Catatan diskusi buku Lara Tawa Nusantara

Oleh Randi Reimena

Catatan perjalanan mengandung ideal. Tropical Holland yang ideal. Indonesia yang ideal. Timur yang ideal. Catatan (perjalanan) tentang tempat yang kini bernama Indonesia, sudah ditulis sejak lama. Setidaknya sejak abad 16. Jenisnya ada dua, seperti disinggung di pendahuluan buku Lara Tawa Nusantara, dan ikut mendorong orang-orang untuk mengunjungi kepulauan ini.

Orang bumiputra pun membuat catatan perjalanan. Adinegoro misalnya. Ia mencatat perlawatannya ke Barat, dan menyeleksi unsur-unsur Barat yang baik sebagai inspirasi. Lewat catatannya ia mengajukan suatu ideal masyarakat Hindia.

M Saleh membuat memoar yang di dalamnya penuh dengan catatan perjalanan (tepatnya ingatan tentang perjalanan) di sepanjang pantai barat dan utara Sumatera dengan tujuan untuk menunjukkan pada keturunannya lika-liku kehidupan yang membuat dirinya “jadi orang”. Di sana ia mengajukan ideal tentang seorang saudagar.

Masa revolusi, orang seperti M Radjab mengelilingi Sumatera, membuat laporan dan catatan seputar kondisi terkini. Ia menganggap catatan perjalanannya sebagai bagian dari “kerja berat revolusi”. Di sana ia mengajukan ideal jurnalis revolusioner

Pada masa Orde Baru, catatan perjalanan ditulis sebagai bagian dari ilmu bumi untuk diajarkan di sekolah-sekolah yang bisa disebut sebagai “model resmi negara”. Fungsinya menginput pengetahuan tentang batas-batas wilayah. Pelajar juga akan mendapat kesadaran bahwa ia tengah ada di wilayah negara Indonesia — dengan segenap aparatusnya tentu saja. Ringkasnya catatan perjalan dilihat penting (dan efektif) oleh negara sehingga dimanfaatkan sebagai sarana membangun “rasa cinta kepada negara dan bangsa”.

Dalam catatan perjalanan “model resmi” ini penulisnya muncul dalam cerita sebagai sosok bapak yang mengisahkan tentang perjalanannya mengunjungi kota A dan B dan seterusnya. Dengan dilengkapi peta-peta dan lambang negara, buku ini menceritakan batas-batas wilayah, sejarah, keunikan masing-masing wilayah, makanan, pariwisata dst,. Kisah tersebut diceritakan pada keluarga ideal. Idealnya negara tentu saja. Dengan anak kemenakan yang patuh dan istri yang setia melayani.

Itulah Indonesia. Ideal yang diajukan buku tersebut. Keluarga baik-baik dengan seorang bapak sebagai pemimpin, dengan anak-anak yang patuh, dengan batas-batas administratifnya. Seorang pelajar, sebagai anak baik, tidak perlu tahu persoalan yang dihadapi di tempat A atau tempat B. Ia juga tidak usah memikirkan persoalan yang dialami manusia-manusia di tempat lain. Orang mesti “menjaga jarak” dengan itu semua, yang paling penting adalah, pada masa-masa ini, cinta akan negara dan bangsa.

Model resmi ini setidaknya beredar sampai 1974. Seiring waktu ilmu bumi menjadi pelajaran geografi yang mengajarkan topomini kepulauan Indonesia serta sejarah geologisnya. Manusia dan kebudayaan diajarkan lewat antropologi. Sementara pemahaman tentang Indonesia yang ideal itu terus dijaga lewat apa yang dinamakan Wawasan Nusantara.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa ada model catatan perjalan lainnya di luar model resmi ini, namun karena keterbatasan waktu saya belum meneliti lebih jauh. Hanya saja, mengingat model resmi ini adalah propaganda negara, dengan kata lain didukung oleh mesin politik yang kuat di belakangnya, jelas saja buku-buku semacam ini sangat mempengaruhi bagaimana orang (pelajar) Indonesia memahami Indonesia itu sendiri.

***

Buku Lara Tawa Nusantara (2019), kumpulan catatan perjalanan Fatris M F, jelas ingin membedakan diri dengan kebanyakan buku catatan perjalanan sebelumnya, baik dari model resmi negara dan terutama yang dibuat oleh orang Eropa. Sebagaimana dikatakan buku ini, catatan orang eropa yang ditulis mulai abad 16 dan dinilai ikut mendorong kolonialisme, hanya melihat “Nusantara,Hindia Belanda, Indonesia” sebagai suatu yang eksotis “tanpa ada penderitaan yang dikandungnya.” Dan tentu karena itulah buku ini ingin memperlihatkan bahwa, di tengah-tengah semburan slogan-slogan pariwisata yang telah dimulai sejak masa kolonial itu, penderitaan, lara, itu ada. Dan, sebagaimana judulnya, di situ juga ada tawa.

Apa yang akhirnya benar-benar membedakan buku ini dengan catatan perjalan masa kolonial dan Indonesia 1950-an tadi adalah: Manusia. Orang-orang. Ya, orang-orang. Di mana pun buku ini mencatat peristiwa, di sana pula ia menemui orang-orang. Menemui Arab, Mesin, Dessy, Ridwan, orang bernama baterai, menyalami mereka, minum tuak bersama mereka, duduk di ruang tamu mereka; pembuat kapal yang menyesali hilangnya layar-layar pinisi namun terus saja memberi pinisi-pinisi itu motor, pegiat literasi yang demikian percaya pada mitos pariwisata, pecinta alam yang hanya mencintai gunung, singkatnya menceritakan manusia — organisme yang kompleks dan sukar dipahami itu — di mana lara dan tawa terkandung sekaligus bersama kondisi yang juga kompleks.

Ketegangan antara yang modern dan tradisional. Kejayaan masa lalu yang melenakan dan kenyataan hari ini yang pahit. Langit yang biru dan hari-hari yang berat. Kelakar di antara gelas tuak dan hidup yang menghimpit. Orang-orang terombang-ambing di tengah itu semua, digambarkan dalam buku ini.

Bandingkan dengan catatan perjalanan Dias atau Raffles ke dataran tinggi Minangkabau yang agak akrab dengan khazanah pengetahuan orang Sumbar, misalnya. Mereka mengunjungi dataran tinggi. Mereka mencatat benda-benda karya manusia, pesona-pesona, tapi mengabaikan manusia itu sendiri. Kalau pun manusia disebut-sebut, itu hanya karena ada hubungannya dengan struktur serta status sosial. Manusia diidentifikasi sebagai raja, atau sebaliknya sebagai rakyat kebanyakan. Tidak ada nama si manusia — di mana lara dan tawa terkandung sekaligus.

Di sini orang boleh mengatakan semua itu terjadi karena jurang bahasa. Namun yang perlu diingat juga, Dias, seorang amatir dari abad 17 itu, atau Raffles yang terpelajar sekali pun, adalah masyarakat Eropa awal abad 19. Mereka saja waktu itu masih percaya bahwa hanya “orang-orang besar”lah yang menggerakkan sejarah. Jadi, jika mereka mengabaikan manusia dan lebih memperhatikan status yang menempel pada si manusia lalu dengan sengaja menjaga jarak dengan manusia (pribumi), ya dalam batas tertentu wajar saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published.