar dari surga. Wajah mereka berseri-seri. 

Kapal berjalan sudah, meninggalkan surga belanja, menikung, melewati kapal-kapal besar yang sedang melego jangkar. Laut Singapura bagai hamparan karpet biru tanpa noda, bersih. Resor dan tempat wisata yang banyak menjamur di pinggiran Singapura itu tampak ramai oleh wisatawan. Tapi, kalaupun hanya sebatas resor dan pantai, di kampung saya di pantai barat Sumatera sana jauh lebih banyak—gerutu saya dalam hati. 

Kapal cepat Sindo Ferry menikung, melewati selat biru, selat batas negara yang termashur di masa lalu sebagai salah satu pusat perdagangan dunia. Selat yang berabad-abad tiada henti disinggahi  kapal dagang, hingga saat ini, setidaknya sejak Thomas Stamford Raffles membuat East India Company, pada awal abad-19 di Singapura. Tak hanya sampai di sana. Selat yang mempertemukan Malaka, Batam dan Singapura ini juga tersohor karena perompaknya yang ganas di masa lalu. Para perompak yang membuat nyali kapten kapal-kapal dagang ciut itu bagai membeku dalam legenda. Sekarang, Selat Malaka telah aman, Singapore Strait berada di bawah kontrol moncong meriam tentara Singapura yang siap menyemburkan api. 

Samar-samar, pesisir Batam mulai tampak. Segala ketakberaturan mulai membayang: klakson mobil, semrawut, kontradiktif, dan entah apa lagi. Tapi, apa yang saya cari ke Batam ini seorang diri? Terkadang kita memang tidak punya alasan yang jelas untuk berangkat, meninggalkan rumah, dan kemudian kembali. Kapal merapat sudah.  

Malam menyambut saya, lelampu dan tulisan Selamat Datang Kabilah MTQ ke XXV di Provinsi Kepulauan Riau. Tiga hari lagi, para pembaca ayat suci dari berbagai penjuru akan datang dan berkumpul di sini, berlomba mendengungkan kalimat-kalimat suci.  Saya menumpang kendaraan menyururi pusat kota Batam. Hotel dan tempat penginapan menjamur banyaknya sebagaimana diskotik dan klab malam, tempat musik berdentum menyesakkan dada. Di malam akhir pekan seperti ini, diskotik sesak, orang-orang akan menghilangkan kejenuhan seminggu bekerja dalam satu malam. Dan, malam baru saja dimulai di Batam. 

Saya menelpon seorang teman. Olly namanya. Saya ingin menginap di rumahnya. Rumahnya sebuah ruang tiga kali tiga meter yang panas. Inilah yang disebut teman saya, Olly, sebagai rumah. Tidak ada kipas angin untuk mengusir gerah. Tak ada tanda-tanda kehidupan, selain sebuah ranjang, lemari dan dua buah bantal. Dari belasan kamar di rumah susun ini, hanya memiliki dua kamar mandi yang ditaruh di lantai bawah. Olly hanya mengantar saya ke ‘rumah’nya, dan kemudian kembali lagi ke diskotik.  

Pintu saya biarkan terbuka agar angin bebas masuk. Musik dari penghuni kamar atas menyeruak masuk ke ruangan saya. Sesekali dibarengi cekikikan derai tawa perempuan. Tubuh terasa capek, tapi mata saya tidak kunjung mau tidur. Suara musik itu, entah apa lagi, membuat saya tidak bisa memejamkan mata. 

“Kenapa sendiri ja?” seorang perempuan berbaju sempit dan celana pendek sekali, muncul di ambang pintu. Saya sedikit terkejut dan tidak tahu musti menjawab apa, karena kenyataannya saya memang sendiri. Kemudian kami berkenalan. Ia bercerita tentang Batam, tentang pekerjaan yang tak menentu. “Saya freelence ,” katanya. “Maksudnya?” saya bertanya tidak mengerti. “ Ya, freelence,” katanya lagi menegaskan. Saya menganggukkan kepala, mengangguk karena tidak mengerti. 

Seorang lelaki datang dan menghampiri kami. Gadis itu kemudian pamit. Saya kembali ke dalam kamar. Menutup pintu, dan tidur dalam gerah cuaca malam Kota Batam. 

