Buku ini jelas membalikkan model-model umum “menjaga jarak” catatan perjalanan dari masa-masa sebelumnya. Namun, penekanan pada manusia kompleks yang sukar dipahami itu, dengan masalah-masalahnya yang kompleks, dan akhirnya kondisi yang serba kompleks, justru membuat buku ini “menjaga jarak” dalam bentuk yang lain. Ia jadi tidak ingin mendakwa manusia dan persoalannya yang kompleks itu. Ketika berhadap-hadapan dengan suatu persoalan, buku ini tidak ingin berkata “ini salah, itu betul”.

Penghayatan yang demikian membuat buku ini penuh dengan pertanyaan retoris. Pertanyaan yang tidak ingin mencari dan menawarkan jawaban bahkan tidak butuh jawaban, karna apa-apa yang ditemuinya telah dibentangkan secara ada seada-adanya, lalu membiarkan pembaca menilainya sendiri. Di hadapan kondisi serba kompleks, buku ini “diam-beku tak dapat jawab” (hal. 133)

Ada semacam kode etik yang menghalangi buku ini untuk memvonis manusia dan persoalannya yang kompleks itu — kondisi serba kompleks itu. Sampai kadar tertentu, memvonis, menarik kesimpulan, seperti dianggap tindakan penuh dosa. Dan dengan cara membiarkan pembaca menjadi hakim dan menjatuhkan vonis atas apa yang dibacanya, buku ini menjadi semacam buku yang “bebas dosa”. Semua dosa akhirnya ditanggung pembaca yang dengan berani-beraninya berkata “sialan nih pemerintah” atau “warganya sendiri yang katrok, sejarah kok didasari ilmu ghoib”.

Namun, benarkah manusia dan persoalannya yang kompleks itu sedemikian suci sehingga kita betul-betul tidak mungkin lagi untuk “mendakwanya”?

***

Frasa “dunia ketiga” berseliweran dalam buku ini. Jika dibuatkan indexnya, maka akan kelihatan kalau “dunia ketiga” muncul sebanyak 12 kali. Untuk buku dengan 12 bab, yang masing-masing bab rata-rata berjumlah sekitar 10–11 halaman, jumlah tersebut tentu memiliki arti tersendiri. Karenanya, saya akan membahas sedikit tentang ini.

Istilah dunia ketiga (Tiers Monde) diperkenalkan pertama kali oleh seorang sejarawan Prancis, Albert Sauvy, untuk menggambarkan platform politik negara-negara bekas jajahan di tengah Perang Dingin yang tidak memihak Dunia Pertama mau pun Dunia Kedua. Sauvy dalam esainya ia menulis “Dunia Ketiga yang diabaikan, dicemooh, disingkirkan…ingin menjadi sesuatu.” [1]

Frasa ini awalnya mewakili aspirasi negara-negara bekas jajahan untuk membuat tatatan dunia yang terlepas dari penjajahan dan penindasan. Ia adalah semangat. “Third Worldism”. Kedunia-ketigaan, yang menginginkan kesetaraan bagi setiap negara-bangsa. Ia adalah suatu proyek yang hendak diwujudkan. Bukan sekedar tempat. Bukan definisi geografis atau pun kondisi tertentu di suatu wilayah adiministratif.

Indonesia pernah mengambil tempat dalam sejarah Dunia Ketiga. Memainkan peran penting bahkan. Wujudnya adalah Konfrensi Asia Afrika 1955. Gerakan Dunia Ketiga kemudian bercabang setelah konfrensi itu. Satu cabang menginginkan Gerakan Non-blok, cabang lainnya, dalam hal ini Sukarno, mencela gagasan netralisme Non-blok yang menurutnya tidak efektif dalam mewujudkan proyek Dunia Ketiga.

Dalam perjalanannya, pemaknaan atas Tiers Monde, Third Worldism, terus mengalami perubahan. Dari satu sudut perubahannya bisa diartikan dekaden, sedang dari sudut lain bisa artikan positif. Tapi saya tidak ingin membahasnya lebih jauh.

Sarjana seperti Frantz Fanon memaknai Dunia Ketiga sebagai dunia pasca-kolonial di mana masyarakat bekas jajahan dengan berbagai bentuk penjajahan, memiliki beberapa persamaan. Kita kemudian tahu, buku-buku Fanon telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, setidaknya sejak masa awal reformasi (?).

Dalam diktat lainnya, seperti karya sosiolog Ian Roxborough, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pada 1982, istilah Dunia Ketiga juga digunakan. Ian menggunakannya sebagai konsep untuk menjelaskan perubahan sosial di negara-negara bekas jajahan semata.

Orde Baru, yang amat bersemangat membersihkan Indonesia dari sisa-sisa Orlaisme, tentu saja senang dengan hal ini. Hilangnya unsur revolusioner dalam istilah Dunia Ketiga setidaknya membuat pekerjaan menjaga ketertiban sebagai sarat lancarnya investasi serta program depolitisasi massa-nya menjadi makin mudah. Dan entah kebetulan atau tidak, di banyak kawasan, Kedunia-ketigaan merosot bertepatan dengan kelahiran rezim Orde Baru di Indonesia pada 1965.

Dalam buku ini sendiri, dunia ketiga (dengan D dan K kecil) diasosiasikan dengan kemelaratan, kontradiksi, ironi, dan hal-hal yang berkaitan dengan kondisi pasca-kolonial lainnya. Dengan demikian, dengan sendirinya buku ini memperlihatkan bagaimana pemaknaan atas dunia ketiga betul-betul telah tertransformasi dan semakin mapan.

***

Ideal Dunia Ketiga macam apa yang akhirnya diajukan buku ini? Seperti menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan macam itu akan datang, buku ini sudah menyiapkan jawabannya: “Tidak perlu bertanya, cukup amini saja.”

(*)

[1] Untuk pembahasan lebih jauh tentang asal-usul Dunia Ketiga beserta dinamika sejarahnya bisa dilihat dalam Wildan Sena Utama, Konferensi Asia Afrika, Asal-usul Intelektual dan Warisannya bagi gerakan Global Antiimperialisme. Marjin Kiri, 2017. Uraian mengenai Dunia Ketiga di tulisan ini, sepenuhnya bersumber pada buku tersebut.

Nb: catatan ini telah dikoreksi karena terdapatnya kesahalan. Awalnya tulisan ini berpendapat bahwa catatan perjalanan model resmi muncul semenjak tahun 1950-an. Ternyata setelah penulis menemukan buku-buku Ilmu Bumi lainnya, TIDAK SEMUA buku Ilmu Bumi mengambil gaya catatan perjalanan. Buku Ilmu Bumi pada masa 1950-an lebih berbentuk diktat. Tapi itu TIDAK mengubah kenyataan bahwa catatan perjalanan pernah digunakan negara sebagai salah satu Aparatus Ideologi-nya dan karenanya tidak mengubah argumen catatan ini bahwa catatan perjalanan mengandung ideal.

Leave a Reply

Your email address will not be published.