Pagi, Olly baru datang. Saya pamit padanya. Tapi, hendak ke mana saya? Angkutan kota di sini sangat tidak populer dibanding taksi dan ojek. “Mari saya antar,” Sudirman, seorang tukang ojek, menawarkan jasa pada saya di sebuah perempatan daerah Baloi. Kami berkeliling kota, menyambangi pantai-pantai hingga cuaca siang terasa begitu terik. Pada sore hari, saya berputar-putar tak tentu arah. Melihat pantai Nongsa yang cantik. Di kota industri yang berantakan ini, ternyata ada juga pantai yang menawan. 

Lagi-lagi, malam datang seperti selimut hitam dibentangkan dari langit. Orang-orang kembali bergegas menyalakan lampu. Batam bagai tak ingin tidur, dan memang tidak pernah tidur. Nguing sirine pertukaran jam kerja di pabrik-pabrik kawasan Muka Kuning, membuat jalanan dipenuhi orang yang lalu lalang. 

Di atas puncak sebuah bukit di tengah Kota Batam, masyarakat di sini menyebutnya Bukit Cinta, ada sebuah kafe. Saya duduk bersama Yudha Antoni, teman saya, sambil memandang kerlip lampu kota dari ketinggian. Seorang perempuan duduk di sebelah meja kami. Sendiri. Ia memesan segelas kopi, menghisap rokok sisha dengan tabung bening. Sesekali ia melepaskan pandangan ke bawah, tampak dari kejauhan lelampu kota bertebaran. Ia mengembuskan asap ke udara, ke cuaca malam yang basah. 

Antoni pamit, karena malam telah terlalu larut. Tapi, saya masih di atas Bukit Cinta ini. Saya ingin sendiri di kota ini, kata saya dalam hati. Membiarkan diri tersesat di belantara kota industri yang sibuk ini tentu tak ada salahnya. Untuk menemukan sesuatu yang baru, kadang kita butuh teresat, bukan? Saya mulai mengada-ada.

Seorang gadis di atas pancung
kamp 1
kemp 2
Selamat datang di beranda rumahku
Seorang gadis di atas pancung kamp 1 kemp 2 Selamat datang di beranda rumahku

Hujan yang turun membuat malam serasa lebih lama biasanya. Langit kota Batam telah diselimuti kelam. Tanpa berpikir panjang lagi, saya menyetop taksi, berkeliling kota Batam pada malam hari. 

Malam di Batam adalah raung mesin, derap sepatu ribuan buruh pabrik yang pulang dengan dentang lonceng dan nguing sirine. Entah bagaimana orang-orang bertahan hidup di kota industri ini, kota yang tidak mengenal jam malam. Karyawan pabrik pulang-pergi, bergantian jam kerja. Dentuman musik dari klab malam, gemerlapan kota yang tak ada matinya, terdengar menyelinap pelan masuk lewat jendela taksi yang saya biarkan terbuka. Kota ini seperti tak pernah tidur, dan memang tak pernah tidur. Namun, saya yakin, dari cerita dan kisah-kisah lama orang-orangnya, betapa banyakcerita yang disimpannya, begitu dalam rahasia yang ditanggungnya.  Seberapapun majunya sebuah kota, ia tak akan bisa benar-benar terlepas dari mitos dan cerita, dari beban dan derita. 

“Ini Bukit Senyum, tak perlu singgah di sini. Dari seratus orang di sini sembilan puluh tiganya adalah orang jahat,” kata supir taksi yang saya tumpangi menunjuk pada sebuah bukit landai yang ketika malam rumah-rumah di pinggangnya gemerlapan oleh lampu. Saya ketawa, dia tertawa. Kami bercanda dalam dingin malam. Taksi melaju kencang, membelah malam yang penuh lampu. 

Di satu pojok lapangan parkir diskotik, taksi yang saya tumpangi berhenti. Kita duduk di sni dulu, kata Amrizal. Ia menawarkan minuman penghangat tubuh. Kami bercerita. Waktu mulai larut dalam tengah malam, tapi suara penyanyi dari beberapa klab dan tempat karaoke terdengar makin meninggi, melengking dan bercampur baur antara satu klab terbuka dengan klab lainnya, saling mengimpit. Setelah malam cukup larut, beberapa pengunjung pulang. Dari pengunjung inilah, Amrizal menawarkan jasa taksi. Dari sisa setoran menyetir taksi dengan nomor polisi berwarna hitam ini, tiga orang anak Amrizal bisa makan dan sekolah. 

Telepon genggam saya berdering, seorang teman lama menawarkan tempat menginap pada saya: sebuah kamar seukuran sel penjara. Hampir sama dengan tepat tinggal Olly, hanya saja lebih besar, jumlah kamar lebih banyak dan kamar mandi terletak di dalam kamar. Rumah yang disusun bertingkat-tingkat, yang dihuni buruh pabrik dan orang-orang setengah menganggur. Di rumah kotak-kotak yang sempit ini mereka hidup, beranak, dan berbahagia tentunya. Entah kebahagiaan macam apa, saya tak perlu bertanya dalam tulisan ini. Akan terdengar klise nantinya, atau terkesan mengada-ada. 

“Istirahatlah, saya kerja dulu. Kerjamu masih membual, bukan? Nanti kita ngobrol, ya, ” kata teman saya sembari meletakkan kunci kamar dan kemudian berlalu dengan tergesa sekali entah mengejar apa. Tampaknya, orang-orang di kota besar memang suka terburu-buru. Apalagi kota industri seperti Batam ini. Siapa yang memburu mereka? 

Seorang perempuan mengenakan rok pendek sekali—saking pendeknya, antara rok dan celana dalam hanya dipisahkan oleh sebuah garis imajiner yang membuat saya setengah takut menuliskannya di catatan perjalan ini. Entah kenapa, saya merasa de javu. Dan entah mengapa, perempuan kota industri ini suka sekali berpakaian minimalis pada malam hari. 

Perempuan itu membuka pintu kamar yang terletak di sebelah kamar yang saya tempati. Tak lama, ia keluar dan menatap saya dengan sorotan sendu memabukkan. Hanya sejenak, ia masuk lagi ke kamarnya. Tatapan itu, seperti magnet besar yang menarik sebuah paku kecil. Lagi-lagi, entah kenapa setiap saya tinggal di rumah susun harus bertemu perempuan cantik penuh godaan. Entahlah, Tuhan sedang bercanda dengan saya, atau sedang menguji saya. 

Tak lama. Pintu bergambar Marlyn Monroe itu kembali dibuka. Perempuan itu keluar lagi dari kamarnya, dan melangkah ringan ke arah saya yang termangu di depan pintu kamar saya. Gaunnya tipis sekali, seperti kostum yang dikenakan hantu-hantu cantik dalam film horor Indonesia. 

“Orang baru, ya?” sapanya pelan sekali sambil mengulurkan tangan. Saya menganggukkan kepala, menyambut tangannya yang lembut. Aroma parfum dari ketiaknya seperti hendak merontokkan bulu hidung saya. Aroma parfum itu, mengingatkan saya pada seseorang perempuan yang sekarang entah di mana. Mata saya masih menerawang menatap langit-langit rumah susun, entah karena kantuk atau kecapekan dan perasaan yang bercampur aduk.

“Kita bertetangga sekarang. Kalau ada apa-apa, aku siap membantu,” katanya lagi. “Mau aku buatkan minum?” Saya menggeleng, menolak karena diamuk kantuk yang tak tertahankan. Di lantai atas, penghuni rumah susun lain menyalakan musik dangdut, dentumannya bagai menyesakkan jantung dan menyumbat laju pembuluh darah. Tapi, saya tertidur juga akhirnya. Terlelap dalam dengkur dan irama syahdu orkes Melayu: seharusnya engkau berada.a.a.a.. di sisiku wahai sayangku…

***

Pagi yang berisik, pelabuhan Sekupang penuh orang yang hendak berangkat ke berbagai pulau. Perahu-perahu kecil bermesin tempel yang memuat sepuluh penumpang itu saling meraung, saling menikung. Masyarakat di sini menyebutnya pancung. Pancung-pancung ini telah ada sejak puluhan tahun silam. Ia merupakan sarana transportasi yang menghubungkan pulau kecil satu ke pulau kecil lainnya. Ratusan jumlah pancung itu.

“Sebelum orang Vietnam terdampar di Galang, pancung ini telah ada,” kata seorang tekong—sebutan untuk nakhoda pancung—kepada saya. 

Orang-orang Vietnam? Terdampar? Saya seperti mendengar sebuah bisikan dalam bahasa yang tidak saya ketahui. Pikiran saya terlempar ke lembaran-lembaran novel yang dulu pernah saya baca. Saya ingin kembali ke kisah dalam lembar-lembar novel itu. Kisah  seorang gadis kecil bernama Nguyen, yang terdampar di Pulau Galang bersama ribuan orang lainnya yang lari dari perang di Vietnam.  Vietnam yang seperti neraka, dan ribuan orang memilih lari dari negara petani itu dengan perahu. Ribuan manusia perahu berlayar tanpa kompas, tanpa penunjuk arah yang jelas. Terkatung-katung di laut lepas tanpa haluan yang pasti  lalu terdampar di Malaysia. Di negeri Siti Nurhaliza itu mereka diusir. “’Indonesia di sana,’ kata seorang prajurit angkatan laut Malaysia melepas telunjuk ke laut lepas”—begitu kira-kira kalimat yang saya ingat dari novel itu. Akhirnya orang-orang perahu itu terdampar di Pulau Galang dengan tubuh yang teramat lemah karena terombang-ambing di lautan tanpa bekal yang cukup, bahkan ada yang sampai sebulan di lautan. Nguyen, kau kah gadis kecil yang ada di sesak perahu itu?

Di dermaga kecil Sekupang, orang-orang dengan langkah gontai turun-naik ke atas pancung. Saya mencoba membeli satu tiket di loket karcis. “Mau ke mana?” tanya petugas loket.  Saya terdiam dan belum  tahu hendak berangkat ke mana. Tapi, apa pentingnya tujuan bagi Bapak ini, toh saya telah merelakan diri untuk dibawa pancung ke lautan lepas sana tanpa bertanya ke mana arahnya. Tidak ada salahnya untuk tidak bertanya, bukan? Saya diam, barangkali dianggap seperti orang yang telah terbiasa naik pancung. Dia menyodorkan satu kertas kecil 10 x 5 cm berwarna biru. Tertera: “Sekupang-Belakang Padang Rp. 10.000,- ”. 

Di atas pancung saya duduk bersisian dengan penumpang lain. Seorang anak bermain gelembung sabun saat mesin menyala, dan pancung tua itu merayap di atas gelombang betapa perkasanya. “Ah, di mana Pulau Galang?” tanya saya dalam hati. Saya sudah bersikeras bahwa perjalanan kali ini akan saya jalani tanpa bertanya arah, tanpa melihat peta, biarkan ‘hantu perjalanan’ membawa ke mana dia mau membawa. “Orang harus tersesat untuk tahu jalan.” Huh, agak klise memang, terlalu sloganistik memang, tapi biarlah.  “Mungkin saja di balik pulau Belakang Padang ini,” saya memutuskan menjawabnya sendiri tanpa ada kepastian tentang kebenarannya. 

Di atas pancung, penumpang berbincang tentang apa saja tanpa perlu tahu nama lawan bicara. Barangkali ini yang lebih khas dari masyarakat kepulauan. “Ini pukat bagus, nilon dan benangnya kuat,” seorang lelaki tua bercerita tentang pukat yang ia bawa. “Kalau kau butuh pukat, aku bisa membuatkan,” katanya menawarkan diri pada saya. Apa yang saya tahu tentang laut, pukat, arus, kehidupan nelayan?  Atau perompak ? Tidakkah selamanya ini saya hanya mengetahuinya dari dalam buku? 

Pancung tua dengan mesin tempel tua, merayap membelah lautan. Sengatan matahari cukup kuat, namun tidak terasa panas karena tiupan angin. Gadis kecil yang tadi bermain gelembung sabun, pindah dari pangkuan  ibunya ke sisi saya. Ia kembali mengocok mainan air sabun yang mengeluarkan gelembung-gelembung kecil yang ditiup angin. Ingatan saya kembali ke Nguyen kecil dalam novel itu, hidup berminggu-minggu di atas perahu kecil seperti pancung ini bersama puluhan orang dewasa, terkatung-katung di laut tanpa makan, tanpa arah yang dituju, tanpa mainan, tanpa gelembung-gelembung sabun. 

Pancung menyisir pulau-pulau kecil, akhirnya berhenti di Belakang Padang. Di pulau kecil ini pancung-pancung parkir, menambatkan tali, memperbaiki mesin, istirahat. Rumah makan tepi pantai yang menyediakan makanan laut begitu menggoda untuk mengajak singgah. Udang, kepiting, tuna bakar, entah jenis apalagi, terhidang di balik etalase. Dalam keadaan lapar seperti ini, saya merelakan diri untuk tergoda masuk dan memesan jenis-jenis itu. Angin berhembus sejuk dari utara, ombak-ombak kecil menghempas ke tiang-tiang rumah makan. Ada juga warung makan yang terapung yang banyak didatangi tekong pancung. Persis seperti Rertoran Baratie dalam dongeng banjak laut One Piece. Sepertinya orang di sini agak antipati dengan daratan, hingga untuk makan dan istirahat pun mereka masih memilih di atas laut.

“Ow, pulau itu jauh dari sini. Jarang sekali pancung yang memilih rute ke sana. Laut sedang pasang. Lagi pula ombak di sana besar-besar. Memang mau cari apa ke sana?” gadis penjaga warung makan itu malah berciloteh dengan logat Melayu yang kental. Padahal saya cuma bertanya ‘tahu Pulau Galang, tak?’ ketika dia menghidangkan nasi dengan tuna bakar dan gulai cumi dengan kuah yang kental. (Saya menyerah juga akhirnya dan bertanya arah ke Pulau Galang). 

Masyarakat di Belakang Padang, juga pulau-pulau kecil yang tersebar di dekatnya, menggantungkan hidup dari melaut, menjadi tekong, jadi pegawai negeri. “Syukur, jumlah mobil di pulau ini telah bertambah, dari dua menjadi tiga. Truk sampah sudah diperuntukkan, selain mobil ambulans dan mobil jenazah yang lebih dulu ada.”  Dia mulai mengoceh lagi. Bibirnya merah merekah seperti warna bumbu pada ikan bakar. Tak berapa lama ia berlalu, kemudian muncul lagi dengan menyuguhkan saya satu gelas teh dingin. Ia duduk di samping saya, kini. Entah Tuhan sedang bercanda dengan mengirim bidadari Melayu bermata sendu ini untuk saya. Tuhan terkadang punya kejutan, kejutan yang tidak bisa ditebak. Gadis itu menawari saya tumpangan perahu milik bapaknya.

Kami naik perahu mengitari pulau-pulau kecil. Angin dari Malaka menampar kuncirnya. Rambutnya tergerai, seperti mayang terurai dari pokoknya. Ia berciloteh tentang pulau-pulau kecil yang banyak, yang tak dihuni, yang berhantu, yang dipenuhi mutiara—dan ia ingin memilikinya. Saya mendengarkan penuh takjub hingga lupa akan nama pulau-pulau yang disebutkannya. Ombak pantai timur Sumatera menampar dinding perahu kami, tamparan yang pelan saja. Ia tersenyum dalam kuning cahaya sore. Langit pesta pora dalam warna jingga laut Melayu. 

Matahari perlahan surut. Tak ada pancung ke Galang. Angin dari Malaka kembali bertiup sempoyongan bak pendekar mabuk. Tiba-tiba, saya kembali ingin terlantar di sini, bersama debur ombak pantai timur ini. Tak ada nelayan yang ingin ke Pulau Galang. Harapan saya pupus. Tak ada perahu ke sana. “Kau bisa menginap di sebelah warung saya. Terima saja, jangan keras kepala!” Gadis Melayu itu memaksa. Malam datang. Dimana-mana, malam selalu saja sama: gelap. 

***

Pagi sekali saya telah kembali ke Pelabuhan Sekupang. Udara telah dipenuhi debu yang dihamburkan roda kendaraan silih berganti.  Jalan panjang berliku, kampung-kampung kecil yang sepi, ladang buah naga yang terhampar miring di bukit-bukit kecil. Tak ada pancung ke Pulau Galang. “Sudahlah, naik angkutan saja. Sewa saja taksi, jalan sekarang telah sampai ke sana. Bayangkan, enam jembatan telah dibuatkan Habibie untuk sampai ke sana, kau harus lihat, ini perubahan,” kata seorang tua sambil menghisap rokoknya. Lelaki tua yang saya lihat senja kemarin di berpusing-pusing di rumah makan apung.

Saya pilih menaiki motor, soalnya tidak mungkin berjalan kaki di saat seperti ini. Teman saya telah menawarkan taksi atau mobil-mobil mewah seperti Toyota Harrier, Celica, Nissan terano, Pajero, yang begitu mudah didapatkan di sini. “Hanya dengan tiga ratus ribu rupiah, kau bisa mengendarainya, kawan, seharian penuh. “

Dia lebih menyarankan kalau kami pakai mobil double-deck  milik teman kakaknya. Tidak, saya menolak.  Bagaimana bisa merasakan denyut perjalanan, kalau hanya bisa melihat dari jendela mobil dengan AC dingin menyala, bagaimana kau bisa merasakan sengatan matahari di pulau ini, jika kau hanya berdecak kagum dari atas jok mobil. Saya pilih naik sepeda motor teman saya, setidaknya, kendaraaan ini tidak membatasi kita dengan alam, dengan udara. 

Sepeda motor melaju melewati jalan berliku. Sekali kami berhenti di jembatan Barelang. Di kisi-kisinya, beberapa pedagang menunggu, menawarkan kepiting dan udang. Saya makan dua keping. Renyah sekali.Teman saya yang membayarnya. Saya tak tahu persis berapa harganya. Jembatan panjang yang menghubungkan Rempang dengan Batam ini seakan ingin menghubungkan sesuatu. Jurang terjal yang dalam, hempasan ombak yang menampar karang, seakan tak ingin lepas dari pagut lautan. Saya seperti berada di dunia atas laut, begitu raksasa jembatan yang memintas lautan ini dengan kawat penyangga dan tiang-tiang besar menghujam bumi.

Motor sesekali meraung mendaki tanjakan demi tanjakan, jalanan sepi dan hanya sesekali saja mobil melintas. Jembatan Tonton-Nipah, Nipah-Setoko, dan Setoko-Rempang, tinggal sudah. Kanan-kiri hutan penuh belukar yang sebagian besar telah tandus dan menguning sehabis ditebang.

Saruddin di depan kumpulan foto pengungsi Vietnam Pulau Galang
potret pengungsi di pulau galang2
Pancung-pancung di Pulau Belakang Padang
potret pengungsi di pulau galang
Saruddin di depan kumpulan foto pengungsi Vietnam Pulau Galang potret pengungsi di pulau galang2 Pancung-pancung di Pulau Belakang Padang potret pengungsi di pulau galang

Saya tertegun, sepeda motor berhenti. Sebuah papan petunjuk terbuat dari lempengan logam dengan cat dasar hijau bertuliskan EX CAMP VIETNAM, seperti rongga besar yang hendak menyedot saya ke masa lalu. Di sana-sini tertulis “Galang, Memory of a Tragedic Past”, saya tak bisa mengira-ngira bagaimana tragedi masa silam itu di Pulau Galang ini hingga sebegitu pentingnya untuk dituliskan. Saya tiba-tiba ingat dengan dosen saya, Ramadhani. “Saya tak sanggup menatap mata mereka, kulit mereka telah terbakar, ada yang telah bernanah. Tuhan, dosa apa yang telah saya buat, higga diingatkan lagi pada mereka,” katanya dulu, satu kali hingga ia menyarankan jika ke pesisir timur, jangan lupa ke Pulau Galang. Ia salah seorang relawan yang dulu dikirim ke Galang. Di kulitnya yang telah kendor, air mata mengalir bercucuran. Perempuan tua yang tiap harinya ceria itu tiba-tiba menangis terisak. Saya merasa bersalah yang teramat sangat telah mengingatkannya pada sebuah tragedi. Galang, misteri apa yang kau kandung?

Saya menghampiri petugas loket yang kesepian itu dan mengajak ngobrol. Saya bagai bertemu teman lama saja, dia pun sepertinya begitu. Ketika hendak masuk ke lokasi camp, saya tidak dipungut bayaran sebagaimana wisatawan lainnya, barangkali karena telah melayaninya ngobrol.

Kami berjalan-jalan mengitari camp, seperti dulu saya masuk di sebuah kampung di Aceh sana, ketika perjanjian damai RI-GAM belum tercipta. Sepi, tak berpenghuni. Barak penampungan pengungsi yang berjejer, rumah sakit, gereja, sekolah, penjara, kuburan. Saya memasuki lokasi pemakaman Ngha Trang Grave,  berjalan melewati tubir, menelisik nama-nama di nisan itu. Betapa banyak nama Nguyen di sini. Barangkali ‘nguyen’ sama dengan ‘cut’ atau ‘tengku’ di bagi orang Aceh, atau ‘puti’, ‘bagindo’ bagi orang Minangkabau, atau ‘raden’ bagi orang Jawa. 503 makam yang terdiri dari pengungsi Vietnam dan Kamboja yang beragama Kristen dan Budha. “Besarnya jumlah kematian saat itu diakibatkan karena berbagai penyakit yang mereka derita selama berlayar berbulan-bulan di laut lepas. Selain itu depresi mental membuat kondisi fisik mereka semakin lemah.”  Begitu tertulis di plakat di perkuburan itu.

Di tahun 1979, Vietnam dilanda perang saudara yang tak terelakkan.  Orang-orang dari Vietnam Selatan, yang kebanyakan tidak menganut paham komunis, memilih untuk meninggalkan Vietnam dan berlayar dengan perahu-perahu kecil, dihempas ombak dan gelombang, diterpa badai, juga panas yang membakar kulit. Orang-orang itu, manusia-manusia perahu itu, yang akhirnya terdampar di Pulau Galang. Salah seorang dari manusia perahu itu, Nguyen kecil dengan rambut dikepang. Nguyen, apa yang terjadi? Ia yang akhirnya diperkosa setelah kegagalan cintanya dengan seorang lelaki pribumi Pulau Galang. Cintanya kandas, cintanya tak terbalas. Dalam keputusasaan, ia mengakhiri hidupnya dengan seutas tali. Membiarkan rohnya terlepas dari raganya. 

“Tidak! Ia dibunuh,” kata Phlipus, seorang tua yang dari tadi bermenung di bangku taman taman. Teman-temannya, yang merasa sepenanggungan nasib dengannya di pengungsian, membuatkan tugu seadanya—kata lelaki tua itu melanjutkan. Tugu mengenang seorang perempuan di barak pengungsian. 

Sekarang saya berdiri di hadapanmu, berdoa. Nguyen yang dipahat di rimbun rimba raya.  Tempat di mana kau menemui ajal, dalam cinta yang sekarat, dalam sakit yang tak terperikan. Saya terbata-bata hendak melafaskan apa dalam doa. Nguyen yang di surga. Beberapa sesajen terletak begitu saja di bawah tugu, sepertinya sudah lama. Saya merasa malu sendiri, karena tidak membawa apa-apa, selain kamera dan beberapa catatan-catatan kecil. Tapi setidaknya saya membawa doa, pikir saya menenangkan hati. Kami terus berkeliling menghirup udara yang sejuk. Pohon-pohon besar dan lebat di kanan-kiri membuat sengatan matahari tidak terasa sama sekali.

Tak jauh dari tugu itu, barak-barak pengungsian terhampar, tak terurus. Sebagian telah lapuk dimakan rayap dan belukar telah menjalari hingga tiang-tiang tertinggi. Barak-barak yang dulunya menampung ribuan pengungsi Vietnam, yang sebagian kecilnya dari Kamboja, seperti sebuah kampung lama yang keluar dari halaman buku-buku sejarah. Ini adalah kali pertama saya merasa berjalan-jalan bukan hanya sebatas melihat keindahan alam. Realitas manusia justru lebih menawarkan eksotisme yang lain. Di tengah pemandangan pulau-pulau yang indah memesona, ternyata ada derita manusia yang ditanggungnya. Dan keduanya mesti mendapat tempat untuk dicatat. 

Saya bertemu  Saruddin Napitupulu di museum yang terletak tak jauh dari barak-barak itu. Sebuah museum yang penuh foto, potret wajah-wajah masa silam. Senyum dan tawa lebar para pengungsi, juga  kepangan rambut mereka tampak jelas di potret-potret itu. “Saya tidak bisa memastikan, yang mana yang Nguyen,” kata Saruddin sambil menggelengkan kepala. “Semuanya teman-teman saya. Saya kenal mereka. Mereka yang mengajarkan saya bagaimana membuat roti, membuat sandal, meracik minuman khas Vietnam yang enak, tanpa bayar. Mereka orang-orang baik,” katanya mengenang. Beberapa wisatawan mengangguk-angguk, termasuk dua orang turis berambut pirang yang entah mengerti cakap Melayu entah tidak. Mereka mendengar serius, Saruddin kian bersemangat berciloteh tentang masa lalu Pulau galang. Turis berambut pirang itu makin serius, Saruddin makin bersemangat. 

Beberapa wisatawan tampak asik berfoto dengan latar belakang perahu kayu—tak jauh dari tempat Saruddin duduk melayani pelancong yang ingin mendengar cerita tentang masalalu pulua ini. Dua perahu masih utuh, dua entah tiga lainnya telah tinggal kerangka. Tidak ada yang begitu menarik dari tampilan perahu lapuk yang panjangnya tak sampai 20 meter ini. Tapi, setidaknya perahu-perahu ini telah bersaksi bagaimana ia menyelamatkan ribuan manusia. “Perahu inilah yang dipakai para pengungsi mengarungi lautan Cina Selatan selama berbulan-bulan dan sejauh ribuan kilometer menuju berbagai belahan dunia dengan harapan dapat perlindungan dari negara lain, di antaranya sampai ke Pulau Galang ini dan sebagian dari mereka gagal mencapai daratan dan gugur di tengah lautan karena perahunya tenggelam”. Begitu tertulis di plakat depan perahu. 

Di tahun 1995, para pengungsi itu dipulangkan ke Vietnam oleh pemerintah Indonesia dan UNHCR, lembaga PBB untuk pengungsi. Sebagian menolak karena mengira bahwa situasi di Vietnam masih seperti dahulu ketika mereka meninggalkan Vietnam dalam kecamuk peperangan. Saya tidak tahu, apa arti tanah air bagi mereka, dan bagaimana perang menanam kebencian dalam diri mereka. Betapa banyak mereka yang mati saat meninggalkan tanah airnya. Mereka lebih memilih bunuh diri dari pada kembali ke tanah air. Itulah perang, tak ada yang disisakan dari perang selain rasa dendam dan rasa kehilangan. Sebagian dari mereka membakar perahu sebagai perwujudan dari aksi protes mereka agar tak dikirim kembali ke negara asal. Sisa dari pembakaran itu masih tergelatak di sini.

Matahari telah condong ke barat ketika saya bertemu lagi dengan Plipus, lelaki tua penjaga gereja. Gereja dengan lonceng yang tidak lagi berdentang. Matahari tepat di atas patung bersahaja Bunda Maria. Ke utara, dermaga kecil menunggu. Di timur, pantai membisikkan rayuan pulau kelapa. Menenteng kelapa muda, beristirahat dalam gereja kayu yang tua, tidakkah terasa begitu eksotik buat seorang pejalan, Nguyen? 

Di sisi lain, pemandangan truk yang sudah uzur dimakan karat, juga mesin-mesin yang tak terawat, tergeletak begitu saja di samping gudang yang dikelilingi kawat berkarat. Tak jauh dari gereja dan gudang, barak-barak pengungsian terhampar panjang tak terurus. Ilalang telah tinggi dan akar-akar pohon telah melilit dinding barak-barak ini. Ribuan pengungsi memempati barak ini, dulunya. Betapa depresi mereka yang bertahun-tahun mendiami ruangan yang disekat kecil-kecil ini, seakan hidup hidup dalam ketakpastian. Tapi, siapa yang bisa melihat kepastian akan masa depan? Mereka Tidur bergerombol berdesak-desakan. Di antara barak-barak yang ditinggal pengungsi ini, saya bermenung membayangkan Nguyen tertidur lelap di satu pojok ruangan.

Tak jauh dari barak, saya berhadapan dengan jeruji penjara, yang ternyata masih di dekat perahu pengungsi, tadi luput dari pandangan mata saya. “Kenapa mesti ada penjara di sini, Pak?” tanya saya kembali pada Saruddin yang masih melayani pengunjung. “Penjara, ya, gunanya buat narapidana. Lihat tulisan itu,” kata Saruddin tersenyum sambil menunjuk satu plakat. Ah, kenapa dari tadi tidak saya baca. Saya kelihatan semakin bodoh di depan Saruddin. 

Di plakat itu tertulis: “Bangunan ini selain menjadi markas satuan Brimob Polri yang bertugas di ex-camp pengungsi Vietnam, juga berfungsi sebagai tempat tahanan para pengungsi. Pengungsi yang ditahan di tempat ini adalah mereka yang mencoba untuk melarikan diri dari camp pengungsian dan yang bertindak kriminal seperti mencuri, memperkosa, dan membunuh sesama pengungsi.” 

Apa sebenarnya yang terjadi, Nguyen? Seberapa parah perjuangan hidup di pulau ini, setelah perjuangan hidup mengarungi lautan dengan perahu-perahu kecil. Betapa berat beban kejiwaaan orang-orang di sini hingga berniat lari, entah hendak ke pulau mana lagi. Nguyen yang sendiri. Saya juga sedang lari, Nguyen. Lari dari kesibukan kota, dari raung mesin, dari gemerlap lampu. Akhirnya kita “bertemu” di sini, di Pulau Galang ini—dan saya tak lagi bisa lari. Saya telah dikurung oleh masa silam pulau ini, Nguyen. Dari negara kaya Singapura, dari bising kota industri, ke sini juga saya akhirnya kembali, Nguyen. Ke barak-barak pengungsian, ke tugu perempuan yang kehilangan cinta.

Di Kota Batam, anda bisa berkeliling menyambangi pulau-pulau kecil. Pelabuhan Sekupang, merupakan salah satu pelabuhan terbesar di Batam. Begitu banyak rute dilayani pelabuhan ini tiap jam. 

—o0o—

Leave a Reply

Your email address will not be published.